Jumat, 31 Mei 2013

Meresapi Pesan dalam Inginku



Judul Novel: Inginku
Penulis: Sienta Sasika Novel
Penerbit: Bukune
ISBN: 6022200776, 9786022200772
Harga Novel: Rp38.000,-
Link info lomba di sini.

Kamu satu-satunya cinta yang kukenal


Inginku bertutur mengenai Lea, Radhit, Vhera, dan cinta di antara mereka. Kehidupan Radhit dan Vhera yang (terlihat) aman dan tenteram mulai mengalami konflik saat Lea muncul masuk di antara mereka. Hubungan yang pernah terjalin antara Lea dan Radhit di masa lalu membawa keduanya terseret pusaran cinta yang tidak dapat mereka tolak. Apa yang pernah dirasakan antara Lea dan Radhit tetap terasa sampai saat ini. Namun, bagaimanapun, Radhit sudah bersama Vhera sekarang…



Bukankah melupakan adalah cara terbaik untuk menghapus luka?

Stasiun Bandungnya yang ini bukan, ya?
Alasan Lea kembali ke Bandung adalah untuk menyembuhkan luka hatinya. Awalnya saya sempat mengira kalau Lea bersedih karena kematian orangtuanya, tapi saya salah. Sienta membuka novel ini dengan lambat melalui penggambaran suasana di Stasiun Bandung yang terlalu biasa. Mungkin gara-gara ini saya melewatkan salah satu info penting bahwa orangtua Lea meninggal pada 2002 (halaman 2). Saya juga sempat berharap akan ada sesuatu yang extraordinary di bab satu, tapi sayangnya tidak ada. Mungkin salah satu yang tidak biasa adalah informasi mengenai nama Jalan Stasiun Timur Nomor Satu yang sebelumnya dikenal dengan Jalan Kebon Kawung nomor 43.

Sejujurnya, saya gregetan dengan lambatnya alur yang digunakan oleh Sienta. Saya selalu bertanya-tanya, “Mana, nih, konfliknya?” Lambatnya alur tidak tertolong oleh konflik yang muncul. Baik Lea, Radhit, atau Vhera, ketiganya tidak mampu berperan menjadi orang jahat. Misalkan Lea, dia begitu tahu diri akan statusnya sekarang dan memilih untuk tidak menjadi orang ketiga di antara Radhit dan Vhera. Radhit, walaupun dia berpacaran dengan Vhera tanpa rasa cinta, pada dasarnya Radhit tidak ingin menyakiti Vhera. Lalu Vhera, sebagai tunangan Radhit, dia mundur dengan mudah dari kancah pertempuran setelah Radhit menegaskan perasaannya. Andaikan salah satu (atau semuanya) lebih bersemangat memeriahkan suasana dengan sifat-sifat yang sedikit meledak, novel ini mungkin memiliki alur yang lebih tajam dan lebih menarik.

Karena kamu, aku bertahan dan tetap menunggu

Radhit diceritakan tetap mempertahankan cinta pertamanya yang tak tergoyahkan walau sepuluh tahun telah berlalu. Sebetulnya hal ini romantis, tapi saya tidak menemukan alasan kuat Radhit tetap mencintai Lea. Mereka bertemu di bangku SMA dan cinta itu tumbuh begitu saja di hati Radhit. Tapi, tetap saja saya menginginkan ada satu poin penting yang membuat Radhit jatuh cinta habis-habisan pada Lea. Pun Lea, setelah mengalami kehidupan yang keras, cintanya pada Radhit bagaikan bersemi kembali. Namun, hal ini akhirnya menyisakan pertanyaan lain untuk saya. Apa alasan kuat Lea harus pergi dari kehidupan Radhit sepuluh tahun yang lalu dan menerima perjodohan yang telah diatur? Padahal, Lea sendiri tidak menyukai perjodohan itu. Orangtua Lea meninggal setahun setelah perpisahan Lea dengan Radhit. Lalu, kapankah terjadinya pernikahan itu? Yang terpenting, KENAPA Lea harus dijodohkan? Kesimpulan yang bisa saya tarik mungkin penulis ingin menekankan penyebab penyakit yang menyerang Lea yang berasal dari gaya hidup Reno?

Sampai buku berakhir, saya tidak dapat jatuh cinta pada sosok Radhit. Walaupun dia cowok yang kelihatan sempurna, bagi saya Radhit hanyalah seseorang yang plin plan. Apa arti lima tahun yang dijalaninya bersama Vhera? Andaikan ia telah mencoba mencintai sang tunangan, tapi gagal, apa ia harus membutuhkan waktu sekian lama dan kemunculan Lea yang mendadak untuk menetapkan hati kalau ia tidak mencintai Vhera? Toh, rasanya ‘mudah’ saja bagi Radhit mengambil keputusan yang selama ini tertunda dan menyuarakan keberatannya atas perjodohannya dengan Vhera walaupun harus melepaskan jabatan yang disandangnya sekarang.

Mencintaimu itu mudah, tapi memilikimu begitu sulit

Karakter yang muncul di buku ini rata-rata berlabel sempurna (untuk saya), bahkan Reno (ya, dia sempurna menyebalkannya). Tanpa masalah yang terlalu berarti, Lea yang lemah lembut, mungil, baik hati, dapat bekerja di rumah sakit ternama sebagai perawat. Tentu saja, track record-nya selama ini tiada cela. Radhit sendiri adalah seorang dokter muda yang tampan, mumpuni, ramah, baik hati, dan sangat berpotensi menjadi menantu idaman sehingga ia terpilih dijodohkan dengan Vhera, putri pemilik RS tempat Radhit bekerja (dan saya masih kurang yakin apa keuntungan keluarga Radhit dengan pertunangan ini). Vhera pun digambarkan sebagai sosok yang cantik menawan (tapi, tidak jelas bekerja apa sampai akhir) dan merupakan sosok menantu wanita ideal pula.

Vhera digambarkan berbeda dengan tokoh antagonis pada umumnya. Vhera memiliki sifat yang terlalu baik. Bahkan setelah ia mencoba berbagai cara untuk membuat Radhit jatuh cinta padanya, tapi pria itu tetap memilih wanita lain, ia tidak melakukan sesuatu yang ekstrim untuk mengganggu hubungan mantan tunangannya itu. Ia memang melarikan diri ke dugem dan minum-minum saat terpuruk, tapi pada akhirnya ia mampu bangkit kembali dengan cepat.

Aku akan melindungimu dengan sayap-sayap yang kumiliki

Untuk saya, halaman persembahan di bagian depan merusak segalanya karena saya langsung dapat menyimpulkan bahwa kanker serviks pasti akan ada hubungannya dengan Lea. Hal ini pun sudah diarahkan secara terang-terangan saat Lea mengikuti seminar mengenai kanker serviks yang dibawakan oleh dokter Radhit. Bahkan pembeberan fakta di balik kehidupan Reno yang kelam sudah menjadi petunjuk jelas akan penyakit yang diidap Lea. Saya merasa unsur kejutannya hilang. Padahal, jika gejala-gejala ini baru dialami Lea setelah sampai di Bandung dengan deskripsi yang lebih lengkap, selain akan memberi informasi lebih lanjut pada pembaca, kita juga dibawa bertanya-tanya, “Apa yang salah?”

Jangan anggap remeh kanker serviks!
Namun, Sienta menunjukkan bahwa ia ‘mengerti’ benar mengenai kanker serviks melalui penjelasannya dalam novel ini, baik yang dipaparkan dalam bungkus seminar yang diadakan Radhit, maupun bagian dari dialog. Sayangnya, beberapa penjelasan terlalu ilmiah, sehingga saya sulit menangkap apa sebetulnya yang ingin disampaikan. Saya sangat berharap ada semacam lampiran yang menjelaskan mengenai kanker serviks dengan lebih lengkap di bagian belakang buku. Hitung-hitung baca novel dapat gratis pengetahuan yang sangat penting…. Jujur, saya jadi 'ketakutan' sendiri saat mencari tahu lebih dalam tentang kanker yang satu ini. Sering kali kemalasan kita untuk check up menjadi bumerang bagi diri sendiri. Melalui Lea, Sienta mampu mengajak pembaca (setidaknya saya) untuk lebih aware terhadap kesehatan diri.

Bagaimanapun, aku ingin menjadi cahaya bagimu

Hal yang agak mengganggu saya sepanjang buku adalah penggunaan imbuhan –nya atau atau ganti ‘ia’ yang tidak jelas mengacu pada siapa. Misalkan saja pada cuplikan paragraf yang saya temukan di halaman 4 ini:
“Lea sayang ….” Perempuan itu menjawabnya penuh rasa kerinduan.“Apa kabar, Bu? Sehat?” Ia melepaskan pelukannya. Diciumnya pipi kanan dan kiri perempuan tersebut.
Siapakah ia? Tentu saja saya tahu, tapi rasanya bagai membaca buku terjemahan di mana he atau she semua diartikan sebagai ‘dia’. Kadang saya harus kembali ke paragraf sebelumnya untuk memastikan bahwa saya tidak salah mengartikan siapa ‘ia’ yang dimaksud.

Saya menyukai tampilan fisik buku secara keseluruhan, baik bagian luar maupun isi. Kovernya cantik, tata letak aksara pun sesuai. Ukuran hurufnya tidak terlalu besar maupun kecil. Saya juga menyukai ornamen yang ada di jeda halaman maupun di awal bab. Cuplikan-cuplikan quote yang disertakan di awal bab juga sangat saya sukai karena memberikan kesan mendalam saat membaca bab yang bersangkutan. Karenanya, saya agak kehilangan saat tidak menemukan quote di beberapa bab. Sayangnya, buku ini sedang tidak ada di saya sehingga saya tidak dapat memasukkan cuplikan cantiknya halaman dalam buku ini ^^

Cinta membuatku belajar bagaimana bertahan hidup

Saya sempat mengintip halaman terakhir untuk melihat apakah akhir cerita Inginku cukup memuaskan. Saya sempat terkecoh dari anggapan awal saya, tapi setelah saya membaca bagian akhir dengan lengkap, saya menyukai pilihan akhir yang dibuat Sienta. Bagaimanapun, jarang sekali terjadi 'keajaiban' pada kanker stadium tinggi dan andaikan Sienta memilih akhir yang penuh keajaiban itu, saya akan membenci buku ini :)

Penulis menunjukkan bahwa cinta sesungguhnya dapat terus bertahan walaupun terpisah jarak. Selalu ada alasan untuk setia dan menanti. Hal ini ditunjukkan oleh Radhit dan Lea. Pun melepas cinta bukan akhir segalanya, karena dengan melakukannya dapat membawa kita selangkah lebih maju. Dan jangan lupa, seberat apa pun hidup kita, semua ada maknanya. Walau kau merasa hidup sendirian di dunia ini, ada seseorang atau lebih yang mendoakanmu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar