Selasa, 30 April 2013

Seseorang yang Kau Panggil 'Sahabat'

Sejujurnya, kalau ditanya siapa sahabatku, yang terpikir adalah Allah dan Mama. Namun, untuk tulisan kali ini saya sengaja tidak mengangkat keduanya karena saya ingin mendedikasikan tulisan ini untuk seorang teman yang pertemuan kami bisa dihitung dengan jari, tapi ia selalu ada di sana untuk saya.

Oke, bagian 'ia selalu ada di sana untuk saya' terasa berlebihan. Jadi, abaikan saja :)

Namanya Donna. Saya mengenalnya melalui sebuah milis. Saat itu saya hanya berinteraksi biasa dengannya, sampai suatu saat saya melayangkan SMS menanyakan daftar buku apa yang ia titip pada saya untuk dibeli. Apakah hubungan kami menjadi dekat di sini? Tidak. Saya hanya tahu kalau Donna akan menikah, sehingga saat saya ke kota tempat tinggalnya, saya hanya menyelipkan selembar uang sebagai angpau karena tidak dapat hadir ke acara suci itu. Apakah hubungan kami menjadi dekat di sini? Tidak juga.

Bila saya ingat, saya dan Donna mungkin tidak bisa dibilang benar-benar sahabat. Kami hanya sekadar say hi via media sosial atau YM. Sesekali ia mengirimkan paket untuk saya atau sebaliknya. Namun, Donna menjadi tempat curhat saya selain Mama. Bahkan ada beberapa hal yang hanya saya ceritakan pada Donna. Walau begitu, tetap saja saya tidak merasa kami benar-benar bersahabat. Dalam rentang sepuluh tahun pertemanan kami, saya hanya bertemu Donna sebanyak TIGA kali. Sekali saat kami menghadiri sebuah undangan pernikahan, yang kedua saat saya berkunjung ke rumahnya, dan yang ketiga saat ia datang ke Jakarta untuk bertemu dengan sebuah penerbit.

Pernah ada duri dalam hubungan saya dan Donna yang tidak jelas itu. Seperti dalam hubungan percintaan, ada orang ketiga dalam pertemanan kami. Sebut saja orang ketiga ini K. Awalnya K kenal dengan saya, lalu ia juga mengenal Donna karena bergabung dalam milis yang sama. Setelah K pindah ke kota kelahiran Donna, keduanya semakin dekat. Kontak saya dengan Donna berkurang walau tidak hilang sama sekali. Lalu, K 'lepas' dari kehidupan kami dan intesitas hubungan saya dan Donna meningkat kembali. Saya baru tahu kalau K yang akrab dengan saya itu menjelek-jelekkan saya di hadapan Donna. Teman saya ini sempat termakan omongan K dan menjauhi saya.

Kami sama-sama belajar bahwa ketulusan seseorang mungkin dapat disalahartikan. Kami juga belajar bahwa rasa percaya adalah sesuatu yang mahal harganya. Walau begitu, seorang teman yang berlabel 'sahabat' akan dapat melihat seseorang sesuai nilai sebenarnya, seperti Donna yang meragukan segala perkataan K dan memilih memercayai saya. 

Saat Papa meninggal, Donna hanya mengirimkan doa dan ucapan berbela sungkawa melalui media sosial. Pun begitu Ibunda Donna meninggal, saya hanya mengirimkan doa dan pelukan virtual melalui YM. Namun, kami sama-sama dapat merasakan kehilangan kami masing-masing dan tahu ada seseorang yang mau mendengarkan keluh kesah dan cerita kami di sela-sela kesibukan sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga.

Donna adalah penulis dan sudah banyak judul yang ditelurkannya. Jika saya meminta karya-karyanya secara percuma pun akan ia berikan. Namun, fungsi seorang teman baik a.k.a sahabat bukanlah seperti itu. Walau tidak dapat membeli semua karya Donna, sesekali saya membeli bukunya dengan uang saya sendiri. Ia pun tetap mengirimi saya satu atau dua judul bukunya jika ada stok.

Sesekali kami berbeda pendapat, sering kali kami berdebat. Tak terhitung berapa kali kami saling mengingatkan dan mencerahkan, tertawa atau menangis bersama (dari tempat berbeda atau secara virtual ^^).  Saya bukan sahabat terbaik Donna, Donna pun mungkin bukan sahabat terbaik saya. Namun, ada pertemanan yang tulus di antara kami. Walau terpisahkan jarak, kami tahu bahwa ada seseorang yang dapat kami labeli 'sahabat'.


"Sahabat itu adalah air, meskipun emas lebih berharga daripada air, tapi faktanya manusia lebih membutuhkan air melebihi emas"

Tulisan ini diikut sertakan dalam GA “Siapa Sahabatmu?” pada blog senyumsyukurbahagia.blogspot.com, hidup bahagia dengan Senyum dan Syukur.

PS. Maaf kalau saya tidak punya foto bersama Donna ^^

Minggu, 28 April 2013

[Blog Review Contest] Cantik dan Sehat bersama Pourvous



Sering kali manusia mengabaikan kesehatan tubuhnya dan baru menyadarinya sesudah terlambat. Jujur saja, saya termasuk di antaranya. Kulit menjadi salah satu yang tidak terlalu saya perhatikan, padahal kulit adalah pelindung tubuh dari paparan sinar matahari, angin, debu, dan partikel lainnya. Walau sudah sedikit terlambat, saya sedikit demi sedikit belajar untuk lebih menyayangi kulit saya, terutama setelah usia saya meninggalkan angka 20-an.

Mengenal Pourvous pertama kali di sebuah acara pameran tentang wanita wirausaha di bilangan Jakarta. Tentu saja saya sempat ragu untuk mencoba produk yang berhubungan dengan kulit karena kulit saya langsung memberikan reaksi bila tidak cocok. Nah, walaupun saya tidak terlalu merawat muka, saya selalu memastikan muka saya bersih, karena itu saya mengambil produk Strawberry in Heaven Body Cream Scrub.

Berdasarkan label di bagian belakang, produk Pourvous ini mengandung air terpurifikasi (aqua), paraffinum liquidum, minyak zaitun, polietilena, esktrak stroberi, asam stearat, gliserin, trietanolamina, minyak esensial, pewangi, carbomer, metilcloroisotiazolinona, dan metilisotazolinona.

Buah Merah yang Menyehatkan
Buah stroberi terkenal sebagai buah yang manis dan banyak digunakan sebagai perasa makanan. Bahkan, dikonsumsi secara langsung pun cukup enak. Stroberi sendiri mengandung Vitamik C, Vitamin K, mangan, asam folat, kalium, riboflavon, Vitamin B5, magnesium, dan omega-3. Kandungan tadi tentu saja banyak manfaatnya, terutama untuk kesehatan dan kecantikan. Bagi kesehatan kulit, stoberi dapat mengencangkan, menghaluskan, serta membuat warna kulit lebih cerah dan bersih.

Hijau Zaitun Banyak Manfaat
Produk Porvous ini juga mengandung minyak zaitun. Minyak zaitun diketahui mengandung Vitamin E yang cukup tinggi. Vitamin E sendiri bertugas merawat kulit dan merupakan zat antioksidan alami dalam tubuh, sehingga berguna untuk mengurangi serangan kanker. Minyak zaitun juga dapat menjadi solusi alternatif sebagai pelembat kulit. Banyak manfaat minyak zaitun untuk kecantikan didasari oleh banyaknya kandungan vitamin, seperti vitamin A, B1, B2, C, D, E, K, dan zat besi. Minyak zaitun juga mengandung asam linoleat. Asam linoleat adalah zat yang sangat baik untuk pelembab kulit karena mampu menjaga air menguap. Berkat kelembapan tersebut, elastisitas kulit akan terjaga sehingga meminimalisir munculnya keriput dini. Khasiat minyak zaitun lainnya adalah dapat digunakan untuk membersihkan wajah.

Yang menarik dari produk satu ini adalah keterangan berikut:
- Paraben Free   - Lanolin Free   - PABA Free
- Color Free   - Methanol Fragance Free
- No Animal Tested

Wah, ada beberapa hal yang belum saya ketahui, nih.

Paraben, Berbahaya atau Bermanfaat?
Paraben adalah kelompok bahan kimia yang digunakan sebagai pengawet dalam lotion, kondisioner, sampo, deodoran, bahkan bahan makanan dan minuman. Bahan ini terdaftar dengan nama antara lain: metillparaben, butilparaben, etilparaben, benzilparaben, isobutilparaben, dan propilparaben. Bahan ini juga dijual dengan nama kosmetik yang berbeda, termasuk Germaben II dan minyak liquiPar.

Sejak tahun 2000, berbagai studi telah menunjukkan bahwa paraben menampilkan aktivitas estrogenik. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa paraben terakumulasi pada jaringan kanker payudara. Meskipun banyak pihak yang mendukung penggunaan paraben mengklaim bahwa tubuh bisa memisahkan kimia yangg masuk ke tubuh, tetapi studi yang sama juga menemukan bahwa paraben terakumulasi dalam sel tumor dan tidak bisa dipisahkan/dihancurkan oleh tubuh. Juga telah dibuktikan bahwa paraben bertindak seperti estrogen dan terakumulasi dalam tubuh dan menyebabkan kanker reproduksi seperti kanker payudara, kandung kemih, dll). Bahkan The European Journal of Cancer Prevention melaporkan bahwa penggunaan produk yang mengandung paraben dan seringnya memakai deodoran ada kaitannya dengan awal mula terdiagnosanya kanker payudara. Sangat dimungkinkan jika paraben dan bahan kimia lainnya yang terkandung didalam produk perawatan tubuh dan kecantikan menjadi penyebab dampak negative pada kesehatan kita.

Apa itu Lanolin?
Fungsi utama lanolin secara alami adalah untuk melindungi wol dan kulit domba dari kerasnya iklim dan lingkungan. Lanolin juga banyak digunakan untuk melindungi kulit manusia. Lanolin mengandung ester rantai panjang, hidroksi ester, alkohol lanolin, dan asam lanolin. Pada tahun 1950, New York University Hospital menunjukkan bahwa sekitar 1% pasien menunjukkan reaksi alergi terhadap lanolin. Bahan satu ini sebenarnya alami, karena berasal dari hewan domba. Tetapi, bahan kimia yang digunakan untuk menghasilkan dan memproses lanolin ada yang berbahaya ada yang tidak, untuk lanolin, sebaiknya sama seperti gliserin, pastikan dari ternak organik atau diproses secara tradisional.

Mengenal PABA
PABA (Asam para-aminobenzoat) adalah senyawa kimia yang ditemukan dalam asam folat dan beberapa makanan seperti gandum, telur, susu, dan daging. PABA banyak digunakan sebagai sunscreen karena kemampuannya menahan sinar radiasi ultraungu terhadap kulit. PABA termasuk aman diaplikasikan terhadap kulit. Lalu, kenapa produk Porvous tidak mengandung PABA? Karena PABA dapat menyebabkan kerusakan ginjal, terutama bagi pemakai yang telah mengalami kerusakan ginjal.

Metanol, sang alkohol
Walau asal alkohol adalah dari fermentasi gula dari tanaman alami, tetapi untuk penggunaan di kulit mengakibatkan berbagai efek negatif, seperti mengikis lapisan minyak alami kulit, membuka lapisan asam mantel (lapisan asam kulit) dan menyebabkan kulit kita lebih rentan terkena bakteri, jamur, virus, zat karsinogenik (penyebab kanker), juga racun dari lingkungan. Alkohol juga membuat kulit menjadi lebih kering. Selain alkohol alami, alkohol juga terbuat dari propilena atau turunan minyak bumi. Yang satu ini bahkan bisa menyebabkan munculnya bintik-bintik coklat dikulit dan tanda-tanda penuaan dini.

Dari kesemua keterangan tersebut, salah satu yang paling saya kagumi adalah produk ini tidak dites kepada hewan. Saya termasuk pecinta hewan dan mengerti jika mereka butuh ‘dikorbankan’ demi manusia. Namun begitu, jika hal tersebut dapat dihindari, saya sangatlah menghormatinya.

Kulit kita sebenarnya berfungsi untuk melindungi tubuh dari berbagai macam hal, mulai dari polusi hingga kecipratan minyak panas, tapi kulit juga bisa menyerap semua hal yang ada d iatasnya. Yang lebih menakutkan lagi, ternyata bahan kimia yang keras/berbahaya jika terkena kulit yang sensitif atau kulit yang tipis, bisa menyebabkan berbagai macam reaksi mulai dari alergi hingga masuk dan membanjiri aliran darah Anda (sumber bloodstream.” Source: cnn.com/health)

Nah, semakin tahu kita bahan kimia berbahaya apa saja yang mungkin kita oleskan langsung kepada tubuh berserta efeknya, saya semakin yakin menggunakan Pourvous. Apalagi setelah mencoba sendiri, butiran scrub-nya mampu mengangkat kulit mati secara maksimal tanpa membuat kulit kering, juga meninggalkan wangi stroberi yang menenangkan. Dengan penggunaan yang hanya dua minggu sekali, produk ini juga termasuk irit sehingga dapat digunakan dalam jangka panjang.

Sudah terdaftar di Badan POM, tidak diragukan lagi bahwa produk-produk Pourvous pada umumnya aman untuk kita gunakan demi kesehatan kulit kita. Porvous juga mencantumkan data kontak yang cukup jelas, baik melalui telepon, SMS center, email, maupun webnya.

Banyak kemudahan dan tawaran menarik bagi Anda yang ingin memesan produk Pourvous langsung ke http://www.mypourvous.com/. Salah satu yang menggiurkan adalah bebas ongkos kirim ke seluruh pelosok Indonesia. Di tengah kenaikan biaya kirim, tawaran ini sangat menggoda, bukan?

Selamat mencoba dan bersiaplah tampil penuh percaya diri dengan kulit sehat berkat Pourvous!

Jumat, 26 April 2013

Sepuluh Tahun bersama M&C!

Komik Alto
(Sumber di2ekdoank.wordpress.com)

Ini adalah tulisan kedua saya mengenai M&C!

Catatan: Tulisan ini tidak disertai riset yang sangat mendalam. Jika saya menuliskan sesuatu yang tidak benar, harap beri tahu untuk saya betulkan.

Sepuluh tahun umur M&C! berarti sudah sepuluh tahun juga saya menjadi pembaca setiap komik-komik yang dikeluarkan oleh salah satu penerbit favorit saya ini :) Namun, bila ingatan saya tidak salah, saya sudah mengenal komik M&C! lebih dari sepuluh tahun. Ya, waktu itu belum ada label M&C! di sampul komiknya dan kebanyakan yang diterbitkan adalah karya Michiyo Akaishi. Teks maupun suara efek masih ditulis tangan. Tidak perlu khawatir komik ini sulit dimengerti karena terjemahan maupun teksnya sangat mudah dibaca dan dimengerti. Saat itu belum ada jadwal terbit seperti sekarang (mungkin sudah ada, tapi saya tidak tahu di mana mendapatkannya), sehingga saat saya ke toko buku, saya bagaikan mencari kotak harta dan berharap ada komik baru yang dapat saya beli dan baca. Apalagi kalau mengingat jumlah komik yang terbit lebih dari sepuluh tahun itu tidak sampai menghabiskan jumlah jari di satu tangan saya setiap minggunya.
Momoka, Si Cantik Buah Persik

Selain karya-karya Michiyo Akaishi, ada salah satu komik M&C! lama yang menjadi favorit saya: Momoka, Si Cantik Buah Persik. Tamat di volume 7, bila dijejerkan dengan benar, punggung belakangnya akan membentuk gambar Momoka yang sedang berlari. Ceritanya sederhana: mengenai anak gadis satu-satunya dalam keluarga yang terlalu di sayang para kakaknya, sehingga saat ada seorang cowok mendekati Momoka, semua langsung bersatu padu melindungi adik tersayang itu.

Ushio Tora, kover baru dan lama
Mungkin komik pertama yang diterbitkan dengan label M&C! adalah Ushio Tora. Ini berdasarkan ingatan saya yang menemukan komik ini di Gunung Agung dekat rumah. Sayangnya, genre Ushio Tora bukan favorit saya waktu itu, sehingga saya melewatkannya begitu saja. Mungkin pemilihan judul ini menjadi salah satu 'kesalahan' yang dilakukan M&C! untuk merangkul penggemar baru yang saat itu sudah dicuci otak dengan komik terbitan penerbit sebelah. Mungkin karena faktor serapan pasar yang kurang itu pulalah, komik Ushio Tora ini tidak diterbitkan sampai tamat. Jujur, sampai sekarang saya tidak membaca komik ini ^^
Cinderella Boy edisi Jepang
Cinderella Boy edisi terjemahan

Entah disadari atau tidak, M&C! dengan perlahan mampu mengubah desain kover komik yang dulu didominasi dengan warna putih dan gambar ilustrasi berbentuk persegi. Selain itu, M&C! berani 'memotong' ilustrasi asli dan menggabungkannya dengan desain digital para desainer grafisnya. Bahkan, M&C! juga berani menggunakan warna yang berbeda dengan kover aslinya. Misalnya salah satu one shot atau serial cantik yang termasuk diterbitkan awal-awal, Cinderella Boy. Bandingkan kover versi aslinya dengan kover terjemahannya. Cukup jauh, bukan? M&C! tidak takut untuk memberikan sentuhan baru pada kover-kover komik terbitannya. (Pst, saya bahkan sempat salah menyangka saat melihat sebuah komik terbitan penerbit sebelah sebagai komik M&C!).

Cyborg Kurochan edisi tambahan
Namun, seperti halnya manusia yang tidak sempurna, penebit M&C! pun kadang melakukan kekhilafan dalam komiknya. Misalnya saja pernah kejadian salah penjilidan untuk komik W Juliet volume-volume awal. Dengan kover yang dibuka dari kiri, entah kenapa isinya dibaca dari kanan ke kiri. Saya ingat waktu itu pernah melayangkan protes melalui milis dan dijawab oleh pihak redaksi. Sayangnya, saya tidak mendapatkan komik edisi revisi sehingga saya harus berusaha keras untuk membacanya sampai sekarang :) M&C! juga berani mempergunakan bahasa yang sedikit gaul dalam komiknya, termasuk istilah-istilah yang umum digunakan di Indonesia, seperti 'bah', 'mah'. Terjemahan yang luwes ini tak ayal membuat saya tertawa saat membaca komik Cyborg Kurochan ini. M&C! juga yang mempertahankan imbuhan -chan, -kun, -san ala Jepang yang malah membuat saya sedikit sebal. Bukan karena saya tidak menghormati cara orang Jepang menghormati orang lain, namun, plis deh, ini kan terjemahan? Seharusnya imbuhan-imbuhan itu diterjemahkan saja ke bahasa Indonesia atau dihapus sekalian jika memang tidak terlalu penting. Syukurlah, imbuhan itu perlahan hilang, hanya menyisakan imbuhan sensei atau senpai walaupun tidak banyak.

Baby and I edisi M&C!
Yang perlu diperhatikan dari komik M&C adalah mutu terjemahan dan editorialnya. Belum ada keseragaman soal editing di antara satu editor dengan editor lain. Saya masih sering menemukan kata-kata yang tidak baku, misalnya rubah bukannya ubah atau ngomong-ngomong bukannya omong-omong. Ada juga beberapa balon yang kosong, teks yang hilang, atau terjadi pengulangan dialog. Tentu saja ini tidak banyak, tapi setelah saya menemukannya beberapa kali, saya sangat berharap M&C! menerapkan suatu standar pengeditan agar mutunya seragam. Ada juga beberapa kesalahan fatal lain, misalkan saja tangan kanan malah diterjemahkan sebagai tangan kiri, padahal dari gambar jelas-jelas tangan kanan dan komik dibuka dari kanan alias lembaran komik tidak di-flip.
Baby and I edisi Shojo Beat

Saya juga berharap M&C! mampu menyeragamkan mutu kovernya. Misalkan saja komik Baby and I  ini. Jujur, saya tidak membelinya saat komik ini pertama kali terbit, namun setelah direkomendasikan oleh seorang teman (cowok pula!) saya mulai mengumpulkannya. Dan saya sangat menyesal tidak mengumpulkannya sejak awal karena komik ini merupakan salah satu komik terbaik yang pernah M&C! terbitkan. Walau begitu, saya tetap mengacungkan jempol pada jajaran penerjemah M&C! yang sebagian besar memang mumpuni membuat komik-komik terjemahan ini enak dibaca.
Innocent Dragon

Masukan lain untuk M&C! adalah keteraturan jadwal terbit. Tidak dapat dihindari kalau beberapa judul komik statusnya masih on going alias di Jepang juga belum tamat. Namun, ada beberapa judul terjemahan M&C! yang hilang begitu saja. Misalkan saja H2O yang termasuk dalam manhwa (komik Korea). Atau dari koleksi yang saya punya: Rasetsu Flowers, NG Life, dan Innocent Dragon. Walaupun di Jepang ketiga komik itu statusnya sudah tamat, entah kenapa ketiganya sempat hiatus lebih dari satu tahun dan mentok di volume 7. Sebagian besar teman-teman saya bahkan sudah menjual komiknya karena mereka meragukan M&C! akan menerbitkan lanjutannya. Untungnya, beberapa judul yang hiatus itu mulai ada titik terangnya. Saya harapa M&C! dapat mengurangi jumlah judul yang hiatus ini kecuali memang ada kendala langsung dari penulisnya (ya, selama ini kendala ada di penerbitnya).

Komik Ai Hime dengan rating D
Ke depannya, M&C! perlu membuat lini baru atau memperjelas rating komik terbitannya. Bila diperhatikan dengan saksama, M&C! telah menyertakan rating SU (semua umur), R (remaja), dan D (dewasa) di bagian belakang komik. Saya tidak ingat apakah logo D ini diletakkan pula di kover depan, tapi pernah kejadian saya kecolongan membaca karya Mitsuki Kaco, salah satunya Ai Hime, yang ternyata kontennya cukup dewasa untuk dibaca para remaja. Saya yakin mereka tidak memerhatikan huruf D yang tertera di balik buku. Tentu saja, D dalam komik ini bukan sesuatu yang sangat serius sehingga bisa dicap pornografi, tapi akan lebih baik bila label dewasa itu juga ada di bagian depan. Selain itu, ada baiknya gambar juga disensor dengan halus, bukan sekadar mengganti kata ko*dom dengan saputangan, tapi tetap dengan gambar ko*dom terpampang. Anyway, mutu sensor M&C! juga sudah meningkat pesat jika dibandingkan dengan sensoran Fuushigi Yuugi volume 2 yang sempat ditarik dari peredaran berupa oret-oretan menggunakan spidol hitam yang sangat jauh dari nilai artistik.
Koloni Garudayana karya Is Yuniarto

Tambahan: Terobosan fenomenal yang pernah dilakukan M&C adalah dengan terbitnya label KOLONI alias komik lokal Indonesia. Dulu M&C! pernah menerbitkan Dua Warna, karya anak bangsa, namun sayang karena format berwarna membuat komik ini mahal harganya dan kurang terserap pasar. Sekitar tahun 2010, M&C! meluncurkan komik karya lokal yang sebagian di antaranya mampu menggebrak dan membuat para komikus lokal semangat berkarya. Walaupun jumlah judul yang diterbitkan semakin menyusut, saya tetap salut pada Koloni yang menjadi salah satu wadah anak bangsa menyalurkan bakatnya.

Sepuluh tahun lebih saya mengenal M&C! dan mengoleksi komik-komiknya dan saya yakin saya akan terus menjadi penggemar sepuluh tahun yang akan datang (Insya Allah, kalau ada umur). Semoga masukan saya dapat membawa M&C! menjadi lebih baik lagi ke depannya ^^


Berbagi Membuat Kita Lebih Kaya

Banyak kebaikan yang saya terima baru-baru ini. Namun, ada satu titik di masa lalu saya yang rasanya menunjukkan betapa indahnya berbagi...

Sejak saya sudah mengerti agama walau sedikit, Mama mengajarkan saya untuk berinfak. Caranya sederhana saja, setiap kali saya mendapat rezeki (saat itu dalam bentuk uang jajan mingguan atau bulanan), saya diminta untuk menyisihkan 2,5% dari totalnya. Jumlahnya mungkin tidak seberapa, tapi Mama selalu mengingatkan saya. Caranya juga gampang: masukkan saja lembaran uang ratusan rupiah itu ke dalam kaleng kue yang sudah disediakan Mama. Lalu, setiap sebulan sekali, Mama akan membongkar kaleng kue itu dan mengumpulkan isinya untuk diberikan pada sanak saudara yang membutuhkan (ya, mereka lebih utama ditolong daripada orang lain, bukan?). Saya juga belajar untuk jujur karena mudah saja untuk merampok isi kaleng itu sedikit demi sedikit, toh tidak ada yang pernah tahu berapa jumlah isinya secara pasti.

Kira-kira sepuluh tahun lalu, keluarga kami ditimpa musibah. Pendek kata, Allah menguji kami dengan mengambil harta kekayaan keluarga. Saat itu saya sudah lulus kuliah, tapi tidak bekerja. Papa pun bekerja serabutan. Adik saya masih kuliah tingkat akhir. Jangankan memikirkan biaya untuk adik, biaya untuk makan pun tidak jelas. Jika saya ingat sekarang, entah bagaimana caranya kami dapat bertahan tanpa harus menjual isi rumah kami. Ada saja rezeki yang Allah kirimkan pada kami. Saya mendapatkan pekerjaan sebagai guru Bahasa Inggris dengan honor yang bila dikurangi ongkos transpor, jumlahnya kurang dari seratus ribu. Saya juga mendapatkan order membuat ilustrasi yang walau tidak seberapa tapi mampu menghidupi kami. Adik saya pun dapat hidup berkat komik-komik koleksi saya yang disewakan pada mahasiswa sekitar kampus.
Saat itu, kami mendapat banyak bantuan dari salah seorang teman Papa, yang bahkan bukan saudara, tapi kedekatannya melebihi saudara. Ia dan keluarganya membantu tanpa pamrih di saat saudara-saudara lain malah menjauh dan hanya sekadar 'mengirim doa'.

Kalau saya ingat kembali, di luar bantuan sang sahabat, saya masih tidak habis pikir bagaimana kami bisa menjalani semuanya dan tetap hidup dalam kemewahan. Banyak hal yang saya petik dari sana. Allah sedang mengingatkan kami yang terlena dengan harta, namun Allah tetap berbaik hati pada kami dengan tetap menyisakan harta yang Insya Allah menjadi hak kami. Mungkin harta yang diambil Allah itu adalah harta yang memang belum kami bersihkan melalui infak. Tetapi, saya yakin, melalui infak itulah Allah memberikan cahaya bagi kami sehingga kami tidak menyerah.

Saya semakin tahu betapa dahsyatnya berbagi, terlebih saya merasakan sendiri betapa indahnya mendapat limpahan kasih sayang dari orang lain. Semakin banyak yang kita berikan pada orang lain tidak akan membuat kita miskin harta, namun sebaliknya kita semakin kaya akan kasih sayang dan keimanan untuk-Nya.


مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Al-Baqarah: 261)


Semoga saya tidak pernah lupa untuk membagi harta saya, terutama untuk orang-orang yang berhak, karena dengan berbagi itulah Allah memberi lebih banyak lagi....

“Sekali lagi, berbagi itu bukan tentang banyaknya uang tapi sebesar dan sekaya apa hatimu. Uang yang banyak takan pernah bisa dibagi jika dimiliki oleh hati yang miskin. Dan begitupun sebaliknya, hati yang senantiasa ingin berbagi takan pernah terhalang oleh ketiadaan materi. Karena berbagi bukan saja dengan uang. Bisa dengan tenaga, pikiran dan bahkan dengan seuntai senyum." 
(Senyum Syukur- Keajaiban Berbagi)

Senin, 22 April 2013

Sebuah Sumpah di Balik Camar Biru


Catatan: Karena terbawa-bawa gaya penulisan Nilam Suri di Camar Biru, untuk review kali ini saya akan menggunakan ‘gue’. Harap maklum dan jangan kaget, ya ^__^

Judul: Camar Biru
Pengarang: Nilam Suri
Penerbit: GagasMedia
Halaman: 279 halaman
Terbitan: November 2012

Sinopsis:
Aku membutuhkanmu.
Kau terasa tepat untukku. Pelukanmu serasi dengan hangat tubuhku. Dan setiap bagian dari diriku sudah terlalu terbiasa dengan kehadiranmu-dengan suaramu, dengan sentuhanmu, dengan aroma khas tubuhmu. Dengan debaran yang terdengar seperti ketukan bermelodi saat kau menatapku penuh perhatian seperti itu.

Aku membutuhkanmu.
Ya cinta, ya waktumu. Dan kau sudah melihat jujur dan juga munafikku. Bahkan, di saat aku begitu yakin kau akan meninggalkanku, kau hanya menertawakan kecurigaanku dan merangkul bahuku. Sungguh heran, setelah sekian tahun pun, kau masih bertahan di sini, bersamaku.

Aku membutuhkanmu-dan bisa jadi... aku mencintaimu. Tapi, aku belum akan mengakui ini padamu. Aku belum siap meruntuhkan bentengku dan membiarkanmu memiliki hatiku....

Ini cerita tentang sebuah bujursangkar, yang dulu pernah begitu solid namun kini terpecah karena sebuah tragedi.

Gue sering banget baca komik yang temanya teman sepermainan sejak kecil dan hubungan pertemanan itu terus berlanjut sampai mereka dewasa. Ada yang hubungannya bermetamorfosis jadi percintaan, ada yang tetap bertahan dalam persahabatan itu sampai akhir. Nah, kalau novel rasanya gue belum pernah baca. Atau saat nulis ini gue nggak bisa mengingat satu judul novel pun. Oke, ada satu novel yang ceritanya tentang abang dan adik tiri, tapi itu doang…

Anyway, Camar Biru bercerita mengenai empat orang sahabat: Naren dan Nina, Sinar dan Adith. Masing-masing grup adalah kakak beradik, tiga cowok dengan satu cewek. Seperti yang biasa terjadi, ketiga cowok ini begitu melindungi Nina. Keakraban mereka berubah saat Naren meninggalkan mereka dan Sinar memilih hengkang, menyisakan Nina yang terpuruk dengan Adith yang mengkhawatirkan Nina. Pelan-pelan hubungan antara Nina dan Adith mulai berubah saat mereka bersumpah akan menikah 10 tahun lagi dengan lambing camar biru dan waktu 10 tahun itu datang juga…

Beberapa kali gue baca back cover novel-novel keluaran Gagasmedia, seringkali gue nggak ngerti apa sebetulnya inti ceritanya. Jadi, gue merasa kayak beli kucing dalam kurungan, eh, karung. Gue akuin kalimat-kalimatnya puitis dan indah, tapi ni buku mau cerita apa, sih? Entah. Sama sekali nggak kebayang kalau gue bakal menemukan cerita mengenai Adith dan Nina saat gw melirik kover belakangnya. Yah, mungkin sekadar saran aja, biar Cuma satu paragraf, ada gitu gambaran singkat isi ceritanya.

Oke, pembukaannya menarik. Gue langsung disuguhi Adith yang kelihatannya terpaksa memenuhi janjinya menikahi Nina. Adith yang menyangka Nina sudah melupakan janji itu. Nggak tahunya Nina masih ingat dan ia tidak keberatan untuk menjadikan Adith sebagai suaminya. Adith, sih, nggak perlu meragukan perasaannya kepada Nina, tapi Adith sendiri nggak yakin ama Nina. Cewek satu ini sebetulnya terpaksa nggak, sih, menikah ama dia?

Jujur, Camar Biru berhasil membius gue. Walaupun tetap saja gue harus nyicil baca, gue bisa dibilang nggak bisa berhenti bacanya. Nah, yang jadi pemikiran gue, sebetulnya klimaks dari Camar Biru ini apa? Nina digambarkan sebagai cewek cantik yang berantakan dan nggak kerawat. Dia tinggal sendirian di sebuah apartemen studio yang katanya nggak kalah berantakan. Makanya, Adith yang kerja sebagai dosen bahasa Jepang terpaksa harus ngurusin Nina, termasuk bela-belain tengah malam nemenin Nina beli kopi favoritnya di Starbucks. Get real. Bukan gue bilang seseorang nggak boleh perhatian ama orang lain, tapi Adith is too damn nice for a guy. Adith bisa dibilang nggak punya kehidupan selain ngurusin Nina. Apa-apa Nina. Bahkan saking mengertinya Adith akan Nina, tu cewek nggak usah ngomong juga si Adith udah ngerti. Errr, come on, gue yakin banget kalau nggak ada orang yang bisa benar-benar plek ngertiin orang lain. Dan seperti yang gue singgung di awal paragraf tadi, gue bener-bener nggak tahu apa puncak novel ini. Apa pas flash back kejadian Naren kecelakaan mobil? Atau pas Nina menceritakan rahasia kelam yang dipendamnya selama sepuluh tahun? I dunno, I just couldn’t find the rite climax…

Alur Camar Biru mengalir lancar. Nilam berhasil menempatkan kapan waktunya kembali ke masa lalu dengan pas, jadi biarpun pakai alur maju mundur, gue nggak merasa terganggu. Tadinya gue sempat bingung menyadari ada tiga macam jenis font yang dipake. Tapi nggak perlu waktu lama untuk menyadari bahwa font dibedakan saat yang bercerita adalah Adith atau Nina (dan juga ada yang memakai sudut pandang orang ketiga). Sayangnya lagi, gue nggak merasa kekuatan sifat karakter Nina dan Adith. Keduanya terasa bagai satu orang, tapi berperan jadi dua tokoh yang berbeda. Kalau Nina emang gloomy, kenapa gue nggak merasa begitu? Cara Nina bertutur bagaikan kembar dengan Adith, jadi andaikan gue mengenyampingkan jenis font yang berbeda dan nama, gue nggak bisa bedain siapa yang lagi ngoceh. Gue juga merasa aneh saat Sinar berbicara menggunakan kata ganti ‘saya’. Plis, deh, apa segitu jauhnya  jarak antara Nina-Adith dengan Sinar sampai harus pakai ‘saya’?

Gue juga agak bête karena para tokoh di Camar Biru  ini nggak usah pusing soal financial. Biar Nina acak adut gitu, dia berhasil jadi ilustrator yang mampu beli apartemen sendiri, plus kalau mau ke Bali atau beli iPAD nggak usah bingung dananya dari mana. Adith sendiri biar cuma sekelas jadi dosen, dia mampu buat beli buku-buku impor di Kinokuniya, jajan di Starbucks, ke Bali nyusul Nina, atau… yah, punya mobil sendiri. Not to say it’s nonsense, tapi kalau dibuat agak down to earth mungkin bakal lebih asyik kali, ya. Sinar sendiri juga gampang aja kabur ke London, kuliah lagi di sana, bla, bla…

Bahasa Inggris bertaburan di novel ini. Make sense, secara dari awal sudah terlihat kalau kehidupan para karakternya memang terbiasa ngocehin bahasa asing. Gue nggak terganggu, tapi gue jadi kepikiran ama pembaca yang mungkin belum terlalu menguasai bahasa Inggris, mungkin mereka akan kehilangan dialog-dialog penting yang bikin segala misteri di novel ini terungkap. Untungnya, dibanding beberapa novel yang juga bertaburan bahasa asing, kesalahan grammar di Camar Biru  cuma  sedikit. Gue harap ke depannya novel-novel kita nggak terlalu ngobral bahasa asing kalau emang nggak perlu-perlu amat. Bukan apa-apa, kita harus lebih bangga ama bahasa sendiri, toh?

Gue salut ama editorial dan tata letak Camar Biru. Walaupun gue ngak ngerti apa maksud ranting-ranting di kover, tapi camar biru kertanya jelas, sih (he he). Camar biru itu juga menghiasi setiap awal bab plus cuplikan lagu-lagu barat. Nggak pakai judul bab, but it’s not really a big problem anyway. Mutu ejaannya juga terjaga, kesalahan ketiknya nggak banyak. Keren, deh.

Cinta tak selalu tepat waktu.

Nina yang nggak ingin membebani Adith atau Sinar atau siapa pun juga sengaja menutup dirinya, sementara Adith yang menerima Nina apa adanya tetap mendukung Nina apa pun yang ia lakukan. Apakah ada cowok yang sebaik Adith di dunia ini? Gue yakin ada, tapi jumlahnya terbatas. Pada akhirnya Nina, Adith, Naren, Sinar, bahkan Danish adalah cerminan orang-orang yang mendekati sempurna di balik segala kekurangan mereka. Walau begitu, gue nggak nemu alasan untuk membenci mereka karena mereka terlalu manis untuk dibenci ^__^

P.S. Sumpah, gue terganggu banget ama panggilan sayang yang bisa ditemukan di mana-mana di novel ini. Gue lebih milih kata lain dibandingkan Kunyuk, Beruk, Setan, atau Kampret kalau manggil orang yang berarti buat gue.

Minggu, 21 April 2013

Mereka pun Berhak untuk Hidup


Semua berawal dari lolongan yang memecah keheningan malam. Saya tidak sedang menceritakan perilaku seekor serigala yang berkeliaran di film-film horror, melainkan jeritan pedih seekor anjing yang ditinggalkan majikannya terlantar karena ‘ditugaskan’ menjaga rumah kosong yang terletak tepat di seberang rumah saya.

Kali pertama mendengar suara itu, saya tidak terlalu ambil pusing. Si anjing sering kali menggonggong sesekali selama ia mengemban tugas suci dari sang pemilik di balik pagar yang tertutup rapat oleh fiberglass. Namun, malam itu suaranya terdengar berbeda. Ia tidak menggonggong, melainkan melolong dan itu dilakukan hampir sepanjang malam, diselingi dengan dengkingan. Saya masih tidak ambil pusing sampai keesokan siang saya masih mendengar sang anjing terus bersuara. Kali ini bahkan ditingkahi dengan gonggongan yang bersemangat. Keanehan itu akhirya menarik saya untuk menjebol sedikit fiberglass dan mengintip ke dalam. Astaghfirullah! Saya menemukan seekor anjing berwarna putih yang terjepit di bawah kerangkeng besar berisi anjing besar yang mirip seperti anjing polisi! Mangkuk kaleng kosong tergeletak terbalik, ember hitam yang berada di dalam kerangkeng sudah kosong melompong. Sudah berapa lamakah para anjing itu tidak makan dan minum?

Dengan kenekatan, saya menyiramkan air menggunakan selang ke arah anjing-anjing itu, berharap mereka dapat minum seteguk atau dua teguk air. Seakan mendapat harapan setelah badannya basah, si anjing putih itu berusaha untuk keluar dari jepitan kerangkeng dan dengan usaha kerasnya, ia berhasil! Namun, kondisinya sangat lemah. Bahkan ia tidak mampu untuk mengangkat kepalanya. Si anjing besar, kemungkinan besar campuran rotweiler (saya tahu setelah mengubek-ubek mesin pencari), memberi semangat pada si anjing putih (yang saya tidak tahu sampai sekarang apa jenisnya). Subhanallah…

Tak tahan lagi, saya menghubungi pihak RT dan memutuskan memanjat pagar tetangga saya itu untuk sekadar memberikan makanan kucing saya pada mereka. Saya tidak takut anjing, tapi menghadapi anjing penjaga rotweiler besar, walau terpisah kerangkeng, tak ayal saya ciut juga. Apalagi saya dihadiahi gonggongan penuh kemarahan a la anjing kelaparan. Walau ragu, sang rotweiler makan dengan rakus, sementara si putih sama sekali tidak mau makan. Untuk minum pun harus saya suapi. Akhirnya saya menghubungi penyelamat binatang melalui perantara seorang teman yang pecinta anjing.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya masuk rumah orang tanpa permisi empunya, bahkan mendobrak pagarnya demi menyelamatkan seekor anjing yang menderita. Dengan bantuan para penyelamat binatang itu, si anjing putih diangkat perlahan. Ajaibnya, anjing itu tersadar dan mengangkat kepalanya sedikit. Kami tadinya ingin menyelamatkan sang rot, tapi melihat ia yang menggeram dan kerangkeng yang digembok rapat, kami memutuskan untuk menyelamatkan si putih terlebih dulu. Para penyelamat binatang itu langsung membawa si putih, yang kemudian kami beri nama Hope, ke dokter hewan. Sayangnya, hanya satu jam setelah ia ditangani dokter, Hope mengembuskan napas terakhir. Namun, kami lega karena ia mati tidak dalam kesendirian.

Proses evakuasi Hope dengan mematahkan jeruji pagar

Seminggu setelah penyelamatan aksi Hope, setiap hari saya memanjat pagar dua kali sehari untuk memberi makan Thunder, nama pemberian kami untuk sang rot. Bahkan, Allah memberi rezeki berupa beberapa kaleng makanan anjing yang saya menangkan dari sebuah kuis. Sayangnya lagi, aksi tersebut terhenti saat sang majikan akhirnya datang dan tidak suka saya memberi makan Thunder (dan sepertinya ia memindahkan kandang Thunder diam-diam ke dalam rumah).

Saya baru benar-benar aware ternyata banyak sekali binatang terlantar atau diperlakukan begitu buruk, bahkan oleh majikannya sendiri. Dan ternyata ada orang-orang yang begitu care pada binatang-binatang malang ini tanpa mengharap imbalan atau jasa. Yang mereka harapkan hanyalah keselamatan binatang-binatang itu. Saya jadi malu, ke mana saja saya selama ini? Andaikan saya lebih tanggap, mungkin nyawa Hope bisa diselamatkan saat ini. Namun, apa yang sudah terjadi sudah merupakan takdir-Nya. Saya bersyukur menjadi Srikandi sehari ikut serta dalam penyelamatan Hope.

Semoga para majikan bertanggung jawab terhadap peliharaannya sehingga tidak ada lagi Hope-Hope lain. Insya Allah saya terus dapat menunaikan kewajiban saya sebagai majikan para peliharaan saya.

Foto ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Sehari Menjadi Srikandi

. 


Sabtu, 20 April 2013

Sebuah Cubitan dan Sekeranjang Cinta untuk BaW


Saya tahu BaW, tapi tidak mengenalnya. Lho? Ya, dulu, saat saya masih bekerja penuh waktu, BaW baru akan proses launching. Nah, sekarang saya ingin mencoba mengenal BaW lebih dekat lagi.

Anyway, saya sudah beberapa kali mengunjungi BaW dan melihat-lihat artikelnya, tergoda untuk membuat tulisan ini jauh-jauh hari (tapi pada akhirnya saya baru menuliskannya hari ini, a ha ha). Satu hal yang saya ingat setiap kali intip-intip blog BaW adalah lagu Melodies of Life yang mengalun. Saya sangat menyukai lagu itu, jadi saya sangat menikmati berlama-lama di BaW walau hanya untuk mendengarkan melodi yang mengalun. Tapi, kenapa hari ini tidak ada lagu yang terdengar, ya? Apa ini gara-gara saya pakai lappie suami? Atau mungkin karena koneksi internet saya yang super lambat? Andaikan memang lagu tersebut sudah dihapus dari blog, saya harap lagu itu kembali dipasang ^__^

Saya bukanlah penulis. Saya lebih ke seorang pembaca yang menikmati buku dan sesekali mengetikkan pendapat saya melalui resensi. Saya juga bukan seorang blog walking atau seorang blogger yang rajin meninggalkan komentar di postingan blog yang kebetulan saya kunjungi. Walau begitu, saya membaca (beberapa) tulisannya, lho.

Setiap kali mengunjungi blog BaW, yang menarik perhatin saya adalah foto yang dipasang di header. Ya, rak berbentuk lingkaran dengan ornament spiral di bagian tengahnya memang menarik hati dan perhatian saya. Walaupun rak itu mungkin kurang efektif dan maksimal sebagai rak, namun secara estetika, rak itu akan menghiasi dinding perpustakaan (saya) dengan sangat manis (termasuk header blog BaW). Sayangnya, tulisan ‘Be a Writer’-nya malah tidak terbaca karena kalah bersaing dengan fotonya :(

Saya kurang mengerti, tapi sepertinya postingan di BaW adalah sumbangan dari para anggota BaW? Kalau iya, hal itu menjelaskan ketidakseragaman postingan (terutama dari segi gaya penulisan). Saya seakan berada dalam sebuah forum, bukannya blog. Menarik di satu sisi, tapi di sisi lain menjadikan kualitas postingan yang naik turun. Namun, andaikan jawabannya adalah tidak, saya berharap kualitas tulisan postingannya dapat diseragamkan. Tulisan di sini juga termasuk pemilihan font-nya. Untuk variasi tidak masalah, tapi saya bagaikan membaca sebuah novel dengan font body text yang berbeda-beda >.<

Bagian yang paling suka mungkin Resensi. Alasannya sederhana, karena saya mendapat banyak hal dari sana, entah bagaimana cara menulis resensi yang baik, juga tahu penilaian atas buku yang ingin saya baca. Sayangnya, karena ditulis oleh orang yang berbeda-beda, poin-poin yang disampaikan berbeda-beda. Kadang saya sampai gregetan karena resensi yang dimaksud kurang lengkap, sementara resensi yang lain terlalu spoiler karena dijelaskan panjang lebar.

Bagian kedua yang menarik perhatian saya adalah Promo Buku, tapi jujur saya kecele banget saat melihat apa isinya. Yang ada di benak saya akan ‘promo’ adalah tawaran menarik akan suatu judul, entah potongan harga atau buku bertanda tangan. Yang saya temukan ternyata ‘hanya’ pengenalan produk masing-masing anggota BaW (yang belum lengkap juga daftarnya). Saran saya, mungkin nama tab-nya diganti menjadi ‘Karya Kami’ atau semacamnya dan membuat konten baru untuk Promo Buku. Jadi, di bagian Promo Buku ini, para anggota BaW dapat menawarkan keuntungan khusus bila pembaca blog tertarik untuk membeli langsung melalui BaW atau penulisnya (via blog BaW). Akan lebih menarik lagi jika para anggota BaW menawarkan pembelian paket para penulis dengan harga khusus ^__^

Dengan tab menu yang cukup banyak, saya sedikit bingung membedakan antara CatHar, Cerpen, Surat Cinta, atau Motivasi Menulis. Oke, memang sudah jelas klasifikasi masing-masingnya, tapi menurut saya kesemuanya dapat dijadikan satu dalam satu menu utama, misalnya ‘Catatan Kami’ lalu dibuat semacam drop down yang dipecah menjadi keempat submenu tadi. Hal ini akan membuat tampilan menu lebih irit dan cukup satu baris.

Bagian lain yang membingungkan adalah bagian Motivasi Menulis. Kenapa? Karena saya menemukan adanya motivasi DAN tips di sana. Walau tidak jelas-jelas berupa tips, tapi jika ditelaah lebih lanjut akan terasa kalau itu adalah tips. Hal ini membuat saya jadi kesulitan menemukan apa yang sebenarnya saya cari dan pusing sendiri memeriksa masing-masing postingan, terlebih beberapa postingan meletakkan judul yang memang eyecatching, tapi pada akhirnya tidak memberikan apa yang saya butuhkan.

Overall, saya suka tampilan keseluruhan blog BaW, sederhana dan kolomnya jelas. Yang mengganggu adalah efek transparan di sidebar atau di bagian bawah (apa, ya, namanya?) yang lagi-lagi bersaing dengan latar belakang dan membuat tulisannya sulit dibaca.

Membaca tulisan-tulisan di blog BaW membuat saya berhenti sejenak dari pekerjaan saya dan memikirkan kembali passion saya. Apakah saya benar-benar tidak tergoda untuk menulis seperti para anggota BaW? Tebersit setitik rasa iri, tapi saya kembali pada keputusan ‘belum saatnya’. Saya akan terus membaca (dan menulis resensi), berharap pendapat saya dapat memberikan masukan berharga bagi calon pembaca lain, akan menjadi bonus jika penulisnya juga membacanya. Dan, mungkin suatu saat nanti, saya dapat mengetuk pintuk BaW dan ikut bergabung.

Tulisan ini saya buat dalam rangka peluncuran blog Be A Writer.


http://bawindonesia.blogspot.com/2013/03/give-away-baw-20-maret-20-april-2013.html?spref=fb

Sabtu, 13 April 2013

Merasakan Cinta bersama Love Around You


Pengakuan dosa dulu. Awalnya saya sama sekali tidak menyangka kalau Love Around You yang dilombakan oleh @hor_romance adalah buku yang saya dapat dari Mbak Lily Zhang *tersapu-sapu* Seringkali saya terpaksa menumpuk buku karena kecepatan saya membaca lebih lambat daripada kecepatan tumpukan itu bertambah. Tapi, dengan adanya lomba resensi Love Around You, saya jadi bersemangat membacanya ^__^


 Judul: Love Around You
Penulis: Welly Setyawan, Andry Chang, June Tan, Renee Kefee, Dya Ragil, Lily Zhang, Reina Mala, Liz Lavender, Lia Zhang, Catz Link Tristan
Penerbit: CV. Gloria Group

Sinopsis:
10 kisah cinta dari 10 penulis Grup House of Romance dengan mengusung tiga tema berbeda. Cinta dua generasi, cinta palsu, dan cinta dunia maya.
Kisah-kisah cinta di sekitar kita yang kadang terlupakan. Baik yang manis, memabukkan, hingga pahit getir. Rasakan kejutan-kejutan saat menyelaminya satu per satu.
LAY. Love Around You. A treasure book of love.

Cinta memang tak lekang oleh waktu. Tema ini selalu dapat diangkat, baik sebagai kisah cinta yang manis atau tragedi. Nah, yang diusung dalam LAY ini bisa dibilang bukan kisah cinta yang umum. Awalnya saya bingung dengan benang merah apa yang tersirat dalam LAY, tapi setelah saya baca ulang sinopsis belakangnya, saya mulai mengerti ‘pembagian’ tema dalam LAY. Sepertinya sejak awal LAY tidak disusun berdasarkan kelompok tema, sehingga butuh waktu untuk menyadari bahwa ada tiga tema cinta di dalam satu buku kumpulan cerpen ini.

Dengan kover yang manis, saya tidak menyangka kalau LAY memuat beberapa cerpen yang berakhir tragis. Ada kelicikan di sana, tapi semua itu didasarkan pada cinta yang murni sesungguhnya. Keceriaan warna kover sama sekali tidak menggambarkan kekelaman yang tersebar di dalam kumcer ini. Sayangnya tulisan LAY di kover kurang menonjol dibandingkan pohon putih yang menjulan di sana. Sehingga bila dilihat dari jauh, yang akan menohok mata terlebih dahulu adalah pohonnya, bukan judul. Namun, yang saya suka dari kumcer ini adalah ‘keadilan’ bagi seluruh penulisnya. Sering kali kumcer hanya ditulis sebagai karya Esvandiari, dkk (maaf kalau saya memakai nama saya sebagai contoh, he he), seakan kumcer itu hanya ditulis oleh satu orang. Tapi, khusus LAY, semua nama penulisnya tertera di dahan pohon secara adil.

Saya juga menyukai tata letak dan ilustrasi di LAY. Kadang, sebuah novel menjadi buruk di mata saya karena asal ceplak-ceplok dan seakan tidak melewati proses editing yang maksimal. Tapi, LAY boleh berbangga diri karena dilengkapi dengan tim di belakang layar yang patut diacungi jempol. Ilustrasi dalam bentuk siluet memberikan nuansa berbeda dengan ilustrasi yang umum muncul dalam sebuah novel. Ada beberapa kesalahan ketik, tapi karena jumlahnya masih dapat ditampung kedua tangan saya, so no problemo ;)

Oke, sekarang masuk ke dalam masing-masing cerita. Tapi, biar tidak terlalu panjang, biar saya kumpulin per tema....

Ada jarak umur di antara kita ....
Cinta dua generasi menjadi cerita yang paling banyak muncul di LAY. Dari beberapa judul, mungkin favorit saya adalah Terbaik Untukku karya June Tan. Cerpen ini bercerita mengenai kisah cinta antara anak tiri dan ayah tirinya. ‘Penghubung’ di antara mereka sudah hilang, namun mereka tetap meneruskan kehidupan sebagai ayah dan anak, sampai huubngan itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar. Hanya saja, cerita ini mengingatkan saya pada sebuah cerita komik, Jinbe, karya Adachi Mitsuru. Inti ceritanya sama, bedanya ibu dan anak perempuan di Jinbe benar-benar memiliki hubungan darah. Saya pribadi bukan tidak percaya akan cinta antargenerasi seperti ini, tapi saya lebih menyukai pasangan yang berusia agak dekat dengan saya. Namun, lagi-lagi, ini masalah selera dan kita tak akan pernah tahu kapan cinta itu datang, bukan?

Cinta ini mungkin palsu untukmu, tapi tidak untukku ....
Membaca What Goes Around Comes Around karya Liz Lavender, saya bagaikan membaca Kiss The Sky. Ciri khas Liz begitu terasa *sok tahu* Tapi, seperti membaca Kiss The Sky, saya terganggu dengan penggunaan bahasa Inggris yang terlalu banyak. Bukan karena saya tidak mengerti, tapi karena membuat jeda membaca jadi naik turun. Dan saya tidak melihat pentingnya menggunakan bahasa asing itu. Namun, dengan lihai, Liz merangkai keseluruhan cerita dengan ending tak terduga, walau saya meragukan seorang Tim dapat menjadi security di usianya yang masih 15 tahun ....

Ini mungkin hanya dunia maya , tapi tetap bisa menghadirkan cinta ....
Nah, bagian ini termasuk yang paling sedikit. Karya Lily Zhang, My Direct Message, bisa dibilang cinta dunia nyata yang dicampur dengan dunia maya. Sedangkan karya Catz Link Tristan memberikan cara pendekatan yang sedikit berbeda demi menjatuhkan korbannya. Pada kenyataannya, cinta dunia maya memang ada.

Secara garis besar, kekurangan terbesar dari cerpen-cerpen di LAY adalah ending yang terasa terburu-buru. Setelah bagian awal dan tengah yang cukup detail, entah kenapa bagian akhirnya begitu singkat, seakan baru tersadar kalau jatah halamannya sudah hampir habis dan cerita harus ditamatkan. Hal ini menyebabkan beberapa alasan yang menjadi landasan kenapa tokoh A harus melakukan ini pada tokoh B jadi terkesan dipaksakan. Dari kesemua cerita saya tidak dapat menarik kesimpulan apa yang ingin disampaikan dalam cerpen pertama, One Night karya Welly Setyawan. Ending cerita dibuat menggantung, sementara untuk saya masalah utamanya sama sekali tidak ada jawabannya. Sayang sekali, padahal saya berharap cukup banyak akan akhir cerita yang bisa membuat saya terkejut. Saran saya, akan lebih baik jika dibuat kerangka tema yang lebih jelas agar terjadi penyeragaman ‘jumlah’ tema dalam satu buku, juga mengatur porsi awal, tengah, dan akhir dari sebuah cerpen dengan lebih adil.

Oh, ya, dari semua halaman, LAY dibuka dengan halaman in memoriam untuk Reina Mala, salah satu kontributor yang sekarang telah tiada. Saya jadi penasaran dengan apa yang terjadi padanya *jujur* Karyannya, Lukisan Masa Lalu, adalah salah satu yang terbaik (dan akan lebih baik jika porsi awal-tengah-akhir dibagi rata). Namun, ia  membuktikan bahwa gajah dapat meninggalkan gading dan manusia dapat meninggalkan karyanya....

Ya Tuhan, terima kasih untuk hari ini.
Semoga Kau menghadiahkan juga untukku
hari yang indah esok, dan esok hari ....
Selamanya

Tulisan ini dibuat dalam rangka lomba resensi yang diadakan oleh House of Romance.
Dapatkan bukunya via bukabuku.com di sini.
Ingin berkomentar di Goodreads? Langsung klik ini http://www.goodreads.com/book/show/17450961-love-around-you