Senin, 13 Mei 2013

Ketulusan dalam Cinta Kamu, Aku



Judul: Cinta Kamu, Aku
Penulis: Irfan Ihsan
Penerbit: Nourabooks
Jumlah halaman: 310 halaman
Terbit: Februari 2013 

Sinopsis:

Aan tidak menyangka, pertemuannya dengan Risha akan membawanya pada suatu kerumitan kegalauan tak berujung. Aan hanyalah seorang penyiar radio dengan air time pas-pasan, tunggakan uang kos, dan penyakit jomblo akut. Sementara, Risha, penyanyi papan atas yang tinggal di dunia yang jauh berbeda dari Aan, terkenal dengan suara merdu, kecantikan, dan segudang prestasinya. Namun, satu event pengubah takdir telah membuat cinta Aan dan Risha bertemu di satu frekuensi.


Apa, sih, ceritanya?

Aan alias Febrian Suhendra tidak pernah menyangka kalau pertemuan dadakannya dengan Risha sang penyanyi yang sedang naik daun ternyata berlanjut dengan dramatis. Aan jadi selebriti dadakan sejak mendapat cap sebagai ‘pacar Risha’ walau sebenarnya semua ini murni kesalahpahaman. Usaha Risha untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya pada Aan selalu gagal, membuat keduanya terlibat semakin dalam. Saat segalanya mulai serius, haruskah Aan menerima kenyataan di balik semuanya dan melepaskan Risha?

Memulai Hal Biasa di Hari yang Biasa

Saya belum pernah membaca cerita mengenai seorang penyiar radio sebelumnya. Dibuka dengan adegan Aan yang harus ‘kabur’ dari kejaran ibu kos yang ingin menagih utang, kita langsung dibawa ke kehidupan radio yang kini mulai ditinggalkan pendengarnya. Aan yang mengalami krisis keuangan terpaksa hengkang dari kamar kos sepagi mungkin dan menghabiskan waktunya di Radio Flash tempatnya menjadi penyiar. Saya dapat membayangkan bagaimana suasana ruang kerja (?) di Radio Flash beserta para krunya melalui penuturan Irvan. Juga saat siaran. Saya bagaikan mendengarkan cuap-cuap Aan di Flash FM secara langsung. Irvan berhasil mengangkat adegan ini sehingga terasa nyata dan saya yakin hal ini ada pengaruhnya dari pengalaman Irfan terlibat dalam dunia penyiaran secara bertahun-tahun.

Sebetulnya, kisah cinta ‘dua dunia yang sama, tapi berbeda’ sudah banyak di pasaran. Awalnya Aan bukan siapa-siapa, hanya seorang penyiar yang bahkan permintaannya untuk menambah jam siaran langsung ditolak walaupun rating acara yang dibawakannya cukup baik. Novel ini menunjukkan bahwa untuk naik ke atas kadang butuh ‘domplengan’ nama tenar orang lain. Bukan berarti Aan adalah seorang ambisius yang memanfaatkan Risha untuk menaikkan posisinya, cintanya untuk Risha tulus dari hati. Namun, hal ini juga yang membuat saya bingung. Saya tidak menemukan ‘titik’ di mana Aan benar-benar jatuh cinta pada Risha, apa yang membuatnya rela menghabiskan hidupnya untuk Risha seorang. Andaikan diselipkan adegan berkesan yang mampu membuat saya menerima kenyataan bahwa cinta Aan hanya untuk Risha, mungkin saya akan lebih lega.

Berani Merasakan, Berani Menyatakan!

Menurut saya, karakter-karakter yang muncul di Cinta Kamu, Aku ini kurang kuat. Oke, mungkin selain Lego dan Aki. Saya tidak dapat menentukan apakah sebetulnya Aan ini cowok yang menyebalkan atau menyenangkan. Ia sesekali ceria, lain kali galau, tapi saya tidak dapat benar-benar menebak apa sifat Aan. Pun Risha. Ia memang gadis yang baik, artis yang baik, penyanyi yang baik juga, selain skandal cintanya dengan Yudha yang saat itu sudah menjalin hubungan dengan Ratih. Bahkan Yudha yang diceritakan memiliki sifat playboy pun tidak menguarkan aura brengsek yang patut saya caci maki. Memang ada adegan ia menelepon wanita lain untuk berkencan setelah ia membatalkan janji dengan Ratih, tapi untuk saya itu kurang masih jauh dari ‘kurang ajar’. Karakter yang paling saya suka mungkin malah Aki, yang hobi memlesetkan nama Risha menjadi apa saja, kecuali ... Risha. Aki juga selalu menasihati Aan agar tidak jinah supaya tidak asup neraka, dengan kata lain, “Buruan atuh nikahin Neng Reza, eh, Risha.” Jangan lupakan Lego yang mampu mempertahankan eksistensinya sampai akhir cerita.

Irfan menyelipkan cerita-cerita masa lalu sehingga saya tercerahkan mengenai masa lalu para karakter utama di novel ini. Sayangnya, cerita masa lalu ini bagai kelebatan ingatan saja, kurang mendetail, padahal saya ingin merasakan lebih banyak emosi Aan dan Risha yang memiliki masa lalu yang tidak seindah bayangan saya. Mereka sekarang tertawa, tapi seharusnya mereka pernah berderai air mata di masa lalu. Saya ingin sekali merasakan kesedihan yang mencubiti hati saya saat tahu kenyataan di balik cerita kisah ortu Aan yang romantis atau kesendirian Risha dengan ortu yang suka melancarkan perang saudara.

Tidak Ada yang Mudah

Buku bergenre seperti Cinta Aku, Kamu dengan karakter utama cowok dan ditulis oleh cowok juga tidak terlalu banyak di dalam jajaran koleksi buku saya. Dari segelintir buku itu, saya dapat merasakan perbedaan gaya penulisan penulis pria dan wanita (harap dicatat kalau ini pendapat saya pribadi). Irfan menuturkan segala adegan secara ringkas, bahkan penggambaran karakternya pun tidak bertele-tele. Di satu sisi ini baik sekali karena pembaca tidak perlu dicekoki hal-hal yang tidak penting, namun di pihak lain ada beberapa bagian yang terasa ‘lewat’ begitu saja. Saya benar-benar berharap Irfan ke depannya mampu menambahkan bumbu-bumbu yang lebih banyak ke dalam masakan naskahnya biar lebih gurih dan meninggalkan kesan. Konfliknya juga perlu dipertajam, misalnya Aan benar-benar sempat terpuruk dan kehilangan arah setelah perpisahannya dengan Risha sampai sakit parah ....

Saya sedikit terganggu dengan keterangan tempat dan waktu yang kerap muncul di tiap bab. Novel ini jadi bernuansa seperti skrip film yang memang harus jelas seting lokasi kejadiannya, padahal dari deskripsi satu atau dua kalimat dalam paragraf pun cukup. Saya juga tidak terlalu melihat hubungan signifikan antara keterangan waktu dengan keseluruhan cerita. Malah hal ini menjadi jebakan saat seting cerita masih tahun 2011, namun sudah ada ‘terawangan’ kematian Whitney Houston yang baru terjadi di tahun 2012. Oh, ya, saya juga agak terganggu dengan komentar kemarahan Aan yang sampai mengucapkan nama salah satu binatang saat ia menangkap basah Risha sedang berduaan dengan pria lain. Kalau ingat Aan termasuk ‘alim’. seharusnya istilah ini tidak keluar dari mulutnya.

Irfan banyak menggunakan kalimat-kalimat panjang yang kurang efektif. Untuk saya, ini bukan kesalahan Irfan murni karena editor seharusnya bisa mengingatkan atau cukup 'memenggal' kalimat panjang itu menjadi dua atau tiga kalimat tanpa mengurangi makna keseluruhan. Yang perlu diperhatikan juga adalah penggunaan bahasa Sunda yang seharusnya memperkuat isi cerita, tapi pada akhirnya malah membuat kenyamanan saya membaca berkurang. Kenapa? Karena kalimat ini juga tidak efektif. Misalnya, "Eta teh jinah ... jinah teh haram--Itu zina! Zina itu haram!" Untuk kalimat pendek dan jelas seperti ini rasanya tidak perlu diberi 'terjemahannya'. Kalau perlu malah tidak usah berbahasa Sunda, tapi tetap memasukkan unsur-unsur kata Sunda yang umum, seperti teh, eta, mah sehingga tetap terasa ke-Sunda-annya (kayaknya aneh, ya, istilahnya?).

Ini Bukan Drama Radio!

Buku yang kelihatan tebal ini ternyata tidaklah ‘setebal’ yang saya kira. Ukuran fontnya pas, ditambah dengan jarak antar kalimat yang tidak terlalu rapat sehingga mata tidak lelah. Hal lain yang menarik adalah adanya ilustrasi di awal bab yang walau lagi-lagi membuat saya menebak-nebak karena ada 1 orang cewek dan 2 orang cowok. Apakah karakter kedua cowok itu sama-sama Aan? (Tapi, menurut hemat saya, cowok bertopi yang duduk di atas radio itu adalah dr. Tompi). Saya juga sempat berharap bahwa ilustrasi awal bab ini semuanya berbeda, bukan cuma tiga gambar yang dipajang bergantian (maafkan keegoisan saya ini, ehehe).

Salut pada Nourabooks (logonya ganti, ya? Baru ngeh) yang berbasil mempertahankan kesalahan ketik seminimal mungkin. Namun, saya sedikit kecewa dengan jenis kertas kover yang digunakan karena gampang ‘patah’ saat buku dibuka. Untungnya jenis kertasnya termasuk yang lemas, jadi bisa saya minimalisasi walau tetap saja ada ‘patahan’ di bagian sudut. Selain itu, laminatingnya mudah terkelupas sehingga rencana darurat saya ke depan adalah menyampul buku ini sebelum saya menyesal lebih lanjut. Oh, ya, pemilihan warnanya juga terlalu kusam. Kebetulan buku ini saya beli via online, tapi ketika saya ke toko buku dipastikan saya akan melewatkan buku ini karena warnanya sama sekali tidak menggoda mata saya. Selain itu, logo Noura yang berwarna putih benar-benar tenggelam lautan di warna kuning kecokelatan yang mendominasi kover secara keseluruhan.

Ada satu hal yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh penulis lain: memasukkan cameo seorang artis/orang terkenal/orang yang benar-benar ada di dunia nyata ini ke dalam tulisan dan diketahui oleh yang bersangkutan. Dengan soundtrack ‘Menghujam Hatiku’ yang dibawakan dr. Tompi, sang penyanyi ini muncul sebagai dirinya sendiri di dalam novel . Jadi, andaikan novel ini benar-benar diangkat menjadi film, saya sudah bisa membayangkan adegannya *sok tahu*

Nyatakan ....

“ ... kalau ditanya apa saya masih sayang dia, saya akan jawab ‘nggak’ .... Dan kalo sekarang saya ditanya kapan terakhir kali saya melakukan kebohongan terbesar dalam hidup, saya akan jawab  ... baru saja ....”

Kalau ditanya apa novel ini bagus banget, saya akan jawab ‘nggak’. Tapi kalau ditanya apa saya berbohong, saya jawab ... ya, karena novel ini layak untuk dibaca, kok. Dan dapat 3 bintang dari saya ^^

Tentang penulis:
Irfan Ihsan adalah penyiar The Afternoon Show Radio Prambors yang menjadi program pertama di Indonesia yang mengudara secara langsung dan bersamaan di radio dan TV bernama Prambors Wow Mania. Sejak 2005, Irfan bergabung dengan VOA sebagai Internation Broadcaster dan menetap di Washington DC. Novel Cinta Aku, Kamu  adalah novel pertamanya.

PS. Sumpah, judulnya ribet banget soalnya saya terus-terusan kebalik antara posisi aku dan kamu. Hadeuuuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar