Kamis, 28 Maret 2013

Lebih Dekat dengan Kampung Fiksi

Kampung Fiksi (KF) apaan, sih?

Oh, ya, pertanyaan itu tercetus dulu. Sekarang juga masih terlintas sesekali, he he. Yang dulu saya kira, sesuai namanya, KF itu kurang lebih kuanggap sebagai komunitas penulis. Saya tidak tertarik untuk bergabung karena saya belum menemukan passion-ku sebagai penulis. Namun, sejak berteman dengan salah satu founder-nya (sebut nama nggak, yaaa), saya jadi sering melihat informasi mengenai KF wara-wiri di linimasa saya. Lama-lama, pertahanan saya jebol juga :)

Anyway, saya tetap belum aktif mengikuti kegiatan-kegiatan KF baik yang daring atau luring. Walau begitu, tetap menyenangkan mengikuti perkembangannya. Salah satu ide yang menarik perhatian saya adalah event #PostCardFiction. Sejujurnya, saya kurang tahu detail mengenai acara ini (memang tidak mencari tahu banget, sih), tapi ide menggunakan kartu pos sebagai media penulisan merupakan salah satu terobosan keren. Apalagi, KF berhasil bekerja sama dengan Smartfren. Saya lihat antusiasme peserta cukup bagus *sok tahu mode on*

Diam-diam (sekarang sudah terbongkar!) saya juga suka intip-intip tips nulis yang dibagikan. Walau belum berani bertanya (halah), tapi informasi yang saya dapat memang cukup bagus. Dan saya tidak perlu membeli buku untuk mendapatkan tips yang bisa langsung diterapkan itu.

Nah, buat saya yang menjadi masalah adalah... blog KF sendiri. Buat saya: membingungkan. Pertama, pilihan menunya cuma Home dan Store. Saya agak kesulitan dan malas scroll down mencari postingan yang ingin saya baca. Ditambah lagi pembagian kolomnya yang imut-imut seakan membuat saya membaca dari HP. Tulisan latar belakang KF berwarna keunguan hijau kebiruan juga mengganggu saat saya membaca karena mata saya kerap kembali memelototi huruf-huruf itu dibandingkan postingannya itu sendiri. Lalu, saya gregetan sendiri melihat kolom kanan dan kiri kemudian jadi kosong setelah bacaan makin ke bawah.... Lalu, untuk bagian kalimat yang mengandung tautan ada baiknya warnanya dibedakan biar kita tidak usah menebak-nebak sambil menggerakkan kursor tetikus.

Oh, ya, satu lagi... Kegiatan KF yang saya suka adalah Travelling Book Campaign. Salah satu buku saya sudah menjelajah walau sepertinya sepi peminat :) Saya pribadi belum kecipratan dapat pinjaman dari TBC karena masih menunggu giliran, tapi idenya seru banget. Selama ini saya sudah melakukan acara barter pinjam buku, tapi terbatas pada sahabat-sahabat saya. Namun, TBC seakan menjadi wadah yang lebih besar bagi peminat buku dengan kocek terbatas. Salut. (Nah, karena memang belum berpengalaman tentang TBC, jadi tidak usah dibahas lebih lanjut lagi). Saran saja, mungkin ada baiknya di grup TBC dibuat semacam list anggota dan buku miliknya yang diikutkan dalam TBC. Jadi, yang mau pinjam dan yang punya buku sama-sama jelas?

Apa tulisan ini bakalan memenangkan sebuah kaos dari kF? Entahlah, saya sendiri tidak yakin. Tapi, semoga masukan (dan kesan-kesan) saya ada gunanya ^__^

Ah, ada yang ketinggalan. Masalah hadiah. Walau sesama Jakarta, andaikan hadiah tidak bisa diambil, jangan hangus, dooong. Kenakan ongkos kirim saja. Soalnya kadang kita tidak bisa ambil karena satu dan lain hal, lalu hadiah yang kita terima jadi hangus, rasanya ... *terdiam* Yah, mungkin memang bukan rezeki, tapi melupakannya susah banget (padahal, saya juga belum pernah menang, sih, hi hi).

Maju terus, KF! Doain saya bisa lebih aktif ngintip blognya diam-diam, ya ^__^


Selasa, 26 Maret 2013

Memutar Kenangan bersama Remember Dhaka


Setiap manusia membutuhkan alasan untuk melakukan sesuatu, termasuk saya. Saya membeli sebuah buku karena beberapa faktor, antara lain harganya dan rekomendasi orang. Biarpun tidak mendapat rekomendasi, jika buku itu murah dan menarik perhatian, ada kemungkinan akan saya beli. Nah, yang jadi masalah adalah kapan saya memulai membaca salah satu judul dari tumpukan buku yang kian meninggi itu? Ya, saya butuh alasan kuat untuk memulai membaca, termasuk novel yang satu ini: Remember Dhaka.


Judul: Remember Dhaka
Penulis: Dy Lunady
Penerbit: Bentang Belia
Jumlah Halaman: 214 halaman
Harga: Rp37.000,-

Sinopsis
Di antara dunia baruku yang absurd, aku menemukanmu.
Di antara semrawutnya kota ini, kamu datang seperti peri.
Kurasa, kamu jadi alasan terbesarku bisa dan mau bertahan di sini.
Dhaka, tak pernah sekali pun terpikir olehku sebelumnya.
Bersama kamu, aku bisa menemukan diriku.
Karena kamu, kota ini jauh lebih hidup di mataku.
Jadi, tetaplah di sini.
Tetaplah indah seperti peri.

And the Journey begins...
Arjuna Indra Alamsjah tidak pernah mengira kehidupannya yang mewah dan nyaman akan jungkir balik saat kakak satu-satunya, Dewi Agni Alamsjah, mengirimnya menjadi volunteer di Dhaka. Jika Juna tidak mau menjadi volunteer, sang ayah mengancam akan mencabut segala kartu kredit dan membekukan rekening Juna. Mau tak mau, Juna harus meninggalkan kenyamanan yang sudah menjadi darah dagingnya seumur hidup dan menggantinya dengan kehidupan volunteer yang... yah, menyedihkan. Juna nyaris menyerah menjalani kehidupan barunya itu, tapi Emma Frost, advisor Juna, mampu membuat Juna berpikir ulang. Apakah hidup selama ini tidak adil pada Juna? Atau sebetulnya, Junalah yang tidak adil pada kehidupan ini?

First Page-Introduction
Novel dibuka dengan adegan Juna yang memerintahkan para pelayan, supir, satpam, apa saja di rumahnya untuk mengurusi segala tetek bengeknya setelah ia pulang dari pesta kelulusan SMA-nya.  Saya langsung merasakan gaya hidup Juna yang terbiasa dilayani dan tinggal perintah. Tidak perlu bingung karena Juna langsung menjelaskan kalau ia termasuk dalam the Alamsjah the Almighty. Dengan segala kekayaan keluarga Alamsjah, Juna tidak perlu merasakan kehidupan rakyat jelata yang harus bersusah payah. Ia terbiasa mendapatkan apa yang ia mau. Dan masalahnya muncul karena hal itu.

Dhaka, Surprise Me, please!
Dhaka benar-benar membuat Juna terkejut. Tidak hanya dengan kondisi kotanya yang plek mirip dengan bayangan Juna, tapi jauh berbeda dengan kehidupannya dulu, Juna juga harus menghadapi kenyataan bagaimana kebanyakan orang hidup di dunia yang tidak pernah dibayangkan Juna sebelumnya. Dhaka yang awalnya bagaikan mimpi buruk bagi Juna ternyata membawa Juna membuka lembaran baru bagi cowok satu ini. Tentu saja, dengan bonus cinta di dalamnya :)

Suprise by Myself, How Can I Enjoy Being Here?
Dy Lunady berhasil mengangkat satu hal baru yang mungkin tidak banyak dipilih penulis lain: menjadi tenaga sukarelawan. Ia pun memilih tempat yang memang ‘tidak umum’. Saya pribadi awalnya mengira Dhaka ada di salah satu bagian India, sebelum akhirnya Dy menyadarkan saya kalau Dhaka berada di Bangladesh J Dengan latar belakang keluarga Juna yang serba berkecukupan, mengunjungi Dhaka, apalagi sebagai volunteer, mungkin tidak akan pernah terbersit dalam pikiran Juna sama sekali. Juna punya alasan sangat kuat kenapa ia tidak perlu meninggalkan kehidupannya yang nyaman itu, sementara Agni juga punya alasan yang sama kuatnya untuk memaksa adik tersayangnya lebih mengenal dunia sesungguhnya.

Tentu saja, buku ini tidak hanya sekadar bertutur mengenai tugas seorang sukarelawan, tapi juga ada bumbu kisah cinta yang memang mungkin terjadi di dalam setiap liku kehidupan anak manusia. Tertarik pada Emma yang bagaikan peri, Juna mulai meresapi arti hidupnya selama ini melalui tugasnya sebagai volunteer. Tidak hanya menemukan hal-hal yang menyadarkannya akan berbagai hal, Juna juga menemukan cintanya di Dhaka.

Dy mungkin adalah seorang penulis yang suka berkeliaran ke negara lain, karena apa yang dituturkannya di Remember Dhaka bukan sekadar hasil mesin pencari. Ia menuturkan hal-hal menarik yang Juna temui sepanjang perjalanan ke Dhaka, termasuk juga apa saja yang ada Dhaka. Melalui Juna, saya dapat merasakan bahwa tujuan berwisatan ke luar negeri tak melulu ke Eropa. Baahkan di kota seperti Dhaka pun banyak menyimpan hal eksotis yang layak untuk dikunjungi.

No Need to Run and Hide
Sejak awal, karakter Juna bukanlah karakter menyebalkan. Ia hanya anak manja yang... tidak terlalu egois. Andaikan Juna dibuat lebih egois dan semaunya sendiri sampai membuat Agni naik darah mungkin akan membuat cerita ini lebih menarik. Untuk seorang Juna yang kehidupannya bagai seorang pangeran, tampaknya ia tidak terlalu kesulitan menyesuaikan diri dalam ‘kehidupan rakyat jelata’ yang malah kelihatan janggal untuk saya. Perubahan Juna dari anak egois menjadi anak manis ini terlalu cepat untuk saya. Cerita pasti akan lebih greget jika dibuat Juna mendapat kesulitan akan segala keegoisan dan keluh kesahnya selama menjadi volunteer, sebelum akhirnya Juna mencapai suatu titik yang akhirnya akan mengubah kehidupannya selamanya.

Dy memunculkan istilah dan bahasa Inggris di buku ini. Mungkin untuk menunjukkan bahwa anak konglomerat seperti Juna sudah umum berbicara campur aduk antara bahasa Indonesia dengan Inggris. Sayangnya, porsinya terlalu banyak. Saya yakin, banyak pembaca yang melewatkan dialog-dialog berbahasa Inggris di buku ini karena dibutuhkan kemampuan berbahasa Inggris yang tidak sekadar pasif untuk dapat menerjemahkan apa yang sedang dibicarakan oleh Juna dan kawan-kawan. Selain itu, saya menemukan beberapa kesalahan kecil, misalnya tidak adanya to be atau penggunaan –ing yang tidak pada tempatnya. Untuk saya sedikit banyak hal ini mengganggu. Misalnya Emma, why you here? (halaman 69) seharusnya why you ARE here? Atau penggunaan istilah yang salah, seperti godness bukannya goddes yang berarti dewi (halaman 88). Jujur, sedikit banyak saya terganggu setiap menemukan kesalahan-kesalahan ini tersebar dari halaman awal sampai halaman akhir. Hm...
Curiousity Killed the Cat
Walau begitu, segala hal yang dituturkan Dy berhasil memancing rasa ingin tahu saya. Itulah yang membuat saya agak kesal karena kegiatan volunteer yang dilakukan Juna dan kawan-kawan atau mengenai Dhaka itu sendiri malah kurang digarap oleh Dy. Sampai halaman akhir, saya tidak benar-benar tahu apa yagn dilakukan Juna di sana selain bantu-bantu yang tidak jelas... Sistem sekolahnya seperti apa dan berlangsung kapan saja juga tidak dijelaskan. Mungkin akan lebih lengkap bila Dy juga menyertakan cara jika salah satu dari pembacanya tergoda untuk menjadi sukarelawan seperti Juna :)

Live the Life You Have Imagined
Melalui Juna, Dy ingin menyampaikan bahwa kita diciptakan pasti karena ada tujuannya. Tuhan adalah perencana yang sempurna. Dy juga mengajak kita untuk ikhlas, karena uang bukanlah penyelesai masalah. Kitalah yang harus berusaha mengubah hidup kita. Banyak hal baik jika kita melakukan kebaikan. Seperti tetesan air yang jatuh ke kolam, riaknya akan melebar, dan kembali ke kita lebih besar. Feeling good by doing good.

No Matter Where We Go, We Take a Little of Each Other Everywhere
Salut pada Dy yang mengangkat hal yang tidak umum ini menjadi bacaan ringan dengan mengambil seting yang tidak umum juga. Saya menyukai tata letak novel ini. Ditambah dengan halaman blog Juna. Isi blog Juna kurang lebih ringkasan dari beberapa kegiatan yang telah dialaminya selama di Dhaka. Saya sampai berharap kalau blog Juna ini benar-benar exist , lho ^^

Seperti Juna, setelah membaca Remember Dhaka, saya jadi merenungkan banyak hal. Masih banyak Juna-Juna lain di luar sana. Semoga Juna-Juna itu bisa mendapat pencerahan seperti saya juga.

P.S. Kalimat-kalimat bercetak tebal di atas itu merupakan sebagian dari judul-judul bab yang muncul di Remember Dhaka. Isnt’ great?
P.P.S. Untuk saya seharusnya Juna tidak meminta Emma tetap sebagai peri karena Emma lebih menarik sebagai dirinya sendiri ^^

Jumat, 22 Maret 2013

Blogiveaway-AquaIllution


Saya suka buku. Mungkin tepatnya, saya mencintai buku. Satu-satunya barang yang membentuk tumpukan di berbagai sisi rumah saya adalah buku. Mungkin jika ditata dengan tepat, saya dapat membuka perpustakaan yang cukup lumayan di rumah (mungkin itu sebabnya saya selalu kehabisan ruang kosong di dalam lemari buku, sehingga saya juga memanfaatkan meja, kursi, kolong meja, apa saja yang bisa dimanfaatkan untuk meletakkan buku).

Jika dulu saya memiliki banyak waktu luang, tetapi hanya sedikit buku yang dibaca, maka sekarang berbeda. Ya, setelah memiliki pekerjaan saya mungkin sedikit 'kalap' menambah koleksi buku saya. Hal ini membawa masalah baru pada saya: saya memiliki banyak buku, tapi saya as hanya sedikit waktu luang. Jika hanya butuh referensi orang atau harga miring bagi saya untuk membeli sebuah buku, maka butuh motivasi yang sangat KUAT bagi saya untuk memulai membaca sebuah buku yang telah saya beli.

Begitulah saya. Jika dengan membaca dan membuat review saya bisa mendapatkan buku lain, saya jadi bersemangat. Saya seakan memiliki tujuan saat membaca. Bukan sekadar jadi penikmat, tapi juga pemerhati yang mungkin dapat menyuarakan pendapatnya dan berharap bisa memberi masukan kepada penulis ataupun pihak penerbitnya. Dan karena sebab itulah blog ini tercipta. Sejak awal saya tidak suka berbagi kehidupan pribadi atau uneg-uneg saya melalui blog. Namun, lain cerita jika saya ingin berbagi apa pendapat saya atas buku tertentu... Jeleknya saya, menulis resensi juga membutuhkan dorongan hadiah *ketawa*

Anyway, walaupun umur blog ini sudah tidak terlalu muda, isinya belum banyak. Namun, saya berharap posting saya akan semakin banyak ke depannya. Tentu saja, sambil berlatih menulis resensi dan berharap dapat sesuatu nantinya :)

Karena saya masih memfokuskan diri pada buku, maka isi blog saya ini adalah review buku semua.

Manga Boy Dolls 
http://aquaillution.blogspot.com/2011/12/my-fav-boy-dolls.html

Manga Red Haired Snow White  
http://aquaillution.blogspot.com/2011/12/my-fav-red-haired-snow-white.html

Novel The Reckoning 
http://aquaillution.blogspot.com/2012/08/yang-penuh-perhitungan-recknoning.html

Novel Amore: Cinderella Tuathina 
http://aquaillution.blogspot.com/2012/08/mencicip-amore-cinderella-tuathina_22.html

Buku Amazing 30 
http://aquaillution.blogspot.com/2012/08/amazing-30-melewati-usia-30-dengan.html

Novel Tragedi Gadis Parijs van Java 
http://aquaillution.blogspot.com/2012/08/mencicipi-sejarah-tragedi-gadis-parijs.html
 
Manga Flower and The Beast 
http://aquaillution.blogspot.com/2012/08/my-fav-flower-and-beast.html

Novel Tango 
http://aquaillution.blogspot.com/2012/12/menari-bersama-tango.html
 
Novel The Apartment 
http://aquaillution.blogspot.com/2013/01/menjelajahi-apartement.html
 
Novel Morning Sunshine
http://aquaillution.blogspot.com/2013/01/menikmati-morning-sunshine.html
 
Novel Di Antara Dua Hati 
http://aquaillution.blogspot.com/2013/03/aktor-vs-hater-so-i-married-antifan.html
 
Novel So, I Married the Antifan 
http://aquaillution.blogspot.com/2013/03/aktor-vs-hater-so-i-married-antifan.html
 
Novel Shatter Me
http://aquaillution.blogspot.com/2013/03/menuju-tatanan-baru-shatter-me.html
 
Novel Test Pack 
http://aquaillution.blogspot.com/2013/03/mengetes-komitmen-dengan-test-pack.html
 
Buku We Cannot Stop Here 
http://aquaillution.blogspot.com/2013/03/pemberi-inspirasi-we-cannot-stop-here.html
 
Kumpulan FF Love Journey 
http://aquaillution.blogspot.com/2013/03/menyusuri-love-journey.html
 
Memutar Kenangan bersama Remember Dhaka 
http://aquaillution.blogspot.com/2013/03/memutar-kenangan-bersama-remember-dhaka.html

Blogmu adalah halamanmu, tempatmu meletakkan semua yagn kusukai dan berharap orang lain dapat ikut menikmatinya.

Tulisan ini dibuat untuk keperluan Blogiveaway bersama TomKu.




Rabu, 20 Maret 2013

Menyusuri Love Journey

Sejujurnya, ini adalah buku pertama Elfbooks yang saya baca. Sebelumnya, saya sudah memiliki Perfect Ten, tapi urutan bacanya berhasil dikalahkan oleh Love Journey ... karena kovernya. Ya, saya jatuh cinta melihat segala kemanisan yang ditawakan kover buku satu ini. Harap dicatat, Love Journey adalah buku, bukan novel. Ingin tahu kenapa?

Judul: Love Journey~Flash Fiction Collection
Penulis: Delia Angela dan Lili Zhang
Penerbit: Elfbooks
Jumlah Halaman: 148 halaman

Selirik pertemuan.
Secangkir perkenalan.
Memandu dua pribadi untuk bertukar rasa.
Mengawal dua insan untuk bersatu.

Kemudian...
Berama menjajaki seukir kasih.
Merangkai segenggam komitmen.

Ada senyum, juga tangis.
Mempererat tali kasih di sebuah perjalanan.

Cinta selalu menjadi tema yang tak lekang oleh waktu.  Banyak cara untuk mengungkapkan cinta, misalnya melalui tulisan, kata-kata, atau perbuatan. Apa pun itu, jika penyampaiannya pas, akan meninggalkan kesan tertentu di hati. Itulah yang dinamakan perjalanan cinta. Betulkah?

Ada yang membedakan Love Journey dengan buku-buku fiksi yang pernah saya baca lainnya. Yang paling mencolok tentu saja kecepatan saya membaca (tapi ini tidak penting buat orang lain, hi hi). Buku ini berhasil saya selesaikan dalam waktu singkat. Mungkin karena pengaruh bahwa isi buku ini bukan berupa novel, melainkan flash fiction atau yang lebih dikenal cerita mini *sok tahu*. Buat saya ini merupakan salah satu terobosan karena bentuk FF jarang sekali dibukukan. Sepanjang yang dapat saya ingat, saya baru membaca buku FF sekali saja selain Love Journey.

Kelebihan FF adalah cerita sangat padat, singkat, dan (seharusnya) mengandung unsur kejutan. Bila dianalogikan dalam komik, FF setipe dengan komik 4 panel yang muncul dalam komik semacam Kobo-chan. Hal itu saya temukan pada beberapa FF yang ada di Love Journey, misalkan FF berjudul Penyelamat? karya Delia Angela. Dengan lihainya ia memunculkan tokoh penyelamat, namun ternyata 'menjebak'. Sayangnya, saya nyaris tidak dapat menangkap inti cerita FF lainnya .... Kenapa saya bilang sayang? Karena FF tersebut akan bagus sekali jika dikembangkan menjadi sebuah cerpen. Cerita akan menjadi lebih solid dan apa yang ingin disampaikan dapat diterima seperti yang diharapkan.

Delia, selain sebagai penulis, juga menjadi penata letak buku Love Journey. Ia membedakan jenis font yang digunakan dalam badan teks maupun judul sehingga pembaca dengan mudah membedakan mana FF milik Delia ataupun Lily. Delia juga menambahkan ikon dua ekor burung yang muncul di kover di bagian awal FF. Manis sekali. Hanya saja, gambar itu terlihat pecah... Dan menurut saya, akan jauh lebih menarik jika ikon ini dibedakan juga antara FF Delia dan Lily :) Pst, tapi bukan berarti posisi kedua burung ini sama, lho, di FF milik Delia atau Lily. Good job, Delia! Saran saya, jangan lupa sertakan file gambar ke dalam folder Links inDesign agar mutu gambar setelah dicetak nanti tetap tajam. Ada baiknya juga bila disertakan semacam daftar isi atau pembatas antara ucapan terima kasih dengan permulaan FF karena saya nyaris menganggap lembar terima kasih itu sebagai bagian dari FF ^__^

Buat saya, apa yang dilakukan Delia dan Lily melalui Love Journey cukup berani dan membawa nuansa baru dalam dunia perbukuan Indonesia. Minimal di rak buku saya. Dibalut dengan kover yang begitu menggoda, saya melangkah perlahan-lahan mengenali cinta, baik yang berakhir bahagia ataupun tidak....

Salut juga kepada Elfbooks yang mampu menghadirkan buku bermutu baik dari segi fisik ataupun isi dan tak kalah dari penerbit-penerbit mayor lainnya. Pihak redaksi juga mampu menjaga kualitas editingnya walau tidak 100% tapi tidak membuat saya mengomel hanya karena hal sepele.

Love Journey mengingatkan kita tentang sebuah perjalan cinta yang tidak hanya diisi dengan senyuman, tetapi juga oleh tangis dan perjuangan.

P.S. Oh, ya, ada juga FF mengenai Another Idol juga, lho!

 

Selasa, 19 Maret 2013

Pemberi Inspirasi: We Cannot Stop Here


 
Judul: We Cannot Stop HerePenulis: Hong Seung Seong
Penerbit: Haru
Genre: non fiksi, pengembangan diri
Tebal: 336 bw+32 halaman FULL COLOUR+bonus Poster
Harga : Rp. 65.000
Terbit: April 2012

Beberapa tahun yang lalu, siapakah yang kenal nama-nama Korea? Mungkin hanya sedikit orang dan saya tidak termasuk ke dalamnya. Saya kenal Jepang, tapi tidak Korea. Jadi, boleh dikata saya juga termasuk salah satu yang tidak menyangka betapa Korea bisa menjadi booming yang benar-benar booming.

Artis-artis Korea itu memang terkesan bersinar. Ditambah lagi mereka memiliki sesuatu yang membuat kita tertarik untuk melihatnya, entah apa itu. Para artis perempuan terlihat cantik, dengan badan tipis tapi seksi, sebagian juga memiliki kemampuan akting atau menyanyi yang bagus. Artis lelakinya juga tidak mau kalah, penampilan oke, wajah tampan, juga tubuh yang menggoda perempuan untuk menyentuhnya. Kesannya: sempurna. Iri? Saya pribadi, iya. Saya iri melihat kecantikan dan kesempurnaan mereka, juga ketenaran dan kekayaan yang menghiasi mereka.

"Aku percaya pada diriku sendiri yang bisa menerangi orang lain."

Tapi, tunggu dulu. Rasa iri saya perlahan-lahan luntur saat membaca We Cannot Stop Here yang dituliskan oleh Hong Seung Seong, pimpinan Cube Entertainment, salah satu agensi Korea yang menelurkan band-band terkenal yang digandrungi para K-popers, seperti Beast, 4Minute, atau G.Na.

"Mempertahankan mimpi yang konsisten adalah yang paling penting."

Istilah 'tidak ada yang instan' berlaku pada artis-artis Korea ini. Mereka melakukan perjuangan yang sangat melelahkan dan diwarnai dengan perasaan putus asa yang mendera selama bertahun-tahun.Direktur Hong menuturkan apa yang dialaminya sebelum mendirikan Cube Entertainment.

"Sekarang adalah giliran kalian mewujudkan mimpi menjadi kenyataan!"

Kamu kenal Rain (Ji Hoon)? Aktingnya yang ciamik dan ditunjang plot yang menarik membuatnya terkenal sekali dalam drama Full House. Bahkan bisa dibilang Rain adalah satu artis Korea yang mendunia yang masuk dalam '100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia' versi Time. Tapi sebelum sampai di sana, Rain juga menapaki karirnya selangkah demi selangkah, tak kenal lelah, sambil terus menggali potensi dirinya dan berusaha keras mencapai tujuannnya.

"Komen yang negatif dari orang bukan berarti mimpi kita tidak akan terwujud!!"

Gagal audisi bukan berarti akhir segalanya. Beberapa personel yang tidak lolos dalam pembentukan band BIGBANG, 2 AM, 2 PM, atau Wonder Girls ditarik membentuk band yang baru. Mereka pesimis gara-gara kegagalan demi kegagalan menyertai setiap usaha mereka, sehingga Direktur Hong harus meyakinkan mereka bahwa mereka masih punya kesempatan. Dengan prinsip 'sebuah proses tidak akan matang jika tidak memakan waktu lama', Direktur Hong membina dan mendidik mereka menjadi salah satu aset Cube Entertainment yang berharga. Hong juga menempatkan diri sebagai ayah yang bertanggung jawab atas perkembangan dan masa depan anak-anak binaannya.

"Akan datang kesempatan ketika aku harus mengetuk pintu."

Direktur Hong tidak main-main. Dia bersikap tegas kepada anak didiknya yang tidak mematuhi peraturan, juga bila mereka tidak mengalami perkembangan yang diharapkan. Ada juga anak didik yang terpaksa dipulangkan ke rumah. Tapi, para anggota Cube juga mengakui Direktur Hong sebagai ayah kedua, ayah yang tahu kapan mendidik anak-anaknya, tapi juga tidak lupa menghibur dan memanjakannya. G.Na yang menjadi anak yatim sejak kecil sangat menyayangi Direktur Hong dan merasa kalau ia seperti seorang anak perempuan yang tinggal di rumah yang penuh kehangatan.

"Jangan mudah menyerah!"

Pesan-pesan positif bertebaran di buku ini. Bukan cuma menawarkan mimpi, Direktur Hong juga membagikan hal-hal yang harus kita miliki dan kita lakukan pada dunia entertainment, tapi bisa kita terapkan juga dalam kehidupan sehari-hari. Direktur Hong sendiri mengaku bahwa ia juga perlu belajar untuk mengembangkan dan mempertahankan sebuah hubungan. Tidak ada hasil yang bagus tanpa perjuangan dan pembelajaran. Oleh karena itulah, Direktur Hong dapat mendirikan perusahaannya sendiri, menjalin hubungan yang harmonis dengan para karyawan dan trainee, serta mencapai kesuksesan seperti yang sekarang ini.

"Jika tidak memiliki bakat, menanglah sebagai trainee."

Buku ini sangat menginspirasi saya untuk tidak lari dari kenyataan yang mungkin berat, selalu optimis, dan terus berjuang sampai akhir. Akan ada banyak batu sandungan menghadang, tapi itu bagian dari rasa manis yang menunggu kita di ujung jalan. Para anak muda di Cube juga merasakan kesedihan, tapi mereka juga bangkit dan menolak untuk terpuruk lama-lama. Dikemas dengan sangat cantik dan menarik, buku terjemahan ini benar-benar dipersembahkan Penerbit Haru sebagai buku yang tepat untuk mengembangkan potensi diri kita.

"Satu-satunya cara adalah mencoba tantangan."

Maju terus, karena 'We Cannot Stop Here'.

Mengetes Komitmen dengan Test pack


Judul: Test Pack
Penulis: Ninit Yunita
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 200 halaman


Will you still love them, then?
That's why you need commitment.
Don't love someone because of what/how/who they are.
From now on, start loving someone
because you want to.


Saya telat mengetahui novel berjudul Test Pack ini. Tidak, bukan setelat sampai film diputar dan baru tahu kalau ini based on a novel Yang pasti, mungkin ini adalah novel lokal pertama yang mengalami cetak ulang lebih dari delapan kali yang PERNAH SAYA BACA <== sengaja menekankan bagian ini.

Test Pack bercerita mengenai Tata yang pusing bin sedih karena belum juga hamil setelah menikah tujuh tahun dengan Rahmat. Berbagai macam cara telah dilakukan oleh Tata, dari yang masuk akal sampai yang agak-agak absurd, tapi usahanya masih gagal. Padahal, Rahmat yang berprofesi sebagai pengacara tidak pernah memusingkan hal tersebut. Baginya, menikah itu adalah mencintai Tata, dengan atau tanpa anak. Saat kesetiaan diuji oleh kesalahpahaman, apa sebuah komitmen dapat diganggu gugat?

Apa adanya kamu, lengkapi aku.

Mungkin ini salah satu quote paling terkenal dalam Test Pack, sederhana tapi sangat cetar membahana dan saya yakin hampir semua makhluk di dunia mengharapkan mendengarkan kalimat ini dari pasangannya (termasuk saya). Untuk saya, Rahmat adalah tipe pria yang terlalu sempurna. Bukan secara fisik tentunya (walau digambarkan juga, sih, kalau Rahmat itu punya penampilan fisik di atas standar), tapi hatinya bak malaikat sekali. Tidak semua wanita dikaruniai seorang pasangan yang mau menerima keadaan tidak punya anak dengan alasan cinta. Bahkan, Rahmat lebih membela Tata dibandingkan tuntutan orangtuanya yang sudah tidak sabar memomong cucu.

Ya, masalah yang dihadapi Rahmat dan Tata bukan milik pribadi. Banyak pasangan lain yang juga berjuang keras mendapatkan anak, tapi belum diizinkan oleh yang Sang Maha Kuasa. Awalnya saya merasa ini hanya novel 'biasa'. Tapi, ternyata Ninit Yunita mampu memberikan sentuhan 'tidak biasa' melalui pergantian tokoh utama 'aku' sebagai gue dan gua. Pembaca tidak perlu takut bingung karena di cetakan ke-8 ini jelas sekali siapa yang sedang mengambil alih cerita melalui ikon karangan bungan atau dasi di bagian awal cerita. Bisa ditebak, kan, siapa yang memerankan masing-masing ikon ini?

Nah, Ninit dengan lihainya menyisipkan masalah-masalah dan kesalahpahaman dalam hubungan Rahmat dan Tata sehingga hubungan mereka yang awalnya harmonis mulai merenggang. Rahmat bingung setengah mati kenapa Tata ngamuk-ngamuk padanya sampai meminta cerai, sementara Tata sakit hati karena mengira Rahmat sudah tidak ingin meneruskan hubungan mereka. Ada orang ketiga, tapi tokoh ini tidak terlalu 'penting' sehingga saya tidak perlu merasa sebal dengan tokoh antagonis yang minta ditampar. Yang ada hanya Rahmat dan Tata sejak awal, tengah, sampai akhir. Jangan lupa, Ninit juga memberikan ending yang mungkin 'bahagia', tapi tetap ada efek kejutannya yagn bikin saya iri berat dengan hubungan di antara kedua tokoh utama ini.

Saya tidak mengecek edisi lain Test Pack, jadi saya tidak dapat membandingkan isinya. Tapi, saya menyukai tata letak novel yang saya punya ini. Ukuran teks tidak terlalu besar atau kecil, pokoknya nyaman. Ditambah lagi ada ornamen-ornamen kiyut, tapi memiliki 'arti' yang membuat saya betah berlama-lama memelototinya. Pihak editorial juga bekerja cukup baik dengan menjaga mutu editan sehingga tidak banyak kesalahan ketik.

Oh, ya, saya juga salut dengan Ninit yang berhasil memadatkan cerita ini sehingga saya tidak merasa ada bagian-bagian yang bertele-tele. Mungkin yang saya sayangkan adalah penyelesaian segala permasalahannya yang terasa agak terburu-buru. Andai ditambahkan sedikit detail, mungkin akan lebih memberikan greget. Ninit juga mampu menjaga ciri khas masing-masing karakter, sehingga tanpa perlu menebak-nebak, saya langsung tahu siapa yang sedang bercerita.

Oke, karena novel ini sudah diangkat ke layar lebar, boleh, dong, membandingkan sedikit? Seperti film lainnya yang diangkat dari buku, saya tidak berharap ceritanya akan sama persis plek (walaupun harapan itu tetap ada). Jika di novel cerita lebih difokuskan pada Rahmat dan Tata, di film ada porsi tambahan bagi 'si orang ketiga'. Dan si orang ketiga ini memiliki tipe yang ingin dibenci di awal, tapi akhirnya kita dibawa bersimpati juga di akhir...

Para bintang yang memerankan Rahmat (Reza Rahardian) dan Tata (Acha Septriasa) berhasil menghadirkan kedua karakter dengan alami. Penuh cinta di antara mereka, walau dialog Acha beberapa kali terasa kaku. Saya tertawa saat mereka berkonsultasi pada Dr. Peni S. Yang tidak saya sukai di filim ini, seperti juga di rata-rata film Indonesia lainnya, adalah ukuran rumah yang terlalu megah untuk mereka berdua. Jika di buku digambarkan tingkat ekonomi Rahmat dan Tata mungkin 'sekadar' menengah atas, maka di film mereka masuk dalam golongan menengah atas. Mungkin saja setelah 7 tahun membanting tulang mereka dapat membeli rumah semewah itu, tapi mengingat ukuran rumah tidak terlalu berpengaruh pada cerita secara keseluruhan, untuk saya akan lebih baik bila pihak sutradara, produser, siapa saja, memilih rumah yang lebih biasa dan masuk akal. Berberapa adegan di buku mampu diterjemahkan dengan benar di filmya. Good job.

Untuk yang belum membaca atau menonton Test Pack, saya bisa merekomendasikan untuk melakukan keduanya karena keduanya memiliki nilai lebih. Versi tulisan akan membuat Anda terkesima dengan kepiawaian cara bertutur Ninit Yunita. Versi visual akan membuat Anda terkagum-kagum dengan akting Reza Rahardian dan Acha Septriasa

Menikah bukan akhir, melainkan sebuah awal... Tidak hanya dibutuhkan cinta, tapi juga komitmen, untuk menjalankannya. Apa Anda siap?

I love you... because I want to.

Rabu, 13 Maret 2013

Menuju Tatanan Baru Shatter Me


Penerbit: Mizan
Harga: Rp65.000
Penulis: Tahereh Mafi


Mirip The Hunger Games. Itulah yang terlintas di benak saya ketika mulai membaca. Ada seorang gadis berusia 16-17 tahun, pemuda yang sebaya, dan dunia yang ‘baru’. 

Cerita dibuka dengan Juliette Ferrars yang dikurung di rumah sakit jiwa selama 264 hari. Namun, di hari ke-265, Juliette dihadiahi seorang teman sekamar baru, pemuda yang usianya kira-kira sebaya dengannya. Dunia hening dan kesepian Juliette sedikit demi sedikit berubah. Pemuda itu, Adam, berusaha berkenalan dan menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Juliette, tetapi gadis itu tidak terbiasa. Ia ingin menyentuh Adam, tapi ia tidak dapat melakukannya, karena... ia dapat membunuh Adam!

Sebelum Juliette dapat memahami apa yang terjadi, mendadak ia dipindahkan dengan paksa ke sebuah kamar yang cukup mewah, dengan makanan berlimpah dan pakaian selemari. Ia bertemu dengan Warner, pemimpin Tatanan Baru yang tertarik dengan kemampuan Juliette. Apakah Juliette akan menyambut uluran tangan Warner membalaskan dendam gadis itu karena telah dikucilkan seumur hidupnya? Ataukah Juliette harus percaya pada Adam, pemuda yang ternyata memiliki misi khusus dengan mendekatinya?

Oh, wow.

Saya tidak dapat berhenti membaca Shatter Me. Cara Tahereh Mafi bertutur dengan sudut pandang orang pertama sangat menarik. Ia berhasil memaparkan semuanya secara adil. Juliette tidak hanya berkeluh kesah, tapi ia dapat menyampaikan gambaran situasi, masa lalu, dan semuanya secara seimbang. Saya tidak merasa kesal Juliette bergalau ria karena ia memang tidak melakukannya. Kalau Bella Swan sibuk merutuki nasibnya yang malang sepanjang Twilight, maka Juliette lebih banyak mempertanyakan apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki semua.

Baru kali ini saya membaca novel yang menggunakan kata kalimat coret sampai halaman terakhir. Awalnya terasa lucu, tapi setelah saya baca dengan saksama, saya merasa kalau Juliette berusaha untuk menyampaikan apa yang dirasakannya dengan baik dan benar, agar tidak membuat orang lain salah paham, bukan sekadar menggoreskan keunikan cara penulisan semata.

Karena bergerak maju adalah satu-satunya cara untuk bertahan.

Tak susah untuk jatuh cinta pada Juliette atau Adam. Juliette sejak kecil telah memiliki kemampuan yang membuatnya tidak bisa sembarangan menyentuh orang lain. Walaupun Juliette dibuang oleh orangtuanya dan dijauhi teman-temannya, ia terus tabah dan sabar. Dan optimis. Bahkan selama ia dikurung dalam ruangan persegi yang begitu menyesakkan di rumah sakit jiwa, ia sama sekali tidak menangis. Ia masih memiliki harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Adam sendiri adalah seorang pemuda yang misterius pada awalnya. Ia seperti orang yang tidak tahu kenapa harus dijebloskan ke dalam kamar bersama salah satu orang yang dianggap berbahaya oleh negara. Namun, siapa sangka kalau ia ternyata seorang tentara yang disusupkan untuk ‘menjebol’ pertahanan Juliette?
Hal lain yang menarik adalah masa lalu Juliette dan Adam. Betapa hal yang saya kira kebetulan ternyata bukan sekadar kebetulan. Tahereh berhasil mengatur plot dan alurnya secara solid. Apa yang muncul di awal, ternyata menjadi petunjuk di akhir. Atau sebaliknya. Dengan lihai, ia membawa pembaca ke masa lalu dan masa kini tanpa kita merasa terganggu. Dan apa yang ada di antara Juliette dan Adam bukan juga sekadar kisah cinta biasa. Atau hubungan yang dipaksakan karena kebetulan keduanya adalah tokoh utama kita. Saya dapat merasakan chemistry di antara mereka. Hubungan yang mereka mulai bahkan sebelum keduanya saling mengenal.

Karakter lain yang menarik adalah Kenji, sahabat Adam di ketentaraan. Keberadaan pemuda yang ceria ini juga bukanlah kebetulan. Kehadirannya menjadi ‘penyelamat’ bagi Juliette dan Adam yang menjadi buronan setelah mereka berhasil melarikan diri dari Warner. Kenji pun menjadi penyelamat bagi pembaca dengan dialog-dialog segarnya yang dapat memancing senyum di tengah-tengah keseriusan membaca.
Salut terhadap Dina Begum, sang penerjemah, yang dapat menuliskan ulang karya Tahereh Mafi ini dalam tata bahasa yang mengagumkan. Saya jadi membayangkan andaikan Tahereh benar-benar menuliskan novel ini dalam Bahasa Indonesia, akan seperti apakah hasilnya? Salut juga untuk Prisca Primasari selaku editor dan Yunni Yuliana si proofreader yang dapat menjaga kenikmatan saya membaca dengan sedikitnya kesalahan ketik di sepanjang novel ini. Saya juga menyukai tata letak Shatter Me yang sederhana, tapi tidak membuat mata saya lelah membacanya.

Sebelum membaca buku ini, saya sempat melihat kover asli Shatter Me. Awalnya saya merasa kover itu lebih bagus daripada edisi terjemahannya. Ternyata, setelah saya terjerat pada pesona Juliette dan Adam, saya kerap memandangi kover edisi terjemahan dan membayangkan rupa Juliette, juga seting dunia tempat para karakter yang saya sayangi ini hidup. Saya langsung membayangkan akan seperti apakah jika Shatter Me ini diangkat menjadi film? Saya bisa jatuh cinta pada Adam! Efek hologramnya membuat novel ini menarik perhatian di rak buku saya (juga di toko buku). Sayangnya, lapisan hologramnya agak mudah terkelupas, jadi saya harus buru-buru menyampul novel saya sebelum saya menyesalinya nanti.

Keadaan sedang berubah, tapi kali ini aku tidak takut. Kali ini aku tahu siapa diriku. Kali ini aku membuat keputusan yang benar dan aku berjuang untuk tim yang benar. Aku merasa aman. Percaya diri.

Juliette mengajarkan kita untuk mengikuti kata hati. Walaupun penderitaan dan ujian datang mendera, bukan berarti kita membalasnya dengan kejahatan yang sama pula. Andai Juliette memilih untuk membalas dendam, ia akan berada di sisi Warner, bukannya Adam. Memanfaatkan segala kemampuannya untuk melancarkan kesedihan dan kepedihan hati pada orang-orang yang pernah menyakiti Juliette dulu. Namun, tidak. Juliette memilih untuk terus berjuang....

Juliette memiliki Adam. Orang yang menyayangi dengan tulus, melihat nilai diri kita sesungguhnya tanpa diburamkan oleh tampilan luar atau omongan orang. Adam secara tidak langsung menjadi pondasi kuat Juliette untuk terus melihat ke depan. Namun, andaikan Adam tidak ada, apa yang harus dilakukan Juliette? Banyak Juliette yang mungkin beruntung bertemu orang yang begitu berharga dalam hidup, tapi bukan berarti Juliette lainnya yang masih ‘sendiri’ memilih jalan yang salah karena insya Allah ada seseorang di luar sana yang peduli pada kita.

Akan ada burung hari ini. Bulunya berwarna putih berbintik-bintik keemasa bagai mahkota di atas kepalanya. Burung itu akan terbang.

Mirip The Hunger Games. Salah, Shatter Me setipe dengan The Hunger Games, tapi ia memiliki alur cerita yang jauh berbeda, juga sifat karakter yang tak kalah bertolakbelakangnya. Satu hal yang sama: keduanya membuat saya terjerat, tergila-gila, dan tak sabar menanti lanjutannya.

Senin, 11 Maret 2013

Aktor vs hater: So, I Married the Antifan




Judul : So, I Married The Anti-Fan
Pengarang : Kim Eun Jeong
Penerbit : Penerbit Haru
Halaman : 540 Halaman
Tahun Terbit : Cetakan I, Maret 2011
Kategori : Fiksi, Romance, Showbiz
Harga : Rp. 60.000,-
ISBN : 978-602-98325-4-9

Bagaikan air dan minyak, sampai kapan pun tidak akan bisa bersatu.

Geun Yong adalah wanita biasa-biasa saja. Pekerjaannya juga tidak ada yang menonjol. Pacar pun tak punya, membuat orangtuanya di kampung misuh-misuh menyuruhnya untuk segera menikah. Jadi, saat pemecatan menghantam Geun Yong, ia memilih untuk bangkit melawan si biang kerok, Hu Joon, tanpa menyadari bahwa tindakannya itu akhirnya menjadi salah satu titik balik dalam kehidupannya. Sampai kapan pun, Geun Yong tidak akan memaafkan Hu Joon! Memang, sih, gara-gara Geun Yong juga yang membuat Hu Joon naik pitam sehingga meminta kantor Geun  Yong memecatnya. Tetapi, Hu Joon tidak berhak melakukan itu, kan?

Variety show ini bagaikan keliling dunia dalam satu minggu. Mustahil!

Karena terpaksa dan iming-iming 10 juta won, juga kenyataan kalau Geun Yong kini terlunta-lunta, wanita itu menerima tawaran PD Han untuk mengisi acara ‘So, I Married the Antifan’. Publik yang melihat perseteruan Geun Yong dan Hu Joon yang makin meruncing membutuhkan ‘bukti’ kalau Geun Yong memang pantas disalahkan. Sampai kapan pun, Hu Joon hyung tidak mungkin bersalah, kan? Dan Geun Yong sendiri langsung menyadari kalau ia mengambil keputusan yang salah.

Anak itu seperti leggings. Tidak jelas mana depan dan mana belakangnya.

Hu Joon sendiri cukup stres harus berhadapan dengan Geun Yong yang meledak-ledak dan tak mau kalah. Geun Yong sangat berbeda dengan para fan Hu Joon, atau In Hyong, mantan pacar Hu Joon yang membuat pria ini belum bisa move on. Tapi, bersama Geun Yong, Hu Joon dapat menjadi dirinya sendiri. Tidak perlu menjaga image-nya sebagai seorang aktor yang dipuja-puja ....

Keluarga itu seperti pembuka kaleng yang hilang di saat haus. Kalau tidak ada, repot, kan?

Seperti halnya Hu Joon, Geun Yong juga menemukan sisi lain sang aktor yang membuat pria itu terlihat manusiawi. Ternyata, Hu Joon tetaplah pria biasa yang terluka akibat cintanya di masa lalu. Geun Yong mulai melunak terhadap Hu Joon, tanpa menyadari kalau dirinya mulai tertarik pada Hu Joon J

Ciuman sehabis minum alkohol itu keberuntungan belaka. Jangan dipercaya.

Geun Yong mulai bingung terhadap perasaannya sendiri, juga perasaan Hu Joon. Sebenarnya pria itu menyukainya atau tidak? Atau apakah In Hyong tidak akan pernah hilang dari hati Hu Joon? Ataukah Geun Yong cukup melupakan cinta yang tumbuh di hatinya?

Aku selalu mengharapkan kesempatan karena aku selalu ketinggalan.

So, I Married the Anti-fan adalah buku Penerbit Haru pertama yang kubaca. Membaca review teman-teman membuatku tertarik ditambah dengan sinopsis cerita yang walaupun klise tapi tak lekang oleh waktu. Sayangnya, aku agak kesulitan mengikuti cerita di novel ini. Entah apa yang salah atau kurang, tapi aku harus membaca di beberapa bagian cukup lama hanya untuk mengerti apa maksudnya.

Aku juga kurang merasakan greget dalam hubungan Hu Joon dan Geun Yong. Mereka terlalu sering digambarkan berselisih paham, sehingga saat adegan romantisnya kurang digarap, terasa lewat begitu saja *gigit bantal* Aku juga merasa banyak tokoh yang muncul dengan nama yang agak mirip sehingga aku sering berhenti sejenak untuk mengingat, “Ini siapa, ya?”

Overall, aku agak terganggu dengan tata letak novel ini. Jarak dari tepi bawah buku ke teks mepet sekali. Andaikan hal itu dilakukan untuk memanfaatkan seluruh ruang kertas, kenapa tidak memperkecil jarak antar baris? Jenis huruf dan ukuran font yang digunakan untuk catatan kaki juga terlalu mirip sehingga aku sering membacanya sebagai bagian dari novel, bukan sekadar catatan kaki -,- Saranku juga, bedakan jenis font untuk penomoran halaman biar tidak ambigu dengan naskah novelnya sendiri.

Anyway, aku suka dengan ilustrasi dan quotes yang muncul di novel ini. Lagi-lagi sayang, entah kenapa gambarnya terlihat pecah. Kemungkinan memang low res atau file gambar tidak disertakan dalam file inDesign. Mutu kertas juga membuat novel ini tidak bisa dibaca jika pencahayaan kurang sedikit saja. Tapi, pemilihan kertas kovernya membuat saya tak berhenti menyentuhnya berkali-kali, he he.

Walau begitu, Geun Yong dan Hu Joon berhasil menunjukkan bahwa benci itu dapat berarti ‘benar-benar cinta’. Tidak ada yang dapat menjamin perasaan seseorang dan hati dapat dibolak-balik kapan saja. Dialog mereka sangat menyegarkan. Bahkan, aku pribadi ingin sekali membekap mulut Geun Yong kalau ia mulai mengoceh :) Heran bagaimana Hu Joon bisa tahan pada wanita satu ini.

Karakter paling malang di buku ini mungkin In Hyong. Setelah ia melepas Hu Joon, ternyata kehidupannya tidak berubah menyenangkan, bahkan ia harus berakhir tragis. Namun, aku salut pada In Hyong karena ia bukanlah gadis jahat, melainkan hanya 'korban' dan seharusnya ia dapat hidup lebih baik lagi.

Cemburu itu seperti melon. Tidak ada nutrisinya.

Aku tidak sabar menunggu drama berjudul sama karena aku optimis versi dramanya akan jauh lebih menarik daripada bukunya. Aku bahkan sudah membayangkan ingin mengeplak kepala Geun Yong yang tak kalah menyebalkannya dibandingkan Hu Joon ^^

Dia bagaikan lotre yang hilang. Sudah tahu tak berguna, tetap saja dicari.