Jumat, 31 Mei 2013

Saat Cinta Datang Melalui My DNA Love's



Judul novel: My DNA Love's
Penulis: Sienta Sasika Novel
Penerbit: Rumah Kreasi
ISBN: 786027517141
Harga novel: Rp34.000,-
Info lomba: http://www.sientasasikanovel.com/2013/04/lomba-review-novel-karya-sienta-sasika.html?m=1


Sinopsis:Jatuh cinta? pikir Sienta saat melihat sosok Bintang yang telah menjadi suaminya karena perjodohan yang dilakukan orangtua masing-masing. Gue? Jatuh cinta? Nggak mungkin, Sienta tersenyum geli. Sangat tidak mungkin kalau dirinya jatuh cinta pada Bintang. Laki-laki seperti Bintang? Jauh dari kriterianya, bahkan untuk jadi teman saja tidak mungkin, apalagi kalau dia jatuh cinta. Cinta di ujung samudera memang sepertinya masih indah...

Novel My DNA Love's bercerita mengenai Sienta dan Bintang yang mendadak dijodohkan begitu saja karena keegoisan orangtua mereka. Keduanya menolak tegas menggunakan berbagai alasan, tapi semuanya dimentahkan oleh para orangtua. Tanpa dapat dicegah, status Sienta dan Bintang pun mendadak menjadi istri dan suami! Pernikahan seperti apakah yang harus dijalani pasangan yang boro-boro saling menyukai barang sedikit, tapi saling membenci ini? Mereka harus menyiasati pernikahan kacau balau itu dari orangtua mereka yang berharap begitu banyak, sekaligus membuktikan kalau mereka tidak akan dapat mempertahankan perkawinan itu. Tapi, siapa yang tahu masa depan?

Ide ceritanya cukup menarik, nih. Orangtua sering kali menjodohkan anaknya begitu saja, tidak peduli zaman sudah berubah dan protes yang dilemparkan pihak yang akan dijodohkan. Hanya saja, saya kurang melihat apa alasan kuat di balik perjodohan itu. Orangtua Sienta dan Bintang masing-masing begitu egois (berdasarkan dialog-dialog para ortu yang hanya meyakinkan putra putri mereka untuk menikah terus menerus plus mengatur segalanya tanpa persetujuan para calon), yakin kalau kedua anak mereka akan saling menyambut pernikahan itu dengan suka cita (tentu dengan mengabaikan segala keluhan dan protes yang muncul). Walau sempat disinggung kalau keluarga Bintang pernah berjasa pada keluarga Sienta, saya tidak dapat menemukan jasa apa sebenarnya yang dimaksud sampai akhir halaman (atau saya yang kelewatan membacanya?).

Saya ingin sekali menjitak kepala Sienta yang kerjaannya mengomel sepanjang waktu. Oke, saya tahu kamu tidak suka dijodohkan, tapi kalau kalimat yang kurang lebih mirip diulang-ulang terus, rasanya jadi biasa saja. Selain itu, banyak dialog-dialog serta adegan yang menurut saya bisa dibuang karena membuat alur menjadi lambat dan saya melewatkan beberapa halaman begitu saja. Termasuk sumpah serapah yang dilancarkan Sienta pada Bintang :) Dan rasanya tidak perlu mengulang-ulang fakta selisih umur 7 tahun dalam intensitas yang cukup sering dan berdekatan.

Saya juga tidak mengerti apa sebetulnya karakter dan pekerjaan Bintang. Bagaimana ia bisa begitu cuek menabrak seseorang dengan motornya sampai si korban terpelanting dan tidak merasa bersalah? Pun alasan Bintang menerima perjodohan (dan pernikahan) itu hanya demi ibunya yang memiliki penyakit jantung... Hm....

Karakter paling menyebalkan di buku ini bukanlah Andrea atau Lia yang suka mengganggu rumah tangga kedua tokoh utama. Penasaran siapa? Saya sebal sekali dengan para orangtua yang semaunya sendiri. Bahkan saat anaknya sedang berbulan madu pun terus saja diteror -,- Kalau hal ini sampai terjadi pada saya, wah, bisa-bisa saya ngomel-ngomel tiada henti.

Yang saya bingung, bagaimana cara Andrea mencari tahu lokasi bulan madu Sienta dan Bintang, sementara kedua tokoh utama kita ini saja tidak mengetahuinya. Apakah Andrea membuntuti salah satu orangtua ketika ia sedang membelikan paket bulan madu untuk sang pengantin baru? Atau Andrea menggunakan ilmu kebatinan? Atau ini hanya kebetulan saja seperti yang sering terjadi dalam hidup ini?

Saya merasa konflik hati Sienta kuranglah kuat. Ia lebih banyak meributkan hal-hal tidak penting bersama Bintang, sehingga saat Sienta jatuh cinta sungguhan pada Bintang terasa datar-datar saja. Saya tidak dapat merasakan greget, padahal cerita ini mempunyai potensi sangat besar untuk membuat saya menahan napas. Saya juga tidak menemukan titik di mana Bintang benar-benar peduli pada Sienta.

'Ceritanya' Bintang dan Sienta, ehe
Oh, ya, karakter Bintang dan Sienta ini mengingatkan saya pada pasangan norak di seri drama korea Full House, jadi saya membayangkan adegan jambak-jambakan Bintang dan Sienta (iya, saya berlebihan, ha ha) ala adegan di drama itu :))

Anyway, saya menyukai tata letak novel ini. Ada ornamen burung yang imut di awal bab dan nomor halaman yang tidak kalah manisnya. Sayangnya, jenis huruf font judul bab sama sekali tidak cocok dengan jenis cerita ini. Font yang digunakan lebih masuk dalam cerita fantasi atau sesuatu yang bertema gotik, bukan kisah cinta komedi seperti My DNA Love's. Oh, ya, saya juga tidak mengerti apa maksud atau arti judul My DNA Love's ini... Dan karena saya sama sekali tidak mudeng, saya tidak mau berandai-andai kemungkinan artinya.
Ada sepasang burung di awal bab

Mungkin salah satu hal yang harus diperhatikan oleh pihak penerbit adalah banyaknya kesalahan ketik yang sangat fatal. Kesalahan itu bukan sekadar mengetik 'yang' menjadi 'yagn', melainkan banyak subjek yang hilang atau bahkan kalimat tidak selesai. Misalnya: "Ahhh menarik napas panjang." (halaman 17). Yang menarik napas apakah si Aah? Selain itu, walau font yang digunakan dalam badan teks cukup 'berbeda' dengan novel-novel lainnya, garisnya terlalu tipis dan jaraknya terlalu rapat. Untuk orang-orang yang memiliki gangguan mata, jadi terasa begitu sulit membacanya. Ditambah lagi, saat tidak ada penerangan cukup, tulisannya nyaris tidak terbaca (walau begitu, bacalah di tempat terang, ya!).
Nomor halaman yang manis

Saya juga bingung kenapa tokoh Darren sama sekali tidak dikeluarkan, padahal dari kubu Bintang ada Andrea dan Lia. Oke, dari kubu Sienta sudah ada Billy, tapi andaikan karakter Darren dimunculkan akan membuat konflik cerita semakin tajam dan penyebutan nama cowok satu ini beberapa kali jadi ada maksudnya, bukan sekadar bagian kisah masa lalu Sienta yang ternyata tidak terlalu membuat Sienta sulit untuk move on juga, tuh. Kepergian Sienta ke Barcelona juga terasa dipaksakan... Yah, tapi setidaknya Sienta punya alasan untuk kabur dari Bintang :)

Cinta memang datang tanpa dapat ditebak. Awal dan akhir dapat begitu berbeda. Walau begitu, kalau kita percaya cinta itu benar ada, maka cinta itu akan ada.

Meresapi Pesan dalam Inginku



Judul Novel: Inginku
Penulis: Sienta Sasika Novel
Penerbit: Bukune
ISBN: 6022200776, 9786022200772
Harga Novel: Rp38.000,-
Link info lomba di sini.

Kamu satu-satunya cinta yang kukenal


Inginku bertutur mengenai Lea, Radhit, Vhera, dan cinta di antara mereka. Kehidupan Radhit dan Vhera yang (terlihat) aman dan tenteram mulai mengalami konflik saat Lea muncul masuk di antara mereka. Hubungan yang pernah terjalin antara Lea dan Radhit di masa lalu membawa keduanya terseret pusaran cinta yang tidak dapat mereka tolak. Apa yang pernah dirasakan antara Lea dan Radhit tetap terasa sampai saat ini. Namun, bagaimanapun, Radhit sudah bersama Vhera sekarang…



Bukankah melupakan adalah cara terbaik untuk menghapus luka?

Stasiun Bandungnya yang ini bukan, ya?
Alasan Lea kembali ke Bandung adalah untuk menyembuhkan luka hatinya. Awalnya saya sempat mengira kalau Lea bersedih karena kematian orangtuanya, tapi saya salah. Sienta membuka novel ini dengan lambat melalui penggambaran suasana di Stasiun Bandung yang terlalu biasa. Mungkin gara-gara ini saya melewatkan salah satu info penting bahwa orangtua Lea meninggal pada 2002 (halaman 2). Saya juga sempat berharap akan ada sesuatu yang extraordinary di bab satu, tapi sayangnya tidak ada. Mungkin salah satu yang tidak biasa adalah informasi mengenai nama Jalan Stasiun Timur Nomor Satu yang sebelumnya dikenal dengan Jalan Kebon Kawung nomor 43.

Sejujurnya, saya gregetan dengan lambatnya alur yang digunakan oleh Sienta. Saya selalu bertanya-tanya, “Mana, nih, konfliknya?” Lambatnya alur tidak tertolong oleh konflik yang muncul. Baik Lea, Radhit, atau Vhera, ketiganya tidak mampu berperan menjadi orang jahat. Misalkan Lea, dia begitu tahu diri akan statusnya sekarang dan memilih untuk tidak menjadi orang ketiga di antara Radhit dan Vhera. Radhit, walaupun dia berpacaran dengan Vhera tanpa rasa cinta, pada dasarnya Radhit tidak ingin menyakiti Vhera. Lalu Vhera, sebagai tunangan Radhit, dia mundur dengan mudah dari kancah pertempuran setelah Radhit menegaskan perasaannya. Andaikan salah satu (atau semuanya) lebih bersemangat memeriahkan suasana dengan sifat-sifat yang sedikit meledak, novel ini mungkin memiliki alur yang lebih tajam dan lebih menarik.

Karena kamu, aku bertahan dan tetap menunggu

Radhit diceritakan tetap mempertahankan cinta pertamanya yang tak tergoyahkan walau sepuluh tahun telah berlalu. Sebetulnya hal ini romantis, tapi saya tidak menemukan alasan kuat Radhit tetap mencintai Lea. Mereka bertemu di bangku SMA dan cinta itu tumbuh begitu saja di hati Radhit. Tapi, tetap saja saya menginginkan ada satu poin penting yang membuat Radhit jatuh cinta habis-habisan pada Lea. Pun Lea, setelah mengalami kehidupan yang keras, cintanya pada Radhit bagaikan bersemi kembali. Namun, hal ini akhirnya menyisakan pertanyaan lain untuk saya. Apa alasan kuat Lea harus pergi dari kehidupan Radhit sepuluh tahun yang lalu dan menerima perjodohan yang telah diatur? Padahal, Lea sendiri tidak menyukai perjodohan itu. Orangtua Lea meninggal setahun setelah perpisahan Lea dengan Radhit. Lalu, kapankah terjadinya pernikahan itu? Yang terpenting, KENAPA Lea harus dijodohkan? Kesimpulan yang bisa saya tarik mungkin penulis ingin menekankan penyebab penyakit yang menyerang Lea yang berasal dari gaya hidup Reno?

Sampai buku berakhir, saya tidak dapat jatuh cinta pada sosok Radhit. Walaupun dia cowok yang kelihatan sempurna, bagi saya Radhit hanyalah seseorang yang plin plan. Apa arti lima tahun yang dijalaninya bersama Vhera? Andaikan ia telah mencoba mencintai sang tunangan, tapi gagal, apa ia harus membutuhkan waktu sekian lama dan kemunculan Lea yang mendadak untuk menetapkan hati kalau ia tidak mencintai Vhera? Toh, rasanya ‘mudah’ saja bagi Radhit mengambil keputusan yang selama ini tertunda dan menyuarakan keberatannya atas perjodohannya dengan Vhera walaupun harus melepaskan jabatan yang disandangnya sekarang.

Mencintaimu itu mudah, tapi memilikimu begitu sulit

Karakter yang muncul di buku ini rata-rata berlabel sempurna (untuk saya), bahkan Reno (ya, dia sempurna menyebalkannya). Tanpa masalah yang terlalu berarti, Lea yang lemah lembut, mungil, baik hati, dapat bekerja di rumah sakit ternama sebagai perawat. Tentu saja, track record-nya selama ini tiada cela. Radhit sendiri adalah seorang dokter muda yang tampan, mumpuni, ramah, baik hati, dan sangat berpotensi menjadi menantu idaman sehingga ia terpilih dijodohkan dengan Vhera, putri pemilik RS tempat Radhit bekerja (dan saya masih kurang yakin apa keuntungan keluarga Radhit dengan pertunangan ini). Vhera pun digambarkan sebagai sosok yang cantik menawan (tapi, tidak jelas bekerja apa sampai akhir) dan merupakan sosok menantu wanita ideal pula.

Vhera digambarkan berbeda dengan tokoh antagonis pada umumnya. Vhera memiliki sifat yang terlalu baik. Bahkan setelah ia mencoba berbagai cara untuk membuat Radhit jatuh cinta padanya, tapi pria itu tetap memilih wanita lain, ia tidak melakukan sesuatu yang ekstrim untuk mengganggu hubungan mantan tunangannya itu. Ia memang melarikan diri ke dugem dan minum-minum saat terpuruk, tapi pada akhirnya ia mampu bangkit kembali dengan cepat.

Aku akan melindungimu dengan sayap-sayap yang kumiliki

Untuk saya, halaman persembahan di bagian depan merusak segalanya karena saya langsung dapat menyimpulkan bahwa kanker serviks pasti akan ada hubungannya dengan Lea. Hal ini pun sudah diarahkan secara terang-terangan saat Lea mengikuti seminar mengenai kanker serviks yang dibawakan oleh dokter Radhit. Bahkan pembeberan fakta di balik kehidupan Reno yang kelam sudah menjadi petunjuk jelas akan penyakit yang diidap Lea. Saya merasa unsur kejutannya hilang. Padahal, jika gejala-gejala ini baru dialami Lea setelah sampai di Bandung dengan deskripsi yang lebih lengkap, selain akan memberi informasi lebih lanjut pada pembaca, kita juga dibawa bertanya-tanya, “Apa yang salah?”

Jangan anggap remeh kanker serviks!
Namun, Sienta menunjukkan bahwa ia ‘mengerti’ benar mengenai kanker serviks melalui penjelasannya dalam novel ini, baik yang dipaparkan dalam bungkus seminar yang diadakan Radhit, maupun bagian dari dialog. Sayangnya, beberapa penjelasan terlalu ilmiah, sehingga saya sulit menangkap apa sebetulnya yang ingin disampaikan. Saya sangat berharap ada semacam lampiran yang menjelaskan mengenai kanker serviks dengan lebih lengkap di bagian belakang buku. Hitung-hitung baca novel dapat gratis pengetahuan yang sangat penting…. Jujur, saya jadi 'ketakutan' sendiri saat mencari tahu lebih dalam tentang kanker yang satu ini. Sering kali kemalasan kita untuk check up menjadi bumerang bagi diri sendiri. Melalui Lea, Sienta mampu mengajak pembaca (setidaknya saya) untuk lebih aware terhadap kesehatan diri.

Bagaimanapun, aku ingin menjadi cahaya bagimu

Hal yang agak mengganggu saya sepanjang buku adalah penggunaan imbuhan –nya atau atau ganti ‘ia’ yang tidak jelas mengacu pada siapa. Misalkan saja pada cuplikan paragraf yang saya temukan di halaman 4 ini:
“Lea sayang ….” Perempuan itu menjawabnya penuh rasa kerinduan.“Apa kabar, Bu? Sehat?” Ia melepaskan pelukannya. Diciumnya pipi kanan dan kiri perempuan tersebut.
Siapakah ia? Tentu saja saya tahu, tapi rasanya bagai membaca buku terjemahan di mana he atau she semua diartikan sebagai ‘dia’. Kadang saya harus kembali ke paragraf sebelumnya untuk memastikan bahwa saya tidak salah mengartikan siapa ‘ia’ yang dimaksud.

Saya menyukai tampilan fisik buku secara keseluruhan, baik bagian luar maupun isi. Kovernya cantik, tata letak aksara pun sesuai. Ukuran hurufnya tidak terlalu besar maupun kecil. Saya juga menyukai ornamen yang ada di jeda halaman maupun di awal bab. Cuplikan-cuplikan quote yang disertakan di awal bab juga sangat saya sukai karena memberikan kesan mendalam saat membaca bab yang bersangkutan. Karenanya, saya agak kehilangan saat tidak menemukan quote di beberapa bab. Sayangnya, buku ini sedang tidak ada di saya sehingga saya tidak dapat memasukkan cuplikan cantiknya halaman dalam buku ini ^^

Cinta membuatku belajar bagaimana bertahan hidup

Saya sempat mengintip halaman terakhir untuk melihat apakah akhir cerita Inginku cukup memuaskan. Saya sempat terkecoh dari anggapan awal saya, tapi setelah saya membaca bagian akhir dengan lengkap, saya menyukai pilihan akhir yang dibuat Sienta. Bagaimanapun, jarang sekali terjadi 'keajaiban' pada kanker stadium tinggi dan andaikan Sienta memilih akhir yang penuh keajaiban itu, saya akan membenci buku ini :)

Penulis menunjukkan bahwa cinta sesungguhnya dapat terus bertahan walaupun terpisah jarak. Selalu ada alasan untuk setia dan menanti. Hal ini ditunjukkan oleh Radhit dan Lea. Pun melepas cinta bukan akhir segalanya, karena dengan melakukannya dapat membawa kita selangkah lebih maju. Dan jangan lupa, seberat apa pun hidup kita, semua ada maknanya. Walau kau merasa hidup sendirian di dunia ini, ada seseorang atau lebih yang mendoakanmu...

Rabu, 15 Mei 2013

Merenungkan Sewindu dari Tiga Serangkai



Judul: Sewindu
Penulis: Tasaro GK
Penerbit: Tiga Serangkai
Jumlah halaman: 382 halaman
Harga: Rp82.000,-

Pengakuan, saat saya pertama memesan Sewindu, saya tidak tahu apa pun mengenai buku ini selain judul, penulis, dan penerbitnya. Tidak heran begitu bukunya datang, saya kebingungan sendiri. Apalagi saat membaca kover belakangnya. Tebersit pertanyaan, “Sebetulnya Sewindu ini buku apakah?” Jujur, saya sempat menyangka kalau buku ini adalah novel belaka, bukannya perjalanan hidup Tasaro GK dalam waktu delapan tahun ....

Mencinta dengan Sederhana

Ternyata seorang Tasaro GK pun memulainya dari nol. Ya, saat pertama menikah, keluarga Tasaro bisa dibilang tidak memiliki apa-apa. Barang seadanya, makan sekadarnya, bahkan rumah yang dicicil pun belum bisa dikatakan sebagai sebuah rumah sungguhan karena harus ditambah ini itu. Bahkan halamannya pun masih harus dicangkuli. Di sinilah Tasaro membawa pembacanya menelusuri jejak hidupnya, berbagi suka dan duka perjuangan yang dilaluinya bersama sang istri. Dalam kesederhanaan, tapi penuh dengan cinta yang kaya.

Tasaro menuturkan babak-babak penting dalam hidupnya tidak secara runut. Kalau dalam novel, bisa dibilang alurnya bergerak maju mundur, tapi sesuai. Sebagian besar porsi yang dijabarkan bercerita tentang orang-orang di sekitar Tasaro, baik sang istri, anak-anak, ibu dan ibu mertua, kakak dan adik, ipar, sahabat, juga tetangga dan teman-teman. Tasaro tidak banyak membahas mengenai dunia penulisan, walau ia dengan lihai menyisipkannya dalam berbagai sudut kisahnya di buku Sewindu ini.

Tanpa terasa menggurui, Tasaro mengajarkan saya banyak hal. Misalnya saja bahwa orang yang bekerja di luar rumah (alias menjadi karyawan atau semacamnya) pasti lelah ketika ia pulang ke rumah, namun bukan berarti orang yang ‘tidak ada kerjaan’ di rumah pun tidak lelah. Ia menyadarkan saya (walau saya juga telah mengalaminya sendiri) bahwa ‘terbelenggu’ dalam rutinitas sehari-hari di rumah dapat begitu membosankan, jauh lebih kelabu dibandingkan rutinitas seorang pekerja yang lebih berwarna karena dapat bertemu orang-orang baru atau melewati jalur yang berbeda dalam perjalanan ke atau dari kantor.

Saat Dia Tak Ada
Bagian yang sukses membuat saya menangis tentu saja cerita mengenai Ummi (ibunda Tasaro) dan Mih (ibunda Mimi, alias sang istri). Tasaro lagi-lagi mengingatkan saya bahwa utang harus dibayar, jauh lebih baik sebelum nyawa meninggalkan raga. Lho, apa hubungan utang dengan ibunda? Tentu ada, karena Ummi (dan Insya Allah Mih) menutup mata dengan utang yang telah terlunasi. Selain itu, Ummi dan Mih menunjukkan bahwa kasih sayang seorang ibu memang seluas samudera (ya, ya, ada juga ibu-ibu yang tidak begitu, tapi jumlahnya tidak sebanding dengan ibu-ibu lain yang memang pantas dipanggil ibu). Dan saya pribadi menambahkan satu sosok lagi: Mimi. Kesabarannya menjalani awal rumah tangga yang sederhana ternyata belum sebanding dengan ketegarannya menghadapi dua kali kepergian sang jabang bayi yang bahkan belum sempat menghirup udara di bumi ini ....

Menunggumu, Nak!
Kisah lain yang membuat saya kembali merenung adalah bagian mengenai anak-anak Tasaro. Setelah menanti begitu lama, melewati masa-masa memandangi anak tetangga dan menggosipkan kelucuan mereka, tidak heran kalau kelahiran Sena atau Daeza begitu dinanti. Namun, ada kalanya anak yang ditunggu ini akhirnya mengetes kesabaran dan ketabahan orangtua. Lalu, apakah orangtua berhak mencap mereka sebagai ‘anakku’, padahal mereka adalah titipan Allah? Kalimat ‘Jika saya sabar menunggu kelahirannya begitu lama, mengapa menjadi tidak sabar ketika menunggunya lancar berbicara?’ kembali menarik saya pada kesadaran bahwa sebagai seorang ibu, mau tidak mau, harus punya stok kesabaran yang melimpah. Kenapa? Karena anak-anak itu, anak saya atau anak lainnya, hanyalah amanah dan mereka perlu dibimbing agak kelak menjadi khalifah yang menegakkan kebaikan di muka bumi.

Bab lain yang saya sukai adalah Mengundurkan Diri. Bagian ini pun baru saja saya lalui dalam babak kehidupan saya: mengundurkan diri dari pekerjaan yang menyita waktu saya di luar rumah dan kembali menjadi seorang ibu penuh waktu. Dulu saya sempat mempertanyakan apakah saya ikhlas mengambil keputusan ini? Namun, melalui tulisan Tasaro, saya diingatkan kembali bahwa sedemikian banyak waktu yang saya habiskan di luar sana untuk bekerja dan saya hanya menyisakan sedikit waktu untuk anak-anak di rumah. Jadi, kapan saya benar-benar menjadi seorang ibu? Bukan berarti dengan berada di rumah saja langsung membuat saya menjadi ibu sesungguhnya. Saya masih perlu banyak belajar, dari sekitar saya, terutama anak-anak .... Dan itu tidak mudah.

Sewindu Cinta Itu (Akhirnya) tentang Waktu
Saya belum pernah membaca karya Tasaro GK yang lain, sehingga saya tidak dapat membandingkan buku ini dengan buku lainnya. Namun, saya menyukai gaya penuturan Tasaro. To the point dan saya langsung mengerti apa yang akan disampaikan.

Mungkin salah satu kekurangan utama buku ini adalah ... harga. Yah, saya terkaget-kaget saat menerima bon pembelian. Wuidih, bukunya lumayan mahal juga. Bukan berarti saya anti membeli buku ‘mahal’, tapi ujungnya akan membuat saya berharap tidak rugi telah mengeluarkan kocek yang lumayan hanya demi sebuah buku. Protes saya terjawab setelah menemukan ilustrasi-ilustrasi sederhana berwarna yang mempercantik buku ini secara keseluruhan. Sangat disayangkan karena faktor harga inilah yang membuat buku ini tidak bisa dibaca banyak orang. Padahal, saya yakin, dengan harga yang lebih murah, buku ini akan banyak ditemukan di rak-rak para pecinta buku karena isinya yang memang berbobot. Hal lain yang membuat saya keberatan dalam arti sesungguhnya adalah jenis kertas yang digunakan. Dengan HVS putih, buku Sewindu ini memang terasa berat saat saya ajak berkeliling dalam tas saya.

Selain itu, dengan kover yang begitu teduh, sederhana, tapi menarik, saya kembali berkeluh kesah dengan jenis kertas yang digunakan. Gara-garanya sederhana: karena butuh lama untuk menyelesaikan buku ini (dan akhirnya lebih sering saya ajak berkelana), tepi kertas kovernya mulai terbelah. Tampilan buku Sewindu saya seakan telah dibaca berkali-kali selama sewindu. Tulisan judulnya pun terlalu kecil, sehingga tidak akan terbaca bila dilihat dari kejauhan. Yang ‘menolong’ membuat buku ini mencuat di antara deretan buku lain mungkin warna hijaunya yang dominan. Bahkan jenis font yang menuliskan Tasaro GK terasa mbulet-mbulet dan tidak bisa langsung terbaca (untuk saya). Dengan samping buku yang begitu lebar, ukuran nama penulis, judul, beserta nama penerbit pun begitu imut (dan menggemaskan dengan warna hijau muda yang lagi-lagi tidak terbaca dari jauh), sehingga terasa kurang memaksimalkan tampilan kover agar tidak kalah bersaing di toko buku. Walau saya yakin pembaca yang haus bacaan bagus akan lebih memilih buku karena isinya, bukan kovernya.

Pada akhirnya, Sewindu bukan sekadar perjalanan hidup Tasaro GK. Bukan pula sebuah ajang pembuktian pencapaian Tasaro GK. Buku ini berisi kumpulan hikmah hidup, yang dapat diterapkan dalam hidup kita, menjadi bahan renungan yang tak akan lekang oleh waktu.

Arus indah itu bernama cinta, dan cinta itu tentang waktu.

PS. Saya kembali menangis membaca bagian tentang Bapak. Mengingatkan saya akan kenangan-kenangan yang saya habiskan bersama almarhum Papa.

Tentang Penulis:
Tasaro GK adalah seorang juru dongeng. Anak dari Ummi Dariyah; seorang ibu yang menulis hingga hari-hari terakhir kesadarannya. Pula, bungsu seorang bapak yang setia dengan mesin ketik klasiknya: Muryadi Radiyowirono.

Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Resensi Sewindu karya Tasaro GK.

Senin, 13 Mei 2013

Ketulusan dalam Cinta Kamu, Aku



Judul: Cinta Kamu, Aku
Penulis: Irfan Ihsan
Penerbit: Nourabooks
Jumlah halaman: 310 halaman
Terbit: Februari 2013 

Sinopsis:

Aan tidak menyangka, pertemuannya dengan Risha akan membawanya pada suatu kerumitan kegalauan tak berujung. Aan hanyalah seorang penyiar radio dengan air time pas-pasan, tunggakan uang kos, dan penyakit jomblo akut. Sementara, Risha, penyanyi papan atas yang tinggal di dunia yang jauh berbeda dari Aan, terkenal dengan suara merdu, kecantikan, dan segudang prestasinya. Namun, satu event pengubah takdir telah membuat cinta Aan dan Risha bertemu di satu frekuensi.


Apa, sih, ceritanya?

Aan alias Febrian Suhendra tidak pernah menyangka kalau pertemuan dadakannya dengan Risha sang penyanyi yang sedang naik daun ternyata berlanjut dengan dramatis. Aan jadi selebriti dadakan sejak mendapat cap sebagai ‘pacar Risha’ walau sebenarnya semua ini murni kesalahpahaman. Usaha Risha untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya pada Aan selalu gagal, membuat keduanya terlibat semakin dalam. Saat segalanya mulai serius, haruskah Aan menerima kenyataan di balik semuanya dan melepaskan Risha?

Memulai Hal Biasa di Hari yang Biasa

Saya belum pernah membaca cerita mengenai seorang penyiar radio sebelumnya. Dibuka dengan adegan Aan yang harus ‘kabur’ dari kejaran ibu kos yang ingin menagih utang, kita langsung dibawa ke kehidupan radio yang kini mulai ditinggalkan pendengarnya. Aan yang mengalami krisis keuangan terpaksa hengkang dari kamar kos sepagi mungkin dan menghabiskan waktunya di Radio Flash tempatnya menjadi penyiar. Saya dapat membayangkan bagaimana suasana ruang kerja (?) di Radio Flash beserta para krunya melalui penuturan Irvan. Juga saat siaran. Saya bagaikan mendengarkan cuap-cuap Aan di Flash FM secara langsung. Irvan berhasil mengangkat adegan ini sehingga terasa nyata dan saya yakin hal ini ada pengaruhnya dari pengalaman Irfan terlibat dalam dunia penyiaran secara bertahun-tahun.

Sebetulnya, kisah cinta ‘dua dunia yang sama, tapi berbeda’ sudah banyak di pasaran. Awalnya Aan bukan siapa-siapa, hanya seorang penyiar yang bahkan permintaannya untuk menambah jam siaran langsung ditolak walaupun rating acara yang dibawakannya cukup baik. Novel ini menunjukkan bahwa untuk naik ke atas kadang butuh ‘domplengan’ nama tenar orang lain. Bukan berarti Aan adalah seorang ambisius yang memanfaatkan Risha untuk menaikkan posisinya, cintanya untuk Risha tulus dari hati. Namun, hal ini juga yang membuat saya bingung. Saya tidak menemukan ‘titik’ di mana Aan benar-benar jatuh cinta pada Risha, apa yang membuatnya rela menghabiskan hidupnya untuk Risha seorang. Andaikan diselipkan adegan berkesan yang mampu membuat saya menerima kenyataan bahwa cinta Aan hanya untuk Risha, mungkin saya akan lebih lega.

Berani Merasakan, Berani Menyatakan!

Menurut saya, karakter-karakter yang muncul di Cinta Kamu, Aku ini kurang kuat. Oke, mungkin selain Lego dan Aki. Saya tidak dapat menentukan apakah sebetulnya Aan ini cowok yang menyebalkan atau menyenangkan. Ia sesekali ceria, lain kali galau, tapi saya tidak dapat benar-benar menebak apa sifat Aan. Pun Risha. Ia memang gadis yang baik, artis yang baik, penyanyi yang baik juga, selain skandal cintanya dengan Yudha yang saat itu sudah menjalin hubungan dengan Ratih. Bahkan Yudha yang diceritakan memiliki sifat playboy pun tidak menguarkan aura brengsek yang patut saya caci maki. Memang ada adegan ia menelepon wanita lain untuk berkencan setelah ia membatalkan janji dengan Ratih, tapi untuk saya itu kurang masih jauh dari ‘kurang ajar’. Karakter yang paling saya suka mungkin malah Aki, yang hobi memlesetkan nama Risha menjadi apa saja, kecuali ... Risha. Aki juga selalu menasihati Aan agar tidak jinah supaya tidak asup neraka, dengan kata lain, “Buruan atuh nikahin Neng Reza, eh, Risha.” Jangan lupakan Lego yang mampu mempertahankan eksistensinya sampai akhir cerita.

Irfan menyelipkan cerita-cerita masa lalu sehingga saya tercerahkan mengenai masa lalu para karakter utama di novel ini. Sayangnya, cerita masa lalu ini bagai kelebatan ingatan saja, kurang mendetail, padahal saya ingin merasakan lebih banyak emosi Aan dan Risha yang memiliki masa lalu yang tidak seindah bayangan saya. Mereka sekarang tertawa, tapi seharusnya mereka pernah berderai air mata di masa lalu. Saya ingin sekali merasakan kesedihan yang mencubiti hati saya saat tahu kenyataan di balik cerita kisah ortu Aan yang romantis atau kesendirian Risha dengan ortu yang suka melancarkan perang saudara.

Tidak Ada yang Mudah

Buku bergenre seperti Cinta Aku, Kamu dengan karakter utama cowok dan ditulis oleh cowok juga tidak terlalu banyak di dalam jajaran koleksi buku saya. Dari segelintir buku itu, saya dapat merasakan perbedaan gaya penulisan penulis pria dan wanita (harap dicatat kalau ini pendapat saya pribadi). Irfan menuturkan segala adegan secara ringkas, bahkan penggambaran karakternya pun tidak bertele-tele. Di satu sisi ini baik sekali karena pembaca tidak perlu dicekoki hal-hal yang tidak penting, namun di pihak lain ada beberapa bagian yang terasa ‘lewat’ begitu saja. Saya benar-benar berharap Irfan ke depannya mampu menambahkan bumbu-bumbu yang lebih banyak ke dalam masakan naskahnya biar lebih gurih dan meninggalkan kesan. Konfliknya juga perlu dipertajam, misalnya Aan benar-benar sempat terpuruk dan kehilangan arah setelah perpisahannya dengan Risha sampai sakit parah ....

Saya sedikit terganggu dengan keterangan tempat dan waktu yang kerap muncul di tiap bab. Novel ini jadi bernuansa seperti skrip film yang memang harus jelas seting lokasi kejadiannya, padahal dari deskripsi satu atau dua kalimat dalam paragraf pun cukup. Saya juga tidak terlalu melihat hubungan signifikan antara keterangan waktu dengan keseluruhan cerita. Malah hal ini menjadi jebakan saat seting cerita masih tahun 2011, namun sudah ada ‘terawangan’ kematian Whitney Houston yang baru terjadi di tahun 2012. Oh, ya, saya juga agak terganggu dengan komentar kemarahan Aan yang sampai mengucapkan nama salah satu binatang saat ia menangkap basah Risha sedang berduaan dengan pria lain. Kalau ingat Aan termasuk ‘alim’. seharusnya istilah ini tidak keluar dari mulutnya.

Irfan banyak menggunakan kalimat-kalimat panjang yang kurang efektif. Untuk saya, ini bukan kesalahan Irfan murni karena editor seharusnya bisa mengingatkan atau cukup 'memenggal' kalimat panjang itu menjadi dua atau tiga kalimat tanpa mengurangi makna keseluruhan. Yang perlu diperhatikan juga adalah penggunaan bahasa Sunda yang seharusnya memperkuat isi cerita, tapi pada akhirnya malah membuat kenyamanan saya membaca berkurang. Kenapa? Karena kalimat ini juga tidak efektif. Misalnya, "Eta teh jinah ... jinah teh haram--Itu zina! Zina itu haram!" Untuk kalimat pendek dan jelas seperti ini rasanya tidak perlu diberi 'terjemahannya'. Kalau perlu malah tidak usah berbahasa Sunda, tapi tetap memasukkan unsur-unsur kata Sunda yang umum, seperti teh, eta, mah sehingga tetap terasa ke-Sunda-annya (kayaknya aneh, ya, istilahnya?).

Ini Bukan Drama Radio!

Buku yang kelihatan tebal ini ternyata tidaklah ‘setebal’ yang saya kira. Ukuran fontnya pas, ditambah dengan jarak antar kalimat yang tidak terlalu rapat sehingga mata tidak lelah. Hal lain yang menarik adalah adanya ilustrasi di awal bab yang walau lagi-lagi membuat saya menebak-nebak karena ada 1 orang cewek dan 2 orang cowok. Apakah karakter kedua cowok itu sama-sama Aan? (Tapi, menurut hemat saya, cowok bertopi yang duduk di atas radio itu adalah dr. Tompi). Saya juga sempat berharap bahwa ilustrasi awal bab ini semuanya berbeda, bukan cuma tiga gambar yang dipajang bergantian (maafkan keegoisan saya ini, ehehe).

Salut pada Nourabooks (logonya ganti, ya? Baru ngeh) yang berbasil mempertahankan kesalahan ketik seminimal mungkin. Namun, saya sedikit kecewa dengan jenis kertas kover yang digunakan karena gampang ‘patah’ saat buku dibuka. Untungnya jenis kertasnya termasuk yang lemas, jadi bisa saya minimalisasi walau tetap saja ada ‘patahan’ di bagian sudut. Selain itu, laminatingnya mudah terkelupas sehingga rencana darurat saya ke depan adalah menyampul buku ini sebelum saya menyesal lebih lanjut. Oh, ya, pemilihan warnanya juga terlalu kusam. Kebetulan buku ini saya beli via online, tapi ketika saya ke toko buku dipastikan saya akan melewatkan buku ini karena warnanya sama sekali tidak menggoda mata saya. Selain itu, logo Noura yang berwarna putih benar-benar tenggelam lautan di warna kuning kecokelatan yang mendominasi kover secara keseluruhan.

Ada satu hal yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh penulis lain: memasukkan cameo seorang artis/orang terkenal/orang yang benar-benar ada di dunia nyata ini ke dalam tulisan dan diketahui oleh yang bersangkutan. Dengan soundtrack ‘Menghujam Hatiku’ yang dibawakan dr. Tompi, sang penyanyi ini muncul sebagai dirinya sendiri di dalam novel . Jadi, andaikan novel ini benar-benar diangkat menjadi film, saya sudah bisa membayangkan adegannya *sok tahu*

Nyatakan ....

“ ... kalau ditanya apa saya masih sayang dia, saya akan jawab ‘nggak’ .... Dan kalo sekarang saya ditanya kapan terakhir kali saya melakukan kebohongan terbesar dalam hidup, saya akan jawab  ... baru saja ....”

Kalau ditanya apa novel ini bagus banget, saya akan jawab ‘nggak’. Tapi kalau ditanya apa saya berbohong, saya jawab ... ya, karena novel ini layak untuk dibaca, kok. Dan dapat 3 bintang dari saya ^^

Tentang penulis:
Irfan Ihsan adalah penyiar The Afternoon Show Radio Prambors yang menjadi program pertama di Indonesia yang mengudara secara langsung dan bersamaan di radio dan TV bernama Prambors Wow Mania. Sejak 2005, Irfan bergabung dengan VOA sebagai Internation Broadcaster dan menetap di Washington DC. Novel Cinta Aku, Kamu  adalah novel pertamanya.

PS. Sumpah, judulnya ribet banget soalnya saya terus-terusan kebalik antara posisi aku dan kamu. Hadeuuuh.

Kamis, 09 Mei 2013

Cerita Tentang Kita oleh Selvia Sari Rahmawati


Cerita Tentang Kita
--Ketika Rasa Tak Lagi Senada--

Penulis: Selvia Sari Rahmawati
ISBN: 978-602-225-633-5
Terbit: April 2013
Halaman: 144
Harga: Rp. 34.100,00
Penerbit: LeutikaPrio



Sinopsis:
Ini tentang aku dan kamu. Ini tentang kita. Goresan ini tetap akan terukir. Apabila dirimu masih mengukir hidupku menjadi lebih istimewa.

Melepaskanmu adalah caraku untuk membuatmu bisa bahagia. Aku terlanjur menyayangimu. Namun, mengapa waktu tak pernah cocok untuk kita?

Salsa, cewek yang menganggap dirinya biasa saja bertemu dengan Okta, cowok konyol dan mengaku dirinya ganteng hanya karena sebuah topi. Pertemuan ini benar-benar tidak disangka oleh kedua belah pihak. Berkat Okta, Salsa bisa menggapai cita dan cinta menjadi lebih erat. Temukan perjalanan cinta mereka yang abstrak hanya di sini!

Tulisan ini dikutkan dalam #CTKGiveaway

Kalau ditanya kenapa aku ingin dan berhak mendapat buku ini? Alasannya jelas karena ini adalah karya Selvia Sari, seorang teman yang kukenal via twitter. Buku ini adalah karya pertamanya yang ditulis dalam usia yang masih belia. Aku berharap dapat mencicipi salah satu 'batu pertama' yang diletakkannya secara resmi di dunia penulisan. Semoga ke depannya aku dapat terus mengikuti dan membaca karya-karya Silvia selanjutnya. Aku ingin tahu apa dituturkan Selvia dalam buku berkover manis warna biru ini... Aku ingat pernah membaca kicauan Selvia bahwa ia sedang menulis novel dan akan menerbitkannya, siapa sangka sekrang novel itu benar-benar sudah terbit??

Maju terus, Selvia!


Selasa, 07 Mei 2013

Saat Pus Meminta 'Jangan Panggil Aku Kitty'


Judul : JANGAN PANGGIL AKU KITTY
Penulis : SAMSAIMO PARAMINA
ISBN : 978-602-7724-34-1
Terbit : Maret 2013
Penerbit : FLASH BOOKS – DIVA PRESS
Tebal : 188 halaman (14 x 20 cm)
Sampul : Hard Cover
Harga : Rp. 32.000,-
Sinopsis: “Sekarang aku bukan milik siapa-siapa. Kuhirup udara kebebasan begitu segar aromanya. Kapan aku harus pergi, berdiam diri, makan, bercengkerama, bercanda atau bertualang terserah hatiku.” 
Kitty memutuskan pergi dari rumah Mbak Dinik setelah melihat seekor kucing ras menggantikannya. Tekadnya untuk hidup liar dan bertualang sudah bulat. Ia pun mengganti namanya dengan Hitam, seperti warna bulunya yang legam. Menurutnya nama Kitty hanya pantas untuk kucing nan imut saja. 
Kehidupan liar yang keras membuat Hitam harus bersitegang dengan kucing lain untuk berebut makanan dan daerah kekuasaan. Hingga akhirnya ia berteman dengan empat ekor kucing penghuni Pasar Nongko. Sayangnya pasar itu akan direnovasi sehingga para tikus mulai pergi. Hitam dan teman-temannya pun kesulitan berburu tikus.
Bagaimana petualangan Hitam selengkapnya? Mampukah ia bertahan dalam kerasnya kehidupan di jalanan?
Simak novel unik bersudut pandang kucing ini! Diwarnai dengan kisah cinta dan persahabatan membuat petualangan si Hitam semakin seru, kocak, dan menarik.

Sebagai seorang penyuka kucing, novel ini cukup menarik perhatian saya. Terutama karena kovernya menggunakan gambar kucing, bukannya foto seperti yang umumnya saya temukan. Ekspresi si pus begitu sedih sehingga saya penasaran apa yang akan disampaikan oleh penulis melalui bukunya ini.

Secara garis besar, novel Jangan Panggil Aku Kitty bercerita mengenai Kitty yang mengganti namanya menjadi Hitam ketika ia memutuskan menjadi kucing liar dan bukannya pus peliharaan Mbak Dinik lagi. Perjalanan Hitam sebagai kucing liar membuatnya bertemu dengan berbagai hewan lain, manusia, juga peristiwa-peristiwa yang tidak akan ditemuinya jika ia tetap tinggal di kediaman Mbak Dinik.

Novel ini menggunakan sudut pandang aku sebagai si Hitam. Ide ceritanya cukup menarik karena jarang sekali novel yang menggunakan tokoh utama sebagai seekor binatang. Sayangnya, saya tidak dapat menangkap apa yang sebenarnya akan disampaikan oleh si Hitam baik sebagai inti cerita maupun pesan moral yang akan disampaikan. Mungkin Hitam ingin menyampaikan kalau klenik itu tidak baik. Tapi, Hitam sendiri tidak memberikan solusi apa pun mengenai hal klenik ini. Atau mungkin Hitam ingin menunjukkan bahwa persahabatan itu lebih penting daripada cinta kepada pasangan atau majikan?

Sebagai seekor kucing rumahan yang terbiasa hidup enak, jalan liar yang dihadapi Hitam tidaklah sesulit yang seharusnya ia alami. Walau beberapa kali mendapatkan masalah kecil, dengan cepat juga Hitam mendapatkan solusinya. Bahkan ia dengan mudah mengingat jalan ke Taman Balekambang atau ke Pasar Nongko. Hitam pun dengan mudah mengalau kucing garong walau sedikit terluka, sampai-sampai ia diangkat menjadi 'ketua geng'. Hitam pun digambarkan terlalu baik. Ia bukan tipe kucing nakal yang iseng mencuri ikan para pedagang atau kecentilan menggoda betina lain. Karakter Hitam menjadi begitu membosankan dan tidak menarik. Andaikan Hitam lebih sedikit kucingwi (kok, nggak seenak kedengarannya seperti manusiawi?) mungkin akan membuat cerita keseluruhan lebih hidup.

Saya juga melihat ketidakonsistenan pada pengetahuan Hitam. Di satu pihak, Hitam mengaku kalau ia pus rumahan yang belum mengenal dunia liar. Tapi, di sisi lain, ia seakan sudah mengerti seluk beluk kehidupan seekor kucing liar. Ia juga mengaku tidak dapat membaca tulisan manusia, namun bagaimana ia bisa tahu bahwa logo yang tertera di poster adalah lambang paguyuban pasar? Saran-saran yang diberikan Hitam pada teman-temannya juga seharusnya adalah saran berdasarkan pengalaman seorang kucing yang sudah merasakan asam garam kehidupan kucing liar. Yang lebih aneh lagi, bagaimana seekor kucing seperti Hitam mengerti soal teror bom atau istilah cat woman?

Jika melihat kover dan judulnya, saya sempat berpikiran kalau target pembaca novel ini adalah remaja. Namun, saya salah karena novel satu ini juga memuat konten yang buat saya cukup dewasa dan tidak cocok dibaca oleh manusia-manusia yang belum cukup umur.

Kovernya sendiri cukup menarik seperti yang sudah saya singgung sebelumnya. Namun, setelah membaca buku ini, saya bingung kenapa Hitam digambarkan begitu sedih? Padahal, saya tidak merasakan kalau Hitam merasakan kesedihan yang sangat atau mungkin sebuah kehilangan. Hal ini membuat tampilan kover secara keseluruhan menjadi suram, padahal (lagi-lagi) warna-warna yang digunakan sudah cukup cerah. Mutu gambar motif polkadot di bagian bawah kover juga terlihat pecah alias low res sehingga untuk saya merusak keseluruhan kover (lagi). Hal lain yang cukup mengganggu saya salah cuplikan paragraf yang tersebar acak di seluruh buku. Bagian itu benar-benar membuat keasyikan saya membaca ternodai karena saya tidak melihat pentingnya ada cuplikan itu. Dan, menurut saya, akan lebih cantik kalau nomor halaman diberi motif cakar kucing, bukannya bentuk lingkaran yang tidak beraturan dan tidak jelas maksudnya.

Walau begitu, saya salut pada Samsaimo Paramina yang berani mengangkat sesuatu yang berbeda ke dalam bentuk novel. Salut juga pada Divapress yang berhasil mengemas novel ini menjadi sebuah bacaan menarik dengan kesalahan ketik yang sangat, sangat minimalis.

Untuk sebuah kisah perjalanan kucing, yang dituturkan oleh seorang manusia dalam wujud kucing (ya, saya lebih merasa kalau Hitam adalah seorang manusia, bukannya seekor kucing), saya hanya dapat memberikan tiga bintang dari lima untuk novel Jangan Panggil Aku Kitty. Andaikan alur dan penokohannya dibuat lebih kuat, saya yakin novel ini layak masuk ke jajaran rekomendasi.

Tulisan ini diikutsertakan dalam kuis berhadiah novel karya Samsaimo Paramina di fans page Arga Litha.
Jangan lupa ikuti kuisnya di sini.

Rapid Fire Question


Horeee, kena tag Raven @coffeewing :)

Ceritanya daku disuruh jawab pertanyaan2, nih. Ada dua jenis: pertanyaan wajib ama pertanyaan dari Rave aka org yg ngetag daku.


Pertanyaan Wajib:

1. nambah atau ngurangin timbunan (buku)?
2. pinjam atau beli buku?
3. baca buku atau nonton film?
4. beli buku online atau offline? (tobuk yg temboknya bisa disentuh)
5. (penting) buku bajakan atau ori?
6. gratisan atau diskonan?
7. beli pre-order atau menanti dgn sabar?
8. buku asing (terjemahan) atau lokal?
9. pembatas buku penting atau biasa aja?
10. bookmark atau bungkus chiki?

Pertanyaan Wajib:
1. nambah atau ngurangin timbunan (buku)?
Dua2nya walau laju keduanya bagaikan aku dan Lee Min Ho, berbeda jauh! Untuk sementara berhasil mengurangi jumlah timbunan yang datang setiap bulan, tapi suka gagal begitu ada bursa baik via OL atau offline huhu.

2. pinjam atau beli buku?
Beli. Soalnya sayah suka nunda2 baca buku smp tamatlah, smp ada waktulah, bla bla. Tp skrg terkadang saya barter pinjam jg untuk kalangan terbatas. Nah, buku yg dibeli ini bisa dijual lagi kapan2...

3. baca buku atau nonton film?
Baca buku. Pokoknya tiap kali ada waktu luang diisi ama baca buku. Nonton film, apalagi yang di bioskop, cuma kalau dapat tiket nobar :p

4. beli buku online atau offline? (tobuk yg temboknya bisa disentuh)
Online. Beli di tobuk dekat rumah nggak ada yg dapat diskon, jd rugi banget. Mana harus keluar ongkos dan ada kemungkinan terjebak macet, huhu.

5. (penting) buku bajakan atau ori?
ORI, dong. Buete abis baca bajakan yang mutunya pas-pasan semua. Kalaupun ada beberapa buku bajakan di rumah itu biasanya dikasih atau dapat harga super murah cuma buat dibaca sekilas. Biasanya habis itu aku kasih orang aja soalnya pundung :p

6. gratisan atau diskonan?
Keduanya. Kalau ada gratisan, akan usaha dulu biar dapat. Tp khusus buku baru akan bela-belain cari yang dapat diskon. Ga rela banget beli buku tanpa diskon kecuali kepepet abisss. << Salah satunya adalah demi ikutan PAPR Elex, nyahaha~~~

7. beli pre-order atau menanti dgn sabar?
Menanti dengan sabar. Buat apa PO? Toh aku ga bakalan sempat baca secepatnya secara tumpukan buku itu masih aja menjulang... Lagipula PO itu diskonnya dikit, ga sebanding ama bonusnya *lho*

8. buku asing (terjemahan) atau lokal?
Sama aja, mana yang bagus diembat, yang jelek kuhujat. Kualitas buku terjemahan atau lokal kurleb sama, kok. Ada yg bagus dan ada juga yg pas2an. Lagipula, kualitas penulis lokal juga terus meningkat.

9. pembatas buku penting atau biasa aja?
Penting. Jangan sampai ngelipat buku (kecuali khilaf). Aku lebih milih mengingat nomor halaman kalau emang nggak ada pembatas. Manfaatkan segala hal untuk menjadi pembatas buku selama memungkinkan.

10. bookmark atau bungkus chiki?
Apa hubungan bookmark atau bungkus chiki ya *lugu* Bungkus chiki ga cocok buat bookmark dan bookmark ga bisa dicamil... #plak

Yang ini pertanyaan tambahan dari Raven:

1. Buku tebal atau tipis?
No problemo asal tebalnya mungkin ga lebih dari 600 halaman kali ya. Selama ini nggak pernah baca buku yang terlalu tebal. Selama bukunya asyik diikutin tebal juga nggak apa. Tapi kalau tebal males dibawa2, berat...

2. panah atau pedang?
Pedang. Kalau panah ga bisa dipakai lagi. Nyari panah yg melesat bisa2 ngabisin waktu... Tp kalau ada buku, aku pilih buku ajah.

3. makan sambil baca atau makan sambil nonton?
Makan sambil baca. Soalnya sebagian besar kegiatanku baca, jadi ya... begitulah :p Tentu aja harus ekstra hati2 biar ga nangis darah. Jd kadang hrs liat dulu jenis makanannya biar ga penyesalan di akhir.

4. hobbit atau peri-rumah?
Hobbit. Jd kedudukan dia itu teman (yg bs disuruh2?).

5. London atau New York?
Di rumah ajaaa... Di London atau NY ga ada yg menarik. Atau aku belum googling? Pilih NY aja soalnya tukar rupiahnya lebih murah? << cara milih dudul ahahaya.

Oke, sekarang aku mau tag:
Ria Tumimomor @riatumimomor
Dalina @micimochi
Tha Arha @ArthaAmelia
Ain @yuki_yuchan
Woro @woro2

Jawab pertanyaan wajib di atas plus yang ini ya:
1. novel atau komik?
2. disampul atau nggak?
3. notes FB atau blog?
4. kover atau sinopsis?
5. dijual atau disumbang?

Jawabnya di blog atau notes FB aja, tp jgn lupa tinggalin linknya di bawah ya ^^

Minggu, 05 Mei 2013

Membasmi Roh Jahat bersama Nube

Nube dan Tangan Setannya
Mungkin komik paling fenomenal yang pernah diterbitkan oleh M&C! adalah Nube, Si Guru Ahli Roh. Pertama kali terbit (mungkin) sekitar sepuluh tahun lalu (saya yakin lebih dari itu), komik ini belum tamat juga sampai sekarang walaupun status di Jepang sudah sangat lama tamat. Dan karena berbagai hal, status komik ini termasuk 'langka' dalam jajaran online shop sehingga bandrol harganya tidak kira-kira. Ada kisikan yang bilang mencapai satu juga rupiah! Wuih.

Anyway, komik ini bercerita mengenai Nueno, yang akrab dipanggil Nube, seorang guru SD yang tangan kanannya selalu memakai sarung tangan. Tentu saja ada alasan di balik sarung tangan ini: tangan Nube adalah tangan setan yang mampu 'mengamankan' roh halus kembali ke alamnya. Dan seperti rata-rata cerita hantu, orang yang memiliki kekuatan roh akan memanggil para roh mendekat, SD tempat Nube mengajar juga menjadi incaran para roh halus, yang baik maupun jahat. Seperti Conan yang kerap menemukan kasus ke mana pun ia pergi, Nube pun juga harus berhadapan dengan roh-roh halus ini hampir setiap saat. Apa rahasia kelam yang ada di balik tangan setan Nube ini?

Sejujurnya, komik ini sangat menarik untuk diikuti. Hantu-hantu yang muncul di volume-volume awal didominasi hantu Jepang yang sebagian besarnya berhasil digambarkan cukup mampu membuat saya ketakutan sendiri. Lama kelamaan, hantu-hantunya mulai 'melempem', ceritanya juga tidak terlalu penting untuk diikuti. Walau begitu, di antara cerita yang tidak terlalu penting itu, muncul cerita rahasia di balik tangan setan Pak Nueno yang berhubungan dengan masa kecil beliau dan guru kesayangannya. Tentu saja, rahasia yang menyangkut tangan setan ini bukanlah kenangan indah yang dapat kau kenang selamanya.

Salah satu contoh
penokohan yang terlalu
seksi ^^
Masalahnya, sasaran komik ini mungkin salah. Walaupun tokoh-tokoh di komik ini masih berusia SD, namun penggambaran tubuh dan sifat mereka melebihi seorang anak SD (atau saya saja yang ketinggalan zaman). Belum lagi fan service yang bermunculan di mana-mana. Entah memang di Jepang komik ini termasuk  untuk dewasa sehingga kental nuansa ecchi-nya atau memang M&C! yang tidak mengantisipasi mengenai hal ini, Nube si Guru Ahli Roh untuk saya tidak cocok dibaca usia 17 tahun ke bawah karena konten dewasa ini. Sayang sekali, andaikan gambarnya lebih sopan, komik ini akan menjadi 'aman', tentu saja harus dengan pengawasan orang tua karena banyaknya siluman yang muncul dan dapat membuat anak-anak yang belum mengerti kebingungan dan ketakutan.
shonen

Contoh halaman dalam
Nube volume 9
Karena kasus konten gambar dewasa inilah, maka Nube volume 9 tidak pernah beredar di pasaran. Yah, tentu saja ada kasus orang dalam yang mengeluarkan beberapa eksemplar Nube 9 sehingga harga komik menjadi sangat selangit. Alasannya kemungkinan karena munculnya siluman putri duyung yang topless dan tentu saja melanggar etika kesopanan di sini :)

Dari beberapa komik awal Nube, terasa kalau tehnik penyensoran gambar-gambarnya terlihat kasar, namun seiring bertambahnya usian M&C! dan jumlah volume Nube, penyensoran susah semakin baik. Jangan lupa, rating D juga harus dicantumkan di kover komik (atau memang sudah, tapi saya tidak memerhatikan?). Selain itu, jangan lupa cantumkan sinopsis di belakang kover karena walau saya sering melewatkannya, tapi tetap saja menjadi acuan untuk membuat pembaca tidak sabar untuk membacanya.

Saya berterima kasih kepada M&C! yang tetap meneruskan menerbitkan komik Nube walaupun memakan waktu bertahun-tahun. Semoga komik-komik 'macet' lainnya juga bernasib sama seperti Nube, tetap lanjut diterbitkan sampai tamat.

Tulisan ini diikutsertakan dalam merayakan ulang tahun M&C yang ke-10.


Janji Masa Lalu; Till We Meet Again


Judul : Till We Meet Again
Penulis : Yoana Dianika
Jumlah Halamanan : 298 hlm
Ukuran : 13 x 19 cm
Harga : Rp40.000
ISBN : 979-780-500-X

Sinopsis:
Saat pertama kali aku melihat dia hari itu, aku sudah berbohong beberapa kali.

Aku bilang, senyumannya waktu itu tak akan berarti apa-apa. Aku bilang, gempa kecil di dalam perutku hanya lapar biasa. Padahal aku sendiri tahu, sebenarnya aku mengenang dirinya sepanjang waktu. Karena dia, aku jadi ingin mengulang waktu.

Dan suatu hari, kami bertemu lagi. Di saat berbeda, tetapi tetap dengan perasaan yang sama. Perasaanku melayang ke langit ketujuh karena bertemu lagi dengan dirinya. Jantungku berdetak lebih cepat seolah hendak meledak ketika berada di dekatnya. Aku menggigit bibir bawahku, diam-diam membatin, “Ah, ini bakal jadi masalah. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta kepadamu.”

Apakah aku bisa sedetik saja berhenti memikirkan dirinya? Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku jatuh cinta, tetapi ragu dan malu untuk menyatakannya.

I wish dreams were wishes, and wishes came true, because in my dreams I’m always with you.

Elena Sebastian Atmadja, gadis blasteran Indonesia-Austria, mendapatkan beasiswa belajar musik di Austria. Elena tidak sekadar mengejar cita-citanya menjadi pemain biola profesional di Austria, ia juga mencari cinta pertama yang pernah dijumpainya di Istana Schonbrunn. Sempat menghabiskan masa kecil di Wina karena sang ibunda, Esther, violinis terkenal. Elena terpaksa meninggalkan Wina saat sang ibunda meninggal untuk kemudian tinggal di Bandung, kampung halaman sang ayah. Delapan tahun kemudian, di Austria, Elena bertemu dengan dua orang cowok yang mampu menggetarkan hatinya itu. Apakah salah satu dari kedua cowok itu adalah cinta pertamanya itu?

Let the love go. When it comes back, then it's yours forever and if It doesn't, means it wasn't meant to be ...

Cerita dibuka dengan cukup menarik, sehingga saya berharap cukup banyak dengan lanjutan di halaman berikutnya. Apalagi membaca keterangan bahwa novel ini adalah juara 3 dari lomba 100% Roman Asli Indonesia yang diadakan oleh penerbit Gagas Media. Ditunjang dengan kover yang sederhana, tapi menarik perhatian, tidak heran kalau espektasi saya begitu tinggi. Belum lagi rating di Goodreads yang cukup tinggi, plus puja-puji para pembaca.

Sayangnya, saya berbeda pendapat.

Salah satu kekurangan novel lokal (saya sengaja mempersempit agar tidak membandingkannya dengan penulis luar) adalah faktor kebetulan yang kental. Bagaimana tidak? Semua masalah yang dihadapi Elena selesai dengan 'keajaiban kebetulan' ini. Misalkan saja, cowok yang menjadi cinta pertamanya itu ternyata ada di dekatnya sejak awal. Model Austria yang kebetulan berdarah campuran Indonesia satu pesawat dengan Elena. Seakan masih belum cukup, si model ini menjadi pengganggu dalam kisah cinta Elena. Oh, please .... Memang betul dunia ini sempit dan kebetulan bertaburan di mana-mana, tapi rasanya kalau muncul berkali-kali jadi terasa janggal.

Semua karakter yang muncul di novel ini bisa saya katakan terlalu sempurna, baik Elena, Chris, atau Hans. Mereka sudah diplot sejak awal bertemu di sekolah musik yang sama, ditambah lagi satu gedung apartemen, dan kalau masih dirasa kurang, kamar mereka saling berhadapan. Cowok-cowok ganteng dan terkenal seperti Chris atau Hans tidak sulit jatuh cinta pada Elena yang lugu, cantik, pintar, jago main biola pula. Dan karena kesempurnaan Elena ini, tidak heran kalau tokoh utama kita juga dibenci cewek yang mengincar Chris atau Hans yang mendadak hanya tergoda pada Elena.

Walau begitu, saya salut dengan riset yang dilakukan Yoana dalam penulisan novel ini. Ia berhasil memasukkan unsur-unsur Austria sehingga tidak terkesan tempelan. Walau Wina cukup terkenal, belum banyak anak bangsa yang mengangkat seting negara ini dalam ceritanya. Namun, hal ini juga yang membuat saya bertanya di mana '100% Roman Indonesia"-nya? Pertama, nama Elena sendiri tidak berbau Indonesia. Kedua seting cerita didominasi dengan lokasi di luar Indonesia dengan cowok-cowok yang bukan pribumi juga. Mungkin satu-satunya (oke, dua-duanya) yang menunjukkan Indonesia hanya nama keluarga Elena dan kota Bandung yang muncul di awal cerita.

Sayangnya (lagi), terkadang Yoana salah menempatkan proporsi pendeskripsian sesuatu di novel ini. Misalnya saja deskripsi tentang fisik tokoh yang muncul. Saya rasa tidak perlu dijelaskan panjang lebar karena kita cukup tahu ciri-ciri umumnya saja. Di lain bagian, Yoana malah kurang mendeskripsikan adegannya sehingga saya tidak dapat membayangkannya dengan jelas.

Konflik yang ditawarkan pun tidak ada yang baru. Ada dua orang cowok yang sama-sama tertarik pada cewek yang sama. Ada orang ketiga yang merasa sebal karena orang yang ditaksirnya malah mengincar cewek lain. Ada kasus 'bullying'. Mungkin yang memberikan warna berbeda adalah cara bertutur Yoana yang mengalir dan enak dibaca. Andaikan orang lain yang menulis buku ini, mungkin saya akan berhenti membaca di tengah-tengah buku.

Saya sedikit terganggu dengan kesalahan ketik yang muncul di novel ini, termasuk jenis font yang berubah di tengah-tengah paragraf dan tidak terjadi hanya sekali dua. Apakah Gagas Media dikejar tenggat sehingga hal-hal ini lolos dari pengawasan? Belum lagi nama Chris dan Hans yang kerap bertukar peran.

Sejak awal, saya sudah dapat menebak alur dan akhir ceritanya. Yang sama sekali di luar dugaan adalah begitu banyaknya kebetulan tadi. Dengan segala kekurangan buku ini, tapi ditolong dengan kelebihannya, saya hanya dapat memberikan 2 bintang dari 5.