Selasa, 11 Desember 2012

Mencicip Amore: Cinderella Tuathina


    • Penulis : Mimosa Q.
    • Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
    • Ukuran : 13.5 x 20 cm
    • Tebal : 208 halaman
    • Terbit : Agustus 2012
    • Kover : Softcover
    • ISBN : 978-979-22-8720-2

Awalnya, saya kira Amore ini adalah lini baru novel terbitan Gramedia. Oke, ralat, mungkin lini bukanlah istilah yang tepat. Mungkin seharusnya saya menyebutnya "genre"? Setelah Teenlit, Metropop, dan sejenisnya, sekarang ada logo Amore yang menandakan bahwa isi novel ini sedikit banyak akan berbeda dengan novel-novel yang telah terbit sebelumnya. Karena Amore sendiri kurang lebih berarti 'cinta', saya langsung membayangkan novel-novel roman Harlequinn yang sangat kental muatan cintanya. Apakah Amore ini menyerupai Harlequinn? Mari kita lihat...

Entah karena Amore ini adalah 'anak baru' Gramedia atau alasan lain, dari sedikit judul yang terlihat mata, desain kover novel-novel Amore cenderung tidak seragam. Belum ada ciri khas yang mencerminkan bahwa novel ini memiliki label Amore kecuali dari logonya. Asumsi saya, Amore masih dalam tahap pencarian jati diri dan ciri khasnya.

Sadira Devi, seorang gadis Indonesia, yang berkerja sebagai housekeeper di Hotel Rosalle di Tuathina, sebuah negara kecil dekat Italia, bertemu kembali dengan Zeus, cintanya di masa lalu. Siapa sangka, Zeus yang semakin tampan dan dewasa, mengajaknya makan malam romantis untuk kemudian kembali... mencampakkanya untuk kedua kalinya dengan kata-kata yang menorehkan luka mendalam di hati.

Seakan 'tamparan' bagi Sadira masih kurang, ia harus menghadapi badai salju yang mencegahnya keluar dari hotel tempat Zeus melemparnya bak lap pel. Agar diperbolehkan menumpang tidur di gudang karyawan, akhirnya Sadira memohon pada manajer hotel agar diperbolehkan menjadi housekeeper sementara selama badai. Apalagi kondisi hotel saat itu cukup ramai dan tambahan satu orang tenaga housekeeper akan sangat membantu. Jadilah Sadira pegawai hotel dadakan di sana dan dengan sangat terpaksa melayani penghuni kamar 513 yang sangat menyebalkan. Bagaimana tidak? Cowok yang tidak kalah ganteng dibandingkan Zeus itu hobi sekali menyiksa para housekeeper. Ia akan memastikan setiap sudut ruangan kamarnya dibersihkan. Kalau perlu, harus diulang dua atau tiga kali. Dan tentu saja, semuanya harus dilakukan dengan pengawasan ketat darinya! Sadira yang mulai merasa dirinya limbung, terselamatkan saat seorang staff housekeeper menjemputnya.

Sadira yang demam tinggi kaget setengah mati saat keesokan harinya terbangun di atas tempat tidur berlapis satin dengan hanya mengenakan pakaian dalam dan bukannya di gudang apek berdebu yang disiapkan oleh hotel tempatnya menumpang tidur! Jangan lupa, tambahkan seorang Alvaro yang menakjubkan, penghuni kamar 513, yang tertidur di sebelahnya... dan hanya mengenakan bokser. Eits, masih harus tambah satu kejutan lagi: Zeus juga menjadi saksi saat Sadira ada di tempat tidur Alvaro dengan pakaian minim.

Alvaro yang melihat situasi tersebut, menawarkan diri menjadi kekasih pura-pura Sadira. Apakah Sadira menerima tawaran tersebut? Bagaimana dengan cintanya pada Zeus? Apakah Sadira akan menemukan tambatan hatinya yang sesungguhnya?

Keluhan pertama saya dan terus berlanjut sampai halaman terakhir tercapai ada di bagian kover. Bukan desainnya, melainkan jenis kertas yang digunakan. Saya tidak tahu nama-nama kertas, tapi yang pasti kertas kover Cinderella Tuathina ini sangat kaku dan gampang terlipat. Belum apa-apa, kover novel saya sudah tertekuk-tekuk seakan patah dan hal ini sangat mengganggu saya. Seakan saya membaca buku ini dengan kasar, padahal yang terjadi sebaliknya. Buku yang cantik ini tampak seperti buku bekas yang dibaca oleh banyak orang...

Selain itu, saya menemukan beberapa kesalahan ketik yang walau mungkin tidak terlalu kentara, tapi sedikit banyak menganggu saya. Selain itu, di halaman  84 ada kesalahan yang sangat mengganggu di mana nama Alvaro malah tertulis sebagai Zeus...

Overall, menurut saya, ide cerita novel ini sebetulnya sudah basi. Sangat sesuai dengan judulnya, si miskin bertemu dengan si kaya, lalu mereka menjalin hubungan. Bukannya hal ini tidak mungkin terjadi, tapi... untuk saya terlalu banyak kebetulan dalam Cinderella Thuatina. Gampangnya saja, alangkah sempitnya dunia karena bisa-bisanya Sadira bertemu dengan sang mantan yang ingin dilupakan, tapi tidak bisa, di negara kecil di Eropa? Seakan belum cukup, kebetulan Sadira terjebak di hotel dan harus melayani Alvaro yang memiliki darah Indonesia (juga). Belum lagi, kebetulan Zeus dan Alvaro ternyata adalah sahabat dan mereka menjalin kerja sama. Tidak heran kalau kebetulan kedua pria yang sama-sama tampan, digilai para cewek, terkenal, kaya, memiliki separuh darah Indonesia, sama-sama jatuh cinta pada Sadira.

Di lain pihak, keseluruhan novel terlalu banyak membahas bagaimana perasaan Sadira (yang menurut saya terlalu berlebihan), juga penggambaran sosok Zeus atau Alvaro yang bak dewa. Saya jadi bertanya-tanya bagaimana sebetulnya kehidupan Sadira sebagai seorang housekeeper karena hampir seluruh halaman didominasi hal-hal di luar itu. Saya tidak tahu bagaimana cara Sadira membagi waktu antara menjadi housekeeper di sebuah hotel besar dan berkencan... Saya juga jadi menanyakan bagaimana Sadira mendapatkan sertifikat housekeeper internasional kalau begini cara kerjanya?

Chemistry antara Sadira dan Alvaro juga sama sekali tidak terasa. Alurnya seakan terburu-buru, sehingga saya tidak merasakan momen-momen berkesan yang membuat keduanya saling jatuh cinta. Mereka seakan-akan dipaksa untuk jatuh cinta sesuai skenario, bukan karena 'keinginan' masing-masing karakter. Selain Zeus dan Alvaro yang digambarkan too good to be true, Sadira juga diharuskan memiliki tampang cantik dan polos, dengan tubuh mungil yang akan membuat para pria paling tidak mencuri pandang minimal sekali padanya. Masa lalu antara Sadira dan Zeus juga tidak dibahas sama sekali (ya, buat saya SAMA SEKALI), padahal bila dipikirkan dengan akal sehat, bagaimana mungkin seorang rakyat jelata bisa menjalin hubungan dengan seorang pangeran? Saat Sadira kuliah? Sempatkah ia kuliah dengan kesibukannya mencari uang untuk pengobatan ibunya?

Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, ide cerita novel ini mungkin saja sudah basi, tapi andaikan eksekusinya diubah sedikit, saya yakin Cinderella Thuatina akan menjadi cerita yang lebih berkesan (untuk saya). Saya berharap Zeus dan Alvaro tidaklah sesempurna itu. Dan mungkin saja ceritanya akan lebih masuk akal bila Sadira dan Zeus bertemu di Tuathina saat Sadira mendapat beasiswa kuliah di sana. Lalu, saat Sadira bekerja di hotel di Jakarta, Zeus yang memiliki darah Indonesia memang sengaja datang untuk mengurusi bisnis dari pihak neneknya. Alvaro sendiri adalah orang Indonesia tulen, yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Zeus, kecuali sebagai saingan bisnis di bidang yang sama. Yah, saya yakin, dengan sedikit polesan, banyak revisi, dan bimbingan editor, Cinderella Tuathina ini akan jauh lebih menarik.

Novel debut Mimosa Q. dalam Amore ini mungkin akan menjadi batu pijakan pertama yang menjadi awal novel-novel berbobot karyanya lainnya. Saya yakin Mimosa akan dapat menulis lebih baik lagi ke depannya. Saya percaya.

Review ini diikutsertakan dalam "2012 End of Year Book Contest"

Minggu, 09 Desember 2012

Menghadapi 30 Tahun dengan Senyuman


Judul: Amazing 30 – Melewati Usia 30 dengan Senyuman
Penulis: Beta Kun Natapradja
Penerbit: Stiletto Book
Editor: Herlina P Dewi
Desain Cover: Icko Denotto & Felix Rubenta
Tebal: 170 halaman
Harga: 35.000



Berumur 30 itu musibah atau berkah? Tidak sedikit wanita yang takut menghadapi angka ini. Alasannya banyak, tentu saja. Dan 30 menjadi momok yang menakutkan bagi para wanita single walaupun pada kenyataannya hampir semua wanita mengalaminya. Yang belum menikah, umur 30 seakan menjadi angka keramat yang selalu mengingatkan untuk menikah sebelum umur tercapai. Yang sudah menikah, umur 30 menjadi sebuah pengingat bahwa umur Anda semakin bertambah dan itu berbanding terbalik dengan kecantikan yang kita miliki. Oh, wow.

Buku ini sedikit banyak menarik perhatian saya dengan judul yang cukup manis, "Amazing 30". Judul ini seakan menyebarkan pesan positif bahwa berumur 30 penuh dengan keajaiban dan kebahagiaan, sehingga Anda layak menyebutnya 'amazing'. Dapatkah kita menghadapi umur 30 dengan senyuman?

Beta Kun Natapradja membeberkan tips dan trik menghadapi usia 30. Masalah apa, sih, yang biasanya akan Anda hadapi? Masalah finansial? Jodoh? Apakah Anda memiliki daftar target yang harus Anda penuhi sebelum umur 30? Dan apakah semua target Anda itu berhasil Anda tercapai? Beta Kun mencoba mengajak Anda berhenti sejenak, meresapi hal-hal positif dari umur 30 dan tersenyum menyambutnya.

"Tak perlu menunggu hujan atau pergantian sinar matahari utk bertemu pelangi. Dia akan selalu ada di dlm hati kita. Pelangi membuat hidupmu lebih berwarna."

Bagi Anda yang pusing mengenai masalah finansial, Anda harus mencicipi bab pertama buku ini. Beta kun akan membantu Anda membuat skala prioritas target-target yang ingin Anda capai. Tentu saja, dilengkapi dengan langkah-langkah yang harus Anda lakukan untuk mencapainya.

Bagaimana dengan Anda yang sudah atau belum memiliki pasangan? Memiliki atau belum, pasangan menjadi 'masalah' dalam hidup para wanita 30 tahun. Anda yang sudah memiliki pasangan akan dipusingkan dengan hubungan emosional antara kedua belah pihak, sementara yang belum memilikinya harus cemas saat menanti sang pangeran berkuda putih (atau mungkin sekarang seharusnya bermobil putih?). Belum lagi pertanyaan, "Kapan? Kapan? Kapan?" yang selalu menghantui.

Konflik biasanya akan muncul dalam kehidupan bersama orang lain. Anda tidak mungkin menghindarinya. Nah, perlu cara untuk menghadapinya. Jangan sampai konflik itu terus memengaruhi hidup Anda dalam bentuk aura negatif, kan? Beta Kun juga menyarangkan agar Anda tetap memiliki "me time", melakukan hal-hal yang Anda sukai untuk menghilangkan stress yang melanda dan membuat syaraf-syaraf Anda yang tegang menjadi lebih santai....

Menjadi 30 bukanlah musibah, percayalah. Itu semua tergantung bagaimana Anda menghadapinya. Beta Kun berhasil memaparkan bahwa menjadi 30 merupakan fase menyenangkan dalam hidup. Anda memiliki kesempatan untuk mengisi toples Anda sendiri dengan berbagai bumbu kehidupan sehingga hidup Anda lebih berasa. Seperti masakan, apalah enaknya jika tidak ada asam dan garam?

Salah satu yang menarik dari buku ini adalah quote-quote yang sangat mengena tapi memberikan arti positif. Anda juga dapat menemukan kisah-kisah nyata yaang dialami beberapa orang, termasuk Beta Kun, dalam menghadapi usia 30. Gaya bertuturnya ringan, sehingga Anda dapat menikmatinya sampai halaman terakhir. Mungkin masalah yang Anda hadapi juga dialami oleh orang lain dan Anda dapat melihat permasalahan itu dari sudut pandang lain melalui cerita-cerita di buku ini.

Keluhan saya ada pada mutu cetak yang kadang-kadang tipis atau berbayang. Ukuran font juga kecil dan rapat, sehingga terkesan 'bulky' dan mungkin akan membuat pembaca yang memiliki silider agak kesulitan membacanya. Namun, di luar itu, kovernya sungguh menawan sehingga awalnya saya sempat mengira buku ini adalah novel, bukannya bertipe non-fiksi yang dapat mencerahkan hidup Anda, seperti bagaimana ia mencerahkan hidup saya.

Saya yakin masih banyak sekali alasan-alasan yang mengganggu wanita menghadapi umur 30. Apakah saya salah satunya? Ada kata pepatah yang mengatakan, "Life begins at thirty." Apakah betul begitu? Andalah yang mampu menjawabnya. Karena mau atau tidak, usia 30 akan datang menghampiri. Jadi, kenapa tidak menyambutnya dengan senyuman?

"Tanpa doa, kita tak kan sanggup menghadapi segala yang ada di dunia. Perlahan, rasa optimis akan terus ada walau dalam perjalanannya sangat berat."


Resensi ini dibuat dalam rangka 2012 End of Year Book Contest 

Menari bersama Tango

First of all, Anda perlu tahu kalau saya bukanlah pencinta Korea. Saya tidak memungkiri kalau saya suka menonton beberapa drama Korea, saya juga suka Lee Min Ho atau Mickey. Tapi, mereka hanyalah beberapa ‘hal’ mengenai Korea yang saya ketahui. Beberapa bintang Korea lainnya saya kenal cukup sebatas wajah atau nama karakter yang diperankannya dalam drama yang kebetulan saya tonton. Salah satunya Geum Jan Di.

Saya tidak menonton Boys Before Flower secara rutin. Namun, saya ingat, saat itu saya memaki-maki Jan Di karena menurut saya dia tidak pantas memerankan si rumput liar di serial tersebut. Untuk saya, tampangnya terlalu tua sebagai anak SMA dan saya tidak menemukan sesuatu yang spesial mengenai dirinya sama sekali. Paling namanya terangkat karena ia berakting bersama empat orang cowok keren lainnya, begitu pikir saya.

Tidak heran kalau saya memandang remeh saat membaca kalimat, “Dalam seminggu, Tango telah terjual di atas 30.000 kopi.” What? Si Jan Di yang ternyata memiliki nama asli Goo Hye Sun (ya, saya baru tahu sekarang) ini disebut-sebut sebagai bintang multibakat yang bersinar? Bahkan, bukunya saja termasuk best seller? Apa selama ini saya salah menilainya?

Tango
Kategori: Novel
Penerbit: Ufuk Publishing House
Penulis: Goo Hye Sun
ISBN: 978-602-18349-8-5
Ukuran: 14 x 20.5 cm
Halaman: 312 halaman
Terbit: 2012
Harga: Rp. 54.900,-





Sinopsis di kover belakang:
Nama lelaki ituKang Jong Woon.
Selama dua tahun ini, artinya bagiku adalah pacar, teman, dan keluarga. Dia adalah lelaki muda dan tampan. Hari ini dia singgah di rumahku lagi. Jong Woon tiba-tiba bamu dua atau tiga langkah sambil berteriak, “Step!” Jong Woon terus berjalan berputar-putar tanpa henti seperti sedang menari, tingkahnya itu seakan mengisyaratkan bahwa ia sedang minta diperhatikan. Lalu, ia melompat ke tempatnya semula seperti seorang anak kecil. Akhirnya, aku bertanya kepadanya lebih dulu karena ia terus berputar.
“Sedang apa?”
“Aku sedang menarikan tarian  yang sangat romantis,” jawab Jong Woon.
“Tarian apa itu?”
“Tango ….”

“Hanya orang yang minum kopi yang tahu rasa pahit itu.”

Cerita dibuka dengan keluh kesah Yun, si pemeran utama wanita, mengenai kopi. Lucu juga membaca bagian ini karena dulu saya juga tidak menyukai kopi. Saya sedikit banyak dapat merasakan betapa Yun tidak menyukai kopi, namun terpaksa untuk menikmatinya hanya karena Jong Woon menyukainya.

“Aku dapat bersabar selama ini, jadi kali ini aku juga pasti bisa.”

Yun, sempat mengalami kebingungan dan kegelisahan saat dia akhirnya harus berpisah dengan Jong Woon. Dia tidak dapat menentukan apa itu kenyataan… Butuh waktu lama baginya untuk menyadari bahwa mengenakan sepatu berhak tinggi yang cantik itu ternyata sangat menyakitkan. Begitu juga saat dia akhirnya berhasil ‘melepaskan’ Jong Woon setelah bertemu dengan Park Si Hoo, seorang pria yang ‘bebas’ seperti awan.

Sejak halaman pertama novel Tango, saya langsung menyadari bahwa cara bertutur Yun sebagai ‘aku’ cukup berbeda dengan ‘aku’ yang biasa saya temui di novel sejenis. Goo Hye Sun memilih tidak menjabarkan atau mendeskripsikan hal-hal yang terlalu mendetail. Bahkan kata Korea dan Seoul hanya muncul masing-masing sekali saja.

Cara bertutur yang digunakan Goo Hye Sun indah. Berbeda dengan kalimat-kalimat sastra, tapi buat saya… indah. Walaupun ada beberapa bagian yang sulit saya tangkap maksudnya, tapi secara garis besar, Hye Sun mampu merangkai kata-kata menjadi suatu paragraf atau bab yang ringkas dan tak bertele-tele. Salut pada sang penerjemah, Dwita Rizki Nientyas, yang mampu membangun ulang apa yang ingin disampaikan Goo Hye Sun dalam bahasa Indonesia.

Saya cukup surprised membaca apa yang terjadi pada Si Hoo. Yun mendeskripsikannya dengan begitu singkat dan sederhana, sementara saya ingin bagian itu lebih dramatis lagi. Emosi yang dirasakan Yun begitu datar sepanjang buku, sehingga saya tidak merasakan adanya naik turun cerita yang seharusnya ada sepanjang alur.

Saya juga menyukai editing novel ini. Walaupun menemukan beberapa kesalahan ketik mulai setengah buku ke belakang, tapi itu jauh lebih baik daripada beberapa novel serupa yang saya baca. Hal ini menunjukkan bahwa Ufuk mampu menjaga kualitas sebuah novel sehingga menambah nilai pada karya ini.

Kover novel Tango untuk saya sangat mewah dengan efek glitter keemasan pada tulisan Tango, walau saya tidak mengerti apa fungsi memajang foto Go Hye Sun di sana. Saya juga merasa bahwa sinopsis di kover belakang sama sekali tidak mewakili keseluruhan cerita. Saya sama sekali tidak menangkap cerita mengenai apa yang akan saya temui saat akan membaca novel ini.

Hal pertama yang menarik perhatian saya saat lembaran Tango terbuka satu demi satu adalah tata letak novel ini. Wow, menarik sekali. Selain terlihat rapi, saya sangat menyukai adanya ornamen-ornamen tambahan di awal bab. Dan saat saya melakukan skimming awal, saya melihat ada ilustrasi pula yang menghiasi beberapa bagian dari buku ini. Jadi, pantaslah saya beri, wow!

Mungkin pujian yang menyatakan bahwa Goo Hye Sun adalah artis serba bisa tidak salah karena untuk saya, ilustrasi yang ada di dalam buku ini memang menakjubkan, memiliki ciri khas sendiri… Walaupun saya tidak mengerti mengapa ada ilustrasi-ilustrasi tersebut. Sebagian besar ilustrasi tidak mewakili cerita di bab bersangkutan dan beberapa kali mengganggu ‘alur’ saya membaca ceritanya.

“Aku akan memulai hidup baru. Aku akan membuka mataku lebar-lebar dan melihat dunia baru.”

Dengan membaca Tango, saya dibawa ke dunia yang belum pernah saya selami sebelumnya. 


Resensi ini diikutsertakan dalam 2012 End of Year Book Contest 

Minggu, 07 Oktober 2012

MANGA AUDITION


Majalah Manga “Comic Zenon” sedang mencari bakat baru!

Ajang audisi manga bisu (silent manga) pertama di Jepang. Sebuah kompetisi yang lebih menitikberatkan pada kelebihan senin tanpa adanya kendala bahasa.

Sebuah pertanyaan pada seluruh kreator di luar negeri dan mereka yang berkeinginan menggambar manga perdananya: Bagaimana kalau Anda menguji kemampuan Anda melalui manga lintas batas (bahasa)?

Manga ibarat storyboard untuk film bisau. Pemakaian kata dalam manga sangat sedikit dan biasanya terbatas pada percakapan sehari-hari. Kalau tergantung pada kata-kata daripada aspek visual dalam menyampaikan cerita, karya tersebut disebut ilustrasi, bukan manga.

Manga Audition bertujuan  menemukan dan memberi penghargaan pada manga yang mampu bertumbuh mencapai potensi tertingginya.

Sejatinya, manga harus bisa menyampaikan cerita tanpa dialog, layaknya storyboard. Inilah ‘kekuatan manga’. Kalau perlu dialog dalam bertutur, karya tersebut tak perlu dibuat dalam bentuk manga. Inti audisi ini adalah memanfaatkan hal terpenting bagi seorang mangaka, yaitu ‘penggambaran’.

Kalau Anda mencintai manga dan ingin menggambar manga, tapi urung karena kendala bahasa, ini kesempatan Anda berkarya di salah satu majalah manga Jepang!

Manga Audition untuk Peserta Internasional:

Tema: Manga Surat Cinta
Gagasan di balik teman ini entah ditujukan pada kekasih, pasangan, teman, atau orang lain. Surat cinta adalah hadiah yang menghangatkan hati dalam bentuk apa pun. Tak harus berwujud surat tertulis. Ekspresikan cinta Anda seperti saat mengirim atau menerima surat cinta secara visual melalui manga bisu.

Ketentuan Manga Audition:
“Tanpa kata-kata, tanpa cerita.”
Karya yang  masuk akan dinilai dari kemampuan seorang mangaka yang paling berharga, yaitu dalam hal ‘penggambaran’. Ekspresikan emosinya sesuai ciri khas Anda. Tak perlu cerita yang kompleks, yang penting temanya dimengerti pembaca. Tunjukkan secara visual emosi berbagai karakter Anda tanpa tergantung pada latar belakang cerita dan embel-embel.
Catatan: Tidak boleh ada dialog dalam manga. Anda ditantang hanya memanfaatkan kemampuan Anda menggambar secara visual.

Para Juri:
·         Tsukasa Hojo (City Hunter).
·         Tetsuo Hara (Tinju Bintang Utara).
·         Nobuhiko Horie.
·         Seluruh Tim Editorial Comic ZENON.

Hadiah
·         Pemenang Utama: 500,000 yen (Rp60juta).
·         Runner-Up: 300,000 yen (Rp36juta).
·         Pemenang Unggulan: 100,000 yen (Rp12juta).
·         Runner-Up Unggulan: 30,000 yen (Rp3,6juta).
·         Pemenang Kehormatan: 10,000 yen (Rp1,2juta).
Catatan: 1 yen = Rp120.

Tenggat Waktu: Akhir Maret 2013.

Hasil kontes ini akan diumumkan bulan Juli 2013 melalui situs NSP (North Star Pictures).

Hasil karya Pemenang Utama, Runner-Up, dan Pemenang Unggulan akan dimuat dalam majalah manga Jepang.

Pendaftaran:
Cantumkan nama, alamat, usia, pekerjaan, no telepon, biografi singkat, daftar hasil karya sebelumnya. Kalau ingin hasil karya Anda dikembalikan, lampirkan amplot dengan alamat lengkap beserta prangko secukupnya. Anda juga dapat memasukkan aplikasi dalam bentuk PDF melalui situs http://www.manga-audition.com/id

Kirimkan aplikasi Anda ke:
Redaksi Level Comics
PT. Elex Media Komputindo
Attn: COMIC ZENON Manga Audition
Gd. Kompas Gramedia Tower Lt. 2
Jl. Palmerah Barat 29-37
Jakarta Pusat 10270

Detil Pendaftaran:
1.       Hasil karya belum pernah diterbitkan (imitasi, tiruan, parodi, atau versi modifikasi manga karya orang lain tidak diizinkan).
2.       NSP dan pihak ketiga yang terkait dengan Manga Audition, yang kemudian disebut Komite Manga Audition), diperbolehkan menerjemahkan bila diperlukan dan menggunakan hasil karya yang masuk untuk hal di bawah ini di seluruh dunia:
·         Publikasi dalam majalah atau bentuk cetak lain.
·         Distribusi dalam bentuk e-book.
·         Materi promosi yang berkaitan dengan nomor 1 dan 2.
3.       Penggunaan dalam bentuk selain yang dicantumkan di atas akan didiskusikan antara NSP dan pengarang sebelum digunakan (termasuk situasi khusus di mana pengarang ingin menggunakan hasil karya untuk tujuan tertentu).
4.       Hasil karya yang masuk dianggap terbit di Jepang pertam kali, sehingga terikat undang-undang hak cipta Jepang.
5.       Hasil karya yang masuk akan didiskualifikasi jika memenuhi hal berikut:
·         Hasil karya sudah pernah diikutkan dalam kontes manga lain atau diumumkan/digunakan dalam majalah lain.
·         Hasil karya merupakan milik, dan/atau dalam bentuk apa pun, melanggar hak cipta/profit pihak ketiga.


Tambahan by me:
Dari persyaratan yang ada di buklet MANGA AUDITION tidak dicantumkan masalah jumlah halaman. Tapi dari contoh yang dimuat, panjang manga antara 5-15 halaman saja.


Kami menginginkan bakatmu!


Rabu, 03 Oktober 2012

October Special Giveaway



Oktober adalah bulan spesial. Ada tiga tanggal bersejarah pada bulan ini, jadi daku memutuskan ada tiga buku untuk dibagikan pada masing-masing pemenang ^__^

Buku 1: Te We by Gola Gong (bertanda tangan, lho!)
Buku 2: Super Junior in Comic by Merri An
Buku 3: Gaun-Gaun Kesunyian by Mayoko Aiko

Biar adil, ada buku fiksi, nonfiksi, dan komik ;)



Caranya gampang banget, kok!

  1. Follow twitter daku @esvandiarisant
  2. Jawaban boleh berkali-kali selama berbeda. Jangan lupa hastag dan kodenya.
  3. Ajak tiga orang temanmu untuk ikutan kuis ini. Sertakan juga link ke info GA ini ya.
  4. Kalian boleh jawab via Twitter atau blog, mana yang lebih gampang.
  5. Jangan lupa sertakan lokasi di setiap jawaban,
  6. Tiap buku pertanyaannya beda-beda, jd diperhatikan, yaaa ^_^
  7. Jawaban ditunggu paling lambat tanggal 14 Oktober 2012, jd waktu kamu masih panjang.
  8. Pengumuman pemenang minggu ketiga (tanggal blm pasti, tergantung koneksi internet).
  9. Hadiah dikirimkan plg lambat akhir Oktober kecuali ada satu dan lain hal.
  10. Satu orang bisa menjawab satu pertanyaan saja atau semuanya sekaligus.
  11. Satu orang bisa memenangkan satu atau lebih buku di atas, lho. Jd... jangan sia2kan kesempatan ini, okeyyyh...
  12. Ini dia pertanyaannya:
  • Buku nonfiksi spt apa yg ingin kamu baca? Kenapa? #OctSpeGA1
  • Cerita fiksi apa yg jd favoritmu? Kenapa? #OctSpeGA2
  • Komik spt apa yg jd kesukaanmu? Kenapa #OctSpeGA3

Good luck, yaaa ^__^ Selamat menjawab!

Rabu, 26 September 2012

Separuh Hidupku bersama M&C!


<<-- Tumpukan komik M&C! yang saya bawa ke kantor untuk stok bacaan dan bantal tidur supaya bisa mimpi indah dengan karakter favorit <3

Separuh hidup? Sumpe loooo? Tapi, ini adalah kenyataan pahit (halah) menyenangkan dalam hidupku. Mengenal komik untuk pertama kalinya... Ehm... 20 tahun lalu? Well, if it's already 20, then it's more than half of my life!! Komik pertama M&C pertamaku itu rasanya berjudul Bunga-Bunga Cinta? Atau Sejuta Cinta? Ada lagi judul 100% Hime Girl, Setinggi Langit dan Bintang, Angel, Dewa Asmara Tolonglah!. Ring a bell?

Saat itu, saya masih awal SMP dan uang saku terbatas. Jadi, sibuk barter pinjam dengan teman. Mungkin, itu menjadi cikal bakal betapa saya mencintai komik sampai detik ini. Mengenal manga seakan membuka sebuah jendela baru yang selama ini tidak pernah saya pedulikan. Yang paling terasa adalah manga membuat saya semakin giat belajar menggambar dan makin terjerat pada hobi yang sudah mendarah daging: membaca.

Logo M&C! ini awalnya belum dipakai pada komik-komik yang terbit di awal (sesuai ingatan saya, lho). Saat itu, kantor M&C! masih ada di 'bagian belakang', terpisah dengan gedung utama grup Kompas Gramedia. Pertama kali ke sana gara-gara tukar komik Boulle & Bill yang cetakannya rusak, a ha ha. Lalu, gedung M&C! ini berpindah lagi ke Jl. Panjang sebelum akhirnya bergabung bersama grup yang lain di Palmerah Barat.

Anyway, jangan ditanya ada berapa koleksi komik M&C! saya. Sebagian raib tak jelas juntrungannya oleh para peminjam yang tak bertanggung jawab, sebagian lagi menjadi camilan rayap, dan yang tersisa menjadi salah satu 'harta benda' saya. Tidak pernah terbayang bagaimana andainya saya tidak pernah mengenal komik...

Karena suka menggambar dan berniat membuat komik, saya akhirnya berkenalan dengan para editor M&C! Dari merekalah saya tahu bahwa Nube 9 bisa dibilang tidak pernah keluar dari gudang (hayo, siapa, ya, yang bilaaang?). Juga info kenapa Fuushigi Yuugi 2 ditarik dari peredaran untuk sementara dan dilepas kembali setelah melalui proses 'penyuntingan' kedua. Saya juga jadi tahu adanya Unit Layanan Jual dan menatap iri rak komik M&C! yang penuh dengan judul-judul yang (sebagian besar) tidak saya miliki.

Pst, M&C! tahu nggak kalau suatu ketika, teman editor dari brand lain pernah mengeluhkan hal yang sama dengan saya? Mutu editan M&C! payah banget. Selain banyak kalimat yang tidak efektif, salah ketik, dan salah balon, pernah kejadian letak halaman W Juliet terbalik antara kiri dan kanan. Saat itu saya protes keras melalui milis (zaman dulu geto, loch!) dan langsung ditanggapi oleh pihak redaksi.

Zaman berubah, mutu komik M&C! juga meningkat, walau namanya manusia, saya kerap menemukan beberapa 'kesalahan'. Namun, seperti juga dulu ditanggapi melalui milis, kali ini saya protes melalui Twitter atau SMS langsung ke sang editor. Tujuannya bukan ingin menjatuhkan, kok, tapi supaya komik kesukaan saya makin oke dinikmati, ya nggak?

Nah, gara-gara hobi mengkritik editan ini, saya akhirnya 'terdampar' juga menjadi editor lepas Koloni. Ups, ralat. Awalnya saya diminta untuk mengisi Koloni gelombang pertama, tapi karena satu dan lain hal, saya hanya menjadi penggembira *hiks* Koloni itu apa? Komik Lokal Indonesia. Dulu M&C! pernah menerbitkan Koloni edisi kuno (halah lagi), seperti Alakazam atau Dua Warna. Selang beberapa tahun (nggak dihitung), akhirnya M&C! memutuskan untuk kembali mengisi dunia perkomikan di Indonesia dengan komik lokal. Salah satu karya terbaik yang diterbitan adalah Garudayana oleh Is Yuniarto.

Judul Koloni yang pernah saya edit antara lain Princessa karya Anca Sulaiman dan Aquapasto karya Gleision Adain. Saya juga mendapat kehormatan untuk membuat fan art berdasarkan tokoh dari kedua komik tersebut. Dari sini, saya juga jadi mengenal banyak orang, terutama komikus dan ilustrator yang kemampuannya jauh di atas saya. Kedua gambar saya ini tentu saja tidak mirip karakter aslinya, tapi mengerjakannya sangat menyenangkan!

Betapa M&C! sudah mengisi hari-hariku. Di saat aku gundah gulana atau butuh hiburan, pelarian pertamaku adalah komik. Aku suka sekali serial cantik keluaran M&C! yang kadang membuatku tersenyum atau menangis sendiri. Terima kasih, M&C! I can't imagine what my life would be without you...


Ilustrasi yang saya buat based on salah satu karakter karya Ichikawa Show. Iya, ga miriiiip.

PS. Kayaknya anak saya yang satu ini juga bakal berbakat jadi maniak komik (belum otaku!) seperti emaknya, hi hi.


Kamis, 06 September 2012

September Manga Giveaway

Ingin 6 buah komik gratis di atas ini? Yuk, ikutan September Manga Giveaway

Caranya gampang banget:
  1. Follow @esvandiarisant dan @micimochi di Twitter.
  2. Ceritakan pengalamanmu yang paling kocak bersama manga alias komik Jepang.
  3. Giveaway berlangsung 7 September - 16 September 2012. Pemenang akan diumumkan 19 September 2012.
  4. Satu orang hanya bisa submit satu kisah kocaknya, so pikirkan baik2 jawabannya, ya ^^^
  5. Format jawaban: Lokasi/Jawaban/Akun twittermu di bagian Komentar.
  6. Kalau sudah submit jawaban, jangan lupa twit: Aku ikutan #SeptemberMangaGiveaway di  http://aquaillution.blogspot.com/2012/09/september-manga-giveaway.html cc: @esvandiarisant @micimochi
  7. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat XD 
  8. Batas klaim hadiah 2x24 jam. Lewat dari itu, kita pilih pemenang yg lain.
So, what are you waiting for?? Yuk, mari dijawabbbh...

Kamis, 23 Agustus 2012

Yang Penuh Perhitungan: The Recknoning



Judul: The Reckoning-Perhitungan
Penulis: Kelley Armstrong
Kategori: Novel, fiksi
Kover: softcover
ISBN: 978-602-18349-0-9
Ukuran: 14 x 20.5 cm
Penerbit: Ufuk Publishing House
Halaman: 456 halaman
Terbit: 2012
Harga: Rp59.900,-

Liburan, kenapa tidak saya isi dengan membaca buku? Terutama buku-buku dari Penerbit Ufuk yang sudah menggoda sekali untuk dibaca yang saya beli via Yes24.com Indonesia. Karena keuangan terbatas sementara buku-buku terbitan Ufuk bisa dibilang menarik semua, saya mencoba memilih berdasarkan rekomendasi teman-teman.

Awalnya saya tidak tertarik sama sekali membaca buku ini. Apalagi kalau melihat ada serinya. Tapi, seorang teman setengah memaksa saya menikmati novel favoritnya itu. Awalnya novel ini saya pinjam darinya. Toh, kalau membosankan saya bisa berhenti di tengah jalan. Kalau memang menarik, wah, bakal seru. Tidak ada ruginya. Namun, pada kenyataannya, akhirnya saya membelinya sendiri. Thanks a lot to Yes24.com for the nice discount!

Oh, ya, sebelum membaca buku ini, saya juga dipaksa untuk membaca kedua buku sebelumnya yang termasuk dalam trilogi Darkest Power karya Kelley Armstrong ini. Saya membacanya, tapi bisa dibilang sekilas-sekilas, hanya demi agar saya bisa cepat-cepat membaca The Reckoning. Maafkan saya untuk ini ^__^ (edit: Tapi hal ini saya tebus dengan membaca ulang kedua seri sebelumnya karena membaca The Reckoning tidak akan meresap begitu dalam di hati saya jika saya tidak melakukan hal itu!). Hal ini gara-gara begitu banyak orang yang merekomendasi seri terakhir dari Darkest Power. Apakah ada sesuatu yang membuatnya mendapatkan rating cukup tinggi di goodreads? Atau apakah yang saya rasakan setelah saya membaca buku ini akan berbeda dengan tanggapan orang kebanyakan? We’ll see...

Kelley Armstrong memiliki kebiasaan jarang menjelaskan ulang apa-apa yang sudah di buku-buku sebelumnya. Untuk pembaca lama, hal ini sangat menyenangkan, walau akan membuat pembaca baru kebingungan (seperti yang pernah saya alami). Untuk Anda yang benar-benar mencintai seri ini, sebaiknya (ya, ini saran saya) untuk membaca kedua seri sebelumnya.

The Reckoning secara keseluruhan bercerita mengenai Chloe, Derek, Simon, dan Tori yang harus menyelamatkan diri dari Grup Edison. Mereka masih dibayang-bayangi kemungkin bahwa ada mata-mata dari Grup Edison di antara mereka yang mungkin saja akan membawa mereka kembali ke lab, atau bahkan bisa saja membunuh mereka. Apakah para tokoh kesayangan kita ini harus menghadapi kenyataaan bahwa ada pengkhianat di antara mereka? Atau mereka hanyalah 'korban' yang harus berjuang untuk 'menyelamatkan diri?

Kehidupan Chloe Saunders yang masih berusia 15 tahun berubah total. Keinginannya menjadi anak normal sepertinya akan sulit tercapai. Tentu saja ini gara-gara Chloe adalah seorang necromancer dengan gen termodifikasi yang dapat membangkitkan orang mati, wow. Bersama teman-temannya yang "berbakat", Chloe and the gank harus jungkir balik menyelamatkan diri dari organisasi jahat, Grup Edison, yang menciptakan mereka. Selain itu, Chloe juga harus dipusingkan dengan kisah cintanya dengan Simon si penyihir baik atau Derek, si manusia serigala yang juga saudara Simon...

Plot The Reckoning sedikit banyak agak mirip dengan The Summoning yang memiliki klimaks yang jelas, sementara The Awakening sedikit 'berputar-putar' tanpa penyelesaian tuntas. Hubungan antara Chloe dan Derek juga dipaparkan secara lengkap dan berlangsung timbal balik. Terasa nyata dan mungkin dialami para remaja. Dan 'romance' adalah salah satu kelebihan The Reckoning yang tidak Anda temukan di dua seri pendahulunya. Kisah cinta antara kedua remaja ini sangat manis. Derek, seorang manusia serigala yang tanggung dan kuat, ternyata menginginkan Chloe tetap ada di sisinya di saat-saat terburuknya, sementara Chloe memang tetap berada di sisinya, meremas atau sekadar mengusap tangan Derek untuk menenangkannya... Sebuah 'permulaan' sebuah hubungan yang benar-benar manis pada akhir trilogi ini... Awh.

The Reckoning adalah salah satu buku yang saya komentari, “Ya ampun, manis banget, sih, ceritanya.” Dan saya bersungguh-sungguh saat mengatakannya. Pipi saya seakan memanas menikmati apa yang terjadi antara Chloe dan Derek, hehe.

Karakter-karakter pada buku ini juga layak untuk saya cintai. Misalnya, Chloe adalah karakter yang mengagumkan. Ia mengalami perubahan sifat karakter. Ia tumbuh dewasa. Ia memang tidak tiba-tiba bertransformasi menjadi seorang gadis serba bisa, tapi Chloe berusaha sebaik mungkin. Yah, pada intinya saya menyukai sosok baru Chloe dan jadi suka padanya... Chloe yang tadinya pemalu dan tertutup, selalu memikirkan kekuatannya secara berlebihan dan sulit untuk percaya pada orang lain, kini menjadi gadis yang lebih bijaksana, tidak takut mengambil keputusan walaupun pilihan itu mungkin tidak mudah.

Ada juga Derek, yang jujur dan lugu (ahahaha), juga penuh perlindungan. Ia menjadi semacam sandaran bagi Chloe? Entahlah bagaimana cara menjelaskannya.Dan, jangan pernah melupakan para karater tambahan seperti Simon, Tori, atau Liz. Mereka memberi warna pada seri ini dan membuat alur ceritanya sayang menarik. Para karakter ini tidak pernah menjadi sempurna dan itulah yang membuat cerita ini menjadi sempurna. Chloe tidak akan pernah menjadi 100% berani, terkadang ia juga mengalami dilema dan bingung menentukan pilihan.

Armstrong menunjukkan kepiawaiannya menulis. Di satu saat ia berhasil menulis cerita bertema dewasa yang membuat saya menahan napas, tapi di lain kesempatan ia juga mampu menghadirkan cerita supernatural untuk para remaja, tetap dengan alur dan klimaks yang membuat saya tidak dapat berhenti membacanya. Khusus bagi Trilogi ini, Armstrong sengaja membuat endingnya menggantung. Atau ‘terbuka’ lebih tepatnya. Sehingga cerita ini masih memilki banyak kesempatan untuk diteruskan. Sedikit banyak ini agak mengganggu saya. Bahkan di beberapa bagian, penyelesaiannya terasa terlalu sempurna, tapi... yah, tidak mengapa.

Misalnya saja bagian cerita yang melibatkan para demon dibiarkan menggantung tak terselesaikan. Apakah suatu saat nanti Chloe akan tumbuh dewasa dan kebali menyelesaikan segala urusannya dengan sang iblis ini? Saya jadi berharap bakal ada lanjutan, aka seri ke-4, dari trilogi ini. Yah, maklum, saya termasuk salah satu tipe yang lebih menyukai ending yang pasti. Tentu saja, tetap dengan kemungkinan untuk diteruskan di kemudian hari karena saya sangat penasaran akan seperti apakah tokoh-tokoh kesayangan saya ini jika mereka tumbuh dewasa nanti...

Yah, walau tentu saja, ada beberapa pertanyaan yang tidak terjawab. Misalnya... Apakah Rae benar-benar selamat? Apakah Grup Edison masih meneruskan modifikasi DNA mereka? Atau memang pertanyaan-pertanyaan seperti ini ada untuk dijawab di seri selanjutnya?

Oke, oke, saya harus mengakui bahwa saya SEDIH karena seri ini berakhir. Saya terlalu terjerat pada karakter-karakter di trilogi ini, seakan-akan saya ikut berpetualang bersama mereka. Armstrong berhasil mengaduk-aduk perasaan saya, merasakan segala kesulitan yang dialami Chloe dan kawan-kawan. Dan mungkin saya tidak keberatan dengan beberapa hal yang memang sebaiknya tidak perlu jawaban... karena lagi-lagi saya menantikan petualangan mereka di masa depan.

Kelley Armstrong sendiri adalah penulis Kanada yang mulai menulis fantasi sejak tahun 2001. Salah satu karyanya yang cukup terkenal adalah seri Woman of the Otherworld. Armstrong sering memunculkan karakter yang memiliki kekuatan supranatural, seperti penyihir, necromancer, atau manusia serigala. Tidak heran kalau dalam seri The Darkest Power mereka juga 'berkeliaran'. Armstrong suka memasukkan unsur misteri dalam karya-karyanya dan mungkin inilah yang membuat kita tidak dapat melepaskan buku-bukunya sebelum mencapai halaman terakhir.

Anyway, buat para pecinta buku, jangan lewatkan berbelanja via Bukukita.com. Anda akan mendapatkan diskon yang menggiurkan dan yang terpenting, tidak perlu bermacet-macet ria mencari buku yang kita inginkan. Tinggal menjelajah di situsnya, pesan, bayar, dan Anda tinggal menunggu buku Anda tiba dengan selamat. So simple!

[Viva.co.id] Menjelajah Tampilan Baru

Saya bukan penikmat berita versi on-line. Yah, tentu saja saat saya sedang surfing dan bisa membuka link, saya akan membaca beberapa berita yang menarik. Tapi saya akan tetap memilih wujud fisik, misalkan koran atau majalah, untuk mencari berita-berita terbaru. Alasannya banyak, salah satunya, mata mudah lelah bila berhadapan dengan layar gadget atau PC saat membaca berita yang sarat tulisan.

Nah, apa yang menarik dari VIVAnews? Saya mengetahui adanya portal berita http://news.viva.co.id/ sejak menjadi pengikut akun twitter @VIVAnews. Walaupun akses internet saya di kantor terbatas, saat ada caption judul yang  menarik perhatian yang rajin dikicaukan oleh @VIVAnews, saya akan menyimpan link-nya untuk dibuka kemudian saat memungkinkan. Yang pasti, @VIVAnews berhasil memberikan judul-judul unik yang berhasil menggoda saya untuk membaca berita lengkapnya.

Sejujurnya, saya tidak begitu memerhatikan tampilan awal VIVAnews sebelumnya, sehingga saya tidak terlalu bisa membandingkan yang sekarang dengan yang dulu. Karena itu, saya mencoba membandingkannya dengan beberapa portal berita lain yang terkadang saya kunjungi juga.

Kesan Pertama
Satu kata: biasa. Saya tidak melihat sesuatu yang outstanding, kecuali animasi foto yang berganti-ganti sebagai berita utama. Kualitas beberapa foto utama tersebut sangat menarik dengan sudut pengambilan yang bagus, tapi sebagian lagi terlalu biasa untuk dimasukkan sebagai headline. Bahkan ada beberapa foto yang mutunya kurang baik alias tidak terlalu tajam.

Warna putih sangat mendominasi tampilan secara keseluruhan, diikuti dengan warna merah khas VIVAnews dan warna-warna ini 'kalah' dengan keragaman warna yang ditampilkan foto-foto yang ada. Kita harus jeli untuk tahu bagian mana yang harus di-klik agar dapat pergi ke laman yang memuat berita tersebut. Namun, kita tidak perlu terlalu panik karena kursor mouse akan berubah saat kita menggulirkannya di layar. Klik, Anda langsung terbawa ke laman yang Anda inginkan ;)

Animasi di Laman Utama
Saya menyukai animasi yang ada pada sebuah laman web, namun pihak developer harus memikirkan apa fungsi animasi dan juga segala hal yang menyangkut animasi tersebut. Animasi pada laman utama Viva.co.id memang menunjukkan foto-foto dengan caption menarik, tapi untuk saya kecepatan animasi itu tidak sesuai untuk saya menikmati satu demi satu berita yang akan saya baca duluan. Untunglah Viva mempermudah saya pergi ke laman yang saya inginkan cukup hanya dengan mengklik foto. Tapi, kalau tidak hati-hati dan mengklik di waktu yang salah, saya malah akan terbawa ke laman yang lain karena foto keburu berganti ke slide berikutnya.

Menu DropDown
Viva membagi berita-beritanya menjadi beberapa segmen, misal Politik, Bisnis, atau Otomotif. Anda tinggal menggerakkan mouse ke segmen yang Anda inginkan pada menu utama di bagian atas, lalu akan muncul daftar dalam bentuk dropdown. Hal ini cukup memudahkan Anda untuk mencari berita yang paling menarik untuk dibaca.
Masalahnya, menu ini kadang tidak muncul begitu saja. Contohnya saat saya beralih dari satu segmen ke segmen lain, menu ini tidak muncul sehingga saya seikit kesulitan mencari berita yang saya inginkan...

Layout pada Masing-masing Segmen
Saya perhatikan, bagian Otomatif dari situs Viva ternyata memiliki latar belakang berbeda dengan segmen yang lain. Kalau segmen lain latar belakangnya cukup berwarna putih sederhana, untuk bagian Otomotif, Anda akan melihat gambar mobil dan hal-hal lain yang berhubungan. Untuk saya pribadi, gambar ini cukup menarik dan menjadi hal pertama yang saya nikmati saat menjelajah ke bagian Otomotif. Saya berharap segmen-segmen lain di portal Viva juga dilengkapi dengan gambar-gambar seperti yang diterapkan pada segmen Otomotif.

Layout Keseluruhan
Secara keseluruhan, tampilan portal Viva cukup sederhana dan tidak membingungkan karena masing-masing segmen tertulis dengan jelas. Berbeda dengan salah satu portal berita yang didominasi warna hijau. Saya tersesat di sana, tidak tahu apa yang harus diklik atau berita ini ada di segmen mana. Layout Viva ini cocok sekali untuk para pembaca serius yang tidak perlu banyak embel-embel animasi atau warna, tapi tetap menarik bagi pembaca 'numpang lewat' seperti saya.

Penggunaan Foto untuk Berita Terkait
Untuk beberapa artikel, entah kenapa pihak Viva menggunakan foto yang kurang relevan. Misalnya pada berita "Anak 8 Tahun Tenggelam di Kolam Rekreasi", pihak Viva menggunakan foto anak-anak bule sehingga saya sempat berpikir bahwa kejadiannya terjadi di luar negeri. Alangkah terkejutnya saya saat mengetahui peristiwa naas tersebut terjadi di perbatasan antara Karawang dan Bekasi! Dan ternyata yang berpikiran sama dengan saya juga ada karena orang tersebut juga menanyakan hal yang sama. Mungkin ada baiknya jika lain kali Viva menyertakan foto yang lebih sesuai. Juga mencantumkan sumber foto yang digunakan dalam berita.



Iklan di Bagian Kanan Atas
Saya pribadi cukup terganggu dengan keberadaan iklan ini. Bukan karena iklannya, melainkan karena pop up otomatis yang memenuhi layar jika iklan tersebut tersentuh 'tidak sengaja' oleh kursor mouse saya. Saya harus menutup pop up tersebut berkali-kali agar saya dapat menikmati berita yang ingin saya baca. Saya mencoba mengerti bahwa si pemasang iklan telah membayar agar kita, sebagai pembaca, melihat iklan tersebut. Tapi dapatkah pihak Viva melakukan sesuatu agar saya, atau pembaca lain, dapat menyingkat waktu yang terbuang hanya untuk menutup jendela tersebut??

Kecepatan Berpindah AntarLaman
Tidak semua orang memiliki kecepatan akses internet yang cukup cepat dan hal ini terjadi pada saya. Harus saya akui bahwa kecepatan berpindah antarlama Viva harus diacungi jempol. Saya memang tidak mengukur seberapa cepatnya, tapi yang pasti saya bisa bilang hanya butuh waktu paling lama 15 detik untuk membuka laman baru di portal berita Viva.
Bahkan saat saya mencoba mencari berita dengan menggunakan kata kunci tertentu, Viva langsung memunculkan pilihan berita yang berkaitan dengan cepat. Saya jadi mengetahui bahwa berita terkait dengan kata kunci yang saya ketikkan di kolom Search itu cukup banyak tersedia.
Viva juga mempertahankan shortcut segmen-segmen yang tersedia di bagian kanan situs, sehingga memudahkan saya juga Anda untuk mengklik berita selanjutnya yang akan dinikmati.

Jelajah Portal Viva
Hal menarik lainnya yang saya sadari menjadi bagian dari Viva.co.id adalah jelajah portal lain yang berhubungan, seperti Viva Socio atau Viva Forum. Masing-masing portal ini memiliki warna-warna lembut tema berbeda. Misalnya Viva Socio dilambangkan dengan warna jingga. Selain itu, masing-masing portal juga dilambangkan dengan ikon berbeda, misal VivaLife memiliki ikon tas wanita yang cukup imut.
Saya baru menyadari bahwa portal-portal ini sebagian ditulis oleh para anggota portal yang bersangkutan. Beberapa beritanya mungkin harus ditanyakan keabsahannya, tapi saya pribadi sangat menikmati bagian ini. Terutama karena pemilihan warnanya yang benar-benar akrab dan meneduhkan mata. Good job!

Tampilan Viva via mobile
Sayang saya tidak memiliki screenshot tampilan Viva dari HP jadul saya, tapi saya tidak mengalami kesulitan berarti menikmati berita yang dimaksud. Memang butuh effort yang berbeda jika dibandingkan saat saya menggunakan gadget yang lebih sesuai, namun saya jarang sekali mengalami unable to open the page. Namun, saya sedikit kesulitan mencari tombol share jika saya online via HP.

Akhir kata, saya tidak akan menikmati berita-berita di Viva.co.id jika pihak admin tidak rajin berkicau di twitter. Saran saya sebaiknya pihak Viva meng-tweet info berita secara berkala, misal 10 menit sekali, jangan langsung berturut-turut. Dengan membaca tweet info berita Viva secara berkala, saya seakan selalu diingatkan untuk berkunjung. Dan kalau saya tidak menahan diri, saya bisa berlama-lama di Viva. Percayalah.




Rabu, 22 Agustus 2012

Mencicip Amore: Cinderella Tuathina



      • Penulis : Mimosa Q.
      • Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
      • Ukuran : 13.5 x 20 cm
      • Tebal : 208 halaman
      • Terbit : Agustus 2012
      • Kover : Softcover
      • ISBN : 978-979-22-8720-2

Awalnya, saya kira Amore ini adalah lini baru novel terbitan Gramedia. Oke, ralat, mungkin lini bukanlah istilah yang tepat. Mungkin seharusnya saya menyebutnya "genre"? Setelah Teenlit, Metropop, dan sejenisnya, sekarang ada logo Amore yang menandakan bahwa isi novel ini sedikit banyak akan berbeda dengan novel-novel yang telah terbit sebelumnya. Karena Amore sendiri kurang lebih berarti 'cinta', saya langsung membayangkan novel-novel roman Harlequinn yang sangat kental muatan cintanya. Apakah Amore ini menyerupai Harlequinn? Mari kita lihat...

Entah karena Amore ini adalah 'anak baru' Gramedia atau alasan lain, dari sedikit judul yang terlihat mata, desain kover novel-novel Amore cenderung tidak seragam. Belum ada ciri khas yang mencerminkan bahwa novel ini memiliki label Amore kecuali dari logonya. Asumsi saya, Amore masih dalam tahap pencarian jati diri dan ciri khasnya.

Sadira Devi, seorang gadis Indonesia, yang berkerja sebagai housekeeper di Hotel Rosalle di Tuathina, sebuah negara kecil dekat Italia, bertemu kembali dengan Zeus, cintanya di masa lalu. Siapa sangka, Zeus yang semakin tampan dan dewasa, mengajaknya makan malam romantis untuk kemudian kembali... mencampakkanya untuk kedua kalinya dengan kata-kata yang menorehkan luka mendalam di hati.

Seakan 'tamparan' bagi Sadira masih kurang, ia harus menghadapi badai salju yang mencegahnya keluar dari hotel tempat Zeus melemparnya bak lap pel. Agar diperbolehkan menumpang tidur di gudang karyawan, akhirnya Sadira memohon pada manajer hotel agar diperbolehkan menjadi housekeeper sementara selama badai. Apalagi kondisi hotel saat itu cukup ramai dan tambahan satu orang tenaga housekeeper akan sangat membantu. Jadilah Sadira pegawai hotel dadakan di sana dan dengan sangat terpaksa melayani penghuni kamar 513 yang sangat menyebalkan. Bagaimana tidak? Cowok yang tidak kalah ganteng dibandingkan Zeus itu hobi sekali menyiksa para housekeeper. Ia akan memastikan setiap sudut ruangan kamarnya dibersihkan. Kalau perlu, harus diulang dua atau tiga kali. Dan tentu saja, semuanya harus dilakukan dengan pengawasan ketat darinya! Sadira yang mulai merasa dirinya limbung, terselamatkan saat seorang staff housekeeper menjemputnya.

Sadira yang demam tinggi kaget setengah mati saat keesokan harinya terbangun di atas tempat tidur berlapis satin dengan hanya mengenakan pakaian dalam dan bukannya di gudang apek berdebu yang disiapkan oleh hotel tempatnya menumpang tidur! Jangan lupa, tambahkan seorang Alvaro yang menakjubkan, penghuni kamar 513, yang tertidur di sebelahnya... dan hanya mengenakan bokser. Eits, masih harus tambah satu kejutan lagi: Zeus juga menjadi saksi saat Sadira ada di tempat tidur Alvaro dengan pakaian minim.

Alvaro yang melihat situasi tersebut, menawarkan diri menjadi kekasih pura-pura Sadira. Apakah Sadira menerima tawaran tersebut? Bagaimana dengan cintanya pada Zeus? Apakah Sadira akan menemukan tambatan hatinya yang sesungguhnya?

Keluhan pertama saya dan terus berlanjut sampai halaman terakhir tercapai ada di bagian kover. Bukan desainnya, melainkan jenis kertas yang digunakan. Saya tidak tahu nama-nama kertas, tapi yang pasti kertas kover Cinderella Tuathina ini sangat kaku dan gampang terlipat. Belum apa-apa, kover novel saya sudah tertekuk-tekuk seakan patah dan hal ini sangat mengganggu saya. Seakan saya membaca buku ini dengan kasar, padahal yang terjadi sebaliknya. Buku yang cantik ini tampak seperti buku bekas yang dibaca oleh banyak orang...

Selain itu, saya menemukan beberapa kesalahan ketik yang walau mungkin tidak terlalu kentara, tapi sedikit banyak menganggu saya. Selain itu, di halaman  84 ada kesalahan yang sangat mengganggu di mana nama Alvaro malah tertulis sebagai Zeus...

Overall, menurut saya, ide cerita novel ini sebetulnya sudah basi. Sangat sesuai dengan judulnya, si miskin bertemu dengan si kaya, lalu mereka menjalin hubungan. Bukannya hal ini tidak mungkin terjadi, tapi... untuk saya terlalu banyak kebetulan dalam Cinderella Thuatina. Gampangnya saja, alangkah sempitnya dunia karena bisa-bisanya Sadira bertemu dengan sang mantan yang ingin dilupakan, tapi tidak bisa, di negara kecil di Eropa? Seakan belum cukup, kebetulan Sadira terjebak di hotel dan harus melayani Alvaro yang memiliki darah Indonesia (juga). Belum lagi, kebetulan Zeus dan Alvaro ternyata adalah sahabat dan mereka menjalin kerja sama. Tidak heran kalau kebetulan kedua pria yang sama-sama tampan, digilai para cewek, terkenal, kaya, memiliki separuh darah Indonesia, sama-sama jatuh cinta pada Sadira.

Di lain pihak, keseluruhan novel terlalu banyak membahas bagaimana perasaan Sadira (yang menurut saya terlalu berlebihan), juga penggambaran sosok Zeus atau Alvaro yang bak dewa. Saya jadi bertanya-tanya bagaimana sebetulnya kehidupan Sadira sebagai seorang housekeeper karena hampir seluruh halaman didominasi hal-hal di luar itu. Saya tidak tahu bagaimana cara Sadira membagi waktu antara menjadi housekeeper di sebuah hotel besar dan berkencan... Saya juga jadi menanyakan bagaimana Sadira mendapatkan sertifikat housekeeper internasional kalau begini cara kerjanya?

Chemistry antara Sadira dan Alvaro juga sama sekali tidak terasa. Alurnya seakan terburu-buru, sehingga saya tidak merasakan momen-momen berkesan yang membuat keduanya saling jatuh cinta. Mereka seakan-akan dipaksa untuk jatuh cinta sesuai skenario, bukan karena 'keinginan' masing-masing karakter. Selain Zeus dan Alvaro yang digambarkan too good to be true, Sadira juga diharuskan memiliki tampang cantik dan polos, dengan tubuh mungil yang akan membuat para pria paling tidak mencuri pandang minimal sekali padanya. Masa lalu antara Sadira dan Zeus juga tidak dibahas sama sekali (ya, buat saya SAMA SEKALI), padahal bila dipikirkan dengan akal sehat, bagaimana mungkin seorang rakyat jelata bisa menjalin hubungan dengan seorang pangeran? Saat Sadira kuliah? Sempatkah ia kuliah dengan kesibukannya mencari uang untuk pengobatan ibunya?

Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, ide cerita novel ini mungkin saja sudah basi, tapi andaikan eksekusinya diubah sedikit, saya yakin Cinderella Thuatina akan menjadi cerita yang lebih berkesan (untuk saya). Saya berharap Zeus dan Alvaro tidaklah sesempurna itu. Dan mungkin saja ceritanya akan lebih masuk akal bila Sadira dan Zeus bertemu di Tuathina saat Sadira mendapat beasiswa kuliah di sana. Lalu, saat Sadira bekerja di hotel di Jakarta, Zeus yang memiliki darah Indonesia memang sengaja datang untuk mengurusi bisnis dari pihak neneknya. Alvaro sendiri adalah orang Indonesia tulen, yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Zeus, kecuali sebagai saingan bisnis di bidang yang sama. Yah, saya yakin, dengan sedikit polesan, banyak revisi, dan bimbingan editor, Cinderella Tuathina ini akan jauh lebih menarik.

Novel debut Mimosa Q. dalam Amore ini mungkin akan menjadi batu pijakan pertama yang menjadi awal novel-novel berbobot karyanya lainnya. Saya yakin Mimosa akan dapat menulis lebih baik lagi ke depannya. Saya percaya.