Senin, 10 Juni 2013

Delapan Jam bersama Haram Keliling Dunia


Saya tidak suka travelling, jadilah saya jarang membaca buku-buku yang isinya tentang jalan-jalan. Terlebih lagi, saya tidak suka dengan buku yang malah bercerita, “Lo mau tahu gue ngapain aja di LN?” Jadi, saya sempat malas-malasan membaca Haram Keliling Dunia yang dikirimkan oleh seorang teman. Yang terlintas pertama kali mendengar judulnya tentu saja, “Apa-apaan, tuh? Memangnya ada hukumnya haram keliling dunia?” Ternyata, memang tidak boleh berpikir aneh-aneh dulu sebelum kenal langsung sama buku yang satu ini.
 
Penulis:Nur Febriani Wardi
Penerbit:Gramedia
Rencana Terbit:April 2013
Jenis Cover:Soft Cover
Halaman:316
Ukuran:135 x 200 mm
Berat:350 gram
Harga:Rp58.000,-



Oke, tampilan luarnya cakep, nih. Yah, walau gara-gara warnanya yang senada, keseluruhan gambar dan tulisannya malah tenggelam. Memang menyatu, sih, tapi dari kejauhan nuansanya jadi flat kecokelatan. Eh? Apa? Bagian ini tidak terlalu penting? Oke, kita pindah ke langsung ke bagian yang menarik perhatian saya saat skimming awal: tata letaknya! (Maaf kalau saya malah membahas bagian ini duluan, soalnya memang inilah yang menarik perhatian saya sejak awal).

(Hampir) seluruh halaman diberi bingkai dengan efek kertas kusut. Menarik, sih, memberi kesan berbeda, tapi… kenapa kertas kusut? Sebetulnya memang tidak penting, sih, tapi mungkin akan lebih pas kalau diberi tekstur yang mengingatkan akan jalan-jalan. Entah apa itu #plak Saya agak terganggu dengan tulisan ‘Haram Keliling Dunia’ di bagian atas halaman, seakan-akan saya terus diingatkan kalau buku yang saya baca itu adalah HKD, bukan KBBI. Padahal, ornamen pelengkap seperti gambar Menara Eiffel, Kakbah (dan saya tidak terbiasa dengan istilah ini karena lebih klik dengan Ka’bah), atau double decker di sampul akan sangat imut kalau diletakkan di sudut-sudut halaman.

Masih soal tata letak. Saya menikmati membaca bku ini selain karena isinya, tetapi juga karena ukuran hurufnya yang pas. Tidak terlalu besar atau kecil, jenisnya pun memiliki bentuk yang jelas. Yang jadi masalah adalah peletakan fotonya. Pertama, sering kali foto-fotonya dijejalkan begitu saja di satu halaman, bertumpukan dan sebagian kurang jelas (iya, buku ini dicetak BW, jadi detailnya tidak kelihatan, bla bla). Selain itu, pin yang dianalogikan sebagai benda untuk menancapkan foto-foto tersebut di dinding halaman malah mengganggu karena warnanya yang bercampur dengan foto secara keseluruhan dan kehilangan fungsinya sebagai ornamen. Foto pun sebagian tidak diberi keterangan, padahal saya ingin tahu apa yang seharusnya diceritakan foto itu. Belum lagi beberapa foto letaknya terlalu mepet ke tepi…

Ah, sudah, tinggalkan uneg-uneg saya soal tampilan fisik buku ini. Seperti yang saya bilang, saya tidak suka buku yang sibuk menceritakan pendapat pribadi si penulis ketika ia jalan-jalan. Tapi, saya dapat terhanyut *tsah* dalam kalimat-kalimat yang dituturkan Nur (sok akrab, deh, gue!). Judulnya yang ambigu itu langsung dijelaskan di bab awal. Oh, ternyata maksud ‘haram’ itu bukan haram dalam hukum Islam, melainkan mengacu pada Tanah Haram. *angguk-angguk*

Yang menarik adalah Nur berhasil menunjukkan hal unik dari tempat-tempat yang ia kunjungi. Salah satu bagian yang paling saya ingat adalah adanya larangan memotret di sekitar Masjidil Haram. Ada satu lagi yang saya ingat: bagian mengenai Pompeii. Sebelumnya, saya membaca sebuah judul komik dengan seting masa lalu Pompeii, lengkap dengan Gunung Vesuvius yang meletus. Namun, dari penjelasan Nur, saya dapat mengambil kesimpulan baru yang membuat saya terpana seakan baru menemukan ilmu pengetahuan baru.

Tebak, bagian mana lagi yang saya suka? He he, saya jatuh cinta pada bagian pelayaran di kapal Henry Dunant. Walau saya berusaha keras membayangkan seperti apa suasana di atas kapal berisi kru dan tamu-tamu yang usianya sudah tidak muda lagi. Bekerja menjadi kru kapal tanpa pengalaman dan bahasa memadai pastilah bukan hal mudah, tapi Nur seakan membuktikan, “Kalau ada kemauan, pasti ada jalan.” (Walaupun tinggi badan tidak menolong, he he).

Adik saya juga mengambil beasiswa yang sama dengan Nur walaupun mengambil jurusan yang berbeda. Selama saya membaca HKD, saya juga berkali-kali bertanya-tanya ini-itu, siapa tahu adik saya juga menjejakkan kaki di tempat yang sama dijelajahi oleh Nur. Gara-gara sesi wawancara itu, saya juga jadi penasaran, biaya dari manakah sehingga Nur dapat berplesir? Mungkin ini rahasia perusahaan, tapi ada baiknya Nur juga menjelaskan kalau ia butuh bekerja paruh waktu sekian lama dengan gaji sekian untuk jalan-jalan ke anu. Yah, setidaknya pembaca yang tergoda meniru jejak Nur juga dapat mempersiapkan dana awalnya :)

Eits, ada yang nyaris terlupakan! Saya suka sekali dengan quote yang disertakan di setiap awal bab. Terutama Nur mengambilnya dari peribahasa setempat, termasuk quote ala Nur sendiri ^__^ Quote yang paling nendang mungkin yang ini à A stitch in time saves nine. Intinya jangan suka menunda-nunda sesuatu, seperti yang saya lakukan untuk post review ini di blog dan membuat saya entah masuk nominasi dalam kuis yang diadakan Nur atau tidak, a ha ha.

Melalui HKD, saya seakan dibawa berjalan-jalan menjelajahi tempat-tempat yang dikunjungi Nur dan berhenti sejenak meresapi setiap ciptaan-Nya. Saya ingin ke Swiss. Membaca cerita Nur, saya semakin ingin ke sana. Ditambah Pompeii, tentu saja. Saya ingin menyaksikan sendiri ‘peninggalan-peninggalan’ mesum yang konon masih tersisa di sana sini, he he. Dan tentu saja, semoga awal perjalanan saya nanti juga bermula dari Tanah Haram. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar