Photobucket

Rabu, 22 Agustus 2012

Mencicip Amore: Cinderella Tuathina



      • Penulis : Mimosa Q.
      • Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
      • Ukuran : 13.5 x 20 cm
      • Tebal : 208 halaman
      • Terbit : Agustus 2012
      • Kover : Softcover
      • ISBN : 978-979-22-8720-2

Awalnya, saya kira Amore ini adalah lini baru novel terbitan Gramedia. Oke, ralat, mungkin lini bukanlah istilah yang tepat. Mungkin seharusnya saya menyebutnya "genre"? Setelah Teenlit, Metropop, dan sejenisnya, sekarang ada logo Amore yang menandakan bahwa isi novel ini sedikit banyak akan berbeda dengan novel-novel yang telah terbit sebelumnya. Karena Amore sendiri kurang lebih berarti 'cinta', saya langsung membayangkan novel-novel roman Harlequinn yang sangat kental muatan cintanya. Apakah Amore ini menyerupai Harlequinn? Mari kita lihat...

Entah karena Amore ini adalah 'anak baru' Gramedia atau alasan lain, dari sedikit judul yang terlihat mata, desain kover novel-novel Amore cenderung tidak seragam. Belum ada ciri khas yang mencerminkan bahwa novel ini memiliki label Amore kecuali dari logonya. Asumsi saya, Amore masih dalam tahap pencarian jati diri dan ciri khasnya.

Sadira Devi, seorang gadis Indonesia, yang berkerja sebagai housekeeper di Hotel Rosalle di Tuathina, sebuah negara kecil dekat Italia, bertemu kembali dengan Zeus, cintanya di masa lalu. Siapa sangka, Zeus yang semakin tampan dan dewasa, mengajaknya makan malam romantis untuk kemudian kembali... mencampakkanya untuk kedua kalinya dengan kata-kata yang menorehkan luka mendalam di hati.

Seakan 'tamparan' bagi Sadira masih kurang, ia harus menghadapi badai salju yang mencegahnya keluar dari hotel tempat Zeus melemparnya bak lap pel. Agar diperbolehkan menumpang tidur di gudang karyawan, akhirnya Sadira memohon pada manajer hotel agar diperbolehkan menjadi housekeeper sementara selama badai. Apalagi kondisi hotel saat itu cukup ramai dan tambahan satu orang tenaga housekeeper akan sangat membantu. Jadilah Sadira pegawai hotel dadakan di sana dan dengan sangat terpaksa melayani penghuni kamar 513 yang sangat menyebalkan. Bagaimana tidak? Cowok yang tidak kalah ganteng dibandingkan Zeus itu hobi sekali menyiksa para housekeeper. Ia akan memastikan setiap sudut ruangan kamarnya dibersihkan. Kalau perlu, harus diulang dua atau tiga kali. Dan tentu saja, semuanya harus dilakukan dengan pengawasan ketat darinya! Sadira yang mulai merasa dirinya limbung, terselamatkan saat seorang staff housekeeper menjemputnya.

Sadira yang demam tinggi kaget setengah mati saat keesokan harinya terbangun di atas tempat tidur berlapis satin dengan hanya mengenakan pakaian dalam dan bukannya di gudang apek berdebu yang disiapkan oleh hotel tempatnya menumpang tidur! Jangan lupa, tambahkan seorang Alvaro yang menakjubkan, penghuni kamar 513, yang tertidur di sebelahnya... dan hanya mengenakan bokser. Eits, masih harus tambah satu kejutan lagi: Zeus juga menjadi saksi saat Sadira ada di tempat tidur Alvaro dengan pakaian minim.

Alvaro yang melihat situasi tersebut, menawarkan diri menjadi kekasih pura-pura Sadira. Apakah Sadira menerima tawaran tersebut? Bagaimana dengan cintanya pada Zeus? Apakah Sadira akan menemukan tambatan hatinya yang sesungguhnya?

Keluhan pertama saya dan terus berlanjut sampai halaman terakhir tercapai ada di bagian kover. Bukan desainnya, melainkan jenis kertas yang digunakan. Saya tidak tahu nama-nama kertas, tapi yang pasti kertas kover Cinderella Tuathina ini sangat kaku dan gampang terlipat. Belum apa-apa, kover novel saya sudah tertekuk-tekuk seakan patah dan hal ini sangat mengganggu saya. Seakan saya membaca buku ini dengan kasar, padahal yang terjadi sebaliknya. Buku yang cantik ini tampak seperti buku bekas yang dibaca oleh banyak orang...

Selain itu, saya menemukan beberapa kesalahan ketik yang walau mungkin tidak terlalu kentara, tapi sedikit banyak menganggu saya. Selain itu, di halaman  84 ada kesalahan yang sangat mengganggu di mana nama Alvaro malah tertulis sebagai Zeus...

Overall, menurut saya, ide cerita novel ini sebetulnya sudah basi. Sangat sesuai dengan judulnya, si miskin bertemu dengan si kaya, lalu mereka menjalin hubungan. Bukannya hal ini tidak mungkin terjadi, tapi... untuk saya terlalu banyak kebetulan dalam Cinderella Thuatina. Gampangnya saja, alangkah sempitnya dunia karena bisa-bisanya Sadira bertemu dengan sang mantan yang ingin dilupakan, tapi tidak bisa, di negara kecil di Eropa? Seakan belum cukup, kebetulan Sadira terjebak di hotel dan harus melayani Alvaro yang memiliki darah Indonesia (juga). Belum lagi, kebetulan Zeus dan Alvaro ternyata adalah sahabat dan mereka menjalin kerja sama. Tidak heran kalau kebetulan kedua pria yang sama-sama tampan, digilai para cewek, terkenal, kaya, memiliki separuh darah Indonesia, sama-sama jatuh cinta pada Sadira.

Di lain pihak, keseluruhan novel terlalu banyak membahas bagaimana perasaan Sadira (yang menurut saya terlalu berlebihan), juga penggambaran sosok Zeus atau Alvaro yang bak dewa. Saya jadi bertanya-tanya bagaimana sebetulnya kehidupan Sadira sebagai seorang housekeeper karena hampir seluruh halaman didominasi hal-hal di luar itu. Saya tidak tahu bagaimana cara Sadira membagi waktu antara menjadi housekeeper di sebuah hotel besar dan berkencan... Saya juga jadi menanyakan bagaimana Sadira mendapatkan sertifikat housekeeper internasional kalau begini cara kerjanya?

Chemistry antara Sadira dan Alvaro juga sama sekali tidak terasa. Alurnya seakan terburu-buru, sehingga saya tidak merasakan momen-momen berkesan yang membuat keduanya saling jatuh cinta. Mereka seakan-akan dipaksa untuk jatuh cinta sesuai skenario, bukan karena 'keinginan' masing-masing karakter. Selain Zeus dan Alvaro yang digambarkan too good to be true, Sadira juga diharuskan memiliki tampang cantik dan polos, dengan tubuh mungil yang akan membuat para pria paling tidak mencuri pandang minimal sekali padanya. Masa lalu antara Sadira dan Zeus juga tidak dibahas sama sekali (ya, buat saya SAMA SEKALI), padahal bila dipikirkan dengan akal sehat, bagaimana mungkin seorang rakyat jelata bisa menjalin hubungan dengan seorang pangeran? Saat Sadira kuliah? Sempatkah ia kuliah dengan kesibukannya mencari uang untuk pengobatan ibunya?

Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, ide cerita novel ini mungkin saja sudah basi, tapi andaikan eksekusinya diubah sedikit, saya yakin Cinderella Thuatina akan menjadi cerita yang lebih berkesan (untuk saya). Saya berharap Zeus dan Alvaro tidaklah sesempurna itu. Dan mungkin saja ceritanya akan lebih masuk akal bila Sadira dan Zeus bertemu di Tuathina saat Sadira mendapat beasiswa kuliah di sana. Lalu, saat Sadira bekerja di hotel di Jakarta, Zeus yang memiliki darah Indonesia memang sengaja datang untuk mengurusi bisnis dari pihak neneknya. Alvaro sendiri adalah orang Indonesia tulen, yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Zeus, kecuali sebagai saingan bisnis di bidang yang sama. Yah, saya yakin, dengan sedikit polesan, banyak revisi, dan bimbingan editor, Cinderella Tuathina ini akan jauh lebih menarik.

Novel debut Mimosa Q. dalam Amore ini mungkin akan menjadi batu pijakan pertama yang menjadi awal novel-novel berbobot karyanya lainnya. Saya yakin Mimosa akan dapat menulis lebih baik lagi ke depannya. Saya percaya.

Kamis, 16 Agustus 2012

Amazing 30-Melewati Usia 30 dengan Senyuman


Judul: Amazing 30 – Melewati Usia 30 dengan Senyuman
Penulis: Beta Kun Natapradja
Penerbit: Stiletto Book
Editor: Herlina P Dewi
Desain Cover: Icko Denotto & Felix Rubenta
Tebal: 170 halaman
Harga: 35.000



Berumur 30 itu musibah atau berkah? Tidak sedikit wanita yang takut menghadapi angka ini. Alasannya banyak, tentu saja. Dan 30 menjadi momok yang menakutkan bagi para wanita single walaupun pada kenyataannya hampir semua wanita mengalaminya. Yang belum menikah, umur 30 seakan menjadi angka keramat yang selalu mengingatkan untuk menikah sebelum umur tercapai. Yang sudah menikah, umur 30 menjadi sebuah pengingat bahwa umur Anda semakin bertambah dan itu berbanding terbalik dengan kecantikan yang kita miliki. Oh, wow.

Buku ini sedikit banyak menarik perhatian saya dengan judul yang cukup manis, "Amazing 30". Judul ini seakan menyebarkan pesan positif bahwa berumur 30 penuh dengan keajaiban dan kebahagiaan, sehingga Anda layak menyebutnya 'amazing'. Dapatkah kita menghadapi umur 30 dengan senyuman?

Beta Kun Natapradja membeberkan tips dan trik menghadapi usia 30. Masalah apa, sih, yang biasanya akan Anda hadapi? Masalah finansial? Jodoh? Apakah Anda memiliki daftar target yang harus Anda penuhi sebelum umur 30? Dan apakah semua target Anda itu berhasil Anda tercapai? Beta Kun mencoba mengajak Anda berhenti sejenak, meresapi hal-hal positif dari umur 30 dan tersenyum menyambutnya.

"Tak perlu menunggu hujan atau pergantian sinar matahari utk bertemu pelangi. Dia akan selalu ada di dlm hati kita. Pelangi membuat hidupmu lebih berwarna."

Bagi Anda yang pusing mengenai masalah finansial, Anda harus mencicipi bab pertama buku ini. Beta kun akan membantu Anda membuat skala prioritas target-target yang ingin Anda capai. Tentu saja, dilengkapi dengan langkah-langkah yang harus Anda lakukan untuk mencapainya.

Bagaimana dengan Anda yang sudah atau belum memiliki pasangan? Memiliki atau belum, pasangan menjadi 'masalah' dalam hidup para wanita 30 tahun. Anda yang sudah memiliki pasangan akan dipusingkan dengan hubungan emosional antara kedua belah pihak, sementara yang belum memilikinya harus cemas saat menanti sang pangeran berkuda putih (atau mungkin sekarang seharusnya bermobil putih?). Belum lagi pertanyaan, "Kapan? Kapan? Kapan?" yang selalu menghantui.

Konflik biasanya akan muncul dalam kehidupan bersama orang lain. Anda tidak mungkin menghindarinya. Nah, perlu cara untuk menghadapinya. Jangan sampai konflik itu terus memengaruhi hidup Anda dalam bentuk aura negatif, kan? Beta Kun juga menyarangkan agar Anda tetap memiliki "me time", melakukan hal-hal yang Anda sukai untuk menghilangkan stress yang melanda dan membuat syaraf-syaraf Anda yang tegang menjadi lebih santai....

Menjadi 30 bukanlah musibah, percayalah. Itu semua tergantung bagaimana Anda menghadapinya. Beta Kun berhasil memaparkan bahwa menjadi 30 merupakan fase menyenangkan dalam hidup. Anda memiliki kesempatan untuk mengisi toples Anda sendiri dengan berbagai bumbu kehidupan sehingga hidup Anda lebih berasa. Seperti masakan, apalah enaknya jika tidak ada asam dan garam?

Salah satu yang menarik dari buku ini adalah quote-quote yang sangat mengena tapi memberikan arti positif. Anda juga dapat menemukan kisah-kisah nyata yaang dialami beberapa orang, termasuk Beta Kun, dalam menghadapi usia 30. Gaya bertuturnya ringan, sehingga Anda dapat menikmatinya sampai halaman terakhir. Mungkin masalah yang Anda hadapi juga dialami oleh orang lain dan Anda dapat melihat permasalahan itu dari sudut pandang lain melalui cerita-cerita di buku ini.

Keluhan saya ada pada mutu cetak yang kadang-kadang tipis atau berbayang. Ukuran font juga kecil dan rapat, sehingga terkesan 'bulky' dan mungkin akan membuat pembaca yang memiliki silider agak kesulitan membacanya. Namun, di luar itu, kovernya sungguh menawan sehingga awalnya saya sempat mengira buku ini adalah novel, bukannya bertipe non-fiksi yang dapat mencerahkan hidup Anda, seperti bagaimana ia mencerahkan hidup saya.

Saya yakin masih banyak sekali alasan-alasan yang mengganggu wanita menghadapi umur 30. Apakah saya salah satunya? Ada kata pepatah yang mengatakan, "Life begins at thirty." Apakah betul begitu? Andalah yang mampu menjawabnya. Karena mau atau tidak, usia 30 akan datang menghampiri. Jadi, kenapa tidak menyambutnya dengan senyuman?

"Tanpa doa, kita tak kan sanggup menghadapi segala yang ada di dunia. Perlahan, rasa optimis akan terus ada walau dalam perjalanannya sangat berat."

Mencicipi Sejarah: Tragedi Gadis Parijs van Java




Judul: Tragedi Gadis Parijs van Java
Penerbit: Edelweiss
Pengarang: Ganu van Dort
Format: 13 x 20,5 cm
ISBN: 978-602-8672-14-6
Jumlah halaman: vi + 398
Harga: Rp48.000,00
Soft cover
Terbit: 16 Januari 2012

Awalnya saya tertarik membeli buku ini karena ada info lomba resensi dari Penerbit Edelweiss. Bukan berarti sebagian buku saya beli karena tujuan resensi. Kadang-kadang saya memilih untuk melewatkan lomba tersebut bila bukunya tidak menarik (perhatian) saya. Namun, buku yang ini lain cerita.

Seperti biasa, saat ingin membeli buku yang tidak ada di daftar belanja, saya akan mencari info sebanyak-banyaknya tentang buku ini. Dan ternyata... Info mengenai buku ini sedikit sekali. Saya hanya berhasil menemukan satu info melalui mesin pencari, selain info yang diberikan oleh penerbitnya sendiri. Dari info yang sedikit itu, pembahasan mengenai novel ini juga sangat singkat selain 'pendeskripsian tentang Bandung-nya detail sekali'. Siapa sangka hal itu malah menggugah rasa penasaran saya?

Berbeda dengan buku-buku lain yang saya beli, begitu novel Tragedi Gadis Parisj van Java ini tiba di rumah, saya langsung membuka segelnya dan mengintip dalamnya. Tapi, sebelumnya, saya mengagumi terlebih dahulu kecantikan wanita yang terpampang di kover novel ini :) Saya membayangkan seperti apa ya wajahnya jika matanya terbuka?

Buku ini kurang lebih bercerita mengenai tokoh sentral, Laura Hessels, seorang wanita keturunan Belanda tulen yang akhirnya menjadi mualaf dan mengganti namanya menjadi Fatimah saat menikah dengan Djaja Soeriadiredja, seorang pribumi dari kelas bangsawan. Mengambil setting di Bandoeng (ya, Bandung dengan ejaan lama) tempo dulu, saat menjadi salah satu kota terindah di pulau Jawa menurut para Welanda. 

Jansens Kloosmayer dan istrinya, Mien, dibunuh secara kejam pada suatu malam oleh seorang pribumi, Madhapi. Konon, Madhapi diperintahkan oleh seorang Belanda yang misterius untuk membunuh pasutri yang pro "Politik Etika" dan menculik putri semata wayangnya, Laura, yang saat itu menjadi salah siswi terbaik HBS atau sekolah menengah atas untuk anak-anak Belanda dan anak-anak pribumi yang memiliki darah ningrat. Pembunuhan itu menyisakan misteri, juga duka mendalam pada Laura yang pada akhirnya diangkat anak oleh pamannya.

Laura masih tidak dapat hidup tenang. Selama ia tinggal di Bandoeng, Madhapi begitu setia menguntitnya dan tetap berusaha untuk menculiknya, sehingga Laura tidak memiliki pilihan selain meminta Djaja, teman sekelasnya di HBS yang jago pencak, untuk menjadi pengawalnya setelah kasus pelecehan seksual yang dilakukan Jantje Ijzerman, cinta pertama Laura. Hubungan antara Laura dan Djaja semakin dekat sampai akhirnya mereka resmi menjadi sepasang kekasih..

Bahkan, saat Laura dan Djaja akan merayakan hari terakhir Laura di Bandoeng sebelum berangkat sekolah kedokteran di Batavia, Madhapi berhasil menyeret Laura masuk ke Sungai Tjikapoendoeng yang berarus sangat deras. Djaja yang panik melihat kekasihnya timbul tenggelam di sungai tidak berpikir panjang langsung terjun untuk menyelamatkan Laura. Andaikan telat 10 menit saja, bisa dipastikan Laura sudah menemui ajal... Lagi-lagi, Madhapi berhasil lolos dari kejaran para polisi.

Laura dapat bernapas lega saat ia menuntut ilmu kedokteran sesuai wasiat ayahnya di Batavia. Selama tinggal di rumah Opa Bobbeke dan Oma Witteke, Laura juga dijaga oleh pamannya yang mantan KNIL. Karena itu, Laura dapat menyelesaikan pendidikannya dengan predikat cum laude, sementara Djaja akhirnya menjadi seorang reporter di kantor De Vrije Pers. Selama mereka dipisahkan jarak, mereka rajin berkirim surat atau bahkan saling mengunjungi di saat senggang.

Masalah kembali menghantuin Laura saat ia kembali ke Bandoeng. Belum apa-apa, Madhapi sudah mengincar gadis ini. Tidak tanggung-tanggung, Madhapi menyusup masuk ke dalam kamar Laura! Walau Djaja sudah memikirkan taktik untuk meringkus pria kejam ini, tidak urung dia berhasil kabur sambil membawa Atjih, jongos Laura, bahkan menodainya...

Butiran pasir sejarah telah bergulir. Laura, Djaja, Jantje, semuanya tidak dapat menolak takdirnya. Saat Djaja menulis artikel yang menyinggung pihak Belanda, ia tidak dapat menolak saat ia harus dibuang ke Suriname dan ternyata pesawat Jepang menembaki kapal yang ditumpangi Djaja. Begitu juga saat Laura harus masuk kamp yang diawasi tentara Jepang yang kejam. Mereka tidak dapat melawannya...

Bagaimana kisah hidup Laura dan Djaja? Apakah mereka dapat tersenyum menikmati hari-hari damai setelah kemerdekaan Indonesia? Apakah Laura dapat bertahan sebagai mualafsaat menikah dengan Djaja? Ataukah sejarah kembali tertawa melihat bagaimana putaran roda nasib membawa seluruh pelakon kehidupan ini?

Kita dibawa menyusuri kota Bandoeng dari awal cerita sampai akhir. Ganu van Dort berhasil menggali jejak-jejak kenangan yang menyertai kota Bandoeng, terutama tempat-tempat yang sejak awal bukanlah fiktif. Saya sedikit termangu-mangu membaca fakta-fakta mengenai kota Bandoeng, misalnya dahulu Jl. Braga disebut Bragaweg dan betapa orang-orang Belanda itu sangat suka tinggal di Bandoeng.

Ada beberapa hal yang mengganggu saya saat membaca novel ini, antara lain:
1.       Tanda baca. Saya perhatikan banyak tanda koma yang tidak pada tempatnya. Saat tidak dibutuhkan koma, saya menemukan tanda ini. Begitu juga sebaliknya. Mungkin tidak terlalu mengganggu, tapi untuk saya, iya.
2.       Footnote. Penulisan nomor footnote tidak seragam. Ada yang ditulis langsung menempel pada kata yang akan diterangkan, misal Bragaweg1, sementara di kata lain terpisah oleh tanda baca, misal Insulinde?34. Bahkan ada pula nomor yang ditulis di depan kata tersebut.
3.       Terlalu banyak footnote. Saya menyadari bahwa penggunaan istilah asing yang didominasi bahasa Belanda tidak dapat dihindari. Tapi saya menyarankan agar dialog dalam bahasa Belanda sebaiknya langsung saja diterjemahkan di sebelahnya, jangan berupa footnote. Contoh: “Waarom niet? Kenapa tidak?” balas nyonya rumah.
4.       Penggunaan tanda kutip dan italic. Kembali pada poin tiga, banyak sekali kata-kata dalam bahasa asing yang dituliskan dengan huruf miring SEKALIGUS ditambahkan tanda kutip. Seingat saya, jika sudah diberikan tanda kutip, maka kata tersebut tidak perlu dimiringkan.
5.       Huruf kapital. Karena salah tanda baca, yang seharusnya koma menjadi titik atau sebaliknya, beberapa kata jadi tidak sesuai kaidah. Yang seharusnya kapital malah huruf kecil.
6.       Ketidakkonsistenan. Ini berlaku baik untuk footnote atau istilah yang dipakai. MisalnyaInsulinde beberapa kali ditulis Isulinde sehingga saya harus memastikan kembali istilah mana yang benar. Keterangan footnote juga terkadang memakai huruf miring, tapi di lain kesempatan huruf tegak.

Saya pribadi merasa bahwa penggunaan kata ‘Tragedi’ pada judul kurang tepat. Memang betul Laura mengalami beberapa musibah dalam hidupnya, tapi itu bukan berarti seluruh isi buku ini berupa tragedi. Gara-gara kata yang satu ini, saya sedikit berharap dari awal buku sudah diwarnai tragedi.

Selain itu, info-info menyangkut sejarah Indonesia sejatinya cukup menarik. Namun, ada beberapa bagian yang menurut saya bisa disingkat agar pembaca tidak terlalu bosan. Saya dapat melihat bahwa sejarah di sini bukan sekadar tempelan, melainkan para tokohnya memang melintasi waktu mengikuti jejak sejarah Indonesia. Saya seakan melihat sejarah Indonesia dari sudut pandang yang lain, sudut yang sangat berbeda dari buku sejarah yang selama ini saya lalap di bangku sekolah.

Saya pribadi merasa misteri yang melingkupi Laura kurang kuat. Siapakah orang Belanda misterius yang memerintahkan membunuh keluarga Laura memang terjawab di akhir cerita, namun sepak terjangnya sama sekali tidak kental. Dan setelah rentang waktu yang begitu lama sejak awal sampai akhir cerita, saya merasakan bahwa karakter tersebut ‘kebetulan’ dapat bertahan hidup tanpa masalah sementara para karakter utama kita harus jatuh bangun bertahan hidup. Alasan kenapa karakter misterius tersebut melakukan hal tersebut juga kurang digarap karena hanya muncul di sepertiga awal dan akhir saja.

Namun, saya cukup kagum karena beberapa karakter pedamping yang saya pikir tidak ada gunanya dalam cerita, tapi ternyata memiliki peran yang cukup penting di bagian akhir. Ternyata Jantje, Wiwin, atau Doedoeng memiliki perannya masing-masing, seperti mungkin kita menganggap remeh orang lain tapi ia membawa perubahan dalam diri kita.

Akhir kata, membaca buku ini membuat saya menahan napas, membayangkan apabila saya adalah Laura, apakah saya dapat setegar dirinya menghadapi takdir yang membawa pergi segalanya? Buku ini tidak memiliki ending yang saya harapkan, namun seperti itulah hidup. Tidak selamanya sesuai yang kita inginkan, tapi kita harus menghadapinya dengan kuat dan selalu tersenyum demi masa depan yang mungkin saja akan lebih baik.

"Dag Bandoeng, ik herineer je altijd... Selamat tinggal, Bandoeng, aku sangat mengenangmu..."

Kamis, 02 Agustus 2012

My Fav: Flower and The Beast


Kovernya lucu juga. Ini komentar pertama saya saat melihatnya di tumblr @mnccomics. Saya kenal (eh, tahu, ding) pengarangnya, Miwako Sugiyama, juga baca karya-karyanya yang lain. Sejujurnya, ada yang saya suka, ada juga yang sekilas baca. Tapi, gambarnya memang menarik ^__^

Anyway, kovernya menjadi salah satu yang mendorong saya membeli komik ini karena sinopsisnya, IMO, kurang mewakili apa isinya. Judul Flower and the Beast sendiri terkesan sangat umum tapi cukup mewakili kira-kira seperti apa komiknya nanti :) Tebakan saya: pasti ada karakter yang 'cantik' seperti bunga dan ditemani dengan karakter yang... yah, mirip-mirip karakter The Beast (what do you expect, huh?). Tapiiiii... yang paling mengganggu saya adalah font judul yang biasa banget >.< Nggak nendang, blas (emang bola??). Seharusnya fontnya lebih girly dipadu dengan warna  yang outstanding...

Kumi Kamakura yang baru pindah sekolah ke Tokyo belum apa-apa menyasarkan diri ke ruangan yang mirip gudang daripada gudang kelas. Saat melihat-lihat ruangan tersebut, ia bertemu dengan Hyou yang akhirnya malah menolongnya dari pecahan gelas. Cowok playboy ini akhirnya terpaksa menemani Kumi keliling sekolah...

Kumi jatuh cinta pada pandangan pertama pada Hyou saat cowok itu menemukan tas beruang yang selalu dibawa-bawa Kumi. Cowok itu mencium beruang itu *kyaaa* dan langsung membuat hati Kumi meleleh. Tapi... Hyou bukan tipe cowok yang patut dijadikan kekasih. Kenapa? Dia playboy tulen, yang hobinya mencium para gadis *yaiks*

Kumi ingin membenci Hyou, cowok menyebalkan yang hobi mempermainkannya. Tapi apa daya... Hatinya berkata lain. Kumi bingung bagaimana caranya menghentikan perasaannya terhadap Hyou... Awh, co cweet <3

Di saat galau mendera, muncul cowok cakep lain dalam kehidupan Kumi, Tatsuki *Kyaaaa, jejeritan lagi* Entah apa tujuan Tatsuki mendekati Kumi, yang pasti Hyou jadi uring-uringan. Ia seakan disadarkan bahwa mungkin saja Kumi, gadis yang sudah menolaknya, tapi selalu menatapnya dengan wajah memerah, adalah orang yang tepat untuk mengajarkan Hyou cara mencintai yang sebenarnya. Saat kau menyerahkan hatimu hanya pada satu orang...

Volume 1 belum terlalu terasa gregetnya, tapi saya sudah merasa gemas pada Kumi yang terlalu malu-malu. Hajar saja langsung si Hyou, Kumi!! Saya juga ingin sekali mengguncang-guncang Hyou sekaligus berteriak di telinganya pakai toa agar dia kembali ke jalan yang benar *eh* Kira-kira apa yang bakal terjadi pada mereka, ya, sampai akhirnya masing-masing dapat mengungkapkan apa yang ada di arti mereka dan mengerti apa itu cinta...

Komik ini membuat saya mengenang kembali masa-masa SMA saya. Tentu saja tidak ada cowok cakep seperti Hyou yang terjerat hati saya (walau saya banyak menjeratkan diri pada cowok-cowok cakep di sekolah, ahaha). Kumi seperti perwakilan para remaja yang galau dan bingung karena cinta (dan bukan hanya karena pelajaran), dengan berbagai alasan yang mungkin tidak bisa dimengerti oleh orang dewasa. Walau masih 'anak-anak', mereka juga mengenal apa itu rasa sayang dan cinta, yang akan membentuk mereka saat mereka dewasa nanti.

Membaca edisi terjemahan keluaran @mnccomics ini sangat nyaman karena terjemahan dan editannya yang rapi (yah, walau ada beberapa salah ketik atau penempatan dialog juga, sih). Flower and The Beast akan menjadi salah satu komik yang berdiam di lemari buku saya ^^

Happy reading, everyone!

Rabu, 14 Desember 2011

My Fav: Boy Dolls

Pertama kali mengetahui komik berjudul asli 'Shounen Dolls' ini ketika seorang teman memberikan link mangascannya dan saya langsung jatuh cinta begitu membaca halaman kesatu. Alangkah bahagianya saya ketika Elex Media Komputindo menerbitkan edisi legalnya dengan judul Boy Dolls. Saya memang pecinta karya Wataru Hibiki. Tarikan garisnya halus, detailnya sangat wah, dan dia dapat memainkan angle dengan baik. Ditambah dengan karakter-karakter yang begitu menggemaskan...

Anyway, Boy Dolls bercerita mengenai Ageha Etou yang memiliki kemampuan untuk berbicara dengan boneka. Jangan heran kalau kamu melihatnya berbicara sendiri, walau sebenarnya ia sedang ngobrol dengan boneka display sebuah toko roti. Dia sendiri memiliki kemampuan untuk menyucikan boneka2 yg dicemari rasa marah dan dendam akibat dibuang oleh manusia. Namun, ia tidak sendiri saat melakukan tugas ini. Ageha dibantu oleh sebuah boneka tipe gothic bernama Leonardo Silvereye alias Leo. Pada siang hari Leo akan berwujud boneka (yg selalu dibawa-bawa Ageha ke mana pun ia pergi), namun saat malam menjelang, begitu menerima sebuah kecupan dari Ageha, Leo akan berubah wujud menjadi seorang pemuda yang tampan. Mereka bahu membahu melawan boneka-boneka yang garang.
Nah, sebagai keturunan Etou, Ageha memilik tugas menjaga DUA boneka khusus secara turun temurun. Karena ortu Ageha meninggal saat kecelakaan, Ageha terpaksa mewarisi kedua boneka tersebut saat masih kecil. Karena kekuatannya belum mencukupi, Ageha harus kehilangan salah satu bonekanya, Yukinosuke, sehingga ia dan Leo harus berusaha mencari boneka yang hilang itu selama bertahun-tahun. Hingga pada suatu ketika Ageha mendapat tugas menyucikan sebuah bangunan telantar yang dipenuhi boneka, akhirnya ia dan Leo dapat bertemu kembali dengan Yuki ... Kedua boneka ini akan berubah menjadi cowok tampan dan dijamin bisa membuat hati meleleh... Kya...

Leo memiliki sifat arogan dan semaunya sendiri. Dia tidak akan segan menyuruh-nyuruh Ageha untuk memandikannya (!), mencuci rambutnya, menjahit pakaiannya... Leo suka sekali makan, jadi dia juga akan memaksa Ageha untuk memasak, membuat kue, atau meracik teh untuknya. Agak2 pemarah, sehingga sering bertengkar dengan Ageha. Rambutnya berwarna hitam kebiruan, dengan mata perak, tampan tapi jutek ^0^ Ada alasan knp ia bersikap seperti ini: agar Ageha dapat melupakan kesedihannya ditinggal mati oleh kedua ortu juga agar Ageha sedikit melupakan tugas menjadi kepala keluarga Etou yg tiba-tiba harus diembannya. Kadang2 suka ngambek juga, tp biasanya selalu siap sedia kalau Ageha butuh. Gara2 ini, Ageha harus membawa Leo kemana2 smp dicap sbg cewek aneh :)) 

Kebalikan dari Leo, Yuki adalah tipe cowok yg kalem, dengan penampilan bak bangsawan Jepang zaman dulu. Rambutnya panjang dan keperakan. Anggun. Cocok disebut cowok cantik (awalnya Ageha salah mengira kalau Yuki adl cewek dan kekasih Leo, mwahaha). Pokoknya apa pun yg dilakukan Yuki adalah kebalikan dari yg dilakukan Leo, walau jangan salah, mereka berdua sangat melindungi Ageha. Yuki  merasa bersalah karena telah hilang selama bertahun2, sehingga Ageha harus mendapat omongan buruk dari keluarganya. Saling memperebutkan perhatian Ageha dengan Leo. Setelah Yuki ditemukan, Ageha terpaksa membawa dua boneka2 ke mana2 *ngakak*

Seperti kasus di Fruit Basket, awalnya saya bingung memilih siapa yg paling cocok dengan Tohru, begitu juga dengan Ageha. Kira2 dia bakal jadian dg siapa ya? Tapiiii... Leo dan Yuki kan boneka, jd walau perasaannya sama apa mereka bakal bs bersatu? Entahlah. Semoga endingnya bisa memuaskan saya #plak dan membuat saya ber-aaah dan ber-oooh setiap kali membacanya.

Minggu, 11 Desember 2011

My Fav: Final Fantasy VIII

Lhooo, kenapa tahu2 saya membicarakan game? Ehehe. Biar begini saya termasuk suka main game. Bukan maniak, soalnya membaca tetap menempati prioritas pertama, tapi ya itu tadi, saya suka main game. Dari jenis2 game yang suka saya mainkan, salah satunya yang bertipe RPG alias role playing game. Intinya di game itu ada jalan ceritanya, nggak cuma bak-bik-buk, dan biasanya butuh waktu yang (sangat) lama untuk menyelesaikannya.

Game RPG pertama yg membuat saya tertarik dan jatuh cinta dalah Final Fantasi VIII. Saat itu saya sedang berjalan-jalan di mal dan melihat preview movie-CG dari game ini diputar oleh salah satu penjual CD game. Saya berhenti dan terpaku, dengan tampang terkagum2, menatap layar kaca. Tampilan grafisnya tidak perlu ditanya, tapi saya bener2 terkesima menatap karakter-karakternya bergerak, membentuk rangkaian cerita yang tidak bisa saya tebak tp benar2 membuat saya penasaran... Saat itu saya bahkan belum punya PS ^^ Saya dan sang mantan (skr sdh jd suami) lgs menabung utk membeli PS ehe.

By the way, jalan cerita FFVIII ini kurang lebih berkutat pada Squall Leonhart, sang tokoh utama, siswa SEED (sekolah di... eh...) yang pendiam dan memiliki codet di wajahnya. Squall memiliki kecendrungan galau di setiap waktu... Entah sial atau tidak, dia bertemu dg Rinoa (lupa nama panjangnya, ehm) yang memiliki sifat bertolak belakang dengan Squall. Karena ada 'misi' dr Pak Kepsek, Squall bersama timnya harus terlibat urusan Rinoa dkk. Yg menarik di game ini ada semacam flash back dg tokoh utama yg berganti menjadi Laguna Loire. Awalnya kita akan dibuat bingung dengan, "Apa2an sih si Laguna ini?" Laguna sendiri adalah tipe pria yg kocak dan santai menghadapi masalah-masalah hidup :)

Memasuki CD ke-3 dan ke-4 (total ada 4 CD game utk dimainkan selama 40-60 jam!), hubungan antarkarakternya mulai terbangun dan jelas... Saya akhirnya menyadari siapa itu Laguna, Squall, dan Rinoa. Mereka ternyata sudah 'terhubung' dari masa lalu dan di sini ditunjukkan, kalau sudah jodoh tidak akan lari ke mana... Dan yg membuat saya terkaget-kaget, ternyata Squall dan Laguna adalah... *berhenti seblm spoiler* Ehm, baiklah, anak dan ayah! Eh, tp ini hanya menurut sudut pandang saya saja, ya, ehehe... Sambil jalan kita akan tahu bahwa Squall adalah seorang yatim piatu yang berasal dari sebuah panti di dekat pantai. Bisa dibilang semua karakter di sini saling memiliki keterkaitan. Kebetulan? Entahlah...

Musuh-musuh yg muncul di game ini akan bertambah kuat jika level karakter bertambah. Awalnya saya terus menaikkan level karakter dan mengalami kesulitan menghadapi musuh2 tsbt. Setelah membaca-baca walkthrough, akhirnya saya tahu taktiknya: kabur saja kalau nggak mau naik level, ahaha. Dr sekian banyak musuh yang muncul, salah satu yg tersulit adalah Ultima. Tdk terhitung brp kali saya hrs mengulang krn game over terus. Smp suatu ketika, saya meninggalkan PS saya menyala dalam posisi pause selama 2-3 jam karena saya harus menjenguk seorang teman. Usaha tersebut tidak sia-sia, akhirnya saya bisa mengalahkan Ultima, wahaha.

Squall Leonheart juga menjadi salah satu karakter favorit saya, terutama saat ia  memakai seragam ^*^ Saat akhirnya ia bs membuka perasaannya pada Rinoa, owwwh romantis bangeeedz... Sayang Squall memakai seragam ini hanya muncul di satu scene, saat dia sedang ujian SEED. Sisanya tentu saja Squall dengan kostum bulu-bulunya itu...

Me vs Comic I

Siapa tahu bakal ada versi II, III, dan dst, jd sejak awal sudah ditandai dg no I, ehe.


Nah, tulisan ga penting lainnya ini bakal bercerita mengenai gimana cintanya saya ama komik, tepatnya manga. Saya suka baca, udah jelas, dari sejak mengenal huruf. Pas kecil salah satu bacaan yg saya temukan di rumah adalah seri Superman, Asterix, Lucky Luke, dan semacamnya. Manga sendiri baru kukenal di awal 90-an, dengan judul Candy-Candy. Siapa yg nggak kenal karakter satu ini? Hayooo. Gadis yatim piatu dengan rambut keriting pirang dan muka berbintik-bintik. Namanya Candies White, manis seperti permen, tp juga sangat aktif dan lincah, bikin semua orang di sekitarnya pusing...


Mungkin karena tampilan halaman manga ini berbeda dengan komik eropa yg sudah saya lalap, saya lgs jatuh cinta pada pandangan pertama. Saya menikmati sekali membaca kalimat demi kalimat, tertawa melihat ekpresi yang lucu atau dialog yg menyentil, juga menangis mengharu biru saat adegan yg saya lihat begitu menyentuh... Saya juga mengenal yg namanya cowok cantik, atau bishie, macam Anthony dan Therry (saya nggak tahu nama sebenarnya itu yg mana). Saya mengenal apa itu 'suka' dan 'cinta' secara tidak langsung dari komik ini. Saya berderai air mata saat membaca kalimat perpisahan Candy dan Therry. Andai ada umur... Saya juga marah2 karena pada akhirnya Candy dan Therry tidak dapat bersatu walaupun mereka bertemu lagi dan masih memiliki perasaan yang sama. Berapa umur saya saat itu? Belum juga remaja, ahaha.


Eliza adalah karakter manga pertama yang saya gambar, matanya seperti rambutan... Tapi saya bangga sekali waktu itu, ahaha.


Entah karena saya suka gambar, suka tipe karakter di manga, suka baca, atau suka lainnya, yg pasti saya sukaaaaaaaa sekali baca manga! Msh inget jelas gimana saya numpang baca manga di toko buku karena dibatasi pembeliannya oleh ortu. Lalu saya berusaha menyisihkan uang jajan agar dapat membeli manga sendiri ^__^ Saat SMA, saya memilih untuk berpuasa atau makan/minum secukupnya agar bisa membeli manga.


Jangan tanya ada brp jumlah manga saya sekarang, ehehe...