Photobucket
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 April 2013

Mengerti Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa


Di tengah serbuan bernuansa Korea di rak buku saya, ada beberapa buku yang mengambil seting di bagian lain Bumi ini, salah satunya Kastil Es dan Air Mancur yang berdansa. Ditulis oleh Prisca Primasari yang saya kenal sebagai editor salah satu buku kesukaan saya. Nuansa Rusia dan Prancis yang kental di kover buka membuat saya penasaran.

 Penulis; Prisca Primasari
Terbitan: Gagasmedia

Sinopsis
Vinter
Seperti udara di musim semi,
kau begitu gelap, muram, dan sedih.
Namun, pada saat bersamaan, penuh cinta
berwarna putih. Bagaikan salju di Honfleur yang
berdansa diembus angin ....

Florence
Layaknya cuaca pada musim semi,
kau begitu terang, cerah, dan bahagia.
Namun, pada waktu bersamaan, penuh air mata
tak terhingga. Bagaikan bebungaan di Paris
yang terlambat berseri....

Merasa kedua orangtuanya kelewatan karena menjodohkannya dengan seorang pria yang bahkan tidak Florence kenal, gadis itu memilih melarikan diri di hari pertemuan mereka. Karena kecerobohannya, Florence malah terlibat masalah dengan seorang pria bernama Vinter Vernalae di SaintLazare, Prancis. Akhirnya, Florence malah menjadi penyelamat Vinter dengan mengadakan pertunjukan tunggal di hadapan Zima, sahabat Vinter yang pemarah. Florence tidak memungkiri kalau ia menyukai Vinter dan pria itu pun merasakan hal yang sama. Hanya saja, Vinter telah memiliki seorang wanita yang menunggunya .... Apakah cinta Florence harus kembali kandas seperti sebelumnya?

Lambat. Itulah yang saya rasakan saat membaca novel ini. Dibuka dengan manis dan menarik, saya harus misuh-misuh saat alur cerita melambat secara signifikan yang berbanding lurus dengan kecepatan saya membaca. Saya semakin malas membaca mendekati setengah halaman dan nyaris baca sekilas-sekilas mendekati akhir. Sayang sekali karena dengan pembukaan yang cukup menggugah perhatian saya, entah kenapa alurnya jadi pelan-pelan begitu.

Setelah menceritakan mengenai apa saja yang dilakukan Florence dan Vinter di kediaman Zima, dikejar-kejar sobat Florence, Celine, dan kembali pulang, alur tiba-tiba melonjak maju dengan kecepatan meningkat drastis sehingga hal-hal mendetail yang bertaburan di bagian awal langsung lenyap begitu saja.

Kisah awal cinta antara Florence dan Vinter yang berlangsung selama, mungkin, 3 hari kurang terasa bling-bling-nya. Setidaknya saya menginginkan sesuatu yang mengguncang yang mampu membuat Florence jatuh cinta dan begitu juga sebaliknya. Bukan hanya sekadar ‘ada sesuatu di diri dia’, tapi sesuatu yang lebih nyata. Kisah cinta Florence dan Vinter pun terasa tidak ada halangan berarti...

Seperti juga alurnya yang mengalir tenang dan nyaris tidak ada konflik berarti, saya terpana membaca ‘penyelesaian’ cerita ini. Pada akhirnya, semua kembali pada kebetulan takdir. Ternyata ujungnya kembali pada Monsieur dan Madame Leroy.... *sigh* Akan lebih baik (untuk saya) jika Vinter dan Florence murni tidak memiliki hubungan apa-apa di balik segala kisah cinta mereka. Mungkin hal ini dapat memberi sedikit gejolak pada arus cerita yang terlalu tenang ini.

Saya juga merasakan karakter Florence maupun Vinter terlalu sempurna. Florence, seorang siswa seni yang ‘biasa-biasa saja’, entah bagaimana mampu menampilkan pertunjukan lengkap seorang diri yang mampu membuat Zima si pemarah menyimpan secuil kekaguman. Vinter sendiri, yang memiliki masa lalu kelam, terlalu cool dan ‘tinggi’ untuk digapai. Yah, untuk saya mereka kurang manusiawi.

Dengan kover bernuansa Prancis dan Rusia, saya kurang merasakan kedua negara itu di dalam cerita walaupun Prisca mampu memasukkan beberapa hal yang menandakan bahwa seting ceritanya ada di negara barat ini. Sayangnya (lagi), saya tidak bisa benar-benar menangkap apa maksud judul ‘Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa’ ini. Tentu kalau dikait-kaitkan, ada hubungannya dengan isi cerita. Tapi, apa yang ingin disampaikan sesungguhnya apa masih kabur di benak saya.

Walau begitu, seperti khas novel Gagas (belakangan ini) lainnya, novel Prisca ini dikemas dengan cantik. Nuansa birunya meneduhkan. Tata letak bagian dalamnya juga cukup menarik dengan adanya tambahan ornamen-ornamen. Hanya saja, saya merasa ukuran huruf yang digunakan cukup besar. Mungkin maksudnya agar jumlah halamannya agak tebal? Pengeditannya juga cukup baik walaupun ada beberapa halaman yang sepertinya lolos pemeriksaan.

Mungkin saya adalah seorang Snegurochka saat  membaca novel ini. Apa yang saya baca meleleh menjadi aliran air yang lenyap begitu saja saat selesai membacanya... Lalu, sebenarnya apa itu Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa selain sebagai judul gubahan-apalah-itu-saya-lupa? Mungkin hanya saya saja yang tidak menangkap maksudnya....

Selasa, 26 Maret 2013

Memutar Kenangan bersama Remember Dhaka


Setiap manusia membutuhkan alasan untuk melakukan sesuatu, termasuk saya. Saya membeli sebuah buku karena beberapa faktor, antara lain harganya dan rekomendasi orang. Biarpun tidak mendapat rekomendasi, jika buku itu murah dan menarik perhatian, ada kemungkinan akan saya beli. Nah, yang jadi masalah adalah kapan saya memulai membaca salah satu judul dari tumpukan buku yang kian meninggi itu? Ya, saya butuh alasan kuat untuk memulai membaca, termasuk novel yang satu ini: Remember Dhaka.


Judul: Remember Dhaka
Penulis: Dy Lunady
Penerbit: Bentang Belia
Jumlah Halaman: 214 halaman
Harga: Rp37.000,-

Sinopsis
Di antara dunia baruku yang absurd, aku menemukanmu.
Di antara semrawutnya kota ini, kamu datang seperti peri.
Kurasa, kamu jadi alasan terbesarku bisa dan mau bertahan di sini.
Dhaka, tak pernah sekali pun terpikir olehku sebelumnya.
Bersama kamu, aku bisa menemukan diriku.
Karena kamu, kota ini jauh lebih hidup di mataku.
Jadi, tetaplah di sini.
Tetaplah indah seperti peri.

And the Journey begins...
Arjuna Indra Alamsjah tidak pernah mengira kehidupannya yang mewah dan nyaman akan jungkir balik saat kakak satu-satunya, Dewi Agni Alamsjah, mengirimnya menjadi volunteer di Dhaka. Jika Juna tidak mau menjadi volunteer, sang ayah mengancam akan mencabut segala kartu kredit dan membekukan rekening Juna. Mau tak mau, Juna harus meninggalkan kenyamanan yang sudah menjadi darah dagingnya seumur hidup dan menggantinya dengan kehidupan volunteer yang... yah, menyedihkan. Juna nyaris menyerah menjalani kehidupan barunya itu, tapi Emma Frost, advisor Juna, mampu membuat Juna berpikir ulang. Apakah hidup selama ini tidak adil pada Juna? Atau sebetulnya, Junalah yang tidak adil pada kehidupan ini?

First Page-Introduction
Novel dibuka dengan adegan Juna yang memerintahkan para pelayan, supir, satpam, apa saja di rumahnya untuk mengurusi segala tetek bengeknya setelah ia pulang dari pesta kelulusan SMA-nya.  Saya langsung merasakan gaya hidup Juna yang terbiasa dilayani dan tinggal perintah. Tidak perlu bingung karena Juna langsung menjelaskan kalau ia termasuk dalam the Alamsjah the Almighty. Dengan segala kekayaan keluarga Alamsjah, Juna tidak perlu merasakan kehidupan rakyat jelata yang harus bersusah payah. Ia terbiasa mendapatkan apa yang ia mau. Dan masalahnya muncul karena hal itu.

Dhaka, Surprise Me, please!
Dhaka benar-benar membuat Juna terkejut. Tidak hanya dengan kondisi kotanya yang plek mirip dengan bayangan Juna, tapi jauh berbeda dengan kehidupannya dulu, Juna juga harus menghadapi kenyataan bagaimana kebanyakan orang hidup di dunia yang tidak pernah dibayangkan Juna sebelumnya. Dhaka yang awalnya bagaikan mimpi buruk bagi Juna ternyata membawa Juna membuka lembaran baru bagi cowok satu ini. Tentu saja, dengan bonus cinta di dalamnya :)

Suprise by Myself, How Can I Enjoy Being Here?
Dy Lunady berhasil mengangkat satu hal baru yang mungkin tidak banyak dipilih penulis lain: menjadi tenaga sukarelawan. Ia pun memilih tempat yang memang ‘tidak umum’. Saya pribadi awalnya mengira Dhaka ada di salah satu bagian India, sebelum akhirnya Dy menyadarkan saya kalau Dhaka berada di Bangladesh J Dengan latar belakang keluarga Juna yang serba berkecukupan, mengunjungi Dhaka, apalagi sebagai volunteer, mungkin tidak akan pernah terbersit dalam pikiran Juna sama sekali. Juna punya alasan sangat kuat kenapa ia tidak perlu meninggalkan kehidupannya yang nyaman itu, sementara Agni juga punya alasan yang sama kuatnya untuk memaksa adik tersayangnya lebih mengenal dunia sesungguhnya.

Tentu saja, buku ini tidak hanya sekadar bertutur mengenai tugas seorang sukarelawan, tapi juga ada bumbu kisah cinta yang memang mungkin terjadi di dalam setiap liku kehidupan anak manusia. Tertarik pada Emma yang bagaikan peri, Juna mulai meresapi arti hidupnya selama ini melalui tugasnya sebagai volunteer. Tidak hanya menemukan hal-hal yang menyadarkannya akan berbagai hal, Juna juga menemukan cintanya di Dhaka.

Dy mungkin adalah seorang penulis yang suka berkeliaran ke negara lain, karena apa yang dituturkannya di Remember Dhaka bukan sekadar hasil mesin pencari. Ia menuturkan hal-hal menarik yang Juna temui sepanjang perjalanan ke Dhaka, termasuk juga apa saja yang ada Dhaka. Melalui Juna, saya dapat merasakan bahwa tujuan berwisatan ke luar negeri tak melulu ke Eropa. Baahkan di kota seperti Dhaka pun banyak menyimpan hal eksotis yang layak untuk dikunjungi.

No Need to Run and Hide
Sejak awal, karakter Juna bukanlah karakter menyebalkan. Ia hanya anak manja yang... tidak terlalu egois. Andaikan Juna dibuat lebih egois dan semaunya sendiri sampai membuat Agni naik darah mungkin akan membuat cerita ini lebih menarik. Untuk seorang Juna yang kehidupannya bagai seorang pangeran, tampaknya ia tidak terlalu kesulitan menyesuaikan diri dalam ‘kehidupan rakyat jelata’ yang malah kelihatan janggal untuk saya. Perubahan Juna dari anak egois menjadi anak manis ini terlalu cepat untuk saya. Cerita pasti akan lebih greget jika dibuat Juna mendapat kesulitan akan segala keegoisan dan keluh kesahnya selama menjadi volunteer, sebelum akhirnya Juna mencapai suatu titik yang akhirnya akan mengubah kehidupannya selamanya.

Dy memunculkan istilah dan bahasa Inggris di buku ini. Mungkin untuk menunjukkan bahwa anak konglomerat seperti Juna sudah umum berbicara campur aduk antara bahasa Indonesia dengan Inggris. Sayangnya, porsinya terlalu banyak. Saya yakin, banyak pembaca yang melewatkan dialog-dialog berbahasa Inggris di buku ini karena dibutuhkan kemampuan berbahasa Inggris yang tidak sekadar pasif untuk dapat menerjemahkan apa yang sedang dibicarakan oleh Juna dan kawan-kawan. Selain itu, saya menemukan beberapa kesalahan kecil, misalnya tidak adanya to be atau penggunaan –ing yang tidak pada tempatnya. Untuk saya sedikit banyak hal ini mengganggu. Misalnya Emma, why you here? (halaman 69) seharusnya why you ARE here? Atau penggunaan istilah yang salah, seperti godness bukannya goddes yang berarti dewi (halaman 88). Jujur, sedikit banyak saya terganggu setiap menemukan kesalahan-kesalahan ini tersebar dari halaman awal sampai halaman akhir. Hm...
Curiousity Killed the Cat
Walau begitu, segala hal yang dituturkan Dy berhasil memancing rasa ingin tahu saya. Itulah yang membuat saya agak kesal karena kegiatan volunteer yang dilakukan Juna dan kawan-kawan atau mengenai Dhaka itu sendiri malah kurang digarap oleh Dy. Sampai halaman akhir, saya tidak benar-benar tahu apa yagn dilakukan Juna di sana selain bantu-bantu yang tidak jelas... Sistem sekolahnya seperti apa dan berlangsung kapan saja juga tidak dijelaskan. Mungkin akan lebih lengkap bila Dy juga menyertakan cara jika salah satu dari pembacanya tergoda untuk menjadi sukarelawan seperti Juna :)

Live the Life You Have Imagined
Melalui Juna, Dy ingin menyampaikan bahwa kita diciptakan pasti karena ada tujuannya. Tuhan adalah perencana yang sempurna. Dy juga mengajak kita untuk ikhlas, karena uang bukanlah penyelesai masalah. Kitalah yang harus berusaha mengubah hidup kita. Banyak hal baik jika kita melakukan kebaikan. Seperti tetesan air yang jatuh ke kolam, riaknya akan melebar, dan kembali ke kita lebih besar. Feeling good by doing good.

No Matter Where We Go, We Take a Little of Each Other Everywhere
Salut pada Dy yang mengangkat hal yang tidak umum ini menjadi bacaan ringan dengan mengambil seting yang tidak umum juga. Saya menyukai tata letak novel ini. Ditambah dengan halaman blog Juna. Isi blog Juna kurang lebih ringkasan dari beberapa kegiatan yang telah dialaminya selama di Dhaka. Saya sampai berharap kalau blog Juna ini benar-benar exist , lho ^^

Seperti Juna, setelah membaca Remember Dhaka, saya jadi merenungkan banyak hal. Masih banyak Juna-Juna lain di luar sana. Semoga Juna-Juna itu bisa mendapat pencerahan seperti saya juga.

P.S. Kalimat-kalimat bercetak tebal di atas itu merupakan sebagian dari judul-judul bab yang muncul di Remember Dhaka. Isnt’ great?
P.P.S. Untuk saya seharusnya Juna tidak meminta Emma tetap sebagai peri karena Emma lebih menarik sebagai dirinya sendiri ^^

Selasa, 19 Maret 2013

Mengetes Komitmen dengan Test pack


Judul: Test Pack
Penulis: Ninit Yunita
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 200 halaman


Will you still love them, then?
That's why you need commitment.
Don't love someone because of what/how/who they are.
From now on, start loving someone
because you want to.


Saya telat mengetahui novel berjudul Test Pack ini. Tidak, bukan setelat sampai film diputar dan baru tahu kalau ini based on a novel Yang pasti, mungkin ini adalah novel lokal pertama yang mengalami cetak ulang lebih dari delapan kali yang PERNAH SAYA BACA <== sengaja menekankan bagian ini.

Test Pack bercerita mengenai Tata yang pusing bin sedih karena belum juga hamil setelah menikah tujuh tahun dengan Rahmat. Berbagai macam cara telah dilakukan oleh Tata, dari yang masuk akal sampai yang agak-agak absurd, tapi usahanya masih gagal. Padahal, Rahmat yang berprofesi sebagai pengacara tidak pernah memusingkan hal tersebut. Baginya, menikah itu adalah mencintai Tata, dengan atau tanpa anak. Saat kesetiaan diuji oleh kesalahpahaman, apa sebuah komitmen dapat diganggu gugat?

Apa adanya kamu, lengkapi aku.

Mungkin ini salah satu quote paling terkenal dalam Test Pack, sederhana tapi sangat cetar membahana dan saya yakin hampir semua makhluk di dunia mengharapkan mendengarkan kalimat ini dari pasangannya (termasuk saya). Untuk saya, Rahmat adalah tipe pria yang terlalu sempurna. Bukan secara fisik tentunya (walau digambarkan juga, sih, kalau Rahmat itu punya penampilan fisik di atas standar), tapi hatinya bak malaikat sekali. Tidak semua wanita dikaruniai seorang pasangan yang mau menerima keadaan tidak punya anak dengan alasan cinta. Bahkan, Rahmat lebih membela Tata dibandingkan tuntutan orangtuanya yang sudah tidak sabar memomong cucu.

Ya, masalah yang dihadapi Rahmat dan Tata bukan milik pribadi. Banyak pasangan lain yang juga berjuang keras mendapatkan anak, tapi belum diizinkan oleh yang Sang Maha Kuasa. Awalnya saya merasa ini hanya novel 'biasa'. Tapi, ternyata Ninit Yunita mampu memberikan sentuhan 'tidak biasa' melalui pergantian tokoh utama 'aku' sebagai gue dan gua. Pembaca tidak perlu takut bingung karena di cetakan ke-8 ini jelas sekali siapa yang sedang mengambil alih cerita melalui ikon karangan bungan atau dasi di bagian awal cerita. Bisa ditebak, kan, siapa yang memerankan masing-masing ikon ini?

Nah, Ninit dengan lihainya menyisipkan masalah-masalah dan kesalahpahaman dalam hubungan Rahmat dan Tata sehingga hubungan mereka yang awalnya harmonis mulai merenggang. Rahmat bingung setengah mati kenapa Tata ngamuk-ngamuk padanya sampai meminta cerai, sementara Tata sakit hati karena mengira Rahmat sudah tidak ingin meneruskan hubungan mereka. Ada orang ketiga, tapi tokoh ini tidak terlalu 'penting' sehingga saya tidak perlu merasa sebal dengan tokoh antagonis yang minta ditampar. Yang ada hanya Rahmat dan Tata sejak awal, tengah, sampai akhir. Jangan lupa, Ninit juga memberikan ending yang mungkin 'bahagia', tapi tetap ada efek kejutannya yagn bikin saya iri berat dengan hubungan di antara kedua tokoh utama ini.

Saya tidak mengecek edisi lain Test Pack, jadi saya tidak dapat membandingkan isinya. Tapi, saya menyukai tata letak novel yang saya punya ini. Ukuran teks tidak terlalu besar atau kecil, pokoknya nyaman. Ditambah lagi ada ornamen-ornamen kiyut, tapi memiliki 'arti' yang membuat saya betah berlama-lama memelototinya. Pihak editorial juga bekerja cukup baik dengan menjaga mutu editan sehingga tidak banyak kesalahan ketik.

Oh, ya, saya juga salut dengan Ninit yang berhasil memadatkan cerita ini sehingga saya tidak merasa ada bagian-bagian yang bertele-tele. Mungkin yang saya sayangkan adalah penyelesaian segala permasalahannya yang terasa agak terburu-buru. Andai ditambahkan sedikit detail, mungkin akan lebih memberikan greget. Ninit juga mampu menjaga ciri khas masing-masing karakter, sehingga tanpa perlu menebak-nebak, saya langsung tahu siapa yang sedang bercerita.

Oke, karena novel ini sudah diangkat ke layar lebar, boleh, dong, membandingkan sedikit? Seperti film lainnya yang diangkat dari buku, saya tidak berharap ceritanya akan sama persis plek (walaupun harapan itu tetap ada). Jika di novel cerita lebih difokuskan pada Rahmat dan Tata, di film ada porsi tambahan bagi 'si orang ketiga'. Dan si orang ketiga ini memiliki tipe yang ingin dibenci di awal, tapi akhirnya kita dibawa bersimpati juga di akhir...

Para bintang yang memerankan Rahmat (Reza Rahardian) dan Tata (Acha Septriasa) berhasil menghadirkan kedua karakter dengan alami. Penuh cinta di antara mereka, walau dialog Acha beberapa kali terasa kaku. Saya tertawa saat mereka berkonsultasi pada Dr. Peni S. Yang tidak saya sukai di filim ini, seperti juga di rata-rata film Indonesia lainnya, adalah ukuran rumah yang terlalu megah untuk mereka berdua. Jika di buku digambarkan tingkat ekonomi Rahmat dan Tata mungkin 'sekadar' menengah atas, maka di film mereka masuk dalam golongan menengah atas. Mungkin saja setelah 7 tahun membanting tulang mereka dapat membeli rumah semewah itu, tapi mengingat ukuran rumah tidak terlalu berpengaruh pada cerita secara keseluruhan, untuk saya akan lebih baik bila pihak sutradara, produser, siapa saja, memilih rumah yang lebih biasa dan masuk akal. Berberapa adegan di buku mampu diterjemahkan dengan benar di filmya. Good job.

Untuk yang belum membaca atau menonton Test Pack, saya bisa merekomendasikan untuk melakukan keduanya karena keduanya memiliki nilai lebih. Versi tulisan akan membuat Anda terkesima dengan kepiawaian cara bertutur Ninit Yunita. Versi visual akan membuat Anda terkagum-kagum dengan akting Reza Rahardian dan Acha Septriasa

Menikah bukan akhir, melainkan sebuah awal... Tidak hanya dibutuhkan cinta, tapi juga komitmen, untuk menjalankannya. Apa Anda siap?

I love you... because I want to.

Kamis, 23 Agustus 2012

Yang Penuh Perhitungan: The Recknoning



Judul: The Reckoning-Perhitungan
Penulis: Kelley Armstrong
Kategori: Novel, fiksi
Kover: softcover
ISBN: 978-602-18349-0-9
Ukuran: 14 x 20.5 cm
Penerbit: Ufuk Publishing House
Halaman: 456 halaman
Terbit: 2012
Harga: Rp59.900,-

Liburan, kenapa tidak saya isi dengan membaca buku? Terutama buku-buku dari Penerbit Ufuk yang sudah menggoda sekali untuk dibaca yang saya beli via Yes24.com Indonesia. Karena keuangan terbatas sementara buku-buku terbitan Ufuk bisa dibilang menarik semua, saya mencoba memilih berdasarkan rekomendasi teman-teman.

Awalnya saya tidak tertarik sama sekali membaca buku ini. Apalagi kalau melihat ada serinya. Tapi, seorang teman setengah memaksa saya menikmati novel favoritnya itu. Awalnya novel ini saya pinjam darinya. Toh, kalau membosankan saya bisa berhenti di tengah jalan. Kalau memang menarik, wah, bakal seru. Tidak ada ruginya. Namun, pada kenyataannya, akhirnya saya membelinya sendiri. Thanks a lot to Yes24.com for the nice discount!

Oh, ya, sebelum membaca buku ini, saya juga dipaksa untuk membaca kedua buku sebelumnya yang termasuk dalam trilogi Darkest Power karya Kelley Armstrong ini. Saya membacanya, tapi bisa dibilang sekilas-sekilas, hanya demi agar saya bisa cepat-cepat membaca The Reckoning. Maafkan saya untuk ini ^__^ (edit: Tapi hal ini saya tebus dengan membaca ulang kedua seri sebelumnya karena membaca The Reckoning tidak akan meresap begitu dalam di hati saya jika saya tidak melakukan hal itu!). Hal ini gara-gara begitu banyak orang yang merekomendasi seri terakhir dari Darkest Power. Apakah ada sesuatu yang membuatnya mendapatkan rating cukup tinggi di goodreads? Atau apakah yang saya rasakan setelah saya membaca buku ini akan berbeda dengan tanggapan orang kebanyakan? We’ll see...

Kelley Armstrong memiliki kebiasaan jarang menjelaskan ulang apa-apa yang sudah di buku-buku sebelumnya. Untuk pembaca lama, hal ini sangat menyenangkan, walau akan membuat pembaca baru kebingungan (seperti yang pernah saya alami). Untuk Anda yang benar-benar mencintai seri ini, sebaiknya (ya, ini saran saya) untuk membaca kedua seri sebelumnya.

The Reckoning secara keseluruhan bercerita mengenai Chloe, Derek, Simon, dan Tori yang harus menyelamatkan diri dari Grup Edison. Mereka masih dibayang-bayangi kemungkin bahwa ada mata-mata dari Grup Edison di antara mereka yang mungkin saja akan membawa mereka kembali ke lab, atau bahkan bisa saja membunuh mereka. Apakah para tokoh kesayangan kita ini harus menghadapi kenyataaan bahwa ada pengkhianat di antara mereka? Atau mereka hanyalah 'korban' yang harus berjuang untuk 'menyelamatkan diri?

Kehidupan Chloe Saunders yang masih berusia 15 tahun berubah total. Keinginannya menjadi anak normal sepertinya akan sulit tercapai. Tentu saja ini gara-gara Chloe adalah seorang necromancer dengan gen termodifikasi yang dapat membangkitkan orang mati, wow. Bersama teman-temannya yang "berbakat", Chloe and the gank harus jungkir balik menyelamatkan diri dari organisasi jahat, Grup Edison, yang menciptakan mereka. Selain itu, Chloe juga harus dipusingkan dengan kisah cintanya dengan Simon si penyihir baik atau Derek, si manusia serigala yang juga saudara Simon...

Plot The Reckoning sedikit banyak agak mirip dengan The Summoning yang memiliki klimaks yang jelas, sementara The Awakening sedikit 'berputar-putar' tanpa penyelesaian tuntas. Hubungan antara Chloe dan Derek juga dipaparkan secara lengkap dan berlangsung timbal balik. Terasa nyata dan mungkin dialami para remaja. Dan 'romance' adalah salah satu kelebihan The Reckoning yang tidak Anda temukan di dua seri pendahulunya. Kisah cinta antara kedua remaja ini sangat manis. Derek, seorang manusia serigala yang tanggung dan kuat, ternyata menginginkan Chloe tetap ada di sisinya di saat-saat terburuknya, sementara Chloe memang tetap berada di sisinya, meremas atau sekadar mengusap tangan Derek untuk menenangkannya... Sebuah 'permulaan' sebuah hubungan yang benar-benar manis pada akhir trilogi ini... Awh.

The Reckoning adalah salah satu buku yang saya komentari, “Ya ampun, manis banget, sih, ceritanya.” Dan saya bersungguh-sungguh saat mengatakannya. Pipi saya seakan memanas menikmati apa yang terjadi antara Chloe dan Derek, hehe.

Karakter-karakter pada buku ini juga layak untuk saya cintai. Misalnya, Chloe adalah karakter yang mengagumkan. Ia mengalami perubahan sifat karakter. Ia tumbuh dewasa. Ia memang tidak tiba-tiba bertransformasi menjadi seorang gadis serba bisa, tapi Chloe berusaha sebaik mungkin. Yah, pada intinya saya menyukai sosok baru Chloe dan jadi suka padanya... Chloe yang tadinya pemalu dan tertutup, selalu memikirkan kekuatannya secara berlebihan dan sulit untuk percaya pada orang lain, kini menjadi gadis yang lebih bijaksana, tidak takut mengambil keputusan walaupun pilihan itu mungkin tidak mudah.

Ada juga Derek, yang jujur dan lugu (ahahaha), juga penuh perlindungan. Ia menjadi semacam sandaran bagi Chloe? Entahlah bagaimana cara menjelaskannya.Dan, jangan pernah melupakan para karater tambahan seperti Simon, Tori, atau Liz. Mereka memberi warna pada seri ini dan membuat alur ceritanya sayang menarik. Para karakter ini tidak pernah menjadi sempurna dan itulah yang membuat cerita ini menjadi sempurna. Chloe tidak akan pernah menjadi 100% berani, terkadang ia juga mengalami dilema dan bingung menentukan pilihan.

Armstrong menunjukkan kepiawaiannya menulis. Di satu saat ia berhasil menulis cerita bertema dewasa yang membuat saya menahan napas, tapi di lain kesempatan ia juga mampu menghadirkan cerita supernatural untuk para remaja, tetap dengan alur dan klimaks yang membuat saya tidak dapat berhenti membacanya. Khusus bagi Trilogi ini, Armstrong sengaja membuat endingnya menggantung. Atau ‘terbuka’ lebih tepatnya. Sehingga cerita ini masih memilki banyak kesempatan untuk diteruskan. Sedikit banyak ini agak mengganggu saya. Bahkan di beberapa bagian, penyelesaiannya terasa terlalu sempurna, tapi... yah, tidak mengapa.

Misalnya saja bagian cerita yang melibatkan para demon dibiarkan menggantung tak terselesaikan. Apakah suatu saat nanti Chloe akan tumbuh dewasa dan kebali menyelesaikan segala urusannya dengan sang iblis ini? Saya jadi berharap bakal ada lanjutan, aka seri ke-4, dari trilogi ini. Yah, maklum, saya termasuk salah satu tipe yang lebih menyukai ending yang pasti. Tentu saja, tetap dengan kemungkinan untuk diteruskan di kemudian hari karena saya sangat penasaran akan seperti apakah tokoh-tokoh kesayangan saya ini jika mereka tumbuh dewasa nanti...

Yah, walau tentu saja, ada beberapa pertanyaan yang tidak terjawab. Misalnya... Apakah Rae benar-benar selamat? Apakah Grup Edison masih meneruskan modifikasi DNA mereka? Atau memang pertanyaan-pertanyaan seperti ini ada untuk dijawab di seri selanjutnya?

Oke, oke, saya harus mengakui bahwa saya SEDIH karena seri ini berakhir. Saya terlalu terjerat pada karakter-karakter di trilogi ini, seakan-akan saya ikut berpetualang bersama mereka. Armstrong berhasil mengaduk-aduk perasaan saya, merasakan segala kesulitan yang dialami Chloe dan kawan-kawan. Dan mungkin saya tidak keberatan dengan beberapa hal yang memang sebaiknya tidak perlu jawaban... karena lagi-lagi saya menantikan petualangan mereka di masa depan.

Kelley Armstrong sendiri adalah penulis Kanada yang mulai menulis fantasi sejak tahun 2001. Salah satu karyanya yang cukup terkenal adalah seri Woman of the Otherworld. Armstrong sering memunculkan karakter yang memiliki kekuatan supranatural, seperti penyihir, necromancer, atau manusia serigala. Tidak heran kalau dalam seri The Darkest Power mereka juga 'berkeliaran'. Armstrong suka memasukkan unsur misteri dalam karya-karyanya dan mungkin inilah yang membuat kita tidak dapat melepaskan buku-bukunya sebelum mencapai halaman terakhir.

Anyway, buat para pecinta buku, jangan lewatkan berbelanja via Bukukita.com. Anda akan mendapatkan diskon yang menggiurkan dan yang terpenting, tidak perlu bermacet-macet ria mencari buku yang kita inginkan. Tinggal menjelajah di situsnya, pesan, bayar, dan Anda tinggal menunggu buku Anda tiba dengan selamat. So simple!

Rabu, 22 Agustus 2012

Mencicip Amore: Cinderella Tuathina



      • Penulis : Mimosa Q.
      • Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
      • Ukuran : 13.5 x 20 cm
      • Tebal : 208 halaman
      • Terbit : Agustus 2012
      • Kover : Softcover
      • ISBN : 978-979-22-8720-2

Awalnya, saya kira Amore ini adalah lini baru novel terbitan Gramedia. Oke, ralat, mungkin lini bukanlah istilah yang tepat. Mungkin seharusnya saya menyebutnya "genre"? Setelah Teenlit, Metropop, dan sejenisnya, sekarang ada logo Amore yang menandakan bahwa isi novel ini sedikit banyak akan berbeda dengan novel-novel yang telah terbit sebelumnya. Karena Amore sendiri kurang lebih berarti 'cinta', saya langsung membayangkan novel-novel roman Harlequinn yang sangat kental muatan cintanya. Apakah Amore ini menyerupai Harlequinn? Mari kita lihat...

Entah karena Amore ini adalah 'anak baru' Gramedia atau alasan lain, dari sedikit judul yang terlihat mata, desain kover novel-novel Amore cenderung tidak seragam. Belum ada ciri khas yang mencerminkan bahwa novel ini memiliki label Amore kecuali dari logonya. Asumsi saya, Amore masih dalam tahap pencarian jati diri dan ciri khasnya.

Sadira Devi, seorang gadis Indonesia, yang berkerja sebagai housekeeper di Hotel Rosalle di Tuathina, sebuah negara kecil dekat Italia, bertemu kembali dengan Zeus, cintanya di masa lalu. Siapa sangka, Zeus yang semakin tampan dan dewasa, mengajaknya makan malam romantis untuk kemudian kembali... mencampakkanya untuk kedua kalinya dengan kata-kata yang menorehkan luka mendalam di hati.

Seakan 'tamparan' bagi Sadira masih kurang, ia harus menghadapi badai salju yang mencegahnya keluar dari hotel tempat Zeus melemparnya bak lap pel. Agar diperbolehkan menumpang tidur di gudang karyawan, akhirnya Sadira memohon pada manajer hotel agar diperbolehkan menjadi housekeeper sementara selama badai. Apalagi kondisi hotel saat itu cukup ramai dan tambahan satu orang tenaga housekeeper akan sangat membantu. Jadilah Sadira pegawai hotel dadakan di sana dan dengan sangat terpaksa melayani penghuni kamar 513 yang sangat menyebalkan. Bagaimana tidak? Cowok yang tidak kalah ganteng dibandingkan Zeus itu hobi sekali menyiksa para housekeeper. Ia akan memastikan setiap sudut ruangan kamarnya dibersihkan. Kalau perlu, harus diulang dua atau tiga kali. Dan tentu saja, semuanya harus dilakukan dengan pengawasan ketat darinya! Sadira yang mulai merasa dirinya limbung, terselamatkan saat seorang staff housekeeper menjemputnya.

Sadira yang demam tinggi kaget setengah mati saat keesokan harinya terbangun di atas tempat tidur berlapis satin dengan hanya mengenakan pakaian dalam dan bukannya di gudang apek berdebu yang disiapkan oleh hotel tempatnya menumpang tidur! Jangan lupa, tambahkan seorang Alvaro yang menakjubkan, penghuni kamar 513, yang tertidur di sebelahnya... dan hanya mengenakan bokser. Eits, masih harus tambah satu kejutan lagi: Zeus juga menjadi saksi saat Sadira ada di tempat tidur Alvaro dengan pakaian minim.

Alvaro yang melihat situasi tersebut, menawarkan diri menjadi kekasih pura-pura Sadira. Apakah Sadira menerima tawaran tersebut? Bagaimana dengan cintanya pada Zeus? Apakah Sadira akan menemukan tambatan hatinya yang sesungguhnya?

Keluhan pertama saya dan terus berlanjut sampai halaman terakhir tercapai ada di bagian kover. Bukan desainnya, melainkan jenis kertas yang digunakan. Saya tidak tahu nama-nama kertas, tapi yang pasti kertas kover Cinderella Tuathina ini sangat kaku dan gampang terlipat. Belum apa-apa, kover novel saya sudah tertekuk-tekuk seakan patah dan hal ini sangat mengganggu saya. Seakan saya membaca buku ini dengan kasar, padahal yang terjadi sebaliknya. Buku yang cantik ini tampak seperti buku bekas yang dibaca oleh banyak orang...

Selain itu, saya menemukan beberapa kesalahan ketik yang walau mungkin tidak terlalu kentara, tapi sedikit banyak menganggu saya. Selain itu, di halaman  84 ada kesalahan yang sangat mengganggu di mana nama Alvaro malah tertulis sebagai Zeus...

Overall, menurut saya, ide cerita novel ini sebetulnya sudah basi. Sangat sesuai dengan judulnya, si miskin bertemu dengan si kaya, lalu mereka menjalin hubungan. Bukannya hal ini tidak mungkin terjadi, tapi... untuk saya terlalu banyak kebetulan dalam Cinderella Thuatina. Gampangnya saja, alangkah sempitnya dunia karena bisa-bisanya Sadira bertemu dengan sang mantan yang ingin dilupakan, tapi tidak bisa, di negara kecil di Eropa? Seakan belum cukup, kebetulan Sadira terjebak di hotel dan harus melayani Alvaro yang memiliki darah Indonesia (juga). Belum lagi, kebetulan Zeus dan Alvaro ternyata adalah sahabat dan mereka menjalin kerja sama. Tidak heran kalau kebetulan kedua pria yang sama-sama tampan, digilai para cewek, terkenal, kaya, memiliki separuh darah Indonesia, sama-sama jatuh cinta pada Sadira.

Di lain pihak, keseluruhan novel terlalu banyak membahas bagaimana perasaan Sadira (yang menurut saya terlalu berlebihan), juga penggambaran sosok Zeus atau Alvaro yang bak dewa. Saya jadi bertanya-tanya bagaimana sebetulnya kehidupan Sadira sebagai seorang housekeeper karena hampir seluruh halaman didominasi hal-hal di luar itu. Saya tidak tahu bagaimana cara Sadira membagi waktu antara menjadi housekeeper di sebuah hotel besar dan berkencan... Saya juga jadi menanyakan bagaimana Sadira mendapatkan sertifikat housekeeper internasional kalau begini cara kerjanya?

Chemistry antara Sadira dan Alvaro juga sama sekali tidak terasa. Alurnya seakan terburu-buru, sehingga saya tidak merasakan momen-momen berkesan yang membuat keduanya saling jatuh cinta. Mereka seakan-akan dipaksa untuk jatuh cinta sesuai skenario, bukan karena 'keinginan' masing-masing karakter. Selain Zeus dan Alvaro yang digambarkan too good to be true, Sadira juga diharuskan memiliki tampang cantik dan polos, dengan tubuh mungil yang akan membuat para pria paling tidak mencuri pandang minimal sekali padanya. Masa lalu antara Sadira dan Zeus juga tidak dibahas sama sekali (ya, buat saya SAMA SEKALI), padahal bila dipikirkan dengan akal sehat, bagaimana mungkin seorang rakyat jelata bisa menjalin hubungan dengan seorang pangeran? Saat Sadira kuliah? Sempatkah ia kuliah dengan kesibukannya mencari uang untuk pengobatan ibunya?

Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, ide cerita novel ini mungkin saja sudah basi, tapi andaikan eksekusinya diubah sedikit, saya yakin Cinderella Thuatina akan menjadi cerita yang lebih berkesan (untuk saya). Saya berharap Zeus dan Alvaro tidaklah sesempurna itu. Dan mungkin saja ceritanya akan lebih masuk akal bila Sadira dan Zeus bertemu di Tuathina saat Sadira mendapat beasiswa kuliah di sana. Lalu, saat Sadira bekerja di hotel di Jakarta, Zeus yang memiliki darah Indonesia memang sengaja datang untuk mengurusi bisnis dari pihak neneknya. Alvaro sendiri adalah orang Indonesia tulen, yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Zeus, kecuali sebagai saingan bisnis di bidang yang sama. Yah, saya yakin, dengan sedikit polesan, banyak revisi, dan bimbingan editor, Cinderella Tuathina ini akan jauh lebih menarik.

Novel debut Mimosa Q. dalam Amore ini mungkin akan menjadi batu pijakan pertama yang menjadi awal novel-novel berbobot karyanya lainnya. Saya yakin Mimosa akan dapat menulis lebih baik lagi ke depannya. Saya percaya.

Kamis, 16 Agustus 2012

Mencicipi Sejarah: Tragedi Gadis Parijs van Java




Judul: Tragedi Gadis Parijs van Java
Penerbit: Edelweiss
Pengarang: Ganu van Dort
Format: 13 x 20,5 cm
ISBN: 978-602-8672-14-6
Jumlah halaman: vi + 398
Harga: Rp48.000,00
Soft cover
Terbit: 16 Januari 2012

Awalnya saya tertarik membeli buku ini karena ada info lomba resensi dari Penerbit Edelweiss. Bukan berarti sebagian buku saya beli karena tujuan resensi. Kadang-kadang saya memilih untuk melewatkan lomba tersebut bila bukunya tidak menarik (perhatian) saya. Namun, buku yang ini lain cerita.

Seperti biasa, saat ingin membeli buku yang tidak ada di daftar belanja, saya akan mencari info sebanyak-banyaknya tentang buku ini. Dan ternyata... Info mengenai buku ini sedikit sekali. Saya hanya berhasil menemukan satu info melalui mesin pencari, selain info yang diberikan oleh penerbitnya sendiri. Dari info yang sedikit itu, pembahasan mengenai novel ini juga sangat singkat selain 'pendeskripsian tentang Bandung-nya detail sekali'. Siapa sangka hal itu malah menggugah rasa penasaran saya?

Berbeda dengan buku-buku lain yang saya beli, begitu novel Tragedi Gadis Parisj van Java ini tiba di rumah, saya langsung membuka segelnya dan mengintip dalamnya. Tapi, sebelumnya, saya mengagumi terlebih dahulu kecantikan wanita yang terpampang di kover novel ini :) Saya membayangkan seperti apa ya wajahnya jika matanya terbuka?

Buku ini kurang lebih bercerita mengenai tokoh sentral, Laura Hessels, seorang wanita keturunan Belanda tulen yang akhirnya menjadi mualaf dan mengganti namanya menjadi Fatimah saat menikah dengan Djaja Soeriadiredja, seorang pribumi dari kelas bangsawan. Mengambil setting di Bandoeng (ya, Bandung dengan ejaan lama) tempo dulu, saat menjadi salah satu kota terindah di pulau Jawa menurut para Welanda. 

Jansens Kloosmayer dan istrinya, Mien, dibunuh secara kejam pada suatu malam oleh seorang pribumi, Madhapi. Konon, Madhapi diperintahkan oleh seorang Belanda yang misterius untuk membunuh pasutri yang pro "Politik Etika" dan menculik putri semata wayangnya, Laura, yang saat itu menjadi salah siswi terbaik HBS atau sekolah menengah atas untuk anak-anak Belanda dan anak-anak pribumi yang memiliki darah ningrat. Pembunuhan itu menyisakan misteri, juga duka mendalam pada Laura yang pada akhirnya diangkat anak oleh pamannya.

Laura masih tidak dapat hidup tenang. Selama ia tinggal di Bandoeng, Madhapi begitu setia menguntitnya dan tetap berusaha untuk menculiknya, sehingga Laura tidak memiliki pilihan selain meminta Djaja, teman sekelasnya di HBS yang jago pencak, untuk menjadi pengawalnya setelah kasus pelecehan seksual yang dilakukan Jantje Ijzerman, cinta pertama Laura. Hubungan antara Laura dan Djaja semakin dekat sampai akhirnya mereka resmi menjadi sepasang kekasih..

Bahkan, saat Laura dan Djaja akan merayakan hari terakhir Laura di Bandoeng sebelum berangkat sekolah kedokteran di Batavia, Madhapi berhasil menyeret Laura masuk ke Sungai Tjikapoendoeng yang berarus sangat deras. Djaja yang panik melihat kekasihnya timbul tenggelam di sungai tidak berpikir panjang langsung terjun untuk menyelamatkan Laura. Andaikan telat 10 menit saja, bisa dipastikan Laura sudah menemui ajal... Lagi-lagi, Madhapi berhasil lolos dari kejaran para polisi.

Laura dapat bernapas lega saat ia menuntut ilmu kedokteran sesuai wasiat ayahnya di Batavia. Selama tinggal di rumah Opa Bobbeke dan Oma Witteke, Laura juga dijaga oleh pamannya yang mantan KNIL. Karena itu, Laura dapat menyelesaikan pendidikannya dengan predikat cum laude, sementara Djaja akhirnya menjadi seorang reporter di kantor De Vrije Pers. Selama mereka dipisahkan jarak, mereka rajin berkirim surat atau bahkan saling mengunjungi di saat senggang.

Masalah kembali menghantuin Laura saat ia kembali ke Bandoeng. Belum apa-apa, Madhapi sudah mengincar gadis ini. Tidak tanggung-tanggung, Madhapi menyusup masuk ke dalam kamar Laura! Walau Djaja sudah memikirkan taktik untuk meringkus pria kejam ini, tidak urung dia berhasil kabur sambil membawa Atjih, jongos Laura, bahkan menodainya...

Butiran pasir sejarah telah bergulir. Laura, Djaja, Jantje, semuanya tidak dapat menolak takdirnya. Saat Djaja menulis artikel yang menyinggung pihak Belanda, ia tidak dapat menolak saat ia harus dibuang ke Suriname dan ternyata pesawat Jepang menembaki kapal yang ditumpangi Djaja. Begitu juga saat Laura harus masuk kamp yang diawasi tentara Jepang yang kejam. Mereka tidak dapat melawannya...

Bagaimana kisah hidup Laura dan Djaja? Apakah mereka dapat tersenyum menikmati hari-hari damai setelah kemerdekaan Indonesia? Apakah Laura dapat bertahan sebagai mualafsaat menikah dengan Djaja? Ataukah sejarah kembali tertawa melihat bagaimana putaran roda nasib membawa seluruh pelakon kehidupan ini?

Kita dibawa menyusuri kota Bandoeng dari awal cerita sampai akhir. Ganu van Dort berhasil menggali jejak-jejak kenangan yang menyertai kota Bandoeng, terutama tempat-tempat yang sejak awal bukanlah fiktif. Saya sedikit termangu-mangu membaca fakta-fakta mengenai kota Bandoeng, misalnya dahulu Jl. Braga disebut Bragaweg dan betapa orang-orang Belanda itu sangat suka tinggal di Bandoeng.

Ada beberapa hal yang mengganggu saya saat membaca novel ini, antara lain:
1.       Tanda baca. Saya perhatikan banyak tanda koma yang tidak pada tempatnya. Saat tidak dibutuhkan koma, saya menemukan tanda ini. Begitu juga sebaliknya. Mungkin tidak terlalu mengganggu, tapi untuk saya, iya.
2.       Footnote. Penulisan nomor footnote tidak seragam. Ada yang ditulis langsung menempel pada kata yang akan diterangkan, misal Bragaweg1, sementara di kata lain terpisah oleh tanda baca, misal Insulinde?34. Bahkan ada pula nomor yang ditulis di depan kata tersebut.
3.       Terlalu banyak footnote. Saya menyadari bahwa penggunaan istilah asing yang didominasi bahasa Belanda tidak dapat dihindari. Tapi saya menyarankan agar dialog dalam bahasa Belanda sebaiknya langsung saja diterjemahkan di sebelahnya, jangan berupa footnote. Contoh: “Waarom niet? Kenapa tidak?” balas nyonya rumah.
4.       Penggunaan tanda kutip dan italic. Kembali pada poin tiga, banyak sekali kata-kata dalam bahasa asing yang dituliskan dengan huruf miring SEKALIGUS ditambahkan tanda kutip. Seingat saya, jika sudah diberikan tanda kutip, maka kata tersebut tidak perlu dimiringkan.
5.       Huruf kapital. Karena salah tanda baca, yang seharusnya koma menjadi titik atau sebaliknya, beberapa kata jadi tidak sesuai kaidah. Yang seharusnya kapital malah huruf kecil.
6.       Ketidakkonsistenan. Ini berlaku baik untuk footnote atau istilah yang dipakai. MisalnyaInsulinde beberapa kali ditulis Isulinde sehingga saya harus memastikan kembali istilah mana yang benar. Keterangan footnote juga terkadang memakai huruf miring, tapi di lain kesempatan huruf tegak.

Saya pribadi merasa bahwa penggunaan kata ‘Tragedi’ pada judul kurang tepat. Memang betul Laura mengalami beberapa musibah dalam hidupnya, tapi itu bukan berarti seluruh isi buku ini berupa tragedi. Gara-gara kata yang satu ini, saya sedikit berharap dari awal buku sudah diwarnai tragedi.

Selain itu, info-info menyangkut sejarah Indonesia sejatinya cukup menarik. Namun, ada beberapa bagian yang menurut saya bisa disingkat agar pembaca tidak terlalu bosan. Saya dapat melihat bahwa sejarah di sini bukan sekadar tempelan, melainkan para tokohnya memang melintasi waktu mengikuti jejak sejarah Indonesia. Saya seakan melihat sejarah Indonesia dari sudut pandang yang lain, sudut yang sangat berbeda dari buku sejarah yang selama ini saya lalap di bangku sekolah.

Saya pribadi merasa misteri yang melingkupi Laura kurang kuat. Siapakah orang Belanda misterius yang memerintahkan membunuh keluarga Laura memang terjawab di akhir cerita, namun sepak terjangnya sama sekali tidak kental. Dan setelah rentang waktu yang begitu lama sejak awal sampai akhir cerita, saya merasakan bahwa karakter tersebut ‘kebetulan’ dapat bertahan hidup tanpa masalah sementara para karakter utama kita harus jatuh bangun bertahan hidup. Alasan kenapa karakter misterius tersebut melakukan hal tersebut juga kurang digarap karena hanya muncul di sepertiga awal dan akhir saja.

Namun, saya cukup kagum karena beberapa karakter pedamping yang saya pikir tidak ada gunanya dalam cerita, tapi ternyata memiliki peran yang cukup penting di bagian akhir. Ternyata Jantje, Wiwin, atau Doedoeng memiliki perannya masing-masing, seperti mungkin kita menganggap remeh orang lain tapi ia membawa perubahan dalam diri kita.

Akhir kata, membaca buku ini membuat saya menahan napas, membayangkan apabila saya adalah Laura, apakah saya dapat setegar dirinya menghadapi takdir yang membawa pergi segalanya? Buku ini tidak memiliki ending yang saya harapkan, namun seperti itulah hidup. Tidak selamanya sesuai yang kita inginkan, tapi kita harus menghadapinya dengan kuat dan selalu tersenyum demi masa depan yang mungkin saja akan lebih baik.

"Dag Bandoeng, ik herineer je altijd... Selamat tinggal, Bandoeng, aku sangat mengenangmu..."