Photobucket

Minggu, 21 April 2013

Mereka pun Berhak untuk Hidup


Semua berawal dari lolongan yang memecah keheningan malam. Saya tidak sedang menceritakan perilaku seekor serigala yang berkeliaran di film-film horror, melainkan jeritan pedih seekor anjing yang ditinggalkan majikannya terlantar karena ‘ditugaskan’ menjaga rumah kosong yang terletak tepat di seberang rumah saya.

Kali pertama mendengar suara itu, saya tidak terlalu ambil pusing. Si anjing sering kali menggonggong sesekali selama ia mengemban tugas suci dari sang pemilik di balik pagar yang tertutup rapat oleh fiberglass. Namun, malam itu suaranya terdengar berbeda. Ia tidak menggonggong, melainkan melolong dan itu dilakukan hampir sepanjang malam, diselingi dengan dengkingan. Saya masih tidak ambil pusing sampai keesokan siang saya masih mendengar sang anjing terus bersuara. Kali ini bahkan ditingkahi dengan gonggongan yang bersemangat. Keanehan itu akhirya menarik saya untuk menjebol sedikit fiberglass dan mengintip ke dalam. Astaghfirullah! Saya menemukan seekor anjing berwarna putih yang terjepit di bawah kerangkeng besar berisi anjing besar yang mirip seperti anjing polisi! Mangkuk kaleng kosong tergeletak terbalik, ember hitam yang berada di dalam kerangkeng sudah kosong melompong. Sudah berapa lamakah para anjing itu tidak makan dan minum?

Dengan kenekatan, saya menyiramkan air menggunakan selang ke arah anjing-anjing itu, berharap mereka dapat minum seteguk atau dua teguk air. Seakan mendapat harapan setelah badannya basah, si anjing putih itu berusaha untuk keluar dari jepitan kerangkeng dan dengan usaha kerasnya, ia berhasil! Namun, kondisinya sangat lemah. Bahkan ia tidak mampu untuk mengangkat kepalanya. Si anjing besar, kemungkinan besar campuran rotweiler (saya tahu setelah mengubek-ubek mesin pencari), memberi semangat pada si anjing putih (yang saya tidak tahu sampai sekarang apa jenisnya). Subhanallah…

Tak tahan lagi, saya menghubungi pihak RT dan memutuskan memanjat pagar tetangga saya itu untuk sekadar memberikan makanan kucing saya pada mereka. Saya tidak takut anjing, tapi menghadapi anjing penjaga rotweiler besar, walau terpisah kerangkeng, tak ayal saya ciut juga. Apalagi saya dihadiahi gonggongan penuh kemarahan a la anjing kelaparan. Walau ragu, sang rotweiler makan dengan rakus, sementara si putih sama sekali tidak mau makan. Untuk minum pun harus saya suapi. Akhirnya saya menghubungi penyelamat binatang melalui perantara seorang teman yang pecinta anjing.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya masuk rumah orang tanpa permisi empunya, bahkan mendobrak pagarnya demi menyelamatkan seekor anjing yang menderita. Dengan bantuan para penyelamat binatang itu, si anjing putih diangkat perlahan. Ajaibnya, anjing itu tersadar dan mengangkat kepalanya sedikit. Kami tadinya ingin menyelamatkan sang rot, tapi melihat ia yang menggeram dan kerangkeng yang digembok rapat, kami memutuskan untuk menyelamatkan si putih terlebih dulu. Para penyelamat binatang itu langsung membawa si putih, yang kemudian kami beri nama Hope, ke dokter hewan. Sayangnya, hanya satu jam setelah ia ditangani dokter, Hope mengembuskan napas terakhir. Namun, kami lega karena ia mati tidak dalam kesendirian.

Proses evakuasi Hope dengan mematahkan jeruji pagar

Seminggu setelah penyelamatan aksi Hope, setiap hari saya memanjat pagar dua kali sehari untuk memberi makan Thunder, nama pemberian kami untuk sang rot. Bahkan, Allah memberi rezeki berupa beberapa kaleng makanan anjing yang saya menangkan dari sebuah kuis. Sayangnya lagi, aksi tersebut terhenti saat sang majikan akhirnya datang dan tidak suka saya memberi makan Thunder (dan sepertinya ia memindahkan kandang Thunder diam-diam ke dalam rumah).

Saya baru benar-benar aware ternyata banyak sekali binatang terlantar atau diperlakukan begitu buruk, bahkan oleh majikannya sendiri. Dan ternyata ada orang-orang yang begitu care pada binatang-binatang malang ini tanpa mengharap imbalan atau jasa. Yang mereka harapkan hanyalah keselamatan binatang-binatang itu. Saya jadi malu, ke mana saja saya selama ini? Andaikan saya lebih tanggap, mungkin nyawa Hope bisa diselamatkan saat ini. Namun, apa yang sudah terjadi sudah merupakan takdir-Nya. Saya bersyukur menjadi Srikandi sehari ikut serta dalam penyelamatan Hope.

Semoga para majikan bertanggung jawab terhadap peliharaannya sehingga tidak ada lagi Hope-Hope lain. Insya Allah saya terus dapat menunaikan kewajiban saya sebagai majikan para peliharaan saya.

Foto ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Sehari Menjadi Srikandi

. 


Sabtu, 20 April 2013

Sebuah Cubitan dan Sekeranjang Cinta untuk BaW


Saya tahu BaW, tapi tidak mengenalnya. Lho? Ya, dulu, saat saya masih bekerja penuh waktu, BaW baru akan proses launching. Nah, sekarang saya ingin mencoba mengenal BaW lebih dekat lagi.

Anyway, saya sudah beberapa kali mengunjungi BaW dan melihat-lihat artikelnya, tergoda untuk membuat tulisan ini jauh-jauh hari (tapi pada akhirnya saya baru menuliskannya hari ini, a ha ha). Satu hal yang saya ingat setiap kali intip-intip blog BaW adalah lagu Melodies of Life yang mengalun. Saya sangat menyukai lagu itu, jadi saya sangat menikmati berlama-lama di BaW walau hanya untuk mendengarkan melodi yang mengalun. Tapi, kenapa hari ini tidak ada lagu yang terdengar, ya? Apa ini gara-gara saya pakai lappie suami? Atau mungkin karena koneksi internet saya yang super lambat? Andaikan memang lagu tersebut sudah dihapus dari blog, saya harap lagu itu kembali dipasang ^__^

Saya bukanlah penulis. Saya lebih ke seorang pembaca yang menikmati buku dan sesekali mengetikkan pendapat saya melalui resensi. Saya juga bukan seorang blog walking atau seorang blogger yang rajin meninggalkan komentar di postingan blog yang kebetulan saya kunjungi. Walau begitu, saya membaca (beberapa) tulisannya, lho.

Setiap kali mengunjungi blog BaW, yang menarik perhatin saya adalah foto yang dipasang di header. Ya, rak berbentuk lingkaran dengan ornament spiral di bagian tengahnya memang menarik hati dan perhatian saya. Walaupun rak itu mungkin kurang efektif dan maksimal sebagai rak, namun secara estetika, rak itu akan menghiasi dinding perpustakaan (saya) dengan sangat manis (termasuk header blog BaW). Sayangnya, tulisan ‘Be a Writer’-nya malah tidak terbaca karena kalah bersaing dengan fotonya :(

Saya kurang mengerti, tapi sepertinya postingan di BaW adalah sumbangan dari para anggota BaW? Kalau iya, hal itu menjelaskan ketidakseragaman postingan (terutama dari segi gaya penulisan). Saya seakan berada dalam sebuah forum, bukannya blog. Menarik di satu sisi, tapi di sisi lain menjadikan kualitas postingan yang naik turun. Namun, andaikan jawabannya adalah tidak, saya berharap kualitas tulisan postingannya dapat diseragamkan. Tulisan di sini juga termasuk pemilihan font-nya. Untuk variasi tidak masalah, tapi saya bagaikan membaca sebuah novel dengan font body text yang berbeda-beda >.<

Bagian yang paling suka mungkin Resensi. Alasannya sederhana, karena saya mendapat banyak hal dari sana, entah bagaimana cara menulis resensi yang baik, juga tahu penilaian atas buku yang ingin saya baca. Sayangnya, karena ditulis oleh orang yang berbeda-beda, poin-poin yang disampaikan berbeda-beda. Kadang saya sampai gregetan karena resensi yang dimaksud kurang lengkap, sementara resensi yang lain terlalu spoiler karena dijelaskan panjang lebar.

Bagian kedua yang menarik perhatian saya adalah Promo Buku, tapi jujur saya kecele banget saat melihat apa isinya. Yang ada di benak saya akan ‘promo’ adalah tawaran menarik akan suatu judul, entah potongan harga atau buku bertanda tangan. Yang saya temukan ternyata ‘hanya’ pengenalan produk masing-masing anggota BaW (yang belum lengkap juga daftarnya). Saran saya, mungkin nama tab-nya diganti menjadi ‘Karya Kami’ atau semacamnya dan membuat konten baru untuk Promo Buku. Jadi, di bagian Promo Buku ini, para anggota BaW dapat menawarkan keuntungan khusus bila pembaca blog tertarik untuk membeli langsung melalui BaW atau penulisnya (via blog BaW). Akan lebih menarik lagi jika para anggota BaW menawarkan pembelian paket para penulis dengan harga khusus ^__^

Dengan tab menu yang cukup banyak, saya sedikit bingung membedakan antara CatHar, Cerpen, Surat Cinta, atau Motivasi Menulis. Oke, memang sudah jelas klasifikasi masing-masingnya, tapi menurut saya kesemuanya dapat dijadikan satu dalam satu menu utama, misalnya ‘Catatan Kami’ lalu dibuat semacam drop down yang dipecah menjadi keempat submenu tadi. Hal ini akan membuat tampilan menu lebih irit dan cukup satu baris.

Bagian lain yang membingungkan adalah bagian Motivasi Menulis. Kenapa? Karena saya menemukan adanya motivasi DAN tips di sana. Walau tidak jelas-jelas berupa tips, tapi jika ditelaah lebih lanjut akan terasa kalau itu adalah tips. Hal ini membuat saya jadi kesulitan menemukan apa yang sebenarnya saya cari dan pusing sendiri memeriksa masing-masing postingan, terlebih beberapa postingan meletakkan judul yang memang eyecatching, tapi pada akhirnya tidak memberikan apa yang saya butuhkan.

Overall, saya suka tampilan keseluruhan blog BaW, sederhana dan kolomnya jelas. Yang mengganggu adalah efek transparan di sidebar atau di bagian bawah (apa, ya, namanya?) yang lagi-lagi bersaing dengan latar belakang dan membuat tulisannya sulit dibaca.

Membaca tulisan-tulisan di blog BaW membuat saya berhenti sejenak dari pekerjaan saya dan memikirkan kembali passion saya. Apakah saya benar-benar tidak tergoda untuk menulis seperti para anggota BaW? Tebersit setitik rasa iri, tapi saya kembali pada keputusan ‘belum saatnya’. Saya akan terus membaca (dan menulis resensi), berharap pendapat saya dapat memberikan masukan berharga bagi calon pembaca lain, akan menjadi bonus jika penulisnya juga membacanya. Dan, mungkin suatu saat nanti, saya dapat mengetuk pintuk BaW dan ikut bergabung.

Tulisan ini saya buat dalam rangka peluncuran blog Be A Writer.


http://bawindonesia.blogspot.com/2013/03/give-away-baw-20-maret-20-april-2013.html?spref=fb

Sabtu, 13 April 2013

Merasakan Cinta bersama Love Around You


Pengakuan dosa dulu. Awalnya saya sama sekali tidak menyangka kalau Love Around You yang dilombakan oleh @hor_romance adalah buku yang saya dapat dari Mbak Lily Zhang *tersapu-sapu* Seringkali saya terpaksa menumpuk buku karena kecepatan saya membaca lebih lambat daripada kecepatan tumpukan itu bertambah. Tapi, dengan adanya lomba resensi Love Around You, saya jadi bersemangat membacanya ^__^


 Judul: Love Around You
Penulis: Welly Setyawan, Andry Chang, June Tan, Renee Kefee, Dya Ragil, Lily Zhang, Reina Mala, Liz Lavender, Lia Zhang, Catz Link Tristan
Penerbit: CV. Gloria Group

Sinopsis:
10 kisah cinta dari 10 penulis Grup House of Romance dengan mengusung tiga tema berbeda. Cinta dua generasi, cinta palsu, dan cinta dunia maya.
Kisah-kisah cinta di sekitar kita yang kadang terlupakan. Baik yang manis, memabukkan, hingga pahit getir. Rasakan kejutan-kejutan saat menyelaminya satu per satu.
LAY. Love Around You. A treasure book of love.

Cinta memang tak lekang oleh waktu. Tema ini selalu dapat diangkat, baik sebagai kisah cinta yang manis atau tragedi. Nah, yang diusung dalam LAY ini bisa dibilang bukan kisah cinta yang umum. Awalnya saya bingung dengan benang merah apa yang tersirat dalam LAY, tapi setelah saya baca ulang sinopsis belakangnya, saya mulai mengerti ‘pembagian’ tema dalam LAY. Sepertinya sejak awal LAY tidak disusun berdasarkan kelompok tema, sehingga butuh waktu untuk menyadari bahwa ada tiga tema cinta di dalam satu buku kumpulan cerpen ini.

Dengan kover yang manis, saya tidak menyangka kalau LAY memuat beberapa cerpen yang berakhir tragis. Ada kelicikan di sana, tapi semua itu didasarkan pada cinta yang murni sesungguhnya. Keceriaan warna kover sama sekali tidak menggambarkan kekelaman yang tersebar di dalam kumcer ini. Sayangnya tulisan LAY di kover kurang menonjol dibandingkan pohon putih yang menjulan di sana. Sehingga bila dilihat dari jauh, yang akan menohok mata terlebih dahulu adalah pohonnya, bukan judul. Namun, yang saya suka dari kumcer ini adalah ‘keadilan’ bagi seluruh penulisnya. Sering kali kumcer hanya ditulis sebagai karya Esvandiari, dkk (maaf kalau saya memakai nama saya sebagai contoh, he he), seakan kumcer itu hanya ditulis oleh satu orang. Tapi, khusus LAY, semua nama penulisnya tertera di dahan pohon secara adil.

Saya juga menyukai tata letak dan ilustrasi di LAY. Kadang, sebuah novel menjadi buruk di mata saya karena asal ceplak-ceplok dan seakan tidak melewati proses editing yang maksimal. Tapi, LAY boleh berbangga diri karena dilengkapi dengan tim di belakang layar yang patut diacungi jempol. Ilustrasi dalam bentuk siluet memberikan nuansa berbeda dengan ilustrasi yang umum muncul dalam sebuah novel. Ada beberapa kesalahan ketik, tapi karena jumlahnya masih dapat ditampung kedua tangan saya, so no problemo ;)

Oke, sekarang masuk ke dalam masing-masing cerita. Tapi, biar tidak terlalu panjang, biar saya kumpulin per tema....

Ada jarak umur di antara kita ....
Cinta dua generasi menjadi cerita yang paling banyak muncul di LAY. Dari beberapa judul, mungkin favorit saya adalah Terbaik Untukku karya June Tan. Cerpen ini bercerita mengenai kisah cinta antara anak tiri dan ayah tirinya. ‘Penghubung’ di antara mereka sudah hilang, namun mereka tetap meneruskan kehidupan sebagai ayah dan anak, sampai huubngan itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar. Hanya saja, cerita ini mengingatkan saya pada sebuah cerita komik, Jinbe, karya Adachi Mitsuru. Inti ceritanya sama, bedanya ibu dan anak perempuan di Jinbe benar-benar memiliki hubungan darah. Saya pribadi bukan tidak percaya akan cinta antargenerasi seperti ini, tapi saya lebih menyukai pasangan yang berusia agak dekat dengan saya. Namun, lagi-lagi, ini masalah selera dan kita tak akan pernah tahu kapan cinta itu datang, bukan?

Cinta ini mungkin palsu untukmu, tapi tidak untukku ....
Membaca What Goes Around Comes Around karya Liz Lavender, saya bagaikan membaca Kiss The Sky. Ciri khas Liz begitu terasa *sok tahu* Tapi, seperti membaca Kiss The Sky, saya terganggu dengan penggunaan bahasa Inggris yang terlalu banyak. Bukan karena saya tidak mengerti, tapi karena membuat jeda membaca jadi naik turun. Dan saya tidak melihat pentingnya menggunakan bahasa asing itu. Namun, dengan lihai, Liz merangkai keseluruhan cerita dengan ending tak terduga, walau saya meragukan seorang Tim dapat menjadi security di usianya yang masih 15 tahun ....

Ini mungkin hanya dunia maya , tapi tetap bisa menghadirkan cinta ....
Nah, bagian ini termasuk yang paling sedikit. Karya Lily Zhang, My Direct Message, bisa dibilang cinta dunia nyata yang dicampur dengan dunia maya. Sedangkan karya Catz Link Tristan memberikan cara pendekatan yang sedikit berbeda demi menjatuhkan korbannya. Pada kenyataannya, cinta dunia maya memang ada.

Secara garis besar, kekurangan terbesar dari cerpen-cerpen di LAY adalah ending yang terasa terburu-buru. Setelah bagian awal dan tengah yang cukup detail, entah kenapa bagian akhirnya begitu singkat, seakan baru tersadar kalau jatah halamannya sudah hampir habis dan cerita harus ditamatkan. Hal ini menyebabkan beberapa alasan yang menjadi landasan kenapa tokoh A harus melakukan ini pada tokoh B jadi terkesan dipaksakan. Dari kesemua cerita saya tidak dapat menarik kesimpulan apa yang ingin disampaikan dalam cerpen pertama, One Night karya Welly Setyawan. Ending cerita dibuat menggantung, sementara untuk saya masalah utamanya sama sekali tidak ada jawabannya. Sayang sekali, padahal saya berharap cukup banyak akan akhir cerita yang bisa membuat saya terkejut. Saran saya, akan lebih baik jika dibuat kerangka tema yang lebih jelas agar terjadi penyeragaman ‘jumlah’ tema dalam satu buku, juga mengatur porsi awal, tengah, dan akhir dari sebuah cerpen dengan lebih adil.

Oh, ya, dari semua halaman, LAY dibuka dengan halaman in memoriam untuk Reina Mala, salah satu kontributor yang sekarang telah tiada. Saya jadi penasaran dengan apa yang terjadi padanya *jujur* Karyannya, Lukisan Masa Lalu, adalah salah satu yang terbaik (dan akan lebih baik jika porsi awal-tengah-akhir dibagi rata). Namun, ia  membuktikan bahwa gajah dapat meninggalkan gading dan manusia dapat meninggalkan karyanya....

Ya Tuhan, terima kasih untuk hari ini.
Semoga Kau menghadiahkan juga untukku
hari yang indah esok, dan esok hari ....
Selamanya

Tulisan ini dibuat dalam rangka lomba resensi yang diadakan oleh House of Romance.
Dapatkan bukunya via bukabuku.com di sini.
Ingin berkomentar di Goodreads? Langsung klik ini http://www.goodreads.com/book/show/17450961-love-around-you

Sabtu, 06 April 2013

My Fav Anime: Rurouni Kenshin

Wah, saya belum pernah menulis mengenai anime-anime favorit saya. Entah nanti saya bisa menuliskan semua anime kesayangan saya atau tidak, tapi untuk sekarang saya akan membahas mengenai Kenshin Himura. Untuk pembaca tulisan ini, anime ini saya tonton dulu sekali, kira-kira dalam rentan waktu 10-15 tahun (?) yang lalu, saat saya masih tergila-gila anime dan manga. Saat ini saya bisa dibilang tidak ada waktu bahkan hanya untuk menonton televisi karena saya lebih memilih membaca :)

Rurouni Kenshin, atau yang lebih dikenal dengan Samurai X, adalah sebuah manga buah karya Nobuhiro Watsuki yang terbit pertama kali sekitar pertengahan tahun 1990-an. Jumlah manganya 28 jilid. Manga ini diangkat menjadi anime pada awal tahun 2000 dengan sedikit perbedaan pada jalan ceritanya.



Awalnya, anime ini diputar di SCTV (sepertinya) dan saya sama sekali tidak tertarik saat itu. Selain tidak bisa menontonnya karena bentrok dengan jam kuliah, saya juga belum mengenal Kenshin Himura. Namun, semuanya berubah saat Elex Media Komputindo menerbitkan manga berjudul sama (dan menjadi manga yang terbit secara legal pertama dengan cara buka ala Jepang). Tidak sulit untuk jatuh cinta pada Kenshin.

Let the Story Begins....
Di komik Samurai X, Kenshin yang beken dengan sebutah Hitokiri Battousai digambarkan sebagai seorang samurai pengelana yang kelihatan bodoh, tapi sangat jago memainkan pedangnya. Walau begitu, ia berusaha keras untuk tidak membuat nyawa para musuhnya melayang sia-sia. Tentu ada asalan di balik pilihan Kenshin ini. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan banyak orang, salah satunya Sanosuke yang menjadai sahabatnya dan Kaoru, gadis yang menjadi tambatan hatinya .... Tentu saja niat Kenshin untuk keluar dari jalan hitam tidak mudah. Ada orang-orang dari masa lalunya yang muncul untuk menantangnya dan menyeret Kenshin kembali ke jalan yang dihindarinya. Di akhir cerita, Kenshin berusaha memungkiri perasaannya terhadap Kaoru. Namun, cinta sejati akan menunjukkan jalan dengan caranya tersendiri ....

Dari anime Samurai X, saya suka sekail dengan OST-nya It's Gonna Rain, sehingga saat season yang menggunakan lagu ini sebagai ending song saya lebih menanti lagunya dibandingkan filmnya. Jangan tanya siapa nama penyanyi lagu ini soalnya saya memang tidak mengingatnya. *mendadak lagu ini terngiang-ngiang di benak saya* Anime ini tidak cuma diisi dengan pertarungan, tapi banyak adegan yang membuat saya tertawa. Kenshin digambarkan sering mengoceh, "Oro?" saat ia terkejut. Entah apa maksud kata 'oro' ini, saya sendiri tidak pernah tahu jawabannya. Kalau melihat tampangnya yang super bego ini, tentu tidak terbayang, kan, kalau dia itu bisa saja menjelma menjadi seorang samurai yang tidak pandang bulu?

Rurouni Kenshin the OVA
Sayang jumlah episode anime mengenai Kenshin ini sangat panjang, sehingga saya tidak sanggup membeli VCD-nya (yang saat itu sangat mahal per kepingnya). Tapiiiiii.... saya membeli Rurouni Kenshin OVA yang menceritakan mengenai kehidupan Kenshin saat ia masih di jalan kegelapan. Diceritakan bagaimana Kenshin mendadak jadi seorang diri saat rombongannya dibantai. Ia berhasil selamat dan dipungut seorang guru ahli pedang yang mengajarkannya teknik berpedang. Sebagai seorang samurai, Kenshin ditugaskan untuk membereskan beberapa target dan hal itu membuat hati nuraninya terbutuh perlahan-lahan. Hal ini terus berlangsung sampai suatu ketika Kenshin bertemu dengan Tomoe. Gadis itu berada di tempat dan waktu yang salah. Namun, akhirnya Kenshin menjadi dekat dengan Tomoe dan hatinya mulai terbuka perlahan-lahan. Sayangnya, kenyataan di balik kehadiran Tomoe ternyata membuat dunia Kenshin hancur lebur. Dari Tomoe inilah Kenshin mendapatkan keberanian untuk keluar dari jalan gelapnya, juga tanda X di pipinya.

Berbeda dengan seri animenya, Rurouni Kenshin OVA ini benar-benar gelap dan sadis. Bisa dibilang darah berceceran di mana-mana. Ditemani dengan lagu latar yang kelam, anime ini menjadi begitu suram. Saya sempat berpikir untuk berhenti menonton, tapi kepedihan yang dirasakan Kenshin kecil sampai ia kehilangan perasaannya karena membunuhi orang membuat saya bertahan. Saya jadi merenung bahwa setiap orang membutuhkan orang lain untuk sekadar menyandarkan badannya sejenak. Pun hal itu dirasakan oleh Kenshin. Saat Tomoe harus direnggut dari sisinya, dunia Kenshin hancur berkeping-keping, tapi toh akhirnya ia bangkit kembali (kalau tidak, kita tidak akan bisa melihat Kenshin yang punya tanda X di pipinya, ehe).

Rurouni Kenshin Live Action
Oke, untuk yang versi orang saya belum pernah nonton, tapi melihat Kenshin dalam versi 'real time' (emang game?) ternyata membangunkan sesuatu dalam diri saya, hi hi. Dari beberapa komentar orang yang telah menontonnya, plot cerita awalnya sendiri banyak berubah. Ada beberapa tokoh musuh, seperti Makoto Shishio, tidak dimunculkan. Mungkin memang susah membuat tokoh yang dibalut perban ala mumi ini dalam versi orangnya. Takeru Sato, pemeran Kenshin, mampu mengangkat imej Kenshin sesuai dengan manga ataupun animenya. Info lebih jelas bisa langsung klik ke sini.


Something You Must Watch
Pecinta anime yang bukan sekadar pertarungan, boleh mencoba anime yang satu ini. Akan lebih baik jika menonton serinya terlebih dahulu, baru OVA-nya sehingga perbedaan mencolok antara terang dan gelap dapat dirasakan. Begitu juga perubahan hati Kenshin.

Pada akhirnya, semua orang tetap menyimpan cahaya di dalam dirinya, hanya saja kadang cahaya itu tersamar oleh kegelapan yang begitu mencekam....

Tulisan ini dibuat dalam rangka Nna's Giveaway.

Petuah Mama Pus

Setelah bertahun-tahun memelihara pus (dan tergila-gila), untuk pertama kalinya saya bikin tulisan khusus tidak penting soal hewan yang minta diuwel-uwel itu :)

Saya suka kucing. Saya tidak akan meyangkal hal itu. Entah berapa kali mereka 'menolong' saya dalam menjalani hidup ini. Saat saya sedih atau gembira, selalu ada pus-pus di dalam hidup saya. Mereka mungkin datang dan pergi, tapi hampir semua pus mendapat tempat di hati saya.

Nah, cerita soal kitten aka anak pus, saya ada sedikit kekesalan. Ya, saya kesal sekali pada orang-orang yang seenaknya membuangi anak kucing mereka begitu sang induk melahirkan. Halooo, anak kucing itu kurang lebih sama seperti anak manusia. Saat mereka masih bayi, mereka tetap butuh kasih sayang ibunya. Mereka belum mampu berdiri sendiri ....

Kucing-kucing betina saya begitu menyayangi anaknya. Mereka juga merasakan baby blues, terutama para induk yang baru pertama kali beranak. Tapi, saya dapat merasakan betapa besar kasih sayang seorang induk kucing. Cara ia memanggil anak-anaknya begitu khas. Pernah pus saya 'menghilang' beberapa saat dan kembali dengan membawa seekor ikan utuh entah dari mana (untuk empunya ikan, semoga kau merelakan ikanmu) untuk diberikan pada anak-anaknya. Ia lalu hanya duduk mengawasi anak-anaknya sedikit rusuh saat memperebutkan sang ikan. Ada juga  masa-masa saya berulang kali memindahkan bayi pus dari tempat tidur atau lemari pakaian saya karena sang induk berusaha mencari tempat yang nyaman bagi anak-anaknya.

Oke, abaikan bagian di atas. Dari sekian banyak foto pus yang sangat, sangat cute, saya memilih yang ini:

Hanya satu pesan Mama Pus: Dua anak cukup. Jangan lupa KB. Okeh?

Miaw-miaw ini diikutkan di Cat's Giveaway by AHc


Rabu, 03 April 2013

Mengerti Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa


Di tengah serbuan bernuansa Korea di rak buku saya, ada beberapa buku yang mengambil seting di bagian lain Bumi ini, salah satunya Kastil Es dan Air Mancur yang berdansa. Ditulis oleh Prisca Primasari yang saya kenal sebagai editor salah satu buku kesukaan saya. Nuansa Rusia dan Prancis yang kental di kover buka membuat saya penasaran.

 Penulis; Prisca Primasari
Terbitan: Gagasmedia

Sinopsis
Vinter
Seperti udara di musim semi,
kau begitu gelap, muram, dan sedih.
Namun, pada saat bersamaan, penuh cinta
berwarna putih. Bagaikan salju di Honfleur yang
berdansa diembus angin ....

Florence
Layaknya cuaca pada musim semi,
kau begitu terang, cerah, dan bahagia.
Namun, pada waktu bersamaan, penuh air mata
tak terhingga. Bagaikan bebungaan di Paris
yang terlambat berseri....

Merasa kedua orangtuanya kelewatan karena menjodohkannya dengan seorang pria yang bahkan tidak Florence kenal, gadis itu memilih melarikan diri di hari pertemuan mereka. Karena kecerobohannya, Florence malah terlibat masalah dengan seorang pria bernama Vinter Vernalae di SaintLazare, Prancis. Akhirnya, Florence malah menjadi penyelamat Vinter dengan mengadakan pertunjukan tunggal di hadapan Zima, sahabat Vinter yang pemarah. Florence tidak memungkiri kalau ia menyukai Vinter dan pria itu pun merasakan hal yang sama. Hanya saja, Vinter telah memiliki seorang wanita yang menunggunya .... Apakah cinta Florence harus kembali kandas seperti sebelumnya?

Lambat. Itulah yang saya rasakan saat membaca novel ini. Dibuka dengan manis dan menarik, saya harus misuh-misuh saat alur cerita melambat secara signifikan yang berbanding lurus dengan kecepatan saya membaca. Saya semakin malas membaca mendekati setengah halaman dan nyaris baca sekilas-sekilas mendekati akhir. Sayang sekali karena dengan pembukaan yang cukup menggugah perhatian saya, entah kenapa alurnya jadi pelan-pelan begitu.

Setelah menceritakan mengenai apa saja yang dilakukan Florence dan Vinter di kediaman Zima, dikejar-kejar sobat Florence, Celine, dan kembali pulang, alur tiba-tiba melonjak maju dengan kecepatan meningkat drastis sehingga hal-hal mendetail yang bertaburan di bagian awal langsung lenyap begitu saja.

Kisah awal cinta antara Florence dan Vinter yang berlangsung selama, mungkin, 3 hari kurang terasa bling-bling-nya. Setidaknya saya menginginkan sesuatu yang mengguncang yang mampu membuat Florence jatuh cinta dan begitu juga sebaliknya. Bukan hanya sekadar ‘ada sesuatu di diri dia’, tapi sesuatu yang lebih nyata. Kisah cinta Florence dan Vinter pun terasa tidak ada halangan berarti...

Seperti juga alurnya yang mengalir tenang dan nyaris tidak ada konflik berarti, saya terpana membaca ‘penyelesaian’ cerita ini. Pada akhirnya, semua kembali pada kebetulan takdir. Ternyata ujungnya kembali pada Monsieur dan Madame Leroy.... *sigh* Akan lebih baik (untuk saya) jika Vinter dan Florence murni tidak memiliki hubungan apa-apa di balik segala kisah cinta mereka. Mungkin hal ini dapat memberi sedikit gejolak pada arus cerita yang terlalu tenang ini.

Saya juga merasakan karakter Florence maupun Vinter terlalu sempurna. Florence, seorang siswa seni yang ‘biasa-biasa saja’, entah bagaimana mampu menampilkan pertunjukan lengkap seorang diri yang mampu membuat Zima si pemarah menyimpan secuil kekaguman. Vinter sendiri, yang memiliki masa lalu kelam, terlalu cool dan ‘tinggi’ untuk digapai. Yah, untuk saya mereka kurang manusiawi.

Dengan kover bernuansa Prancis dan Rusia, saya kurang merasakan kedua negara itu di dalam cerita walaupun Prisca mampu memasukkan beberapa hal yang menandakan bahwa seting ceritanya ada di negara barat ini. Sayangnya (lagi), saya tidak bisa benar-benar menangkap apa maksud judul ‘Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa’ ini. Tentu kalau dikait-kaitkan, ada hubungannya dengan isi cerita. Tapi, apa yang ingin disampaikan sesungguhnya apa masih kabur di benak saya.

Walau begitu, seperti khas novel Gagas (belakangan ini) lainnya, novel Prisca ini dikemas dengan cantik. Nuansa birunya meneduhkan. Tata letak bagian dalamnya juga cukup menarik dengan adanya tambahan ornamen-ornamen. Hanya saja, saya merasa ukuran huruf yang digunakan cukup besar. Mungkin maksudnya agar jumlah halamannya agak tebal? Pengeditannya juga cukup baik walaupun ada beberapa halaman yang sepertinya lolos pemeriksaan.

Mungkin saya adalah seorang Snegurochka saat  membaca novel ini. Apa yang saya baca meleleh menjadi aliran air yang lenyap begitu saja saat selesai membacanya... Lalu, sebenarnya apa itu Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa selain sebagai judul gubahan-apalah-itu-saya-lupa? Mungkin hanya saya saja yang tidak menangkap maksudnya....

Kamis, 28 Maret 2013

Lebih Dekat dengan Kampung Fiksi

Kampung Fiksi (KF) apaan, sih?

Oh, ya, pertanyaan itu tercetus dulu. Sekarang juga masih terlintas sesekali, he he. Yang dulu saya kira, sesuai namanya, KF itu kurang lebih kuanggap sebagai komunitas penulis. Saya tidak tertarik untuk bergabung karena saya belum menemukan passion-ku sebagai penulis. Namun, sejak berteman dengan salah satu founder-nya (sebut nama nggak, yaaa), saya jadi sering melihat informasi mengenai KF wara-wiri di linimasa saya. Lama-lama, pertahanan saya jebol juga :)

Anyway, saya tetap belum aktif mengikuti kegiatan-kegiatan KF baik yang daring atau luring. Walau begitu, tetap menyenangkan mengikuti perkembangannya. Salah satu ide yang menarik perhatian saya adalah event #PostCardFiction. Sejujurnya, saya kurang tahu detail mengenai acara ini (memang tidak mencari tahu banget, sih), tapi ide menggunakan kartu pos sebagai media penulisan merupakan salah satu terobosan keren. Apalagi, KF berhasil bekerja sama dengan Smartfren. Saya lihat antusiasme peserta cukup bagus *sok tahu mode on*

Diam-diam (sekarang sudah terbongkar!) saya juga suka intip-intip tips nulis yang dibagikan. Walau belum berani bertanya (halah), tapi informasi yang saya dapat memang cukup bagus. Dan saya tidak perlu membeli buku untuk mendapatkan tips yang bisa langsung diterapkan itu.

Nah, buat saya yang menjadi masalah adalah... blog KF sendiri. Buat saya: membingungkan. Pertama, pilihan menunya cuma Home dan Store. Saya agak kesulitan dan malas scroll down mencari postingan yang ingin saya baca. Ditambah lagi pembagian kolomnya yang imut-imut seakan membuat saya membaca dari HP. Tulisan latar belakang KF berwarna keunguan hijau kebiruan juga mengganggu saat saya membaca karena mata saya kerap kembali memelototi huruf-huruf itu dibandingkan postingannya itu sendiri. Lalu, saya gregetan sendiri melihat kolom kanan dan kiri kemudian jadi kosong setelah bacaan makin ke bawah.... Lalu, untuk bagian kalimat yang mengandung tautan ada baiknya warnanya dibedakan biar kita tidak usah menebak-nebak sambil menggerakkan kursor tetikus.

Oh, ya, satu lagi... Kegiatan KF yang saya suka adalah Travelling Book Campaign. Salah satu buku saya sudah menjelajah walau sepertinya sepi peminat :) Saya pribadi belum kecipratan dapat pinjaman dari TBC karena masih menunggu giliran, tapi idenya seru banget. Selama ini saya sudah melakukan acara barter pinjam buku, tapi terbatas pada sahabat-sahabat saya. Namun, TBC seakan menjadi wadah yang lebih besar bagi peminat buku dengan kocek terbatas. Salut. (Nah, karena memang belum berpengalaman tentang TBC, jadi tidak usah dibahas lebih lanjut lagi). Saran saja, mungkin ada baiknya di grup TBC dibuat semacam list anggota dan buku miliknya yang diikutkan dalam TBC. Jadi, yang mau pinjam dan yang punya buku sama-sama jelas?

Apa tulisan ini bakalan memenangkan sebuah kaos dari kF? Entahlah, saya sendiri tidak yakin. Tapi, semoga masukan (dan kesan-kesan) saya ada gunanya ^__^

Ah, ada yang ketinggalan. Masalah hadiah. Walau sesama Jakarta, andaikan hadiah tidak bisa diambil, jangan hangus, dooong. Kenakan ongkos kirim saja. Soalnya kadang kita tidak bisa ambil karena satu dan lain hal, lalu hadiah yang kita terima jadi hangus, rasanya ... *terdiam* Yah, mungkin memang bukan rezeki, tapi melupakannya susah banget (padahal, saya juga belum pernah menang, sih, hi hi).

Maju terus, KF! Doain saya bisa lebih aktif ngintip blognya diam-diam, ya ^__^