Photobucket

Selasa, 07 Mei 2013

Saat Pus Meminta 'Jangan Panggil Aku Kitty'


Judul : JANGAN PANGGIL AKU KITTY
Penulis : SAMSAIMO PARAMINA
ISBN : 978-602-7724-34-1
Terbit : Maret 2013
Penerbit : FLASH BOOKS – DIVA PRESS
Tebal : 188 halaman (14 x 20 cm)
Sampul : Hard Cover
Harga : Rp. 32.000,-
Sinopsis: “Sekarang aku bukan milik siapa-siapa. Kuhirup udara kebebasan begitu segar aromanya. Kapan aku harus pergi, berdiam diri, makan, bercengkerama, bercanda atau bertualang terserah hatiku.” 
Kitty memutuskan pergi dari rumah Mbak Dinik setelah melihat seekor kucing ras menggantikannya. Tekadnya untuk hidup liar dan bertualang sudah bulat. Ia pun mengganti namanya dengan Hitam, seperti warna bulunya yang legam. Menurutnya nama Kitty hanya pantas untuk kucing nan imut saja. 
Kehidupan liar yang keras membuat Hitam harus bersitegang dengan kucing lain untuk berebut makanan dan daerah kekuasaan. Hingga akhirnya ia berteman dengan empat ekor kucing penghuni Pasar Nongko. Sayangnya pasar itu akan direnovasi sehingga para tikus mulai pergi. Hitam dan teman-temannya pun kesulitan berburu tikus.
Bagaimana petualangan Hitam selengkapnya? Mampukah ia bertahan dalam kerasnya kehidupan di jalanan?
Simak novel unik bersudut pandang kucing ini! Diwarnai dengan kisah cinta dan persahabatan membuat petualangan si Hitam semakin seru, kocak, dan menarik.

Sebagai seorang penyuka kucing, novel ini cukup menarik perhatian saya. Terutama karena kovernya menggunakan gambar kucing, bukannya foto seperti yang umumnya saya temukan. Ekspresi si pus begitu sedih sehingga saya penasaran apa yang akan disampaikan oleh penulis melalui bukunya ini.

Secara garis besar, novel Jangan Panggil Aku Kitty bercerita mengenai Kitty yang mengganti namanya menjadi Hitam ketika ia memutuskan menjadi kucing liar dan bukannya pus peliharaan Mbak Dinik lagi. Perjalanan Hitam sebagai kucing liar membuatnya bertemu dengan berbagai hewan lain, manusia, juga peristiwa-peristiwa yang tidak akan ditemuinya jika ia tetap tinggal di kediaman Mbak Dinik.

Novel ini menggunakan sudut pandang aku sebagai si Hitam. Ide ceritanya cukup menarik karena jarang sekali novel yang menggunakan tokoh utama sebagai seekor binatang. Sayangnya, saya tidak dapat menangkap apa yang sebenarnya akan disampaikan oleh si Hitam baik sebagai inti cerita maupun pesan moral yang akan disampaikan. Mungkin Hitam ingin menyampaikan kalau klenik itu tidak baik. Tapi, Hitam sendiri tidak memberikan solusi apa pun mengenai hal klenik ini. Atau mungkin Hitam ingin menunjukkan bahwa persahabatan itu lebih penting daripada cinta kepada pasangan atau majikan?

Sebagai seekor kucing rumahan yang terbiasa hidup enak, jalan liar yang dihadapi Hitam tidaklah sesulit yang seharusnya ia alami. Walau beberapa kali mendapatkan masalah kecil, dengan cepat juga Hitam mendapatkan solusinya. Bahkan ia dengan mudah mengingat jalan ke Taman Balekambang atau ke Pasar Nongko. Hitam pun dengan mudah mengalau kucing garong walau sedikit terluka, sampai-sampai ia diangkat menjadi 'ketua geng'. Hitam pun digambarkan terlalu baik. Ia bukan tipe kucing nakal yang iseng mencuri ikan para pedagang atau kecentilan menggoda betina lain. Karakter Hitam menjadi begitu membosankan dan tidak menarik. Andaikan Hitam lebih sedikit kucingwi (kok, nggak seenak kedengarannya seperti manusiawi?) mungkin akan membuat cerita keseluruhan lebih hidup.

Saya juga melihat ketidakonsistenan pada pengetahuan Hitam. Di satu pihak, Hitam mengaku kalau ia pus rumahan yang belum mengenal dunia liar. Tapi, di sisi lain, ia seakan sudah mengerti seluk beluk kehidupan seekor kucing liar. Ia juga mengaku tidak dapat membaca tulisan manusia, namun bagaimana ia bisa tahu bahwa logo yang tertera di poster adalah lambang paguyuban pasar? Saran-saran yang diberikan Hitam pada teman-temannya juga seharusnya adalah saran berdasarkan pengalaman seorang kucing yang sudah merasakan asam garam kehidupan kucing liar. Yang lebih aneh lagi, bagaimana seekor kucing seperti Hitam mengerti soal teror bom atau istilah cat woman?

Jika melihat kover dan judulnya, saya sempat berpikiran kalau target pembaca novel ini adalah remaja. Namun, saya salah karena novel satu ini juga memuat konten yang buat saya cukup dewasa dan tidak cocok dibaca oleh manusia-manusia yang belum cukup umur.

Kovernya sendiri cukup menarik seperti yang sudah saya singgung sebelumnya. Namun, setelah membaca buku ini, saya bingung kenapa Hitam digambarkan begitu sedih? Padahal, saya tidak merasakan kalau Hitam merasakan kesedihan yang sangat atau mungkin sebuah kehilangan. Hal ini membuat tampilan kover secara keseluruhan menjadi suram, padahal (lagi-lagi) warna-warna yang digunakan sudah cukup cerah. Mutu gambar motif polkadot di bagian bawah kover juga terlihat pecah alias low res sehingga untuk saya merusak keseluruhan kover (lagi). Hal lain yang cukup mengganggu saya salah cuplikan paragraf yang tersebar acak di seluruh buku. Bagian itu benar-benar membuat keasyikan saya membaca ternodai karena saya tidak melihat pentingnya ada cuplikan itu. Dan, menurut saya, akan lebih cantik kalau nomor halaman diberi motif cakar kucing, bukannya bentuk lingkaran yang tidak beraturan dan tidak jelas maksudnya.

Walau begitu, saya salut pada Samsaimo Paramina yang berani mengangkat sesuatu yang berbeda ke dalam bentuk novel. Salut juga pada Divapress yang berhasil mengemas novel ini menjadi sebuah bacaan menarik dengan kesalahan ketik yang sangat, sangat minimalis.

Untuk sebuah kisah perjalanan kucing, yang dituturkan oleh seorang manusia dalam wujud kucing (ya, saya lebih merasa kalau Hitam adalah seorang manusia, bukannya seekor kucing), saya hanya dapat memberikan tiga bintang dari lima untuk novel Jangan Panggil Aku Kitty. Andaikan alur dan penokohannya dibuat lebih kuat, saya yakin novel ini layak masuk ke jajaran rekomendasi.

Tulisan ini diikutsertakan dalam kuis berhadiah novel karya Samsaimo Paramina di fans page Arga Litha.
Jangan lupa ikuti kuisnya di sini.

Rapid Fire Question


Horeee, kena tag Raven @coffeewing :)

Ceritanya daku disuruh jawab pertanyaan2, nih. Ada dua jenis: pertanyaan wajib ama pertanyaan dari Rave aka org yg ngetag daku.


Pertanyaan Wajib:

1. nambah atau ngurangin timbunan (buku)?
2. pinjam atau beli buku?
3. baca buku atau nonton film?
4. beli buku online atau offline? (tobuk yg temboknya bisa disentuh)
5. (penting) buku bajakan atau ori?
6. gratisan atau diskonan?
7. beli pre-order atau menanti dgn sabar?
8. buku asing (terjemahan) atau lokal?
9. pembatas buku penting atau biasa aja?
10. bookmark atau bungkus chiki?

Pertanyaan Wajib:
1. nambah atau ngurangin timbunan (buku)?
Dua2nya walau laju keduanya bagaikan aku dan Lee Min Ho, berbeda jauh! Untuk sementara berhasil mengurangi jumlah timbunan yang datang setiap bulan, tapi suka gagal begitu ada bursa baik via OL atau offline huhu.

2. pinjam atau beli buku?
Beli. Soalnya sayah suka nunda2 baca buku smp tamatlah, smp ada waktulah, bla bla. Tp skrg terkadang saya barter pinjam jg untuk kalangan terbatas. Nah, buku yg dibeli ini bisa dijual lagi kapan2...

3. baca buku atau nonton film?
Baca buku. Pokoknya tiap kali ada waktu luang diisi ama baca buku. Nonton film, apalagi yang di bioskop, cuma kalau dapat tiket nobar :p

4. beli buku online atau offline? (tobuk yg temboknya bisa disentuh)
Online. Beli di tobuk dekat rumah nggak ada yg dapat diskon, jd rugi banget. Mana harus keluar ongkos dan ada kemungkinan terjebak macet, huhu.

5. (penting) buku bajakan atau ori?
ORI, dong. Buete abis baca bajakan yang mutunya pas-pasan semua. Kalaupun ada beberapa buku bajakan di rumah itu biasanya dikasih atau dapat harga super murah cuma buat dibaca sekilas. Biasanya habis itu aku kasih orang aja soalnya pundung :p

6. gratisan atau diskonan?
Keduanya. Kalau ada gratisan, akan usaha dulu biar dapat. Tp khusus buku baru akan bela-belain cari yang dapat diskon. Ga rela banget beli buku tanpa diskon kecuali kepepet abisss. << Salah satunya adalah demi ikutan PAPR Elex, nyahaha~~~

7. beli pre-order atau menanti dgn sabar?
Menanti dengan sabar. Buat apa PO? Toh aku ga bakalan sempat baca secepatnya secara tumpukan buku itu masih aja menjulang... Lagipula PO itu diskonnya dikit, ga sebanding ama bonusnya *lho*

8. buku asing (terjemahan) atau lokal?
Sama aja, mana yang bagus diembat, yang jelek kuhujat. Kualitas buku terjemahan atau lokal kurleb sama, kok. Ada yg bagus dan ada juga yg pas2an. Lagipula, kualitas penulis lokal juga terus meningkat.

9. pembatas buku penting atau biasa aja?
Penting. Jangan sampai ngelipat buku (kecuali khilaf). Aku lebih milih mengingat nomor halaman kalau emang nggak ada pembatas. Manfaatkan segala hal untuk menjadi pembatas buku selama memungkinkan.

10. bookmark atau bungkus chiki?
Apa hubungan bookmark atau bungkus chiki ya *lugu* Bungkus chiki ga cocok buat bookmark dan bookmark ga bisa dicamil... #plak

Yang ini pertanyaan tambahan dari Raven:

1. Buku tebal atau tipis?
No problemo asal tebalnya mungkin ga lebih dari 600 halaman kali ya. Selama ini nggak pernah baca buku yang terlalu tebal. Selama bukunya asyik diikutin tebal juga nggak apa. Tapi kalau tebal males dibawa2, berat...

2. panah atau pedang?
Pedang. Kalau panah ga bisa dipakai lagi. Nyari panah yg melesat bisa2 ngabisin waktu... Tp kalau ada buku, aku pilih buku ajah.

3. makan sambil baca atau makan sambil nonton?
Makan sambil baca. Soalnya sebagian besar kegiatanku baca, jadi ya... begitulah :p Tentu aja harus ekstra hati2 biar ga nangis darah. Jd kadang hrs liat dulu jenis makanannya biar ga penyesalan di akhir.

4. hobbit atau peri-rumah?
Hobbit. Jd kedudukan dia itu teman (yg bs disuruh2?).

5. London atau New York?
Di rumah ajaaa... Di London atau NY ga ada yg menarik. Atau aku belum googling? Pilih NY aja soalnya tukar rupiahnya lebih murah? << cara milih dudul ahahaya.

Oke, sekarang aku mau tag:
Ria Tumimomor @riatumimomor
Dalina @micimochi
Tha Arha @ArthaAmelia
Ain @yuki_yuchan
Woro @woro2

Jawab pertanyaan wajib di atas plus yang ini ya:
1. novel atau komik?
2. disampul atau nggak?
3. notes FB atau blog?
4. kover atau sinopsis?
5. dijual atau disumbang?

Jawabnya di blog atau notes FB aja, tp jgn lupa tinggalin linknya di bawah ya ^^

Minggu, 05 Mei 2013

Membasmi Roh Jahat bersama Nube

Nube dan Tangan Setannya
Mungkin komik paling fenomenal yang pernah diterbitkan oleh M&C! adalah Nube, Si Guru Ahli Roh. Pertama kali terbit (mungkin) sekitar sepuluh tahun lalu (saya yakin lebih dari itu), komik ini belum tamat juga sampai sekarang walaupun status di Jepang sudah sangat lama tamat. Dan karena berbagai hal, status komik ini termasuk 'langka' dalam jajaran online shop sehingga bandrol harganya tidak kira-kira. Ada kisikan yang bilang mencapai satu juga rupiah! Wuih.

Anyway, komik ini bercerita mengenai Nueno, yang akrab dipanggil Nube, seorang guru SD yang tangan kanannya selalu memakai sarung tangan. Tentu saja ada alasan di balik sarung tangan ini: tangan Nube adalah tangan setan yang mampu 'mengamankan' roh halus kembali ke alamnya. Dan seperti rata-rata cerita hantu, orang yang memiliki kekuatan roh akan memanggil para roh mendekat, SD tempat Nube mengajar juga menjadi incaran para roh halus, yang baik maupun jahat. Seperti Conan yang kerap menemukan kasus ke mana pun ia pergi, Nube pun juga harus berhadapan dengan roh-roh halus ini hampir setiap saat. Apa rahasia kelam yang ada di balik tangan setan Nube ini?

Sejujurnya, komik ini sangat menarik untuk diikuti. Hantu-hantu yang muncul di volume-volume awal didominasi hantu Jepang yang sebagian besarnya berhasil digambarkan cukup mampu membuat saya ketakutan sendiri. Lama kelamaan, hantu-hantunya mulai 'melempem', ceritanya juga tidak terlalu penting untuk diikuti. Walau begitu, di antara cerita yang tidak terlalu penting itu, muncul cerita rahasia di balik tangan setan Pak Nueno yang berhubungan dengan masa kecil beliau dan guru kesayangannya. Tentu saja, rahasia yang menyangkut tangan setan ini bukanlah kenangan indah yang dapat kau kenang selamanya.

Salah satu contoh
penokohan yang terlalu
seksi ^^
Masalahnya, sasaran komik ini mungkin salah. Walaupun tokoh-tokoh di komik ini masih berusia SD, namun penggambaran tubuh dan sifat mereka melebihi seorang anak SD (atau saya saja yang ketinggalan zaman). Belum lagi fan service yang bermunculan di mana-mana. Entah memang di Jepang komik ini termasuk  untuk dewasa sehingga kental nuansa ecchi-nya atau memang M&C! yang tidak mengantisipasi mengenai hal ini, Nube si Guru Ahli Roh untuk saya tidak cocok dibaca usia 17 tahun ke bawah karena konten dewasa ini. Sayang sekali, andaikan gambarnya lebih sopan, komik ini akan menjadi 'aman', tentu saja harus dengan pengawasan orang tua karena banyaknya siluman yang muncul dan dapat membuat anak-anak yang belum mengerti kebingungan dan ketakutan.
shonen

Contoh halaman dalam
Nube volume 9
Karena kasus konten gambar dewasa inilah, maka Nube volume 9 tidak pernah beredar di pasaran. Yah, tentu saja ada kasus orang dalam yang mengeluarkan beberapa eksemplar Nube 9 sehingga harga komik menjadi sangat selangit. Alasannya kemungkinan karena munculnya siluman putri duyung yang topless dan tentu saja melanggar etika kesopanan di sini :)

Dari beberapa komik awal Nube, terasa kalau tehnik penyensoran gambar-gambarnya terlihat kasar, namun seiring bertambahnya usian M&C! dan jumlah volume Nube, penyensoran susah semakin baik. Jangan lupa, rating D juga harus dicantumkan di kover komik (atau memang sudah, tapi saya tidak memerhatikan?). Selain itu, jangan lupa cantumkan sinopsis di belakang kover karena walau saya sering melewatkannya, tapi tetap saja menjadi acuan untuk membuat pembaca tidak sabar untuk membacanya.

Saya berterima kasih kepada M&C! yang tetap meneruskan menerbitkan komik Nube walaupun memakan waktu bertahun-tahun. Semoga komik-komik 'macet' lainnya juga bernasib sama seperti Nube, tetap lanjut diterbitkan sampai tamat.

Tulisan ini diikutsertakan dalam merayakan ulang tahun M&C yang ke-10.


Janji Masa Lalu; Till We Meet Again


Judul : Till We Meet Again
Penulis : Yoana Dianika
Jumlah Halamanan : 298 hlm
Ukuran : 13 x 19 cm
Harga : Rp40.000
ISBN : 979-780-500-X

Sinopsis:
Saat pertama kali aku melihat dia hari itu, aku sudah berbohong beberapa kali.

Aku bilang, senyumannya waktu itu tak akan berarti apa-apa. Aku bilang, gempa kecil di dalam perutku hanya lapar biasa. Padahal aku sendiri tahu, sebenarnya aku mengenang dirinya sepanjang waktu. Karena dia, aku jadi ingin mengulang waktu.

Dan suatu hari, kami bertemu lagi. Di saat berbeda, tetapi tetap dengan perasaan yang sama. Perasaanku melayang ke langit ketujuh karena bertemu lagi dengan dirinya. Jantungku berdetak lebih cepat seolah hendak meledak ketika berada di dekatnya. Aku menggigit bibir bawahku, diam-diam membatin, “Ah, ini bakal jadi masalah. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta kepadamu.”

Apakah aku bisa sedetik saja berhenti memikirkan dirinya? Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku jatuh cinta, tetapi ragu dan malu untuk menyatakannya.

I wish dreams were wishes, and wishes came true, because in my dreams I’m always with you.

Elena Sebastian Atmadja, gadis blasteran Indonesia-Austria, mendapatkan beasiswa belajar musik di Austria. Elena tidak sekadar mengejar cita-citanya menjadi pemain biola profesional di Austria, ia juga mencari cinta pertama yang pernah dijumpainya di Istana Schonbrunn. Sempat menghabiskan masa kecil di Wina karena sang ibunda, Esther, violinis terkenal. Elena terpaksa meninggalkan Wina saat sang ibunda meninggal untuk kemudian tinggal di Bandung, kampung halaman sang ayah. Delapan tahun kemudian, di Austria, Elena bertemu dengan dua orang cowok yang mampu menggetarkan hatinya itu. Apakah salah satu dari kedua cowok itu adalah cinta pertamanya itu?

Let the love go. When it comes back, then it's yours forever and if It doesn't, means it wasn't meant to be ...

Cerita dibuka dengan cukup menarik, sehingga saya berharap cukup banyak dengan lanjutan di halaman berikutnya. Apalagi membaca keterangan bahwa novel ini adalah juara 3 dari lomba 100% Roman Asli Indonesia yang diadakan oleh penerbit Gagas Media. Ditunjang dengan kover yang sederhana, tapi menarik perhatian, tidak heran kalau espektasi saya begitu tinggi. Belum lagi rating di Goodreads yang cukup tinggi, plus puja-puji para pembaca.

Sayangnya, saya berbeda pendapat.

Salah satu kekurangan novel lokal (saya sengaja mempersempit agar tidak membandingkannya dengan penulis luar) adalah faktor kebetulan yang kental. Bagaimana tidak? Semua masalah yang dihadapi Elena selesai dengan 'keajaiban kebetulan' ini. Misalkan saja, cowok yang menjadi cinta pertamanya itu ternyata ada di dekatnya sejak awal. Model Austria yang kebetulan berdarah campuran Indonesia satu pesawat dengan Elena. Seakan masih belum cukup, si model ini menjadi pengganggu dalam kisah cinta Elena. Oh, please .... Memang betul dunia ini sempit dan kebetulan bertaburan di mana-mana, tapi rasanya kalau muncul berkali-kali jadi terasa janggal.

Semua karakter yang muncul di novel ini bisa saya katakan terlalu sempurna, baik Elena, Chris, atau Hans. Mereka sudah diplot sejak awal bertemu di sekolah musik yang sama, ditambah lagi satu gedung apartemen, dan kalau masih dirasa kurang, kamar mereka saling berhadapan. Cowok-cowok ganteng dan terkenal seperti Chris atau Hans tidak sulit jatuh cinta pada Elena yang lugu, cantik, pintar, jago main biola pula. Dan karena kesempurnaan Elena ini, tidak heran kalau tokoh utama kita juga dibenci cewek yang mengincar Chris atau Hans yang mendadak hanya tergoda pada Elena.

Walau begitu, saya salut dengan riset yang dilakukan Yoana dalam penulisan novel ini. Ia berhasil memasukkan unsur-unsur Austria sehingga tidak terkesan tempelan. Walau Wina cukup terkenal, belum banyak anak bangsa yang mengangkat seting negara ini dalam ceritanya. Namun, hal ini juga yang membuat saya bertanya di mana '100% Roman Indonesia"-nya? Pertama, nama Elena sendiri tidak berbau Indonesia. Kedua seting cerita didominasi dengan lokasi di luar Indonesia dengan cowok-cowok yang bukan pribumi juga. Mungkin satu-satunya (oke, dua-duanya) yang menunjukkan Indonesia hanya nama keluarga Elena dan kota Bandung yang muncul di awal cerita.

Sayangnya (lagi), terkadang Yoana salah menempatkan proporsi pendeskripsian sesuatu di novel ini. Misalnya saja deskripsi tentang fisik tokoh yang muncul. Saya rasa tidak perlu dijelaskan panjang lebar karena kita cukup tahu ciri-ciri umumnya saja. Di lain bagian, Yoana malah kurang mendeskripsikan adegannya sehingga saya tidak dapat membayangkannya dengan jelas.

Konflik yang ditawarkan pun tidak ada yang baru. Ada dua orang cowok yang sama-sama tertarik pada cewek yang sama. Ada orang ketiga yang merasa sebal karena orang yang ditaksirnya malah mengincar cewek lain. Ada kasus 'bullying'. Mungkin yang memberikan warna berbeda adalah cara bertutur Yoana yang mengalir dan enak dibaca. Andaikan orang lain yang menulis buku ini, mungkin saya akan berhenti membaca di tengah-tengah buku.

Saya sedikit terganggu dengan kesalahan ketik yang muncul di novel ini, termasuk jenis font yang berubah di tengah-tengah paragraf dan tidak terjadi hanya sekali dua. Apakah Gagas Media dikejar tenggat sehingga hal-hal ini lolos dari pengawasan? Belum lagi nama Chris dan Hans yang kerap bertukar peran.

Sejak awal, saya sudah dapat menebak alur dan akhir ceritanya. Yang sama sekali di luar dugaan adalah begitu banyaknya kebetulan tadi. Dengan segala kekurangan buku ini, tapi ditolong dengan kelebihannya, saya hanya dapat memberikan 2 bintang dari 5.

Selasa, 30 April 2013

Seseorang yang Kau Panggil 'Sahabat'

Sejujurnya, kalau ditanya siapa sahabatku, yang terpikir adalah Allah dan Mama. Namun, untuk tulisan kali ini saya sengaja tidak mengangkat keduanya karena saya ingin mendedikasikan tulisan ini untuk seorang teman yang pertemuan kami bisa dihitung dengan jari, tapi ia selalu ada di sana untuk saya.

Oke, bagian 'ia selalu ada di sana untuk saya' terasa berlebihan. Jadi, abaikan saja :)

Namanya Donna. Saya mengenalnya melalui sebuah milis. Saat itu saya hanya berinteraksi biasa dengannya, sampai suatu saat saya melayangkan SMS menanyakan daftar buku apa yang ia titip pada saya untuk dibeli. Apakah hubungan kami menjadi dekat di sini? Tidak. Saya hanya tahu kalau Donna akan menikah, sehingga saat saya ke kota tempat tinggalnya, saya hanya menyelipkan selembar uang sebagai angpau karena tidak dapat hadir ke acara suci itu. Apakah hubungan kami menjadi dekat di sini? Tidak juga.

Bila saya ingat, saya dan Donna mungkin tidak bisa dibilang benar-benar sahabat. Kami hanya sekadar say hi via media sosial atau YM. Sesekali ia mengirimkan paket untuk saya atau sebaliknya. Namun, Donna menjadi tempat curhat saya selain Mama. Bahkan ada beberapa hal yang hanya saya ceritakan pada Donna. Walau begitu, tetap saja saya tidak merasa kami benar-benar bersahabat. Dalam rentang sepuluh tahun pertemanan kami, saya hanya bertemu Donna sebanyak TIGA kali. Sekali saat kami menghadiri sebuah undangan pernikahan, yang kedua saat saya berkunjung ke rumahnya, dan yang ketiga saat ia datang ke Jakarta untuk bertemu dengan sebuah penerbit.

Pernah ada duri dalam hubungan saya dan Donna yang tidak jelas itu. Seperti dalam hubungan percintaan, ada orang ketiga dalam pertemanan kami. Sebut saja orang ketiga ini K. Awalnya K kenal dengan saya, lalu ia juga mengenal Donna karena bergabung dalam milis yang sama. Setelah K pindah ke kota kelahiran Donna, keduanya semakin dekat. Kontak saya dengan Donna berkurang walau tidak hilang sama sekali. Lalu, K 'lepas' dari kehidupan kami dan intesitas hubungan saya dan Donna meningkat kembali. Saya baru tahu kalau K yang akrab dengan saya itu menjelek-jelekkan saya di hadapan Donna. Teman saya ini sempat termakan omongan K dan menjauhi saya.

Kami sama-sama belajar bahwa ketulusan seseorang mungkin dapat disalahartikan. Kami juga belajar bahwa rasa percaya adalah sesuatu yang mahal harganya. Walau begitu, seorang teman yang berlabel 'sahabat' akan dapat melihat seseorang sesuai nilai sebenarnya, seperti Donna yang meragukan segala perkataan K dan memilih memercayai saya. 

Saat Papa meninggal, Donna hanya mengirimkan doa dan ucapan berbela sungkawa melalui media sosial. Pun begitu Ibunda Donna meninggal, saya hanya mengirimkan doa dan pelukan virtual melalui YM. Namun, kami sama-sama dapat merasakan kehilangan kami masing-masing dan tahu ada seseorang yang mau mendengarkan keluh kesah dan cerita kami di sela-sela kesibukan sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga.

Donna adalah penulis dan sudah banyak judul yang ditelurkannya. Jika saya meminta karya-karyanya secara percuma pun akan ia berikan. Namun, fungsi seorang teman baik a.k.a sahabat bukanlah seperti itu. Walau tidak dapat membeli semua karya Donna, sesekali saya membeli bukunya dengan uang saya sendiri. Ia pun tetap mengirimi saya satu atau dua judul bukunya jika ada stok.

Sesekali kami berbeda pendapat, sering kali kami berdebat. Tak terhitung berapa kali kami saling mengingatkan dan mencerahkan, tertawa atau menangis bersama (dari tempat berbeda atau secara virtual ^^).  Saya bukan sahabat terbaik Donna, Donna pun mungkin bukan sahabat terbaik saya. Namun, ada pertemanan yang tulus di antara kami. Walau terpisahkan jarak, kami tahu bahwa ada seseorang yang dapat kami labeli 'sahabat'.


"Sahabat itu adalah air, meskipun emas lebih berharga daripada air, tapi faktanya manusia lebih membutuhkan air melebihi emas"

Tulisan ini diikut sertakan dalam GA “Siapa Sahabatmu?” pada blog senyumsyukurbahagia.blogspot.com, hidup bahagia dengan Senyum dan Syukur.

PS. Maaf kalau saya tidak punya foto bersama Donna ^^

Minggu, 28 April 2013

[Blog Review Contest] Cantik dan Sehat bersama Pourvous



Sering kali manusia mengabaikan kesehatan tubuhnya dan baru menyadarinya sesudah terlambat. Jujur saja, saya termasuk di antaranya. Kulit menjadi salah satu yang tidak terlalu saya perhatikan, padahal kulit adalah pelindung tubuh dari paparan sinar matahari, angin, debu, dan partikel lainnya. Walau sudah sedikit terlambat, saya sedikit demi sedikit belajar untuk lebih menyayangi kulit saya, terutama setelah usia saya meninggalkan angka 20-an.

Mengenal Pourvous pertama kali di sebuah acara pameran tentang wanita wirausaha di bilangan Jakarta. Tentu saja saya sempat ragu untuk mencoba produk yang berhubungan dengan kulit karena kulit saya langsung memberikan reaksi bila tidak cocok. Nah, walaupun saya tidak terlalu merawat muka, saya selalu memastikan muka saya bersih, karena itu saya mengambil produk Strawberry in Heaven Body Cream Scrub.

Berdasarkan label di bagian belakang, produk Pourvous ini mengandung air terpurifikasi (aqua), paraffinum liquidum, minyak zaitun, polietilena, esktrak stroberi, asam stearat, gliserin, trietanolamina, minyak esensial, pewangi, carbomer, metilcloroisotiazolinona, dan metilisotazolinona.

Buah Merah yang Menyehatkan
Buah stroberi terkenal sebagai buah yang manis dan banyak digunakan sebagai perasa makanan. Bahkan, dikonsumsi secara langsung pun cukup enak. Stroberi sendiri mengandung Vitamik C, Vitamin K, mangan, asam folat, kalium, riboflavon, Vitamin B5, magnesium, dan omega-3. Kandungan tadi tentu saja banyak manfaatnya, terutama untuk kesehatan dan kecantikan. Bagi kesehatan kulit, stoberi dapat mengencangkan, menghaluskan, serta membuat warna kulit lebih cerah dan bersih.

Hijau Zaitun Banyak Manfaat
Produk Porvous ini juga mengandung minyak zaitun. Minyak zaitun diketahui mengandung Vitamin E yang cukup tinggi. Vitamin E sendiri bertugas merawat kulit dan merupakan zat antioksidan alami dalam tubuh, sehingga berguna untuk mengurangi serangan kanker. Minyak zaitun juga dapat menjadi solusi alternatif sebagai pelembat kulit. Banyak manfaat minyak zaitun untuk kecantikan didasari oleh banyaknya kandungan vitamin, seperti vitamin A, B1, B2, C, D, E, K, dan zat besi. Minyak zaitun juga mengandung asam linoleat. Asam linoleat adalah zat yang sangat baik untuk pelembab kulit karena mampu menjaga air menguap. Berkat kelembapan tersebut, elastisitas kulit akan terjaga sehingga meminimalisir munculnya keriput dini. Khasiat minyak zaitun lainnya adalah dapat digunakan untuk membersihkan wajah.

Yang menarik dari produk satu ini adalah keterangan berikut:
- Paraben Free   - Lanolin Free   - PABA Free
- Color Free   - Methanol Fragance Free
- No Animal Tested

Wah, ada beberapa hal yang belum saya ketahui, nih.

Paraben, Berbahaya atau Bermanfaat?
Paraben adalah kelompok bahan kimia yang digunakan sebagai pengawet dalam lotion, kondisioner, sampo, deodoran, bahkan bahan makanan dan minuman. Bahan ini terdaftar dengan nama antara lain: metillparaben, butilparaben, etilparaben, benzilparaben, isobutilparaben, dan propilparaben. Bahan ini juga dijual dengan nama kosmetik yang berbeda, termasuk Germaben II dan minyak liquiPar.

Sejak tahun 2000, berbagai studi telah menunjukkan bahwa paraben menampilkan aktivitas estrogenik. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa paraben terakumulasi pada jaringan kanker payudara. Meskipun banyak pihak yang mendukung penggunaan paraben mengklaim bahwa tubuh bisa memisahkan kimia yangg masuk ke tubuh, tetapi studi yang sama juga menemukan bahwa paraben terakumulasi dalam sel tumor dan tidak bisa dipisahkan/dihancurkan oleh tubuh. Juga telah dibuktikan bahwa paraben bertindak seperti estrogen dan terakumulasi dalam tubuh dan menyebabkan kanker reproduksi seperti kanker payudara, kandung kemih, dll). Bahkan The European Journal of Cancer Prevention melaporkan bahwa penggunaan produk yang mengandung paraben dan seringnya memakai deodoran ada kaitannya dengan awal mula terdiagnosanya kanker payudara. Sangat dimungkinkan jika paraben dan bahan kimia lainnya yang terkandung didalam produk perawatan tubuh dan kecantikan menjadi penyebab dampak negative pada kesehatan kita.

Apa itu Lanolin?
Fungsi utama lanolin secara alami adalah untuk melindungi wol dan kulit domba dari kerasnya iklim dan lingkungan. Lanolin juga banyak digunakan untuk melindungi kulit manusia. Lanolin mengandung ester rantai panjang, hidroksi ester, alkohol lanolin, dan asam lanolin. Pada tahun 1950, New York University Hospital menunjukkan bahwa sekitar 1% pasien menunjukkan reaksi alergi terhadap lanolin. Bahan satu ini sebenarnya alami, karena berasal dari hewan domba. Tetapi, bahan kimia yang digunakan untuk menghasilkan dan memproses lanolin ada yang berbahaya ada yang tidak, untuk lanolin, sebaiknya sama seperti gliserin, pastikan dari ternak organik atau diproses secara tradisional.

Mengenal PABA
PABA (Asam para-aminobenzoat) adalah senyawa kimia yang ditemukan dalam asam folat dan beberapa makanan seperti gandum, telur, susu, dan daging. PABA banyak digunakan sebagai sunscreen karena kemampuannya menahan sinar radiasi ultraungu terhadap kulit. PABA termasuk aman diaplikasikan terhadap kulit. Lalu, kenapa produk Porvous tidak mengandung PABA? Karena PABA dapat menyebabkan kerusakan ginjal, terutama bagi pemakai yang telah mengalami kerusakan ginjal.

Metanol, sang alkohol
Walau asal alkohol adalah dari fermentasi gula dari tanaman alami, tetapi untuk penggunaan di kulit mengakibatkan berbagai efek negatif, seperti mengikis lapisan minyak alami kulit, membuka lapisan asam mantel (lapisan asam kulit) dan menyebabkan kulit kita lebih rentan terkena bakteri, jamur, virus, zat karsinogenik (penyebab kanker), juga racun dari lingkungan. Alkohol juga membuat kulit menjadi lebih kering. Selain alkohol alami, alkohol juga terbuat dari propilena atau turunan minyak bumi. Yang satu ini bahkan bisa menyebabkan munculnya bintik-bintik coklat dikulit dan tanda-tanda penuaan dini.

Dari kesemua keterangan tersebut, salah satu yang paling saya kagumi adalah produk ini tidak dites kepada hewan. Saya termasuk pecinta hewan dan mengerti jika mereka butuh ‘dikorbankan’ demi manusia. Namun begitu, jika hal tersebut dapat dihindari, saya sangatlah menghormatinya.

Kulit kita sebenarnya berfungsi untuk melindungi tubuh dari berbagai macam hal, mulai dari polusi hingga kecipratan minyak panas, tapi kulit juga bisa menyerap semua hal yang ada d iatasnya. Yang lebih menakutkan lagi, ternyata bahan kimia yang keras/berbahaya jika terkena kulit yang sensitif atau kulit yang tipis, bisa menyebabkan berbagai macam reaksi mulai dari alergi hingga masuk dan membanjiri aliran darah Anda (sumber bloodstream.” Source: cnn.com/health)

Nah, semakin tahu kita bahan kimia berbahaya apa saja yang mungkin kita oleskan langsung kepada tubuh berserta efeknya, saya semakin yakin menggunakan Pourvous. Apalagi setelah mencoba sendiri, butiran scrub-nya mampu mengangkat kulit mati secara maksimal tanpa membuat kulit kering, juga meninggalkan wangi stroberi yang menenangkan. Dengan penggunaan yang hanya dua minggu sekali, produk ini juga termasuk irit sehingga dapat digunakan dalam jangka panjang.

Sudah terdaftar di Badan POM, tidak diragukan lagi bahwa produk-produk Pourvous pada umumnya aman untuk kita gunakan demi kesehatan kulit kita. Porvous juga mencantumkan data kontak yang cukup jelas, baik melalui telepon, SMS center, email, maupun webnya.

Banyak kemudahan dan tawaran menarik bagi Anda yang ingin memesan produk Pourvous langsung ke http://www.mypourvous.com/. Salah satu yang menggiurkan adalah bebas ongkos kirim ke seluruh pelosok Indonesia. Di tengah kenaikan biaya kirim, tawaran ini sangat menggoda, bukan?

Selamat mencoba dan bersiaplah tampil penuh percaya diri dengan kulit sehat berkat Pourvous!

Jumat, 26 April 2013

Sepuluh Tahun bersama M&C!

Komik Alto
(Sumber di2ekdoank.wordpress.com)

Ini adalah tulisan kedua saya mengenai M&C!

Catatan: Tulisan ini tidak disertai riset yang sangat mendalam. Jika saya menuliskan sesuatu yang tidak benar, harap beri tahu untuk saya betulkan.

Sepuluh tahun umur M&C! berarti sudah sepuluh tahun juga saya menjadi pembaca setiap komik-komik yang dikeluarkan oleh salah satu penerbit favorit saya ini :) Namun, bila ingatan saya tidak salah, saya sudah mengenal komik M&C! lebih dari sepuluh tahun. Ya, waktu itu belum ada label M&C! di sampul komiknya dan kebanyakan yang diterbitkan adalah karya Michiyo Akaishi. Teks maupun suara efek masih ditulis tangan. Tidak perlu khawatir komik ini sulit dimengerti karena terjemahan maupun teksnya sangat mudah dibaca dan dimengerti. Saat itu belum ada jadwal terbit seperti sekarang (mungkin sudah ada, tapi saya tidak tahu di mana mendapatkannya), sehingga saat saya ke toko buku, saya bagaikan mencari kotak harta dan berharap ada komik baru yang dapat saya beli dan baca. Apalagi kalau mengingat jumlah komik yang terbit lebih dari sepuluh tahun itu tidak sampai menghabiskan jumlah jari di satu tangan saya setiap minggunya.
Momoka, Si Cantik Buah Persik

Selain karya-karya Michiyo Akaishi, ada salah satu komik M&C! lama yang menjadi favorit saya: Momoka, Si Cantik Buah Persik. Tamat di volume 7, bila dijejerkan dengan benar, punggung belakangnya akan membentuk gambar Momoka yang sedang berlari. Ceritanya sederhana: mengenai anak gadis satu-satunya dalam keluarga yang terlalu di sayang para kakaknya, sehingga saat ada seorang cowok mendekati Momoka, semua langsung bersatu padu melindungi adik tersayang itu.

Ushio Tora, kover baru dan lama
Mungkin komik pertama yang diterbitkan dengan label M&C! adalah Ushio Tora. Ini berdasarkan ingatan saya yang menemukan komik ini di Gunung Agung dekat rumah. Sayangnya, genre Ushio Tora bukan favorit saya waktu itu, sehingga saya melewatkannya begitu saja. Mungkin pemilihan judul ini menjadi salah satu 'kesalahan' yang dilakukan M&C! untuk merangkul penggemar baru yang saat itu sudah dicuci otak dengan komik terbitan penerbit sebelah. Mungkin karena faktor serapan pasar yang kurang itu pulalah, komik Ushio Tora ini tidak diterbitkan sampai tamat. Jujur, sampai sekarang saya tidak membaca komik ini ^^
Cinderella Boy edisi Jepang
Cinderella Boy edisi terjemahan

Entah disadari atau tidak, M&C! dengan perlahan mampu mengubah desain kover komik yang dulu didominasi dengan warna putih dan gambar ilustrasi berbentuk persegi. Selain itu, M&C! berani 'memotong' ilustrasi asli dan menggabungkannya dengan desain digital para desainer grafisnya. Bahkan, M&C! juga berani menggunakan warna yang berbeda dengan kover aslinya. Misalnya salah satu one shot atau serial cantik yang termasuk diterbitkan awal-awal, Cinderella Boy. Bandingkan kover versi aslinya dengan kover terjemahannya. Cukup jauh, bukan? M&C! tidak takut untuk memberikan sentuhan baru pada kover-kover komik terbitannya. (Pst, saya bahkan sempat salah menyangka saat melihat sebuah komik terbitan penerbit sebelah sebagai komik M&C!).

Cyborg Kurochan edisi tambahan
Namun, seperti halnya manusia yang tidak sempurna, penebit M&C! pun kadang melakukan kekhilafan dalam komiknya. Misalnya saja pernah kejadian salah penjilidan untuk komik W Juliet volume-volume awal. Dengan kover yang dibuka dari kiri, entah kenapa isinya dibaca dari kanan ke kiri. Saya ingat waktu itu pernah melayangkan protes melalui milis dan dijawab oleh pihak redaksi. Sayangnya, saya tidak mendapatkan komik edisi revisi sehingga saya harus berusaha keras untuk membacanya sampai sekarang :) M&C! juga berani mempergunakan bahasa yang sedikit gaul dalam komiknya, termasuk istilah-istilah yang umum digunakan di Indonesia, seperti 'bah', 'mah'. Terjemahan yang luwes ini tak ayal membuat saya tertawa saat membaca komik Cyborg Kurochan ini. M&C! juga yang mempertahankan imbuhan -chan, -kun, -san ala Jepang yang malah membuat saya sedikit sebal. Bukan karena saya tidak menghormati cara orang Jepang menghormati orang lain, namun, plis deh, ini kan terjemahan? Seharusnya imbuhan-imbuhan itu diterjemahkan saja ke bahasa Indonesia atau dihapus sekalian jika memang tidak terlalu penting. Syukurlah, imbuhan itu perlahan hilang, hanya menyisakan imbuhan sensei atau senpai walaupun tidak banyak.

Baby and I edisi M&C!
Yang perlu diperhatikan dari komik M&C adalah mutu terjemahan dan editorialnya. Belum ada keseragaman soal editing di antara satu editor dengan editor lain. Saya masih sering menemukan kata-kata yang tidak baku, misalnya rubah bukannya ubah atau ngomong-ngomong bukannya omong-omong. Ada juga beberapa balon yang kosong, teks yang hilang, atau terjadi pengulangan dialog. Tentu saja ini tidak banyak, tapi setelah saya menemukannya beberapa kali, saya sangat berharap M&C! menerapkan suatu standar pengeditan agar mutunya seragam. Ada juga beberapa kesalahan fatal lain, misalkan saja tangan kanan malah diterjemahkan sebagai tangan kiri, padahal dari gambar jelas-jelas tangan kanan dan komik dibuka dari kanan alias lembaran komik tidak di-flip.
Baby and I edisi Shojo Beat

Saya juga berharap M&C! mampu menyeragamkan mutu kovernya. Misalkan saja komik Baby and I  ini. Jujur, saya tidak membelinya saat komik ini pertama kali terbit, namun setelah direkomendasikan oleh seorang teman (cowok pula!) saya mulai mengumpulkannya. Dan saya sangat menyesal tidak mengumpulkannya sejak awal karena komik ini merupakan salah satu komik terbaik yang pernah M&C! terbitkan. Walau begitu, saya tetap mengacungkan jempol pada jajaran penerjemah M&C! yang sebagian besar memang mumpuni membuat komik-komik terjemahan ini enak dibaca.
Innocent Dragon

Masukan lain untuk M&C! adalah keteraturan jadwal terbit. Tidak dapat dihindari kalau beberapa judul komik statusnya masih on going alias di Jepang juga belum tamat. Namun, ada beberapa judul terjemahan M&C! yang hilang begitu saja. Misalkan saja H2O yang termasuk dalam manhwa (komik Korea). Atau dari koleksi yang saya punya: Rasetsu Flowers, NG Life, dan Innocent Dragon. Walaupun di Jepang ketiga komik itu statusnya sudah tamat, entah kenapa ketiganya sempat hiatus lebih dari satu tahun dan mentok di volume 7. Sebagian besar teman-teman saya bahkan sudah menjual komiknya karena mereka meragukan M&C! akan menerbitkan lanjutannya. Untungnya, beberapa judul yang hiatus itu mulai ada titik terangnya. Saya harapa M&C! dapat mengurangi jumlah judul yang hiatus ini kecuali memang ada kendala langsung dari penulisnya (ya, selama ini kendala ada di penerbitnya).

Komik Ai Hime dengan rating D
Ke depannya, M&C! perlu membuat lini baru atau memperjelas rating komik terbitannya. Bila diperhatikan dengan saksama, M&C! telah menyertakan rating SU (semua umur), R (remaja), dan D (dewasa) di bagian belakang komik. Saya tidak ingat apakah logo D ini diletakkan pula di kover depan, tapi pernah kejadian saya kecolongan membaca karya Mitsuki Kaco, salah satunya Ai Hime, yang ternyata kontennya cukup dewasa untuk dibaca para remaja. Saya yakin mereka tidak memerhatikan huruf D yang tertera di balik buku. Tentu saja, D dalam komik ini bukan sesuatu yang sangat serius sehingga bisa dicap pornografi, tapi akan lebih baik bila label dewasa itu juga ada di bagian depan. Selain itu, ada baiknya gambar juga disensor dengan halus, bukan sekadar mengganti kata ko*dom dengan saputangan, tapi tetap dengan gambar ko*dom terpampang. Anyway, mutu sensor M&C! juga sudah meningkat pesat jika dibandingkan dengan sensoran Fuushigi Yuugi volume 2 yang sempat ditarik dari peredaran berupa oret-oretan menggunakan spidol hitam yang sangat jauh dari nilai artistik.
Koloni Garudayana karya Is Yuniarto

Tambahan: Terobosan fenomenal yang pernah dilakukan M&C adalah dengan terbitnya label KOLONI alias komik lokal Indonesia. Dulu M&C! pernah menerbitkan Dua Warna, karya anak bangsa, namun sayang karena format berwarna membuat komik ini mahal harganya dan kurang terserap pasar. Sekitar tahun 2010, M&C! meluncurkan komik karya lokal yang sebagian di antaranya mampu menggebrak dan membuat para komikus lokal semangat berkarya. Walaupun jumlah judul yang diterbitkan semakin menyusut, saya tetap salut pada Koloni yang menjadi salah satu wadah anak bangsa menyalurkan bakatnya.

Sepuluh tahun lebih saya mengenal M&C! dan mengoleksi komik-komiknya dan saya yakin saya akan terus menjadi penggemar sepuluh tahun yang akan datang (Insya Allah, kalau ada umur). Semoga masukan saya dapat membawa M&C! menjadi lebih baik lagi ke depannya ^^