Photobucket

Senin, 11 Maret 2013

Aktor vs hater: So, I Married the Antifan




Judul : So, I Married The Anti-Fan
Pengarang : Kim Eun Jeong
Penerbit : Penerbit Haru
Halaman : 540 Halaman
Tahun Terbit : Cetakan I, Maret 2011
Kategori : Fiksi, Romance, Showbiz
Harga : Rp. 60.000,-
ISBN : 978-602-98325-4-9

Bagaikan air dan minyak, sampai kapan pun tidak akan bisa bersatu.

Geun Yong adalah wanita biasa-biasa saja. Pekerjaannya juga tidak ada yang menonjol. Pacar pun tak punya, membuat orangtuanya di kampung misuh-misuh menyuruhnya untuk segera menikah. Jadi, saat pemecatan menghantam Geun Yong, ia memilih untuk bangkit melawan si biang kerok, Hu Joon, tanpa menyadari bahwa tindakannya itu akhirnya menjadi salah satu titik balik dalam kehidupannya. Sampai kapan pun, Geun Yong tidak akan memaafkan Hu Joon! Memang, sih, gara-gara Geun Yong juga yang membuat Hu Joon naik pitam sehingga meminta kantor Geun  Yong memecatnya. Tetapi, Hu Joon tidak berhak melakukan itu, kan?

Variety show ini bagaikan keliling dunia dalam satu minggu. Mustahil!

Karena terpaksa dan iming-iming 10 juta won, juga kenyataan kalau Geun Yong kini terlunta-lunta, wanita itu menerima tawaran PD Han untuk mengisi acara ‘So, I Married the Antifan’. Publik yang melihat perseteruan Geun Yong dan Hu Joon yang makin meruncing membutuhkan ‘bukti’ kalau Geun Yong memang pantas disalahkan. Sampai kapan pun, Hu Joon hyung tidak mungkin bersalah, kan? Dan Geun Yong sendiri langsung menyadari kalau ia mengambil keputusan yang salah.

Anak itu seperti leggings. Tidak jelas mana depan dan mana belakangnya.

Hu Joon sendiri cukup stres harus berhadapan dengan Geun Yong yang meledak-ledak dan tak mau kalah. Geun Yong sangat berbeda dengan para fan Hu Joon, atau In Hyong, mantan pacar Hu Joon yang membuat pria ini belum bisa move on. Tapi, bersama Geun Yong, Hu Joon dapat menjadi dirinya sendiri. Tidak perlu menjaga image-nya sebagai seorang aktor yang dipuja-puja ....

Keluarga itu seperti pembuka kaleng yang hilang di saat haus. Kalau tidak ada, repot, kan?

Seperti halnya Hu Joon, Geun Yong juga menemukan sisi lain sang aktor yang membuat pria itu terlihat manusiawi. Ternyata, Hu Joon tetaplah pria biasa yang terluka akibat cintanya di masa lalu. Geun Yong mulai melunak terhadap Hu Joon, tanpa menyadari kalau dirinya mulai tertarik pada Hu Joon J

Ciuman sehabis minum alkohol itu keberuntungan belaka. Jangan dipercaya.

Geun Yong mulai bingung terhadap perasaannya sendiri, juga perasaan Hu Joon. Sebenarnya pria itu menyukainya atau tidak? Atau apakah In Hyong tidak akan pernah hilang dari hati Hu Joon? Ataukah Geun Yong cukup melupakan cinta yang tumbuh di hatinya?

Aku selalu mengharapkan kesempatan karena aku selalu ketinggalan.

So, I Married the Anti-fan adalah buku Penerbit Haru pertama yang kubaca. Membaca review teman-teman membuatku tertarik ditambah dengan sinopsis cerita yang walaupun klise tapi tak lekang oleh waktu. Sayangnya, aku agak kesulitan mengikuti cerita di novel ini. Entah apa yang salah atau kurang, tapi aku harus membaca di beberapa bagian cukup lama hanya untuk mengerti apa maksudnya.

Aku juga kurang merasakan greget dalam hubungan Hu Joon dan Geun Yong. Mereka terlalu sering digambarkan berselisih paham, sehingga saat adegan romantisnya kurang digarap, terasa lewat begitu saja *gigit bantal* Aku juga merasa banyak tokoh yang muncul dengan nama yang agak mirip sehingga aku sering berhenti sejenak untuk mengingat, “Ini siapa, ya?”

Overall, aku agak terganggu dengan tata letak novel ini. Jarak dari tepi bawah buku ke teks mepet sekali. Andaikan hal itu dilakukan untuk memanfaatkan seluruh ruang kertas, kenapa tidak memperkecil jarak antar baris? Jenis huruf dan ukuran font yang digunakan untuk catatan kaki juga terlalu mirip sehingga aku sering membacanya sebagai bagian dari novel, bukan sekadar catatan kaki -,- Saranku juga, bedakan jenis font untuk penomoran halaman biar tidak ambigu dengan naskah novelnya sendiri.

Anyway, aku suka dengan ilustrasi dan quotes yang muncul di novel ini. Lagi-lagi sayang, entah kenapa gambarnya terlihat pecah. Kemungkinan memang low res atau file gambar tidak disertakan dalam file inDesign. Mutu kertas juga membuat novel ini tidak bisa dibaca jika pencahayaan kurang sedikit saja. Tapi, pemilihan kertas kovernya membuat saya tak berhenti menyentuhnya berkali-kali, he he.

Walau begitu, Geun Yong dan Hu Joon berhasil menunjukkan bahwa benci itu dapat berarti ‘benar-benar cinta’. Tidak ada yang dapat menjamin perasaan seseorang dan hati dapat dibolak-balik kapan saja. Dialog mereka sangat menyegarkan. Bahkan, aku pribadi ingin sekali membekap mulut Geun Yong kalau ia mulai mengoceh :) Heran bagaimana Hu Joon bisa tahan pada wanita satu ini.

Karakter paling malang di buku ini mungkin In Hyong. Setelah ia melepas Hu Joon, ternyata kehidupannya tidak berubah menyenangkan, bahkan ia harus berakhir tragis. Namun, aku salut pada In Hyong karena ia bukanlah gadis jahat, melainkan hanya 'korban' dan seharusnya ia dapat hidup lebih baik lagi.

Cemburu itu seperti melon. Tidak ada nutrisinya.

Aku tidak sabar menunggu drama berjudul sama karena aku optimis versi dramanya akan jauh lebih menarik daripada bukunya. Aku bahkan sudah membayangkan ingin mengeplak kepala Geun Yong yang tak kalah menyebalkannya dibandingkan Hu Joon ^^

Dia bagaikan lotre yang hilang. Sudah tahu tak berguna, tetap saja dicari.



Jumat, 08 Maret 2013

Haru dan Aku: Tak Kenal Maka Tak Sayang


Saya tidak banyak  membaca buku terbitan Haru. Entah kenapa, saya memang agak sedikit ‘curiga’ dengan novel-novel berbau Korea pada umumnya. Yang lokal terasa ikut-ikutan, yang terjemahan saya hampir yakin kalau bakalan kecewa membacanya. Semua ini mungkin dikarenakan kekecewaan saya saat membaca manhwa. Seringkali saya tidak mengerti apa yang ingin disampaikan ...

Buku Haru pertama yang saya baca adalah So I Married the Antifan dan ini adalah hasil pinjaman. Dan belum apa-apa, saya langsung kecewa saat membuka lembaran pertama. Bisa dibayangkan saya kecewa dengan lembar KDT (katalog dalam penerbitan) yang memuat detail editor, penata letak, dll itu? Biasanya lembar KDT ditulis dengan menggunakan ukuran font yang lebih kecil, namun entah kenapa KDT yang satu ini ‘sama’ dengan halaman isi novel sehingga terlihat ambigu. Selain itu, gambar-gambar yang ada di buku ini terlihat pecah, low resolution. Sangat disayangkan mengingat ilustrasi yang muncul ini sebetulnya menarik. Tata letaknya juga terkesan dipaksakan memanfaatkan seluruh ruang yang tersedia sehingga jarak antara body text dengan nomor halaman begitu dekat. Lalu, yang paling saya takutkan benar-benar terjadi: saya bosan membaca novel ini. Entah kesalahan ada di pihak penerjemah atau memang naskahnya seperti itu, saya kesulitan mengerti di banyak bagian. Ide cerita bagus, tapi eksekusi berantakan. Hal yang sama juga diungkap oleh Mama sang K-Pop sejati di rumah. Jadi, kesalahan ada di siapa?
 
Buku kedua Haru yang selanjutnya saya baca adalah Seoulmate. Kali ini adalah karya anak bangsa, tapi tetap berbau-bau Korea, karya Lia Indra Andriana. Buat saya, gaya penulisan Lia jauh lebih bagus daripada si-penulis-Korea-asli. Sayangnya, lagi-lagi saya merasa terganggu dengan tata letaknya di mana permulaan paragrafnya terlalu menjorok ke kanan. Mungkin hanya saya yang mempermasalahkan hal ini, ya *ketawa* Dan karena satu dan lain hal, saya tidak menyelesaikan membaca Seoulmate walau saya juga mengoleksi Seoulmate is You. Kedua buku ini masih saya simpan untuk dibaca, entah kapan.

Buku ketiga Haru yang berhasil saya selesaikan *bangga* adalah Oppa and I. Seorang teman mengkritik novel ini habis-habisan, sehingga akhirnya ia memberikan novel itu pada saya. Penasaran yang tinggi dan ditunjang dengan alur yang memang memikat, saya tidak dapat berhenti membacanya. Memang masih banyak pertanyaan yang belum terjawab di buku ini, tapi ternyata para penulisnya sudah mempersiapkan sekuelnya (yang belum saya baca). Hal yang menganggu saya dari novel ini adalah ilustrasi di bagian dalam yang terkesan dikerjakan asal-asalan. Memang sketchy, tapi buat saya itu adalah gambar yang belum jadi ... Jadi, rasanya ilustrasi ini malah 'merusak' novel secara keseluruhan. Dan lagi-lagi, mungkin hanya saya yang mempermasalahkan hal ini.
Oke, dari sekian banyak novel Haru, yang sudah saya intip dan baca (walau mungkin tidak semuanya) baru tiga, jadi rasanya kurang pantas mengkritik ini itu. Namun, demi Mama, saya akhirnya membeli dua novel Haru lainnya, My Name is Kim Sam Soon dan 4 Ways to Get a Wife. Menurut Mama, kedua karya ini jauh lebih mudah dimengerti daripada So, I Married the Antifan.

Saat menulis post ini, saya mencoba menelaah apa sebetulnya yang membuat saya jarang membeli buku-buku Haru walaupun banyak sekali yang memuji-mujinya. Mungkin apa yang saya rasakan ini hanya uneg-uneg terpendam saya, tapi saya berharap dapat menjadi masukan bagi Haru sendiri.

Satu, sebaiknya Haru memiliki template novel yang baku. Jadi, ada keseragaman penggunaan jenis font dan format. Untuk tata letak tentu dapat divariasikan, terutama bila naskah aslinya memiliki gambar atau apa. Namun, secara garis besar ukuran font, jenis font, atau mungkin leading paragraph bisa diseragamkan. Oh, ya, ukuran font jangan terlalu kecil dan rapat, bacanya susah!

Dua, memperhatikan kualitas ilustrasi, baik dari mutu gambar juga resolusinya. Jangan sampai ilustrasi yang tidak maksimal ini menjadi catatan merah (setidaknya untuk saya). Saya yakin Haru mampu mencari ilustrator yang mumpuni.

Tiga, masalah diskon. Bukan berarti Haru harus mengobral buku-bukunya, ya. Tapi, saya perhatikan bahwa buku-buku baru Haru itu jarang sekali didiskon walaupun saya membelinya melalui toko online yang biasanya memberikan diskon. Beberapa penerbit besar dapat memberikan diskon minimal 15%, bahkan ada yang sampai 35%, untuk produk-produk baru mereka. Sedangkan Haru, paling banter hanya 10%. Itu pun sulit sekali mencarinya. Biasanya saya menunggu even pameran buku karena saya bisa mendapat diskon yang lebih besar, tapi lagi-lagi distributor Haru hanya memberikan diskon maksimal 10% sementara penerbit lain bisa sampai 30%. Memang Haru pernah memberikan diskon 30% saat ultah, tapi buku yang saya incar ternyata 'hanya' diskon 20% sehingga lagi-lagi saya mundur.

Empat, ukuran buku. Mungkin lagi-lagi hanya saya yang mempermasalahkan ini. Saran saya Haru menyeragamkan ukuran buku sehingga saat saya satukan di lemari tidak seperti gelombang naik turun.

Lima, lebih perluas segmen pembaca Haru dengan tidak melulu menerbitkan novel yang berbau Korea atau Jepang. Kalau memang Haru sudah memiliki naskah yang tidak bernuansa keduanya, perbanyaklah. Namun, kalau Haru memang mengkhususkan menerbitkan novel berbau Korea atau Jepang, maka terbitkanlah yang terbaik. Jangan sampai naskah lokal bernuansa negeri timur itu hanya terkesan tempelan.

Semoga tulisan saya ini dapat membuat Haru menjadi lebih baik. Tak kenal maka tak sayang dan saya ingin sekali lebih mengenal Haru <3

Tulisan ini diikutkan dalam even Aku (ter)Haru: Antara Aku dan Haru.

Rabu, 06 Maret 2013

Tujuh Hari Bersamamu

Seven Days
by Rhein Fathia
www.rheinfathia.com

"Anggap ada yang mau bayarin kamu jalan-jalan ke mana aja, nggak peduli berapa biayanya. Kamu diberi waktu selama TUJUH HARI dan harus mengajak SATU orang saja. Ke mana kamu akan pergi traveling, sama siapa, dan apa alasannya?"

Bagaimana jika mendadak ada orang yang akan membiayai aku berplesir secara GRATIS? *terdiam sesaat* Baiklah, jika kesempatan itu benar-benar datang, aku akan menghabiskan waktu bersama almarhum Papa. Ke mana? Tidak ke mana-mana. Lho? Iya, karena aku maupun Papa bukan tipe orang yang suka berjalan-jalan.. Kami berdua pergi ke suatu tempat karena memiliki tujuan. Andaikan tidak sekalipun, kami tidak akan berlama-lama di satu toko saat window shopping. Oleh karena itu, biasanya aku bisa mengerti saat Papa harus menemani Mama berbelanja :))

Anyway, tapi karena ini adalah berandai-andai, aku akan melakukannya. Jika diberikan kesempatan untuk bertemu Papa lagi DAN ada yang membiayai perjalanan kami selama tujuh hari, aku akan mengajak Papa bersilaturahmi. Hal terakhir yang kami bahas beberapa hari sebelum Papa berpulang adalah bersilaturahmi. Dengan sanak keluarga dan saudara yang tersebar di mana-mana, apakah kita hanya mengandalkan teknologi untuk bertegur sapa? Waktu itu aku bercanda, "Yang penting doanya, Pa. Biar jarak memisahkan, Insya Allah doa akan sampai, kok." Dan JRENG, Allah mengambil Papa ....

Aku seakan diingatkan Allah bahwa selain doa, selama kita ada umur, janganlah kita membenamkan diri pada pekerjaan atau hal lainnya. Ada orang-orang yang menanti kita, bukan via telepon, Twitter, Facebook, atau Skype, melainkan mengetuk pintu pagar, mengucap salam, dan mungkin sebuah jabat tangan atau peluk hangat. Betapa teduh hati ini saat melihat senyum terkembang si empunya rumah melihat siapa yang berdiri di luar rumahnya.

Tujuh hari bersama Papa, bersilaturahmi keliling Indonesia. Oke, ralat, mungkin keliling Pulau Jawa. Bertemu para kenalan, meminta maaf pada mereka, sekaligus berpamitan. Aku akan menemaninya, berbagi rindu juga cerita. Mungkin juga menyempatkan diri untuk menikmati ubi cilembu atau jagung urap kesukaan kami sepanjang jalan. Tambahkan juga nasi goreng kampung ke dalam kuliner yang harus kami cicipi berdua. Dan saat kesempatan tujuh hari itu akan berakhir, aku akan mengantarkan Papa kembali ke peristirahatan terakhirnya, memeluknya, dan berharap suatu saat nanti aku dapat bertemu lagi dengannya di sisi Allah. Insya Allah di surganya, amin.

In memoriam of my beloved Dad. I love you and always miss you.

Jakarta, 7 Maret 2013. 

Tulisan ini diikutkan dalam Kuis Novel Seven Days di sini.

Minggu, 27 Januari 2013

Saat Harus Memilih: Di Antara Dua Hati


Sudah lama saya ingin sekali membaca buku yang satu ini dan betapa bahagianya saya saat akhirnya mendapatkannya melalui Annual End of Year 2012 Book Contest yang dilaksanakan oleh Penerbit Esensi dan @okeyzz. Selain karena kovernya yang sederhana, tapi manis, judulnya juga mengindikasikan akan… “sesuatu”.

Judul: Heart of the Matter-Di antara Dua Hati
Penulis: Emily Giffin
Penerbit: Esensi
Halaman: 448 lembar






Sinopsis:
Setiap orang yang menginginkan cinta, pastilah mendambakan kebahagiaan. Namun, bolehkah suatu sumpah sacral dikhianati karena salah satu pihak merasa tidak menemukan kebahagiaan? Lalu, bagaimana pula dengan seseorang yang mencari kebahagiaan cinta lewat pengkhianatan?

Tessa Russo adalah seorang istri dan ibu yang berjuang keras untuk mengurus rumah tangganya. Suaminya, Nick Russo, adalah seorang pria yang tampan dan terkenal sebagai ahli bedah yang andal. Situasi rumah tangga mereka sedang terasa tidak nyaman, begitu pula situasi mereka terhadap satu sama lain. Nick merasa tuntutan pekerjaan dan kewajibannya di rumah saling bertentangan, sedangkan Tessa berharap Nick akan berperan lebih banyak di dalam rumah tangga mereka.

Namun, pada suatu malam, sebuah kecelakaan membuat jalan hidup mereka bersimpangan dengan seorang wanita lain: Valerie Anderson. Ia adalah wanita kesepian dan oran tua tunggal bagi seorang anak yang tidak pernah mengenal ayahnya.

Sejak itu, kehidupan ketiga orang itu tidak lagi sama. Ada cinta  yang diuji, ada sumpah yang dilanggar, dan ada aturan yang diabaikan. Namun, apakah cinta akan mengatasi segalanya? Kita kembalikan pada hakikatnya.

Membaca sinopsisnya, langsung terlintas satu kata di benak saya: perselingkuhan. Sebuah tema yang sudah umum diangkat menjadi novel atau apa pun karena sudah menjadi bagian dalam hidup manusia. Setiap orang mungkin akan merasakannya, bahkan mungkin melakukannya. Tidak terkecuali, termasuk saya. Yang saya ingin tahu adalah bagaimana Emily Giffin meramu perselingkuhan ini menjadi sebuah novel yang menarik untuk dibaca.

Tessa Russo digambarkan sebagai wanita biasa, yang akhirnya memilih berhenti bekerja demi menjadi ibu rumah tangga dan mengurusi kedua buah hatinya, Ruby dan Frank. Tapi, seperti rata-rata ibu mantan wanita karier lainnya, Tessa tidak dapat langsung beradaptasi dengan perannya yang baru. Ia merasakan waktunya sebagai ibu rumah tangga tidak pernah cukup mengurusi semuanya. Ia mengharapkan Nick membantu, tapi seperti seorang pria pada umumnya, ia tidak terlalu peduli dengan urusan remeh temeh rumah tangga.

Nick sendiri adalah pria yang santai. Dengan pekerjaannya sebagai dokter bedah, ia banyak disukai orang karena wajah dan karakternya. Termasuk pasien kecilnya, Charlie, yang mengalami luka bakar saat memanggang marshmallow. Perawatannya terhadap Charlie membuat Nick banyak berinteraksi dengan Valerie, ibunda Charlie. Seringnya mereka mendiskusikan Charlie, akhirnya membuat hubungan Nick dan Valerie lebih dari sekadar dokter dan ibunda pasiennya.

Valerie bukanlah wanita yang terbuka. Ia cenderung tertutup dan saat ia ditinggalkan dalam kondisi hamil oleh sang mantan pacar, Valerie tidak dapat berbuat banyak selain kembali bekerja sebagai pengacara, melahirkan Charlie, dan meneruskan hidup dengan berinteraksi sesedikit mungkin dengan orang lain. Walaupun Jason, saudara kembarnya yang ceria, selalu mendorong Valerie untuk lebih terbuka, wanita itu memilih hidup dalam cangkang yang aman sampai kondisi Charlie membuatnya dekat dengan Nick.

Seperti yang dapat ditebak, mulailah hubungan segitiga di antara dua wanita dan satu pria ini. Saya pribadi dapat melihat alasan Valerie tertarik pada Nick, tapi saya kurang merasakan apa yang menjadi masalah utama Nick. Memang, kesibukan Nick di RS dan kejenuhan Tessa di rumah mungkin membuat keduanya dalam kondisi bosan yang dapat membahayakan pernikahan. Saya berharap, sebagai perempuan, Nick memiliki alasan yang sangat, sangat kuat untuk menjalin hubungan dengan Valerie, bahkan sampai jatuh cinta, dan mengkhianati Tessa.

Saya juga tidak merasakan apa yang membuat Nick begitu berubah setelah ia menghabiskan waktu yang intim dengan Valerie dan mengakui perasaannya pada wanita itu, ia akhirnya memilih kembali pada Tessa. Apakah karena penulis cerita ini adalah seorang wanita sehingga ia tidak terlalu menggali dalam-dalam perasaan Nick? Ataukah karena sudut penceritaan yang unik yang digunakan Emily adalah sebagai Tessa dan Valerie, bukan Nick?

Apa yang dialami Tessa atau Valerie dapat saya alami juga. Pun wanita-wanita lain. Tak peduli ia tinggal negara maju atau berkembang. Saya sempat berkaca-kaca membaca beberapa halaman terakhir buku ini.Saat itu, anak keduaku menghampiri saya dan bertanya, "Kenapa Mama sedih?" Oh, ya, Sayang, Mama sedih karena tidak dapat menyalahkan Tessa, Valerie, atau Nick. Mereka semua punya alasan, tapi manakah alasan yang dapat dibenarkan? Andaikan Nick dapat lebih berbahagia bersama Valerie, apakah seharusnya Tessa mengalah? Atau apakah akan lebih baik Nick dan Tessa kembali bersama demi anak-anak setelah apa yang terjadi? Atau... ada banyak pertanyaan lain yang mungkin saya tanyakan tanpa tahu jawabannya.

Emily Giffin mampu mengangkat masalah umum dengan bahasa yang sederhana. Dengan latar belakang keluarga masing-masing karakter yang sama kacaunya, kita dibawa pada kenyataan bahwa untuk menjaga sebuah perkawinan tidak hanya dibutuhkan cinta, tapi juga komitmen dan kesetiaan.

Selasa, 22 Januari 2013

Hangatnya Morning Sunshine


Saya mendapatkan buku ini dari barter dengan seorang teman yang kebetulan kedobelan. Saya sendiri pernah ikut acara giveaway Mbak Irin sendiri, sayangnya gagal mendapatkannya. Saat teman saya menawarkan barter buku Morning Sunshine ini, tak ayal saya langsung menyambarnya :)

Judul: Morning Sunshine
Penulis: Irin Sintriana
Penerbit: Media Pressindo
Tahun Terbit: Mei 2012

Sinopsis di kover belakang:

Dia melukis pelangi di hidupmu yang hitam putih.
Mengisi hari-harimu dengan kejutan-kejutan manis.
Menggenggam erat tanganmu, seolah tak akan pernah lagi melepasnya.

"Aku mencintaimu," katanya.
Dan kamu percaya bahwa hanya kamulah satu-satunya.

Kemudian kamu mendapati dirimu terkhianati.
Ingin sekali mengucapkan sesuatu, namun lidahmu terlalu kelu.
Airmatamu meleleh, genangan bening mengalir membentuk anak sungai di pipimu.

Ternyata, setahun saja tidak cukup.

Erish, seorang manager HRD di Cemerlang Group, harus menghadapi ‘hukuman’ dari sang direktur baru, Frans, gara-gara keteledorannya melupakan acara penyambutan beliau. Karena terburu-buru, Erish luupa mengganti pakaian rumahnya saat ia berpapasan dengan Frans. Alhasil, ia malah dipaksa pindah jabatan sebagai sekretaris pribadi sementara Frans. Seperti yang sudah diperkirakan, hubungan sebagai direktur dan sekretaris ini membuat keduanya dekat. Namun, kehadiran pria dari masa lalu Erish, juga tentangan dari ayah Frans, membuat hubungan keduanya berantakan. Apakah Erish harus melepaskan cintanya lagi kali ini?

“Bukankah aku pernah bilang padamu? Lebih baik aku kehilangan segalanya daripada harus kehilangan dirimu.” 

Erish adalah seorang wanita yang pernah menghadapi pahitnya dikhianati. Cintanya yang suci disia-siakan begitu saja oleh Damian, meninggalkan luka yang begitu dalam di hatinya. Ia menjadi seorang pribadi yang agak tertutup (tapi juga terbuka?). Kenapa saya bilang tertutup? Karena ia tidak ingin membagikan kisah masa lalunya pada siapa pun, juga terlalu terharu biru saat ia harus berhadapan kembali dengan Damian. Kenapa terbuka? Karena saya merasakan tindakan atau kata-kata yang diucapkan Erish tidak terlalu terkesan tertutup. Sebagai seorang manager HRD, saya juga merasakan kalau Erish kurang ‘tegas’. Begitu ia disakiti oleh Damian, saat pria itu memintanya kembali, Erish pun bersedia ‘kembali’….

“Melupakan berarti berusaha menghapus kenangan, sedangkan merelakan berarti belajar melepaskan.” 

Frans sendiri adalah tipe seorang pria yang… yah, mungkin dalam jajaran cowok yang bisa dibilang sempurna? Walau-entah-bagaimana-caranya ia bisa langsung suka pada Erish (mungkin karena kesan pertama yang begitu amburadul), ia adalah sosok pria yang mudah untuk disukai. Selain fisiknya yang oke dan status direkturnya, ia juga pria yang mau berjuang demi orang yang dia cintai.

“Sederhana saja, karena dia bukan yang terbaik.” 

Damian sendiri… Hm, menurut saya Damian tidaklah sebrengsek yang saya bayangkan. Saya berharap Damian seorang karakter yang bisa saya maki-maki, tapi pada akhirnya ia adalah seorang pria yang dibutuhkan untuk membangun cerita agar berjalan.

Banyak masalah yang dihadapi oleh Erish, juga Frans. Namun, saya merasakan bahwa banyak juga ‘kebetulan’ agar Erish tidak terlalu bersusah payah menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Misalnya saja… di antara begitu banyak orang dan perusahaan di dunia ini—ralat, Indonesia—entah kenapa, perusahaan Frans begitu ‘tergantung’ pada perusahaan kakak Damian. Dan begitu hebatnya peran si perusahaan ini sampai-sampai Erish harus mengorbankan perasaannya dan kembali pada Damian demi kontrak yang akan didapatkan perusahaan Frans.

Frans sendiri sempat begitu kecewa saat Erish mengaku kalau ia kembali pada Damian karena ia ingin Frans tidak mengharapkan dirinya. Namun, dalam waktu yang sangat singkat, kurang lebih setengah hari (?), Frans sudah tahu duduk perkara sebenarnya dan kembali mesralah hubungan Frans dan Erish.

Seperti cerita-cerita cinta pada umumnya, peran ortu yang tidak setuju biasanya juga menjadi salah satu momok. Begitu pula dalam hubungan Erish dan Frans. Ayah Frans sangat tidak menyetujui kalau Erish menjadi bakal calon menantunya. Tapi, saya tidak melihat alasan kuat kenapa beliau begitu ingin menjauhkan Erish dari Frans… Dan dengan segala tipu daya licik yang digalakkan oleh ayah Frans, saya merasa penyelesaian pertikaian di antara mereka terlalu mudah.

Sejak awal, Irin Sitriana sudah membuat kemasan yang cantik untuk promosi buku-bukunya, termasuk Morning Sunshine. Trailernya begitu memikat, menggugah rasa penasaran saya (salut!). Sayangnya, pengemasan novel ini tidak sememikat yang saya harapkan. Bahkan saya sempat ragu kalau novel ini diterbitkan secara major… Memang, kita tidak boleh menghakimi sesuatu dari luarnya saja. Hanya saja, saya merasa sayang novel ini kurang dikemas dengan maksimal.

Novel ini termasuk tipis, tapi padat. Mungkin karena itu alur terasa cepat sekaligus lambat. Kenapa begitu? Masalah demi masalah datang menghampiri Erish, tapi penyelesaian demi penyelesaian juga langsung mengikuti. Seakan istilah ‘setelah gelap terbitlah terang’ itu berlaku padanya. Andaikan beberapa konflik lebih diperdalam dan Erish dibuat kesulitan untuk menyelesaikannya, saya akan merasakan ‘greget’ yang lebih. Lalu, kenapa juga saya nilai lambat? Karena beberapa adegan digambarkan terlalu bertele-tele. Misalnya, bab 1. Akan lebih seru kalau adegannya dibuka dengan pertengkaran Erish dan Frans karena keteledoran Erish.

Saya juga salut pada Irin yang berhasil membuat kalimat-kalimat romantis di sepanjang isi buku ini. Yang mungkin agak terasa janggal adalah Frans yang mengatakan kalimat-kalimat romantis itu panjang lebar. Saya belum pernah bertemu seorang pria yang dapat memikirkan kalimat seromantis dan sepanjang itu. Mungkin memang ada pria seperti Frans di dunia ini.

“Dan akan ia lakukan apapun untuk membuat wanita itu tetap tersenyum. Karena ia mengenal bahagia saat melihat wanita itu tertawa.” 

Pembaca yang tidak menyukai sinetron mungkin juga tidak menyukai cerita ini. Morning Sunshine mirip seperti sebuah FTV, sehingga saya masih begitu menikmati membacanya sampai halaman terakhir. Irin Sintriana membuktikan bahwa tulisannya terus mengalami peningkatan. Ia juga pandai menjalin komunikasi yang baik dengan para pembacanya.

Hal lain yang harus digarisbawahi dari novel ini: jangan pernah berhenti bergerak maju. Masa lalu adalah masa lalu, ia bisa menjadi bagian dari masa depanmu. Tapi, bukan berarti kau harus terpaku padanya.

"Tahu bedanya melupakan dan merelakan? Melupakan berarti berusaha menghapus kenangan, sedangkan merelakan berarti belajar melepaskan. Dan kenangan tidak mungkin dihapus. Yang perlu kamu lakukan adalah merelakannya, menutup rapat pintu itu."

P.S. Saya salut pada Mbak Irin yang tidak memakai seting Korea dalam novelnya.

Dibuat dalam rangka Lomba Review Karya Irin Sintriana.





Rabu, 09 Januari 2013

Menjelajahi The Apartement



The Apartment

Penulis: Vindri Prachmitasari
Penerbit: Media Pressindo
Terbit: Juli 2012

 Oh, no. It's another Korean...

Pikiran itu langsung terlintas begitu saya membaca sinopsis The Apartement. Sejujurnya, saya muak dengan segala hal berbau Korea. Bukan saya membenci Korea, lho. Saya juga tetap menonton beberapa K-drama, mendengarkan lagu-lagunya, dan tahu beberapa nama selebritisnya. Namun, yang membuat saya bosan di sini adalah lagi-lagi penulis kita memakai seting atau apa pun berembel-embel Korea dalam novelnya... Saya tahu Korea sedang happening dan mungkin hal ini masih akan bertahan beberapa saat ke depan, tapi haruskah kita menggunakan seting Korea dalam novel anak bangsa?

Oh, well...

Secara garis besar, The Apartement bercerita mengenai Yuri Anaztasia yang dengan kejaiban alam dan Tuhan yang sangat, sangat bermurah hati, bisa memenangkan undian berhadiah apartemen di Korea, lengkap dengan segala isinya, akomodasi, dan apa saja yang diperlukan seseorang untuk pindah ke Korea sehingga Yuri cukup bawa badan saja ke sana. Oh, wow. Tanpa memikirkan pekerjaannya di Indonesia (kalau memang Yuri bekerja sebelumnya) atau keluarganya yang tinggal Mama dan seorang adik yang masih duduk di bangku SMU atau persiapan apa pun (misalnya bagaimana dia hidup nantinya di Korea atau minimal bagaimana cara berkomunikasi di sana), Yuri memilih hengkang ke Korea. Perjalanannya mencari ke apartemen juga begitu dimudahkan Tuhan sampai akhirnya Yuri memasuki apartemennya, tidur, dan menemukan ada seorang cowok tidur di sebelahnya ketika ia terbangun. Kalap, Yuri mengamuk, berteriak-teriak pada cowok misterius itu, menuduhnya sebagai pemerkosa, dan memukulinya sampai... ia mengetahui kalau ialah yang salah masuk kamar. Kehidupan Yuri di Korea mulai bergulir...

Butuh waktu lama bagi saya menyelesaikan novel ini. Saya adalah tipe orang yang berhenti membaca jika sebuah cerita tidak berhasil membuat saya tertarik. Rasa penasaran mengetahui bagaimana akhir novel The Apartement ini nyaris dikalahkan oleh keinginan saya meletakkan novel ini dan menggantinya dengan judul lain. Namun, rasa penasaran itu akhirnya menang, terlebih saya telah membacanya sampai setengah buku. Syukurlah novel ini tidak sampai 200 halaman.

Anyway, banyak sekali kejanggalan yang menurut saya tidak masuk akal. Misalkan saja, bagaimana bisa Yuri SALAH MASUK KAMAR? Bolehlah ia salah melihat nomor, tapi, halooo? Kunci kamar Yuri tidak mungkin dapat digunakan untuk membuka kunci kamar Lee Ha Jae, bukan? Kalau memang itu bisa terjadi, kasus pencurian di apartemen mungkin menjadi hal yang lumrah. Selain itu, saya tidak dapat mengerti bagaimana bisa kamar 396 dan kamar 369 yang selisih angkanya hingga 27 bisa BERSEBELAHAN? Apakah apartemen di Korea ini dinomori secara acak? Jika saja posisi kamar diganti berhadap-hadapan masih masuk akal, tapi bersebelahan? Ada juga kasus saat Yuri tertidur di dalam mobil orang yang katanya lupa dikunci? Waduh, apakah orang-orang Korea zaman sekarang hobi meninggalkan mobilnya dalam keadaan tidak terkunci?

Yuri mengatakan kalau orang Korea rata-rata tidak mengerti bahasa Inggris. Bahkan Yuri harus mengeluarkan kamus percakapan bahasa Korea di awal-awal cerita. Namun, seiring berjalannya waktu, orang-orang Korea di sekitar Yuri dengan ajaib lancar berbahasa Inggris atau Yuri yang langsung cas-cis-cus berbahasa Korea? Entahlah, yang pasti Yuri tidak mengalami kendala bahasa yang biasanya menjadi momok bagi pendatang baru di sebuah negara asing yang bahasa maupun tulisannya sangat berbeda.

Dan lagi-lagi, tidak seperti pendatang jobless pada umumnya, selama di Korea, Yuri tidak memusingkan biaya hidupnya di sana. Dan dengan anugerah Tuhan, entah bagaimana caranya Yuri dapat diterima sebagai REPORTER sebuah tabloid gosip, mengingat Yuri tidak bisa berbahasa Korea sama sekali. Bahkan, CATAT, ia tidak tahu siapa yang harus ia liput. Yuri sendiri bisa dibilang tidak memiliki pengalaman sebagai seorang reporter karena sang bos yang berhati bagai malaikat mau mengajarinya meliput berita... dan Yuri menggerutu karena hal ini? Come on! Yuri sama sekali tidak digambarkan mengalami kesulitan saat meliput, bahkan kapan ia belajar menjadi reporter pun tidak dibahas sama sekali.

Keanehan lain menghantui Lee Ha Jae. Cowok tampan misterius berpenampilan awut-awutan ini ternyata ada hubungannya dengan Jae Hae Sung yang, lagi-lagi dengan campur tangan Tuhan, harus diliput oleh Yuri. Siapa sangka kalau ternyata mereka adalah orang yang sama? Hae Sung meninggalkan dunia artis ketika Hyoen Hye, kekasihnya, tewas dalam sebuah shooting film setahun lalu. Dan dengan aman sentosa, Hae Sung dapat hidup sebagai Ha Jae tanpa ada yang menyadarinya sama sekali? Saat Hyoen Hye yang bangkit dari kubur mengetuk pintu apartemen Ha Jae, cowok itu langsung mendapat wangsit untuk kembali ke dunia artis. Tapi, tetap dengan santainya berkeliaran di taman atau restoran sebagai Hae Sung tanpa takut dikejar-kejar penggemar setianya tanpa menyamar.

Saya ingin tahu bagaimana publik Korea dapat dikibuli oleh berita kematian Hyoen Hye sampai Hae Sung harus berkubang dalam duka nestapa selama setahun sementara Hyoen Hye malah dapat menikah?

Saya pernah membaca tulisan Clara Ng bahwa kekurangan utama para penulis kita adalah memberikan kemudahan para tokohnya yang menghadapi segudang masalah dengan KEBETULAN. Dan Yuri adalah salah satu makhluk Tuhan yang diberi begitu banyak kemudahan. Selain memenangkan apartemen, kebetulan sekali Yuri harus bersebelahan dengan Lee Ha Jae yang kebetulan seorang artis juga. Kebetulan juga Yuri dapat diterima menjadi reporter tabloid gosip yang harus membongkar ke mana hilangnya Lee Hae Sung dan memiliki bos yang tak kalah tampan bernama Kim Jae Hoon. Jangan lupakan kebetulan kalau Ha Jae dan Jae Hoon ternyata dulu memperebutkan cewek yang sama, Hyoen Hye, dan sekarang... Yuri. Catat juga bahwa kebetulan saat ponsel Yuri tertinggal di toilet, yang menemukannya adalah Ha Jae. Dan campur tangan Tuhan masih bermain saat kebetulan Ha Jae yang sedang makan bersama Yuri di restoran menangkap basah Hyoen Hye bermesra-mesra ria bersama suaminya...

Saya sama sekali tidak menyukai karakter Yuri. Entah kenapa, ia senang sekali berteriak-teriak dan menuduh setiap cowok yang berbuat baiknya padanya sebagai pemerkosa. Yuri sering bertindak tanpa berpikir dan tidak belajar dari pengalaman. Ia juga plin-plan. Sekarang benci, besok jinak, sesaat kemudian garang lagi. Ia sama sekali tidak merasa kalau ia hidup di negeri orang dan seharusnya ia menyesuaikan diri dengan gaya hidup di sana.

Saya juga tidak dapat menemukan chemistry antara Yuri dengan Ha Jae ataupun Jae Hoo sehingga saya mempertanyakan apa bagusnya cewek manja satu ini untuk disukai? Alur ceritanya naik turun tidak jelas, sampai saya pun menuduh Ha Jae plin plan dan Jae Hoo akan menyambar siapa pun cewek yang menjadi tokoh utama cerita ini.

Saya juga tidak mengerti apa yang menjadi pertimbangan menggunakan berbagai macam sudut pandang penulisan. Pada banyak bagian, tokoh utama adalah Yuri sebagai 'aku'. Tapi, di beberapa bagian lainnya, sudut pandang menjadi orang ketiga entah bercerita mengenai Ha Jae atau Jae Hoon. Kenapa penulis tidak sekalian mengambil sudut pandang 'aku' dari tiga orang tokoh atau orang ketiga saja? Gara-gara ketidakkonsistenan sudut pandang ini, penulis melakukan beberapa kesalahan dengan menulis aku dengan Yuri atau Yuri dengan aku.

Ya, ini adalah sebuah novel debut Vindri Prachmitasari yang dikemas dengan begitu manis dan menarik (walau saya mempertanyakan esensi sakura di kover dan dalam buku yang tidak ada relevansinya sama sekali dengan apa pun dalam cerita), serta dibandol dengan harga yang cukup bersahabat. Tapi, saya yakin sekali, bila dilakukan riset yang lebih menyeluruh serta kerjasama yang baik antara penulis dan editor dalam menambal 'lubang' dalam cerita, novel ini akan menjadi sebuah bacaan yang sangat menghibur.

Dan menurut saya, akan lebih baik lagi jika novel dibuka langsung pada kejutan saat Yuri menemukan dirinya tertidur seranjang dengan Ha Jae dibandingkan dengan pengumuman kalau Yuri memenangkan hadiah undian. Konflik-konflik yang muncul dapat dibumbui dengan segala kesulitan hidup Yuri di Korea TANPA mendapat bantuan dari siapa pun.

Oh, ya, saya bersyukur sekali bahwa tidak terlalu banyak ungkapan dalam bahasa Korea yang muncul di novel The Apartement, tapi mungkin ada baiknya tata bahasa Inggris yang digunakan diperiksa kembali agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan kecil yang cukup mengganggu.

Saya harap Mbak Vindri terus dapat mengembangkan novel-novelnya, karena tidak akan ada pasir yang halus sebelum bebatuan menghadapi kerasnya kikisan alam.