Photobucket

Rabu, 06 Maret 2013

Tujuh Hari Bersamamu

Seven Days
by Rhein Fathia
www.rheinfathia.com

"Anggap ada yang mau bayarin kamu jalan-jalan ke mana aja, nggak peduli berapa biayanya. Kamu diberi waktu selama TUJUH HARI dan harus mengajak SATU orang saja. Ke mana kamu akan pergi traveling, sama siapa, dan apa alasannya?"

Bagaimana jika mendadak ada orang yang akan membiayai aku berplesir secara GRATIS? *terdiam sesaat* Baiklah, jika kesempatan itu benar-benar datang, aku akan menghabiskan waktu bersama almarhum Papa. Ke mana? Tidak ke mana-mana. Lho? Iya, karena aku maupun Papa bukan tipe orang yang suka berjalan-jalan.. Kami berdua pergi ke suatu tempat karena memiliki tujuan. Andaikan tidak sekalipun, kami tidak akan berlama-lama di satu toko saat window shopping. Oleh karena itu, biasanya aku bisa mengerti saat Papa harus menemani Mama berbelanja :))

Anyway, tapi karena ini adalah berandai-andai, aku akan melakukannya. Jika diberikan kesempatan untuk bertemu Papa lagi DAN ada yang membiayai perjalanan kami selama tujuh hari, aku akan mengajak Papa bersilaturahmi. Hal terakhir yang kami bahas beberapa hari sebelum Papa berpulang adalah bersilaturahmi. Dengan sanak keluarga dan saudara yang tersebar di mana-mana, apakah kita hanya mengandalkan teknologi untuk bertegur sapa? Waktu itu aku bercanda, "Yang penting doanya, Pa. Biar jarak memisahkan, Insya Allah doa akan sampai, kok." Dan JRENG, Allah mengambil Papa ....

Aku seakan diingatkan Allah bahwa selain doa, selama kita ada umur, janganlah kita membenamkan diri pada pekerjaan atau hal lainnya. Ada orang-orang yang menanti kita, bukan via telepon, Twitter, Facebook, atau Skype, melainkan mengetuk pintu pagar, mengucap salam, dan mungkin sebuah jabat tangan atau peluk hangat. Betapa teduh hati ini saat melihat senyum terkembang si empunya rumah melihat siapa yang berdiri di luar rumahnya.

Tujuh hari bersama Papa, bersilaturahmi keliling Indonesia. Oke, ralat, mungkin keliling Pulau Jawa. Bertemu para kenalan, meminta maaf pada mereka, sekaligus berpamitan. Aku akan menemaninya, berbagi rindu juga cerita. Mungkin juga menyempatkan diri untuk menikmati ubi cilembu atau jagung urap kesukaan kami sepanjang jalan. Tambahkan juga nasi goreng kampung ke dalam kuliner yang harus kami cicipi berdua. Dan saat kesempatan tujuh hari itu akan berakhir, aku akan mengantarkan Papa kembali ke peristirahatan terakhirnya, memeluknya, dan berharap suatu saat nanti aku dapat bertemu lagi dengannya di sisi Allah. Insya Allah di surganya, amin.

In memoriam of my beloved Dad. I love you and always miss you.

Jakarta, 7 Maret 2013. 

Tulisan ini diikutkan dalam Kuis Novel Seven Days di sini.

Minggu, 27 Januari 2013

Saat Harus Memilih: Di Antara Dua Hati


Sudah lama saya ingin sekali membaca buku yang satu ini dan betapa bahagianya saya saat akhirnya mendapatkannya melalui Annual End of Year 2012 Book Contest yang dilaksanakan oleh Penerbit Esensi dan @okeyzz. Selain karena kovernya yang sederhana, tapi manis, judulnya juga mengindikasikan akan… “sesuatu”.

Judul: Heart of the Matter-Di antara Dua Hati
Penulis: Emily Giffin
Penerbit: Esensi
Halaman: 448 lembar






Sinopsis:
Setiap orang yang menginginkan cinta, pastilah mendambakan kebahagiaan. Namun, bolehkah suatu sumpah sacral dikhianati karena salah satu pihak merasa tidak menemukan kebahagiaan? Lalu, bagaimana pula dengan seseorang yang mencari kebahagiaan cinta lewat pengkhianatan?

Tessa Russo adalah seorang istri dan ibu yang berjuang keras untuk mengurus rumah tangganya. Suaminya, Nick Russo, adalah seorang pria yang tampan dan terkenal sebagai ahli bedah yang andal. Situasi rumah tangga mereka sedang terasa tidak nyaman, begitu pula situasi mereka terhadap satu sama lain. Nick merasa tuntutan pekerjaan dan kewajibannya di rumah saling bertentangan, sedangkan Tessa berharap Nick akan berperan lebih banyak di dalam rumah tangga mereka.

Namun, pada suatu malam, sebuah kecelakaan membuat jalan hidup mereka bersimpangan dengan seorang wanita lain: Valerie Anderson. Ia adalah wanita kesepian dan oran tua tunggal bagi seorang anak yang tidak pernah mengenal ayahnya.

Sejak itu, kehidupan ketiga orang itu tidak lagi sama. Ada cinta  yang diuji, ada sumpah yang dilanggar, dan ada aturan yang diabaikan. Namun, apakah cinta akan mengatasi segalanya? Kita kembalikan pada hakikatnya.

Membaca sinopsisnya, langsung terlintas satu kata di benak saya: perselingkuhan. Sebuah tema yang sudah umum diangkat menjadi novel atau apa pun karena sudah menjadi bagian dalam hidup manusia. Setiap orang mungkin akan merasakannya, bahkan mungkin melakukannya. Tidak terkecuali, termasuk saya. Yang saya ingin tahu adalah bagaimana Emily Giffin meramu perselingkuhan ini menjadi sebuah novel yang menarik untuk dibaca.

Tessa Russo digambarkan sebagai wanita biasa, yang akhirnya memilih berhenti bekerja demi menjadi ibu rumah tangga dan mengurusi kedua buah hatinya, Ruby dan Frank. Tapi, seperti rata-rata ibu mantan wanita karier lainnya, Tessa tidak dapat langsung beradaptasi dengan perannya yang baru. Ia merasakan waktunya sebagai ibu rumah tangga tidak pernah cukup mengurusi semuanya. Ia mengharapkan Nick membantu, tapi seperti seorang pria pada umumnya, ia tidak terlalu peduli dengan urusan remeh temeh rumah tangga.

Nick sendiri adalah pria yang santai. Dengan pekerjaannya sebagai dokter bedah, ia banyak disukai orang karena wajah dan karakternya. Termasuk pasien kecilnya, Charlie, yang mengalami luka bakar saat memanggang marshmallow. Perawatannya terhadap Charlie membuat Nick banyak berinteraksi dengan Valerie, ibunda Charlie. Seringnya mereka mendiskusikan Charlie, akhirnya membuat hubungan Nick dan Valerie lebih dari sekadar dokter dan ibunda pasiennya.

Valerie bukanlah wanita yang terbuka. Ia cenderung tertutup dan saat ia ditinggalkan dalam kondisi hamil oleh sang mantan pacar, Valerie tidak dapat berbuat banyak selain kembali bekerja sebagai pengacara, melahirkan Charlie, dan meneruskan hidup dengan berinteraksi sesedikit mungkin dengan orang lain. Walaupun Jason, saudara kembarnya yang ceria, selalu mendorong Valerie untuk lebih terbuka, wanita itu memilih hidup dalam cangkang yang aman sampai kondisi Charlie membuatnya dekat dengan Nick.

Seperti yang dapat ditebak, mulailah hubungan segitiga di antara dua wanita dan satu pria ini. Saya pribadi dapat melihat alasan Valerie tertarik pada Nick, tapi saya kurang merasakan apa yang menjadi masalah utama Nick. Memang, kesibukan Nick di RS dan kejenuhan Tessa di rumah mungkin membuat keduanya dalam kondisi bosan yang dapat membahayakan pernikahan. Saya berharap, sebagai perempuan, Nick memiliki alasan yang sangat, sangat kuat untuk menjalin hubungan dengan Valerie, bahkan sampai jatuh cinta, dan mengkhianati Tessa.

Saya juga tidak merasakan apa yang membuat Nick begitu berubah setelah ia menghabiskan waktu yang intim dengan Valerie dan mengakui perasaannya pada wanita itu, ia akhirnya memilih kembali pada Tessa. Apakah karena penulis cerita ini adalah seorang wanita sehingga ia tidak terlalu menggali dalam-dalam perasaan Nick? Ataukah karena sudut penceritaan yang unik yang digunakan Emily adalah sebagai Tessa dan Valerie, bukan Nick?

Apa yang dialami Tessa atau Valerie dapat saya alami juga. Pun wanita-wanita lain. Tak peduli ia tinggal negara maju atau berkembang. Saya sempat berkaca-kaca membaca beberapa halaman terakhir buku ini.Saat itu, anak keduaku menghampiri saya dan bertanya, "Kenapa Mama sedih?" Oh, ya, Sayang, Mama sedih karena tidak dapat menyalahkan Tessa, Valerie, atau Nick. Mereka semua punya alasan, tapi manakah alasan yang dapat dibenarkan? Andaikan Nick dapat lebih berbahagia bersama Valerie, apakah seharusnya Tessa mengalah? Atau apakah akan lebih baik Nick dan Tessa kembali bersama demi anak-anak setelah apa yang terjadi? Atau... ada banyak pertanyaan lain yang mungkin saya tanyakan tanpa tahu jawabannya.

Emily Giffin mampu mengangkat masalah umum dengan bahasa yang sederhana. Dengan latar belakang keluarga masing-masing karakter yang sama kacaunya, kita dibawa pada kenyataan bahwa untuk menjaga sebuah perkawinan tidak hanya dibutuhkan cinta, tapi juga komitmen dan kesetiaan.

Selasa, 22 Januari 2013

Hangatnya Morning Sunshine


Saya mendapatkan buku ini dari barter dengan seorang teman yang kebetulan kedobelan. Saya sendiri pernah ikut acara giveaway Mbak Irin sendiri, sayangnya gagal mendapatkannya. Saat teman saya menawarkan barter buku Morning Sunshine ini, tak ayal saya langsung menyambarnya :)

Judul: Morning Sunshine
Penulis: Irin Sintriana
Penerbit: Media Pressindo
Tahun Terbit: Mei 2012

Sinopsis di kover belakang:

Dia melukis pelangi di hidupmu yang hitam putih.
Mengisi hari-harimu dengan kejutan-kejutan manis.
Menggenggam erat tanganmu, seolah tak akan pernah lagi melepasnya.

"Aku mencintaimu," katanya.
Dan kamu percaya bahwa hanya kamulah satu-satunya.

Kemudian kamu mendapati dirimu terkhianati.
Ingin sekali mengucapkan sesuatu, namun lidahmu terlalu kelu.
Airmatamu meleleh, genangan bening mengalir membentuk anak sungai di pipimu.

Ternyata, setahun saja tidak cukup.

Erish, seorang manager HRD di Cemerlang Group, harus menghadapi ‘hukuman’ dari sang direktur baru, Frans, gara-gara keteledorannya melupakan acara penyambutan beliau. Karena terburu-buru, Erish luupa mengganti pakaian rumahnya saat ia berpapasan dengan Frans. Alhasil, ia malah dipaksa pindah jabatan sebagai sekretaris pribadi sementara Frans. Seperti yang sudah diperkirakan, hubungan sebagai direktur dan sekretaris ini membuat keduanya dekat. Namun, kehadiran pria dari masa lalu Erish, juga tentangan dari ayah Frans, membuat hubungan keduanya berantakan. Apakah Erish harus melepaskan cintanya lagi kali ini?

“Bukankah aku pernah bilang padamu? Lebih baik aku kehilangan segalanya daripada harus kehilangan dirimu.” 

Erish adalah seorang wanita yang pernah menghadapi pahitnya dikhianati. Cintanya yang suci disia-siakan begitu saja oleh Damian, meninggalkan luka yang begitu dalam di hatinya. Ia menjadi seorang pribadi yang agak tertutup (tapi juga terbuka?). Kenapa saya bilang tertutup? Karena ia tidak ingin membagikan kisah masa lalunya pada siapa pun, juga terlalu terharu biru saat ia harus berhadapan kembali dengan Damian. Kenapa terbuka? Karena saya merasakan tindakan atau kata-kata yang diucapkan Erish tidak terlalu terkesan tertutup. Sebagai seorang manager HRD, saya juga merasakan kalau Erish kurang ‘tegas’. Begitu ia disakiti oleh Damian, saat pria itu memintanya kembali, Erish pun bersedia ‘kembali’….

“Melupakan berarti berusaha menghapus kenangan, sedangkan merelakan berarti belajar melepaskan.” 

Frans sendiri adalah tipe seorang pria yang… yah, mungkin dalam jajaran cowok yang bisa dibilang sempurna? Walau-entah-bagaimana-caranya ia bisa langsung suka pada Erish (mungkin karena kesan pertama yang begitu amburadul), ia adalah sosok pria yang mudah untuk disukai. Selain fisiknya yang oke dan status direkturnya, ia juga pria yang mau berjuang demi orang yang dia cintai.

“Sederhana saja, karena dia bukan yang terbaik.” 

Damian sendiri… Hm, menurut saya Damian tidaklah sebrengsek yang saya bayangkan. Saya berharap Damian seorang karakter yang bisa saya maki-maki, tapi pada akhirnya ia adalah seorang pria yang dibutuhkan untuk membangun cerita agar berjalan.

Banyak masalah yang dihadapi oleh Erish, juga Frans. Namun, saya merasakan bahwa banyak juga ‘kebetulan’ agar Erish tidak terlalu bersusah payah menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Misalnya saja… di antara begitu banyak orang dan perusahaan di dunia ini—ralat, Indonesia—entah kenapa, perusahaan Frans begitu ‘tergantung’ pada perusahaan kakak Damian. Dan begitu hebatnya peran si perusahaan ini sampai-sampai Erish harus mengorbankan perasaannya dan kembali pada Damian demi kontrak yang akan didapatkan perusahaan Frans.

Frans sendiri sempat begitu kecewa saat Erish mengaku kalau ia kembali pada Damian karena ia ingin Frans tidak mengharapkan dirinya. Namun, dalam waktu yang sangat singkat, kurang lebih setengah hari (?), Frans sudah tahu duduk perkara sebenarnya dan kembali mesralah hubungan Frans dan Erish.

Seperti cerita-cerita cinta pada umumnya, peran ortu yang tidak setuju biasanya juga menjadi salah satu momok. Begitu pula dalam hubungan Erish dan Frans. Ayah Frans sangat tidak menyetujui kalau Erish menjadi bakal calon menantunya. Tapi, saya tidak melihat alasan kuat kenapa beliau begitu ingin menjauhkan Erish dari Frans… Dan dengan segala tipu daya licik yang digalakkan oleh ayah Frans, saya merasa penyelesaian pertikaian di antara mereka terlalu mudah.

Sejak awal, Irin Sitriana sudah membuat kemasan yang cantik untuk promosi buku-bukunya, termasuk Morning Sunshine. Trailernya begitu memikat, menggugah rasa penasaran saya (salut!). Sayangnya, pengemasan novel ini tidak sememikat yang saya harapkan. Bahkan saya sempat ragu kalau novel ini diterbitkan secara major… Memang, kita tidak boleh menghakimi sesuatu dari luarnya saja. Hanya saja, saya merasa sayang novel ini kurang dikemas dengan maksimal.

Novel ini termasuk tipis, tapi padat. Mungkin karena itu alur terasa cepat sekaligus lambat. Kenapa begitu? Masalah demi masalah datang menghampiri Erish, tapi penyelesaian demi penyelesaian juga langsung mengikuti. Seakan istilah ‘setelah gelap terbitlah terang’ itu berlaku padanya. Andaikan beberapa konflik lebih diperdalam dan Erish dibuat kesulitan untuk menyelesaikannya, saya akan merasakan ‘greget’ yang lebih. Lalu, kenapa juga saya nilai lambat? Karena beberapa adegan digambarkan terlalu bertele-tele. Misalnya, bab 1. Akan lebih seru kalau adegannya dibuka dengan pertengkaran Erish dan Frans karena keteledoran Erish.

Saya juga salut pada Irin yang berhasil membuat kalimat-kalimat romantis di sepanjang isi buku ini. Yang mungkin agak terasa janggal adalah Frans yang mengatakan kalimat-kalimat romantis itu panjang lebar. Saya belum pernah bertemu seorang pria yang dapat memikirkan kalimat seromantis dan sepanjang itu. Mungkin memang ada pria seperti Frans di dunia ini.

“Dan akan ia lakukan apapun untuk membuat wanita itu tetap tersenyum. Karena ia mengenal bahagia saat melihat wanita itu tertawa.” 

Pembaca yang tidak menyukai sinetron mungkin juga tidak menyukai cerita ini. Morning Sunshine mirip seperti sebuah FTV, sehingga saya masih begitu menikmati membacanya sampai halaman terakhir. Irin Sintriana membuktikan bahwa tulisannya terus mengalami peningkatan. Ia juga pandai menjalin komunikasi yang baik dengan para pembacanya.

Hal lain yang harus digarisbawahi dari novel ini: jangan pernah berhenti bergerak maju. Masa lalu adalah masa lalu, ia bisa menjadi bagian dari masa depanmu. Tapi, bukan berarti kau harus terpaku padanya.

"Tahu bedanya melupakan dan merelakan? Melupakan berarti berusaha menghapus kenangan, sedangkan merelakan berarti belajar melepaskan. Dan kenangan tidak mungkin dihapus. Yang perlu kamu lakukan adalah merelakannya, menutup rapat pintu itu."

P.S. Saya salut pada Mbak Irin yang tidak memakai seting Korea dalam novelnya.

Dibuat dalam rangka Lomba Review Karya Irin Sintriana.





Rabu, 09 Januari 2013

Menjelajahi The Apartement



The Apartment

Penulis: Vindri Prachmitasari
Penerbit: Media Pressindo
Terbit: Juli 2012

 Oh, no. It's another Korean...

Pikiran itu langsung terlintas begitu saya membaca sinopsis The Apartement. Sejujurnya, saya muak dengan segala hal berbau Korea. Bukan saya membenci Korea, lho. Saya juga tetap menonton beberapa K-drama, mendengarkan lagu-lagunya, dan tahu beberapa nama selebritisnya. Namun, yang membuat saya bosan di sini adalah lagi-lagi penulis kita memakai seting atau apa pun berembel-embel Korea dalam novelnya... Saya tahu Korea sedang happening dan mungkin hal ini masih akan bertahan beberapa saat ke depan, tapi haruskah kita menggunakan seting Korea dalam novel anak bangsa?

Oh, well...

Secara garis besar, The Apartement bercerita mengenai Yuri Anaztasia yang dengan kejaiban alam dan Tuhan yang sangat, sangat bermurah hati, bisa memenangkan undian berhadiah apartemen di Korea, lengkap dengan segala isinya, akomodasi, dan apa saja yang diperlukan seseorang untuk pindah ke Korea sehingga Yuri cukup bawa badan saja ke sana. Oh, wow. Tanpa memikirkan pekerjaannya di Indonesia (kalau memang Yuri bekerja sebelumnya) atau keluarganya yang tinggal Mama dan seorang adik yang masih duduk di bangku SMU atau persiapan apa pun (misalnya bagaimana dia hidup nantinya di Korea atau minimal bagaimana cara berkomunikasi di sana), Yuri memilih hengkang ke Korea. Perjalanannya mencari ke apartemen juga begitu dimudahkan Tuhan sampai akhirnya Yuri memasuki apartemennya, tidur, dan menemukan ada seorang cowok tidur di sebelahnya ketika ia terbangun. Kalap, Yuri mengamuk, berteriak-teriak pada cowok misterius itu, menuduhnya sebagai pemerkosa, dan memukulinya sampai... ia mengetahui kalau ialah yang salah masuk kamar. Kehidupan Yuri di Korea mulai bergulir...

Butuh waktu lama bagi saya menyelesaikan novel ini. Saya adalah tipe orang yang berhenti membaca jika sebuah cerita tidak berhasil membuat saya tertarik. Rasa penasaran mengetahui bagaimana akhir novel The Apartement ini nyaris dikalahkan oleh keinginan saya meletakkan novel ini dan menggantinya dengan judul lain. Namun, rasa penasaran itu akhirnya menang, terlebih saya telah membacanya sampai setengah buku. Syukurlah novel ini tidak sampai 200 halaman.

Anyway, banyak sekali kejanggalan yang menurut saya tidak masuk akal. Misalkan saja, bagaimana bisa Yuri SALAH MASUK KAMAR? Bolehlah ia salah melihat nomor, tapi, halooo? Kunci kamar Yuri tidak mungkin dapat digunakan untuk membuka kunci kamar Lee Ha Jae, bukan? Kalau memang itu bisa terjadi, kasus pencurian di apartemen mungkin menjadi hal yang lumrah. Selain itu, saya tidak dapat mengerti bagaimana bisa kamar 396 dan kamar 369 yang selisih angkanya hingga 27 bisa BERSEBELAHAN? Apakah apartemen di Korea ini dinomori secara acak? Jika saja posisi kamar diganti berhadap-hadapan masih masuk akal, tapi bersebelahan? Ada juga kasus saat Yuri tertidur di dalam mobil orang yang katanya lupa dikunci? Waduh, apakah orang-orang Korea zaman sekarang hobi meninggalkan mobilnya dalam keadaan tidak terkunci?

Yuri mengatakan kalau orang Korea rata-rata tidak mengerti bahasa Inggris. Bahkan Yuri harus mengeluarkan kamus percakapan bahasa Korea di awal-awal cerita. Namun, seiring berjalannya waktu, orang-orang Korea di sekitar Yuri dengan ajaib lancar berbahasa Inggris atau Yuri yang langsung cas-cis-cus berbahasa Korea? Entahlah, yang pasti Yuri tidak mengalami kendala bahasa yang biasanya menjadi momok bagi pendatang baru di sebuah negara asing yang bahasa maupun tulisannya sangat berbeda.

Dan lagi-lagi, tidak seperti pendatang jobless pada umumnya, selama di Korea, Yuri tidak memusingkan biaya hidupnya di sana. Dan dengan anugerah Tuhan, entah bagaimana caranya Yuri dapat diterima sebagai REPORTER sebuah tabloid gosip, mengingat Yuri tidak bisa berbahasa Korea sama sekali. Bahkan, CATAT, ia tidak tahu siapa yang harus ia liput. Yuri sendiri bisa dibilang tidak memiliki pengalaman sebagai seorang reporter karena sang bos yang berhati bagai malaikat mau mengajarinya meliput berita... dan Yuri menggerutu karena hal ini? Come on! Yuri sama sekali tidak digambarkan mengalami kesulitan saat meliput, bahkan kapan ia belajar menjadi reporter pun tidak dibahas sama sekali.

Keanehan lain menghantui Lee Ha Jae. Cowok tampan misterius berpenampilan awut-awutan ini ternyata ada hubungannya dengan Jae Hae Sung yang, lagi-lagi dengan campur tangan Tuhan, harus diliput oleh Yuri. Siapa sangka kalau ternyata mereka adalah orang yang sama? Hae Sung meninggalkan dunia artis ketika Hyoen Hye, kekasihnya, tewas dalam sebuah shooting film setahun lalu. Dan dengan aman sentosa, Hae Sung dapat hidup sebagai Ha Jae tanpa ada yang menyadarinya sama sekali? Saat Hyoen Hye yang bangkit dari kubur mengetuk pintu apartemen Ha Jae, cowok itu langsung mendapat wangsit untuk kembali ke dunia artis. Tapi, tetap dengan santainya berkeliaran di taman atau restoran sebagai Hae Sung tanpa takut dikejar-kejar penggemar setianya tanpa menyamar.

Saya ingin tahu bagaimana publik Korea dapat dikibuli oleh berita kematian Hyoen Hye sampai Hae Sung harus berkubang dalam duka nestapa selama setahun sementara Hyoen Hye malah dapat menikah?

Saya pernah membaca tulisan Clara Ng bahwa kekurangan utama para penulis kita adalah memberikan kemudahan para tokohnya yang menghadapi segudang masalah dengan KEBETULAN. Dan Yuri adalah salah satu makhluk Tuhan yang diberi begitu banyak kemudahan. Selain memenangkan apartemen, kebetulan sekali Yuri harus bersebelahan dengan Lee Ha Jae yang kebetulan seorang artis juga. Kebetulan juga Yuri dapat diterima menjadi reporter tabloid gosip yang harus membongkar ke mana hilangnya Lee Hae Sung dan memiliki bos yang tak kalah tampan bernama Kim Jae Hoon. Jangan lupakan kebetulan kalau Ha Jae dan Jae Hoon ternyata dulu memperebutkan cewek yang sama, Hyoen Hye, dan sekarang... Yuri. Catat juga bahwa kebetulan saat ponsel Yuri tertinggal di toilet, yang menemukannya adalah Ha Jae. Dan campur tangan Tuhan masih bermain saat kebetulan Ha Jae yang sedang makan bersama Yuri di restoran menangkap basah Hyoen Hye bermesra-mesra ria bersama suaminya...

Saya sama sekali tidak menyukai karakter Yuri. Entah kenapa, ia senang sekali berteriak-teriak dan menuduh setiap cowok yang berbuat baiknya padanya sebagai pemerkosa. Yuri sering bertindak tanpa berpikir dan tidak belajar dari pengalaman. Ia juga plin-plan. Sekarang benci, besok jinak, sesaat kemudian garang lagi. Ia sama sekali tidak merasa kalau ia hidup di negeri orang dan seharusnya ia menyesuaikan diri dengan gaya hidup di sana.

Saya juga tidak dapat menemukan chemistry antara Yuri dengan Ha Jae ataupun Jae Hoo sehingga saya mempertanyakan apa bagusnya cewek manja satu ini untuk disukai? Alur ceritanya naik turun tidak jelas, sampai saya pun menuduh Ha Jae plin plan dan Jae Hoo akan menyambar siapa pun cewek yang menjadi tokoh utama cerita ini.

Saya juga tidak mengerti apa yang menjadi pertimbangan menggunakan berbagai macam sudut pandang penulisan. Pada banyak bagian, tokoh utama adalah Yuri sebagai 'aku'. Tapi, di beberapa bagian lainnya, sudut pandang menjadi orang ketiga entah bercerita mengenai Ha Jae atau Jae Hoon. Kenapa penulis tidak sekalian mengambil sudut pandang 'aku' dari tiga orang tokoh atau orang ketiga saja? Gara-gara ketidakkonsistenan sudut pandang ini, penulis melakukan beberapa kesalahan dengan menulis aku dengan Yuri atau Yuri dengan aku.

Ya, ini adalah sebuah novel debut Vindri Prachmitasari yang dikemas dengan begitu manis dan menarik (walau saya mempertanyakan esensi sakura di kover dan dalam buku yang tidak ada relevansinya sama sekali dengan apa pun dalam cerita), serta dibandol dengan harga yang cukup bersahabat. Tapi, saya yakin sekali, bila dilakukan riset yang lebih menyeluruh serta kerjasama yang baik antara penulis dan editor dalam menambal 'lubang' dalam cerita, novel ini akan menjadi sebuah bacaan yang sangat menghibur.

Dan menurut saya, akan lebih baik lagi jika novel dibuka langsung pada kejutan saat Yuri menemukan dirinya tertidur seranjang dengan Ha Jae dibandingkan dengan pengumuman kalau Yuri memenangkan hadiah undian. Konflik-konflik yang muncul dapat dibumbui dengan segala kesulitan hidup Yuri di Korea TANPA mendapat bantuan dari siapa pun.

Oh, ya, saya bersyukur sekali bahwa tidak terlalu banyak ungkapan dalam bahasa Korea yang muncul di novel The Apartement, tapi mungkin ada baiknya tata bahasa Inggris yang digunakan diperiksa kembali agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan kecil yang cukup mengganggu.

Saya harap Mbak Vindri terus dapat mengembangkan novel-novelnya, karena tidak akan ada pasir yang halus sebelum bebatuan menghadapi kerasnya kikisan alam.

Selasa, 11 Desember 2012

Mencicip Amore: Cinderella Tuathina


    • Penulis : Mimosa Q.
    • Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
    • Ukuran : 13.5 x 20 cm
    • Tebal : 208 halaman
    • Terbit : Agustus 2012
    • Kover : Softcover
    • ISBN : 978-979-22-8720-2

Awalnya, saya kira Amore ini adalah lini baru novel terbitan Gramedia. Oke, ralat, mungkin lini bukanlah istilah yang tepat. Mungkin seharusnya saya menyebutnya "genre"? Setelah Teenlit, Metropop, dan sejenisnya, sekarang ada logo Amore yang menandakan bahwa isi novel ini sedikit banyak akan berbeda dengan novel-novel yang telah terbit sebelumnya. Karena Amore sendiri kurang lebih berarti 'cinta', saya langsung membayangkan novel-novel roman Harlequinn yang sangat kental muatan cintanya. Apakah Amore ini menyerupai Harlequinn? Mari kita lihat...

Entah karena Amore ini adalah 'anak baru' Gramedia atau alasan lain, dari sedikit judul yang terlihat mata, desain kover novel-novel Amore cenderung tidak seragam. Belum ada ciri khas yang mencerminkan bahwa novel ini memiliki label Amore kecuali dari logonya. Asumsi saya, Amore masih dalam tahap pencarian jati diri dan ciri khasnya.

Sadira Devi, seorang gadis Indonesia, yang berkerja sebagai housekeeper di Hotel Rosalle di Tuathina, sebuah negara kecil dekat Italia, bertemu kembali dengan Zeus, cintanya di masa lalu. Siapa sangka, Zeus yang semakin tampan dan dewasa, mengajaknya makan malam romantis untuk kemudian kembali... mencampakkanya untuk kedua kalinya dengan kata-kata yang menorehkan luka mendalam di hati.

Seakan 'tamparan' bagi Sadira masih kurang, ia harus menghadapi badai salju yang mencegahnya keluar dari hotel tempat Zeus melemparnya bak lap pel. Agar diperbolehkan menumpang tidur di gudang karyawan, akhirnya Sadira memohon pada manajer hotel agar diperbolehkan menjadi housekeeper sementara selama badai. Apalagi kondisi hotel saat itu cukup ramai dan tambahan satu orang tenaga housekeeper akan sangat membantu. Jadilah Sadira pegawai hotel dadakan di sana dan dengan sangat terpaksa melayani penghuni kamar 513 yang sangat menyebalkan. Bagaimana tidak? Cowok yang tidak kalah ganteng dibandingkan Zeus itu hobi sekali menyiksa para housekeeper. Ia akan memastikan setiap sudut ruangan kamarnya dibersihkan. Kalau perlu, harus diulang dua atau tiga kali. Dan tentu saja, semuanya harus dilakukan dengan pengawasan ketat darinya! Sadira yang mulai merasa dirinya limbung, terselamatkan saat seorang staff housekeeper menjemputnya.

Sadira yang demam tinggi kaget setengah mati saat keesokan harinya terbangun di atas tempat tidur berlapis satin dengan hanya mengenakan pakaian dalam dan bukannya di gudang apek berdebu yang disiapkan oleh hotel tempatnya menumpang tidur! Jangan lupa, tambahkan seorang Alvaro yang menakjubkan, penghuni kamar 513, yang tertidur di sebelahnya... dan hanya mengenakan bokser. Eits, masih harus tambah satu kejutan lagi: Zeus juga menjadi saksi saat Sadira ada di tempat tidur Alvaro dengan pakaian minim.

Alvaro yang melihat situasi tersebut, menawarkan diri menjadi kekasih pura-pura Sadira. Apakah Sadira menerima tawaran tersebut? Bagaimana dengan cintanya pada Zeus? Apakah Sadira akan menemukan tambatan hatinya yang sesungguhnya?

Keluhan pertama saya dan terus berlanjut sampai halaman terakhir tercapai ada di bagian kover. Bukan desainnya, melainkan jenis kertas yang digunakan. Saya tidak tahu nama-nama kertas, tapi yang pasti kertas kover Cinderella Tuathina ini sangat kaku dan gampang terlipat. Belum apa-apa, kover novel saya sudah tertekuk-tekuk seakan patah dan hal ini sangat mengganggu saya. Seakan saya membaca buku ini dengan kasar, padahal yang terjadi sebaliknya. Buku yang cantik ini tampak seperti buku bekas yang dibaca oleh banyak orang...

Selain itu, saya menemukan beberapa kesalahan ketik yang walau mungkin tidak terlalu kentara, tapi sedikit banyak menganggu saya. Selain itu, di halaman  84 ada kesalahan yang sangat mengganggu di mana nama Alvaro malah tertulis sebagai Zeus...

Overall, menurut saya, ide cerita novel ini sebetulnya sudah basi. Sangat sesuai dengan judulnya, si miskin bertemu dengan si kaya, lalu mereka menjalin hubungan. Bukannya hal ini tidak mungkin terjadi, tapi... untuk saya terlalu banyak kebetulan dalam Cinderella Thuatina. Gampangnya saja, alangkah sempitnya dunia karena bisa-bisanya Sadira bertemu dengan sang mantan yang ingin dilupakan, tapi tidak bisa, di negara kecil di Eropa? Seakan belum cukup, kebetulan Sadira terjebak di hotel dan harus melayani Alvaro yang memiliki darah Indonesia (juga). Belum lagi, kebetulan Zeus dan Alvaro ternyata adalah sahabat dan mereka menjalin kerja sama. Tidak heran kalau kebetulan kedua pria yang sama-sama tampan, digilai para cewek, terkenal, kaya, memiliki separuh darah Indonesia, sama-sama jatuh cinta pada Sadira.

Di lain pihak, keseluruhan novel terlalu banyak membahas bagaimana perasaan Sadira (yang menurut saya terlalu berlebihan), juga penggambaran sosok Zeus atau Alvaro yang bak dewa. Saya jadi bertanya-tanya bagaimana sebetulnya kehidupan Sadira sebagai seorang housekeeper karena hampir seluruh halaman didominasi hal-hal di luar itu. Saya tidak tahu bagaimana cara Sadira membagi waktu antara menjadi housekeeper di sebuah hotel besar dan berkencan... Saya juga jadi menanyakan bagaimana Sadira mendapatkan sertifikat housekeeper internasional kalau begini cara kerjanya?

Chemistry antara Sadira dan Alvaro juga sama sekali tidak terasa. Alurnya seakan terburu-buru, sehingga saya tidak merasakan momen-momen berkesan yang membuat keduanya saling jatuh cinta. Mereka seakan-akan dipaksa untuk jatuh cinta sesuai skenario, bukan karena 'keinginan' masing-masing karakter. Selain Zeus dan Alvaro yang digambarkan too good to be true, Sadira juga diharuskan memiliki tampang cantik dan polos, dengan tubuh mungil yang akan membuat para pria paling tidak mencuri pandang minimal sekali padanya. Masa lalu antara Sadira dan Zeus juga tidak dibahas sama sekali (ya, buat saya SAMA SEKALI), padahal bila dipikirkan dengan akal sehat, bagaimana mungkin seorang rakyat jelata bisa menjalin hubungan dengan seorang pangeran? Saat Sadira kuliah? Sempatkah ia kuliah dengan kesibukannya mencari uang untuk pengobatan ibunya?

Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, ide cerita novel ini mungkin saja sudah basi, tapi andaikan eksekusinya diubah sedikit, saya yakin Cinderella Thuatina akan menjadi cerita yang lebih berkesan (untuk saya). Saya berharap Zeus dan Alvaro tidaklah sesempurna itu. Dan mungkin saja ceritanya akan lebih masuk akal bila Sadira dan Zeus bertemu di Tuathina saat Sadira mendapat beasiswa kuliah di sana. Lalu, saat Sadira bekerja di hotel di Jakarta, Zeus yang memiliki darah Indonesia memang sengaja datang untuk mengurusi bisnis dari pihak neneknya. Alvaro sendiri adalah orang Indonesia tulen, yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Zeus, kecuali sebagai saingan bisnis di bidang yang sama. Yah, saya yakin, dengan sedikit polesan, banyak revisi, dan bimbingan editor, Cinderella Tuathina ini akan jauh lebih menarik.

Novel debut Mimosa Q. dalam Amore ini mungkin akan menjadi batu pijakan pertama yang menjadi awal novel-novel berbobot karyanya lainnya. Saya yakin Mimosa akan dapat menulis lebih baik lagi ke depannya. Saya percaya.

Review ini diikutsertakan dalam "2012 End of Year Book Contest"

Minggu, 09 Desember 2012

Menghadapi 30 Tahun dengan Senyuman


Judul: Amazing 30 – Melewati Usia 30 dengan Senyuman
Penulis: Beta Kun Natapradja
Penerbit: Stiletto Book
Editor: Herlina P Dewi
Desain Cover: Icko Denotto & Felix Rubenta
Tebal: 170 halaman
Harga: 35.000



Berumur 30 itu musibah atau berkah? Tidak sedikit wanita yang takut menghadapi angka ini. Alasannya banyak, tentu saja. Dan 30 menjadi momok yang menakutkan bagi para wanita single walaupun pada kenyataannya hampir semua wanita mengalaminya. Yang belum menikah, umur 30 seakan menjadi angka keramat yang selalu mengingatkan untuk menikah sebelum umur tercapai. Yang sudah menikah, umur 30 menjadi sebuah pengingat bahwa umur Anda semakin bertambah dan itu berbanding terbalik dengan kecantikan yang kita miliki. Oh, wow.

Buku ini sedikit banyak menarik perhatian saya dengan judul yang cukup manis, "Amazing 30". Judul ini seakan menyebarkan pesan positif bahwa berumur 30 penuh dengan keajaiban dan kebahagiaan, sehingga Anda layak menyebutnya 'amazing'. Dapatkah kita menghadapi umur 30 dengan senyuman?

Beta Kun Natapradja membeberkan tips dan trik menghadapi usia 30. Masalah apa, sih, yang biasanya akan Anda hadapi? Masalah finansial? Jodoh? Apakah Anda memiliki daftar target yang harus Anda penuhi sebelum umur 30? Dan apakah semua target Anda itu berhasil Anda tercapai? Beta Kun mencoba mengajak Anda berhenti sejenak, meresapi hal-hal positif dari umur 30 dan tersenyum menyambutnya.

"Tak perlu menunggu hujan atau pergantian sinar matahari utk bertemu pelangi. Dia akan selalu ada di dlm hati kita. Pelangi membuat hidupmu lebih berwarna."

Bagi Anda yang pusing mengenai masalah finansial, Anda harus mencicipi bab pertama buku ini. Beta kun akan membantu Anda membuat skala prioritas target-target yang ingin Anda capai. Tentu saja, dilengkapi dengan langkah-langkah yang harus Anda lakukan untuk mencapainya.

Bagaimana dengan Anda yang sudah atau belum memiliki pasangan? Memiliki atau belum, pasangan menjadi 'masalah' dalam hidup para wanita 30 tahun. Anda yang sudah memiliki pasangan akan dipusingkan dengan hubungan emosional antara kedua belah pihak, sementara yang belum memilikinya harus cemas saat menanti sang pangeran berkuda putih (atau mungkin sekarang seharusnya bermobil putih?). Belum lagi pertanyaan, "Kapan? Kapan? Kapan?" yang selalu menghantui.

Konflik biasanya akan muncul dalam kehidupan bersama orang lain. Anda tidak mungkin menghindarinya. Nah, perlu cara untuk menghadapinya. Jangan sampai konflik itu terus memengaruhi hidup Anda dalam bentuk aura negatif, kan? Beta Kun juga menyarangkan agar Anda tetap memiliki "me time", melakukan hal-hal yang Anda sukai untuk menghilangkan stress yang melanda dan membuat syaraf-syaraf Anda yang tegang menjadi lebih santai....

Menjadi 30 bukanlah musibah, percayalah. Itu semua tergantung bagaimana Anda menghadapinya. Beta Kun berhasil memaparkan bahwa menjadi 30 merupakan fase menyenangkan dalam hidup. Anda memiliki kesempatan untuk mengisi toples Anda sendiri dengan berbagai bumbu kehidupan sehingga hidup Anda lebih berasa. Seperti masakan, apalah enaknya jika tidak ada asam dan garam?

Salah satu yang menarik dari buku ini adalah quote-quote yang sangat mengena tapi memberikan arti positif. Anda juga dapat menemukan kisah-kisah nyata yaang dialami beberapa orang, termasuk Beta Kun, dalam menghadapi usia 30. Gaya bertuturnya ringan, sehingga Anda dapat menikmatinya sampai halaman terakhir. Mungkin masalah yang Anda hadapi juga dialami oleh orang lain dan Anda dapat melihat permasalahan itu dari sudut pandang lain melalui cerita-cerita di buku ini.

Keluhan saya ada pada mutu cetak yang kadang-kadang tipis atau berbayang. Ukuran font juga kecil dan rapat, sehingga terkesan 'bulky' dan mungkin akan membuat pembaca yang memiliki silider agak kesulitan membacanya. Namun, di luar itu, kovernya sungguh menawan sehingga awalnya saya sempat mengira buku ini adalah novel, bukannya bertipe non-fiksi yang dapat mencerahkan hidup Anda, seperti bagaimana ia mencerahkan hidup saya.

Saya yakin masih banyak sekali alasan-alasan yang mengganggu wanita menghadapi umur 30. Apakah saya salah satunya? Ada kata pepatah yang mengatakan, "Life begins at thirty." Apakah betul begitu? Andalah yang mampu menjawabnya. Karena mau atau tidak, usia 30 akan datang menghampiri. Jadi, kenapa tidak menyambutnya dengan senyuman?

"Tanpa doa, kita tak kan sanggup menghadapi segala yang ada di dunia. Perlahan, rasa optimis akan terus ada walau dalam perjalanannya sangat berat."


Resensi ini dibuat dalam rangka 2012 End of Year Book Contest 

Menari bersama Tango

First of all, Anda perlu tahu kalau saya bukanlah pencinta Korea. Saya tidak memungkiri kalau saya suka menonton beberapa drama Korea, saya juga suka Lee Min Ho atau Mickey. Tapi, mereka hanyalah beberapa ‘hal’ mengenai Korea yang saya ketahui. Beberapa bintang Korea lainnya saya kenal cukup sebatas wajah atau nama karakter yang diperankannya dalam drama yang kebetulan saya tonton. Salah satunya Geum Jan Di.

Saya tidak menonton Boys Before Flower secara rutin. Namun, saya ingat, saat itu saya memaki-maki Jan Di karena menurut saya dia tidak pantas memerankan si rumput liar di serial tersebut. Untuk saya, tampangnya terlalu tua sebagai anak SMA dan saya tidak menemukan sesuatu yang spesial mengenai dirinya sama sekali. Paling namanya terangkat karena ia berakting bersama empat orang cowok keren lainnya, begitu pikir saya.

Tidak heran kalau saya memandang remeh saat membaca kalimat, “Dalam seminggu, Tango telah terjual di atas 30.000 kopi.” What? Si Jan Di yang ternyata memiliki nama asli Goo Hye Sun (ya, saya baru tahu sekarang) ini disebut-sebut sebagai bintang multibakat yang bersinar? Bahkan, bukunya saja termasuk best seller? Apa selama ini saya salah menilainya?

Tango
Kategori: Novel
Penerbit: Ufuk Publishing House
Penulis: Goo Hye Sun
ISBN: 978-602-18349-8-5
Ukuran: 14 x 20.5 cm
Halaman: 312 halaman
Terbit: 2012
Harga: Rp. 54.900,-





Sinopsis di kover belakang:
Nama lelaki ituKang Jong Woon.
Selama dua tahun ini, artinya bagiku adalah pacar, teman, dan keluarga. Dia adalah lelaki muda dan tampan. Hari ini dia singgah di rumahku lagi. Jong Woon tiba-tiba bamu dua atau tiga langkah sambil berteriak, “Step!” Jong Woon terus berjalan berputar-putar tanpa henti seperti sedang menari, tingkahnya itu seakan mengisyaratkan bahwa ia sedang minta diperhatikan. Lalu, ia melompat ke tempatnya semula seperti seorang anak kecil. Akhirnya, aku bertanya kepadanya lebih dulu karena ia terus berputar.
“Sedang apa?”
“Aku sedang menarikan tarian  yang sangat romantis,” jawab Jong Woon.
“Tarian apa itu?”
“Tango ….”

“Hanya orang yang minum kopi yang tahu rasa pahit itu.”

Cerita dibuka dengan keluh kesah Yun, si pemeran utama wanita, mengenai kopi. Lucu juga membaca bagian ini karena dulu saya juga tidak menyukai kopi. Saya sedikit banyak dapat merasakan betapa Yun tidak menyukai kopi, namun terpaksa untuk menikmatinya hanya karena Jong Woon menyukainya.

“Aku dapat bersabar selama ini, jadi kali ini aku juga pasti bisa.”

Yun, sempat mengalami kebingungan dan kegelisahan saat dia akhirnya harus berpisah dengan Jong Woon. Dia tidak dapat menentukan apa itu kenyataan… Butuh waktu lama baginya untuk menyadari bahwa mengenakan sepatu berhak tinggi yang cantik itu ternyata sangat menyakitkan. Begitu juga saat dia akhirnya berhasil ‘melepaskan’ Jong Woon setelah bertemu dengan Park Si Hoo, seorang pria yang ‘bebas’ seperti awan.

Sejak halaman pertama novel Tango, saya langsung menyadari bahwa cara bertutur Yun sebagai ‘aku’ cukup berbeda dengan ‘aku’ yang biasa saya temui di novel sejenis. Goo Hye Sun memilih tidak menjabarkan atau mendeskripsikan hal-hal yang terlalu mendetail. Bahkan kata Korea dan Seoul hanya muncul masing-masing sekali saja.

Cara bertutur yang digunakan Goo Hye Sun indah. Berbeda dengan kalimat-kalimat sastra, tapi buat saya… indah. Walaupun ada beberapa bagian yang sulit saya tangkap maksudnya, tapi secara garis besar, Hye Sun mampu merangkai kata-kata menjadi suatu paragraf atau bab yang ringkas dan tak bertele-tele. Salut pada sang penerjemah, Dwita Rizki Nientyas, yang mampu membangun ulang apa yang ingin disampaikan Goo Hye Sun dalam bahasa Indonesia.

Saya cukup surprised membaca apa yang terjadi pada Si Hoo. Yun mendeskripsikannya dengan begitu singkat dan sederhana, sementara saya ingin bagian itu lebih dramatis lagi. Emosi yang dirasakan Yun begitu datar sepanjang buku, sehingga saya tidak merasakan adanya naik turun cerita yang seharusnya ada sepanjang alur.

Saya juga menyukai editing novel ini. Walaupun menemukan beberapa kesalahan ketik mulai setengah buku ke belakang, tapi itu jauh lebih baik daripada beberapa novel serupa yang saya baca. Hal ini menunjukkan bahwa Ufuk mampu menjaga kualitas sebuah novel sehingga menambah nilai pada karya ini.

Kover novel Tango untuk saya sangat mewah dengan efek glitter keemasan pada tulisan Tango, walau saya tidak mengerti apa fungsi memajang foto Go Hye Sun di sana. Saya juga merasa bahwa sinopsis di kover belakang sama sekali tidak mewakili keseluruhan cerita. Saya sama sekali tidak menangkap cerita mengenai apa yang akan saya temui saat akan membaca novel ini.

Hal pertama yang menarik perhatian saya saat lembaran Tango terbuka satu demi satu adalah tata letak novel ini. Wow, menarik sekali. Selain terlihat rapi, saya sangat menyukai adanya ornamen-ornamen tambahan di awal bab. Dan saat saya melakukan skimming awal, saya melihat ada ilustrasi pula yang menghiasi beberapa bagian dari buku ini. Jadi, pantaslah saya beri, wow!

Mungkin pujian yang menyatakan bahwa Goo Hye Sun adalah artis serba bisa tidak salah karena untuk saya, ilustrasi yang ada di dalam buku ini memang menakjubkan, memiliki ciri khas sendiri… Walaupun saya tidak mengerti mengapa ada ilustrasi-ilustrasi tersebut. Sebagian besar ilustrasi tidak mewakili cerita di bab bersangkutan dan beberapa kali mengganggu ‘alur’ saya membaca ceritanya.

“Aku akan memulai hidup baru. Aku akan membuka mataku lebar-lebar dan melihat dunia baru.”

Dengan membaca Tango, saya dibawa ke dunia yang belum pernah saya selami sebelumnya. 


Resensi ini diikutsertakan dalam 2012 End of Year Book Contest