Photobucket

Selasa, 22 Januari 2013

Hangatnya Morning Sunshine


Saya mendapatkan buku ini dari barter dengan seorang teman yang kebetulan kedobelan. Saya sendiri pernah ikut acara giveaway Mbak Irin sendiri, sayangnya gagal mendapatkannya. Saat teman saya menawarkan barter buku Morning Sunshine ini, tak ayal saya langsung menyambarnya :)

Judul: Morning Sunshine
Penulis: Irin Sintriana
Penerbit: Media Pressindo
Tahun Terbit: Mei 2012

Sinopsis di kover belakang:

Dia melukis pelangi di hidupmu yang hitam putih.
Mengisi hari-harimu dengan kejutan-kejutan manis.
Menggenggam erat tanganmu, seolah tak akan pernah lagi melepasnya.

"Aku mencintaimu," katanya.
Dan kamu percaya bahwa hanya kamulah satu-satunya.

Kemudian kamu mendapati dirimu terkhianati.
Ingin sekali mengucapkan sesuatu, namun lidahmu terlalu kelu.
Airmatamu meleleh, genangan bening mengalir membentuk anak sungai di pipimu.

Ternyata, setahun saja tidak cukup.

Erish, seorang manager HRD di Cemerlang Group, harus menghadapi ‘hukuman’ dari sang direktur baru, Frans, gara-gara keteledorannya melupakan acara penyambutan beliau. Karena terburu-buru, Erish luupa mengganti pakaian rumahnya saat ia berpapasan dengan Frans. Alhasil, ia malah dipaksa pindah jabatan sebagai sekretaris pribadi sementara Frans. Seperti yang sudah diperkirakan, hubungan sebagai direktur dan sekretaris ini membuat keduanya dekat. Namun, kehadiran pria dari masa lalu Erish, juga tentangan dari ayah Frans, membuat hubungan keduanya berantakan. Apakah Erish harus melepaskan cintanya lagi kali ini?

“Bukankah aku pernah bilang padamu? Lebih baik aku kehilangan segalanya daripada harus kehilangan dirimu.” 

Erish adalah seorang wanita yang pernah menghadapi pahitnya dikhianati. Cintanya yang suci disia-siakan begitu saja oleh Damian, meninggalkan luka yang begitu dalam di hatinya. Ia menjadi seorang pribadi yang agak tertutup (tapi juga terbuka?). Kenapa saya bilang tertutup? Karena ia tidak ingin membagikan kisah masa lalunya pada siapa pun, juga terlalu terharu biru saat ia harus berhadapan kembali dengan Damian. Kenapa terbuka? Karena saya merasakan tindakan atau kata-kata yang diucapkan Erish tidak terlalu terkesan tertutup. Sebagai seorang manager HRD, saya juga merasakan kalau Erish kurang ‘tegas’. Begitu ia disakiti oleh Damian, saat pria itu memintanya kembali, Erish pun bersedia ‘kembali’….

“Melupakan berarti berusaha menghapus kenangan, sedangkan merelakan berarti belajar melepaskan.” 

Frans sendiri adalah tipe seorang pria yang… yah, mungkin dalam jajaran cowok yang bisa dibilang sempurna? Walau-entah-bagaimana-caranya ia bisa langsung suka pada Erish (mungkin karena kesan pertama yang begitu amburadul), ia adalah sosok pria yang mudah untuk disukai. Selain fisiknya yang oke dan status direkturnya, ia juga pria yang mau berjuang demi orang yang dia cintai.

“Sederhana saja, karena dia bukan yang terbaik.” 

Damian sendiri… Hm, menurut saya Damian tidaklah sebrengsek yang saya bayangkan. Saya berharap Damian seorang karakter yang bisa saya maki-maki, tapi pada akhirnya ia adalah seorang pria yang dibutuhkan untuk membangun cerita agar berjalan.

Banyak masalah yang dihadapi oleh Erish, juga Frans. Namun, saya merasakan bahwa banyak juga ‘kebetulan’ agar Erish tidak terlalu bersusah payah menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Misalnya saja… di antara begitu banyak orang dan perusahaan di dunia ini—ralat, Indonesia—entah kenapa, perusahaan Frans begitu ‘tergantung’ pada perusahaan kakak Damian. Dan begitu hebatnya peran si perusahaan ini sampai-sampai Erish harus mengorbankan perasaannya dan kembali pada Damian demi kontrak yang akan didapatkan perusahaan Frans.

Frans sendiri sempat begitu kecewa saat Erish mengaku kalau ia kembali pada Damian karena ia ingin Frans tidak mengharapkan dirinya. Namun, dalam waktu yang sangat singkat, kurang lebih setengah hari (?), Frans sudah tahu duduk perkara sebenarnya dan kembali mesralah hubungan Frans dan Erish.

Seperti cerita-cerita cinta pada umumnya, peran ortu yang tidak setuju biasanya juga menjadi salah satu momok. Begitu pula dalam hubungan Erish dan Frans. Ayah Frans sangat tidak menyetujui kalau Erish menjadi bakal calon menantunya. Tapi, saya tidak melihat alasan kuat kenapa beliau begitu ingin menjauhkan Erish dari Frans… Dan dengan segala tipu daya licik yang digalakkan oleh ayah Frans, saya merasa penyelesaian pertikaian di antara mereka terlalu mudah.

Sejak awal, Irin Sitriana sudah membuat kemasan yang cantik untuk promosi buku-bukunya, termasuk Morning Sunshine. Trailernya begitu memikat, menggugah rasa penasaran saya (salut!). Sayangnya, pengemasan novel ini tidak sememikat yang saya harapkan. Bahkan saya sempat ragu kalau novel ini diterbitkan secara major… Memang, kita tidak boleh menghakimi sesuatu dari luarnya saja. Hanya saja, saya merasa sayang novel ini kurang dikemas dengan maksimal.

Novel ini termasuk tipis, tapi padat. Mungkin karena itu alur terasa cepat sekaligus lambat. Kenapa begitu? Masalah demi masalah datang menghampiri Erish, tapi penyelesaian demi penyelesaian juga langsung mengikuti. Seakan istilah ‘setelah gelap terbitlah terang’ itu berlaku padanya. Andaikan beberapa konflik lebih diperdalam dan Erish dibuat kesulitan untuk menyelesaikannya, saya akan merasakan ‘greget’ yang lebih. Lalu, kenapa juga saya nilai lambat? Karena beberapa adegan digambarkan terlalu bertele-tele. Misalnya, bab 1. Akan lebih seru kalau adegannya dibuka dengan pertengkaran Erish dan Frans karena keteledoran Erish.

Saya juga salut pada Irin yang berhasil membuat kalimat-kalimat romantis di sepanjang isi buku ini. Yang mungkin agak terasa janggal adalah Frans yang mengatakan kalimat-kalimat romantis itu panjang lebar. Saya belum pernah bertemu seorang pria yang dapat memikirkan kalimat seromantis dan sepanjang itu. Mungkin memang ada pria seperti Frans di dunia ini.

“Dan akan ia lakukan apapun untuk membuat wanita itu tetap tersenyum. Karena ia mengenal bahagia saat melihat wanita itu tertawa.” 

Pembaca yang tidak menyukai sinetron mungkin juga tidak menyukai cerita ini. Morning Sunshine mirip seperti sebuah FTV, sehingga saya masih begitu menikmati membacanya sampai halaman terakhir. Irin Sintriana membuktikan bahwa tulisannya terus mengalami peningkatan. Ia juga pandai menjalin komunikasi yang baik dengan para pembacanya.

Hal lain yang harus digarisbawahi dari novel ini: jangan pernah berhenti bergerak maju. Masa lalu adalah masa lalu, ia bisa menjadi bagian dari masa depanmu. Tapi, bukan berarti kau harus terpaku padanya.

"Tahu bedanya melupakan dan merelakan? Melupakan berarti berusaha menghapus kenangan, sedangkan merelakan berarti belajar melepaskan. Dan kenangan tidak mungkin dihapus. Yang perlu kamu lakukan adalah merelakannya, menutup rapat pintu itu."

P.S. Saya salut pada Mbak Irin yang tidak memakai seting Korea dalam novelnya.

Dibuat dalam rangka Lomba Review Karya Irin Sintriana.





Rabu, 09 Januari 2013

Menjelajahi The Apartement



The Apartment

Penulis: Vindri Prachmitasari
Penerbit: Media Pressindo
Terbit: Juli 2012

 Oh, no. It's another Korean...

Pikiran itu langsung terlintas begitu saya membaca sinopsis The Apartement. Sejujurnya, saya muak dengan segala hal berbau Korea. Bukan saya membenci Korea, lho. Saya juga tetap menonton beberapa K-drama, mendengarkan lagu-lagunya, dan tahu beberapa nama selebritisnya. Namun, yang membuat saya bosan di sini adalah lagi-lagi penulis kita memakai seting atau apa pun berembel-embel Korea dalam novelnya... Saya tahu Korea sedang happening dan mungkin hal ini masih akan bertahan beberapa saat ke depan, tapi haruskah kita menggunakan seting Korea dalam novel anak bangsa?

Oh, well...

Secara garis besar, The Apartement bercerita mengenai Yuri Anaztasia yang dengan kejaiban alam dan Tuhan yang sangat, sangat bermurah hati, bisa memenangkan undian berhadiah apartemen di Korea, lengkap dengan segala isinya, akomodasi, dan apa saja yang diperlukan seseorang untuk pindah ke Korea sehingga Yuri cukup bawa badan saja ke sana. Oh, wow. Tanpa memikirkan pekerjaannya di Indonesia (kalau memang Yuri bekerja sebelumnya) atau keluarganya yang tinggal Mama dan seorang adik yang masih duduk di bangku SMU atau persiapan apa pun (misalnya bagaimana dia hidup nantinya di Korea atau minimal bagaimana cara berkomunikasi di sana), Yuri memilih hengkang ke Korea. Perjalanannya mencari ke apartemen juga begitu dimudahkan Tuhan sampai akhirnya Yuri memasuki apartemennya, tidur, dan menemukan ada seorang cowok tidur di sebelahnya ketika ia terbangun. Kalap, Yuri mengamuk, berteriak-teriak pada cowok misterius itu, menuduhnya sebagai pemerkosa, dan memukulinya sampai... ia mengetahui kalau ialah yang salah masuk kamar. Kehidupan Yuri di Korea mulai bergulir...

Butuh waktu lama bagi saya menyelesaikan novel ini. Saya adalah tipe orang yang berhenti membaca jika sebuah cerita tidak berhasil membuat saya tertarik. Rasa penasaran mengetahui bagaimana akhir novel The Apartement ini nyaris dikalahkan oleh keinginan saya meletakkan novel ini dan menggantinya dengan judul lain. Namun, rasa penasaran itu akhirnya menang, terlebih saya telah membacanya sampai setengah buku. Syukurlah novel ini tidak sampai 200 halaman.

Anyway, banyak sekali kejanggalan yang menurut saya tidak masuk akal. Misalkan saja, bagaimana bisa Yuri SALAH MASUK KAMAR? Bolehlah ia salah melihat nomor, tapi, halooo? Kunci kamar Yuri tidak mungkin dapat digunakan untuk membuka kunci kamar Lee Ha Jae, bukan? Kalau memang itu bisa terjadi, kasus pencurian di apartemen mungkin menjadi hal yang lumrah. Selain itu, saya tidak dapat mengerti bagaimana bisa kamar 396 dan kamar 369 yang selisih angkanya hingga 27 bisa BERSEBELAHAN? Apakah apartemen di Korea ini dinomori secara acak? Jika saja posisi kamar diganti berhadap-hadapan masih masuk akal, tapi bersebelahan? Ada juga kasus saat Yuri tertidur di dalam mobil orang yang katanya lupa dikunci? Waduh, apakah orang-orang Korea zaman sekarang hobi meninggalkan mobilnya dalam keadaan tidak terkunci?

Yuri mengatakan kalau orang Korea rata-rata tidak mengerti bahasa Inggris. Bahkan Yuri harus mengeluarkan kamus percakapan bahasa Korea di awal-awal cerita. Namun, seiring berjalannya waktu, orang-orang Korea di sekitar Yuri dengan ajaib lancar berbahasa Inggris atau Yuri yang langsung cas-cis-cus berbahasa Korea? Entahlah, yang pasti Yuri tidak mengalami kendala bahasa yang biasanya menjadi momok bagi pendatang baru di sebuah negara asing yang bahasa maupun tulisannya sangat berbeda.

Dan lagi-lagi, tidak seperti pendatang jobless pada umumnya, selama di Korea, Yuri tidak memusingkan biaya hidupnya di sana. Dan dengan anugerah Tuhan, entah bagaimana caranya Yuri dapat diterima sebagai REPORTER sebuah tabloid gosip, mengingat Yuri tidak bisa berbahasa Korea sama sekali. Bahkan, CATAT, ia tidak tahu siapa yang harus ia liput. Yuri sendiri bisa dibilang tidak memiliki pengalaman sebagai seorang reporter karena sang bos yang berhati bagai malaikat mau mengajarinya meliput berita... dan Yuri menggerutu karena hal ini? Come on! Yuri sama sekali tidak digambarkan mengalami kesulitan saat meliput, bahkan kapan ia belajar menjadi reporter pun tidak dibahas sama sekali.

Keanehan lain menghantui Lee Ha Jae. Cowok tampan misterius berpenampilan awut-awutan ini ternyata ada hubungannya dengan Jae Hae Sung yang, lagi-lagi dengan campur tangan Tuhan, harus diliput oleh Yuri. Siapa sangka kalau ternyata mereka adalah orang yang sama? Hae Sung meninggalkan dunia artis ketika Hyoen Hye, kekasihnya, tewas dalam sebuah shooting film setahun lalu. Dan dengan aman sentosa, Hae Sung dapat hidup sebagai Ha Jae tanpa ada yang menyadarinya sama sekali? Saat Hyoen Hye yang bangkit dari kubur mengetuk pintu apartemen Ha Jae, cowok itu langsung mendapat wangsit untuk kembali ke dunia artis. Tapi, tetap dengan santainya berkeliaran di taman atau restoran sebagai Hae Sung tanpa takut dikejar-kejar penggemar setianya tanpa menyamar.

Saya ingin tahu bagaimana publik Korea dapat dikibuli oleh berita kematian Hyoen Hye sampai Hae Sung harus berkubang dalam duka nestapa selama setahun sementara Hyoen Hye malah dapat menikah?

Saya pernah membaca tulisan Clara Ng bahwa kekurangan utama para penulis kita adalah memberikan kemudahan para tokohnya yang menghadapi segudang masalah dengan KEBETULAN. Dan Yuri adalah salah satu makhluk Tuhan yang diberi begitu banyak kemudahan. Selain memenangkan apartemen, kebetulan sekali Yuri harus bersebelahan dengan Lee Ha Jae yang kebetulan seorang artis juga. Kebetulan juga Yuri dapat diterima menjadi reporter tabloid gosip yang harus membongkar ke mana hilangnya Lee Hae Sung dan memiliki bos yang tak kalah tampan bernama Kim Jae Hoon. Jangan lupakan kebetulan kalau Ha Jae dan Jae Hoon ternyata dulu memperebutkan cewek yang sama, Hyoen Hye, dan sekarang... Yuri. Catat juga bahwa kebetulan saat ponsel Yuri tertinggal di toilet, yang menemukannya adalah Ha Jae. Dan campur tangan Tuhan masih bermain saat kebetulan Ha Jae yang sedang makan bersama Yuri di restoran menangkap basah Hyoen Hye bermesra-mesra ria bersama suaminya...

Saya sama sekali tidak menyukai karakter Yuri. Entah kenapa, ia senang sekali berteriak-teriak dan menuduh setiap cowok yang berbuat baiknya padanya sebagai pemerkosa. Yuri sering bertindak tanpa berpikir dan tidak belajar dari pengalaman. Ia juga plin-plan. Sekarang benci, besok jinak, sesaat kemudian garang lagi. Ia sama sekali tidak merasa kalau ia hidup di negeri orang dan seharusnya ia menyesuaikan diri dengan gaya hidup di sana.

Saya juga tidak dapat menemukan chemistry antara Yuri dengan Ha Jae ataupun Jae Hoo sehingga saya mempertanyakan apa bagusnya cewek manja satu ini untuk disukai? Alur ceritanya naik turun tidak jelas, sampai saya pun menuduh Ha Jae plin plan dan Jae Hoo akan menyambar siapa pun cewek yang menjadi tokoh utama cerita ini.

Saya juga tidak mengerti apa yang menjadi pertimbangan menggunakan berbagai macam sudut pandang penulisan. Pada banyak bagian, tokoh utama adalah Yuri sebagai 'aku'. Tapi, di beberapa bagian lainnya, sudut pandang menjadi orang ketiga entah bercerita mengenai Ha Jae atau Jae Hoon. Kenapa penulis tidak sekalian mengambil sudut pandang 'aku' dari tiga orang tokoh atau orang ketiga saja? Gara-gara ketidakkonsistenan sudut pandang ini, penulis melakukan beberapa kesalahan dengan menulis aku dengan Yuri atau Yuri dengan aku.

Ya, ini adalah sebuah novel debut Vindri Prachmitasari yang dikemas dengan begitu manis dan menarik (walau saya mempertanyakan esensi sakura di kover dan dalam buku yang tidak ada relevansinya sama sekali dengan apa pun dalam cerita), serta dibandol dengan harga yang cukup bersahabat. Tapi, saya yakin sekali, bila dilakukan riset yang lebih menyeluruh serta kerjasama yang baik antara penulis dan editor dalam menambal 'lubang' dalam cerita, novel ini akan menjadi sebuah bacaan yang sangat menghibur.

Dan menurut saya, akan lebih baik lagi jika novel dibuka langsung pada kejutan saat Yuri menemukan dirinya tertidur seranjang dengan Ha Jae dibandingkan dengan pengumuman kalau Yuri memenangkan hadiah undian. Konflik-konflik yang muncul dapat dibumbui dengan segala kesulitan hidup Yuri di Korea TANPA mendapat bantuan dari siapa pun.

Oh, ya, saya bersyukur sekali bahwa tidak terlalu banyak ungkapan dalam bahasa Korea yang muncul di novel The Apartement, tapi mungkin ada baiknya tata bahasa Inggris yang digunakan diperiksa kembali agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan kecil yang cukup mengganggu.

Saya harap Mbak Vindri terus dapat mengembangkan novel-novelnya, karena tidak akan ada pasir yang halus sebelum bebatuan menghadapi kerasnya kikisan alam.

Selasa, 11 Desember 2012

Mencicip Amore: Cinderella Tuathina


    • Penulis : Mimosa Q.
    • Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
    • Ukuran : 13.5 x 20 cm
    • Tebal : 208 halaman
    • Terbit : Agustus 2012
    • Kover : Softcover
    • ISBN : 978-979-22-8720-2

Awalnya, saya kira Amore ini adalah lini baru novel terbitan Gramedia. Oke, ralat, mungkin lini bukanlah istilah yang tepat. Mungkin seharusnya saya menyebutnya "genre"? Setelah Teenlit, Metropop, dan sejenisnya, sekarang ada logo Amore yang menandakan bahwa isi novel ini sedikit banyak akan berbeda dengan novel-novel yang telah terbit sebelumnya. Karena Amore sendiri kurang lebih berarti 'cinta', saya langsung membayangkan novel-novel roman Harlequinn yang sangat kental muatan cintanya. Apakah Amore ini menyerupai Harlequinn? Mari kita lihat...

Entah karena Amore ini adalah 'anak baru' Gramedia atau alasan lain, dari sedikit judul yang terlihat mata, desain kover novel-novel Amore cenderung tidak seragam. Belum ada ciri khas yang mencerminkan bahwa novel ini memiliki label Amore kecuali dari logonya. Asumsi saya, Amore masih dalam tahap pencarian jati diri dan ciri khasnya.

Sadira Devi, seorang gadis Indonesia, yang berkerja sebagai housekeeper di Hotel Rosalle di Tuathina, sebuah negara kecil dekat Italia, bertemu kembali dengan Zeus, cintanya di masa lalu. Siapa sangka, Zeus yang semakin tampan dan dewasa, mengajaknya makan malam romantis untuk kemudian kembali... mencampakkanya untuk kedua kalinya dengan kata-kata yang menorehkan luka mendalam di hati.

Seakan 'tamparan' bagi Sadira masih kurang, ia harus menghadapi badai salju yang mencegahnya keluar dari hotel tempat Zeus melemparnya bak lap pel. Agar diperbolehkan menumpang tidur di gudang karyawan, akhirnya Sadira memohon pada manajer hotel agar diperbolehkan menjadi housekeeper sementara selama badai. Apalagi kondisi hotel saat itu cukup ramai dan tambahan satu orang tenaga housekeeper akan sangat membantu. Jadilah Sadira pegawai hotel dadakan di sana dan dengan sangat terpaksa melayani penghuni kamar 513 yang sangat menyebalkan. Bagaimana tidak? Cowok yang tidak kalah ganteng dibandingkan Zeus itu hobi sekali menyiksa para housekeeper. Ia akan memastikan setiap sudut ruangan kamarnya dibersihkan. Kalau perlu, harus diulang dua atau tiga kali. Dan tentu saja, semuanya harus dilakukan dengan pengawasan ketat darinya! Sadira yang mulai merasa dirinya limbung, terselamatkan saat seorang staff housekeeper menjemputnya.

Sadira yang demam tinggi kaget setengah mati saat keesokan harinya terbangun di atas tempat tidur berlapis satin dengan hanya mengenakan pakaian dalam dan bukannya di gudang apek berdebu yang disiapkan oleh hotel tempatnya menumpang tidur! Jangan lupa, tambahkan seorang Alvaro yang menakjubkan, penghuni kamar 513, yang tertidur di sebelahnya... dan hanya mengenakan bokser. Eits, masih harus tambah satu kejutan lagi: Zeus juga menjadi saksi saat Sadira ada di tempat tidur Alvaro dengan pakaian minim.

Alvaro yang melihat situasi tersebut, menawarkan diri menjadi kekasih pura-pura Sadira. Apakah Sadira menerima tawaran tersebut? Bagaimana dengan cintanya pada Zeus? Apakah Sadira akan menemukan tambatan hatinya yang sesungguhnya?

Keluhan pertama saya dan terus berlanjut sampai halaman terakhir tercapai ada di bagian kover. Bukan desainnya, melainkan jenis kertas yang digunakan. Saya tidak tahu nama-nama kertas, tapi yang pasti kertas kover Cinderella Tuathina ini sangat kaku dan gampang terlipat. Belum apa-apa, kover novel saya sudah tertekuk-tekuk seakan patah dan hal ini sangat mengganggu saya. Seakan saya membaca buku ini dengan kasar, padahal yang terjadi sebaliknya. Buku yang cantik ini tampak seperti buku bekas yang dibaca oleh banyak orang...

Selain itu, saya menemukan beberapa kesalahan ketik yang walau mungkin tidak terlalu kentara, tapi sedikit banyak menganggu saya. Selain itu, di halaman  84 ada kesalahan yang sangat mengganggu di mana nama Alvaro malah tertulis sebagai Zeus...

Overall, menurut saya, ide cerita novel ini sebetulnya sudah basi. Sangat sesuai dengan judulnya, si miskin bertemu dengan si kaya, lalu mereka menjalin hubungan. Bukannya hal ini tidak mungkin terjadi, tapi... untuk saya terlalu banyak kebetulan dalam Cinderella Thuatina. Gampangnya saja, alangkah sempitnya dunia karena bisa-bisanya Sadira bertemu dengan sang mantan yang ingin dilupakan, tapi tidak bisa, di negara kecil di Eropa? Seakan belum cukup, kebetulan Sadira terjebak di hotel dan harus melayani Alvaro yang memiliki darah Indonesia (juga). Belum lagi, kebetulan Zeus dan Alvaro ternyata adalah sahabat dan mereka menjalin kerja sama. Tidak heran kalau kebetulan kedua pria yang sama-sama tampan, digilai para cewek, terkenal, kaya, memiliki separuh darah Indonesia, sama-sama jatuh cinta pada Sadira.

Di lain pihak, keseluruhan novel terlalu banyak membahas bagaimana perasaan Sadira (yang menurut saya terlalu berlebihan), juga penggambaran sosok Zeus atau Alvaro yang bak dewa. Saya jadi bertanya-tanya bagaimana sebetulnya kehidupan Sadira sebagai seorang housekeeper karena hampir seluruh halaman didominasi hal-hal di luar itu. Saya tidak tahu bagaimana cara Sadira membagi waktu antara menjadi housekeeper di sebuah hotel besar dan berkencan... Saya juga jadi menanyakan bagaimana Sadira mendapatkan sertifikat housekeeper internasional kalau begini cara kerjanya?

Chemistry antara Sadira dan Alvaro juga sama sekali tidak terasa. Alurnya seakan terburu-buru, sehingga saya tidak merasakan momen-momen berkesan yang membuat keduanya saling jatuh cinta. Mereka seakan-akan dipaksa untuk jatuh cinta sesuai skenario, bukan karena 'keinginan' masing-masing karakter. Selain Zeus dan Alvaro yang digambarkan too good to be true, Sadira juga diharuskan memiliki tampang cantik dan polos, dengan tubuh mungil yang akan membuat para pria paling tidak mencuri pandang minimal sekali padanya. Masa lalu antara Sadira dan Zeus juga tidak dibahas sama sekali (ya, buat saya SAMA SEKALI), padahal bila dipikirkan dengan akal sehat, bagaimana mungkin seorang rakyat jelata bisa menjalin hubungan dengan seorang pangeran? Saat Sadira kuliah? Sempatkah ia kuliah dengan kesibukannya mencari uang untuk pengobatan ibunya?

Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, ide cerita novel ini mungkin saja sudah basi, tapi andaikan eksekusinya diubah sedikit, saya yakin Cinderella Thuatina akan menjadi cerita yang lebih berkesan (untuk saya). Saya berharap Zeus dan Alvaro tidaklah sesempurna itu. Dan mungkin saja ceritanya akan lebih masuk akal bila Sadira dan Zeus bertemu di Tuathina saat Sadira mendapat beasiswa kuliah di sana. Lalu, saat Sadira bekerja di hotel di Jakarta, Zeus yang memiliki darah Indonesia memang sengaja datang untuk mengurusi bisnis dari pihak neneknya. Alvaro sendiri adalah orang Indonesia tulen, yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Zeus, kecuali sebagai saingan bisnis di bidang yang sama. Yah, saya yakin, dengan sedikit polesan, banyak revisi, dan bimbingan editor, Cinderella Tuathina ini akan jauh lebih menarik.

Novel debut Mimosa Q. dalam Amore ini mungkin akan menjadi batu pijakan pertama yang menjadi awal novel-novel berbobot karyanya lainnya. Saya yakin Mimosa akan dapat menulis lebih baik lagi ke depannya. Saya percaya.

Review ini diikutsertakan dalam "2012 End of Year Book Contest"

Minggu, 09 Desember 2012

Menghadapi 30 Tahun dengan Senyuman


Judul: Amazing 30 – Melewati Usia 30 dengan Senyuman
Penulis: Beta Kun Natapradja
Penerbit: Stiletto Book
Editor: Herlina P Dewi
Desain Cover: Icko Denotto & Felix Rubenta
Tebal: 170 halaman
Harga: 35.000



Berumur 30 itu musibah atau berkah? Tidak sedikit wanita yang takut menghadapi angka ini. Alasannya banyak, tentu saja. Dan 30 menjadi momok yang menakutkan bagi para wanita single walaupun pada kenyataannya hampir semua wanita mengalaminya. Yang belum menikah, umur 30 seakan menjadi angka keramat yang selalu mengingatkan untuk menikah sebelum umur tercapai. Yang sudah menikah, umur 30 menjadi sebuah pengingat bahwa umur Anda semakin bertambah dan itu berbanding terbalik dengan kecantikan yang kita miliki. Oh, wow.

Buku ini sedikit banyak menarik perhatian saya dengan judul yang cukup manis, "Amazing 30". Judul ini seakan menyebarkan pesan positif bahwa berumur 30 penuh dengan keajaiban dan kebahagiaan, sehingga Anda layak menyebutnya 'amazing'. Dapatkah kita menghadapi umur 30 dengan senyuman?

Beta Kun Natapradja membeberkan tips dan trik menghadapi usia 30. Masalah apa, sih, yang biasanya akan Anda hadapi? Masalah finansial? Jodoh? Apakah Anda memiliki daftar target yang harus Anda penuhi sebelum umur 30? Dan apakah semua target Anda itu berhasil Anda tercapai? Beta Kun mencoba mengajak Anda berhenti sejenak, meresapi hal-hal positif dari umur 30 dan tersenyum menyambutnya.

"Tak perlu menunggu hujan atau pergantian sinar matahari utk bertemu pelangi. Dia akan selalu ada di dlm hati kita. Pelangi membuat hidupmu lebih berwarna."

Bagi Anda yang pusing mengenai masalah finansial, Anda harus mencicipi bab pertama buku ini. Beta kun akan membantu Anda membuat skala prioritas target-target yang ingin Anda capai. Tentu saja, dilengkapi dengan langkah-langkah yang harus Anda lakukan untuk mencapainya.

Bagaimana dengan Anda yang sudah atau belum memiliki pasangan? Memiliki atau belum, pasangan menjadi 'masalah' dalam hidup para wanita 30 tahun. Anda yang sudah memiliki pasangan akan dipusingkan dengan hubungan emosional antara kedua belah pihak, sementara yang belum memilikinya harus cemas saat menanti sang pangeran berkuda putih (atau mungkin sekarang seharusnya bermobil putih?). Belum lagi pertanyaan, "Kapan? Kapan? Kapan?" yang selalu menghantui.

Konflik biasanya akan muncul dalam kehidupan bersama orang lain. Anda tidak mungkin menghindarinya. Nah, perlu cara untuk menghadapinya. Jangan sampai konflik itu terus memengaruhi hidup Anda dalam bentuk aura negatif, kan? Beta Kun juga menyarangkan agar Anda tetap memiliki "me time", melakukan hal-hal yang Anda sukai untuk menghilangkan stress yang melanda dan membuat syaraf-syaraf Anda yang tegang menjadi lebih santai....

Menjadi 30 bukanlah musibah, percayalah. Itu semua tergantung bagaimana Anda menghadapinya. Beta Kun berhasil memaparkan bahwa menjadi 30 merupakan fase menyenangkan dalam hidup. Anda memiliki kesempatan untuk mengisi toples Anda sendiri dengan berbagai bumbu kehidupan sehingga hidup Anda lebih berasa. Seperti masakan, apalah enaknya jika tidak ada asam dan garam?

Salah satu yang menarik dari buku ini adalah quote-quote yang sangat mengena tapi memberikan arti positif. Anda juga dapat menemukan kisah-kisah nyata yaang dialami beberapa orang, termasuk Beta Kun, dalam menghadapi usia 30. Gaya bertuturnya ringan, sehingga Anda dapat menikmatinya sampai halaman terakhir. Mungkin masalah yang Anda hadapi juga dialami oleh orang lain dan Anda dapat melihat permasalahan itu dari sudut pandang lain melalui cerita-cerita di buku ini.

Keluhan saya ada pada mutu cetak yang kadang-kadang tipis atau berbayang. Ukuran font juga kecil dan rapat, sehingga terkesan 'bulky' dan mungkin akan membuat pembaca yang memiliki silider agak kesulitan membacanya. Namun, di luar itu, kovernya sungguh menawan sehingga awalnya saya sempat mengira buku ini adalah novel, bukannya bertipe non-fiksi yang dapat mencerahkan hidup Anda, seperti bagaimana ia mencerahkan hidup saya.

Saya yakin masih banyak sekali alasan-alasan yang mengganggu wanita menghadapi umur 30. Apakah saya salah satunya? Ada kata pepatah yang mengatakan, "Life begins at thirty." Apakah betul begitu? Andalah yang mampu menjawabnya. Karena mau atau tidak, usia 30 akan datang menghampiri. Jadi, kenapa tidak menyambutnya dengan senyuman?

"Tanpa doa, kita tak kan sanggup menghadapi segala yang ada di dunia. Perlahan, rasa optimis akan terus ada walau dalam perjalanannya sangat berat."


Resensi ini dibuat dalam rangka 2012 End of Year Book Contest 

Menari bersama Tango

First of all, Anda perlu tahu kalau saya bukanlah pencinta Korea. Saya tidak memungkiri kalau saya suka menonton beberapa drama Korea, saya juga suka Lee Min Ho atau Mickey. Tapi, mereka hanyalah beberapa ‘hal’ mengenai Korea yang saya ketahui. Beberapa bintang Korea lainnya saya kenal cukup sebatas wajah atau nama karakter yang diperankannya dalam drama yang kebetulan saya tonton. Salah satunya Geum Jan Di.

Saya tidak menonton Boys Before Flower secara rutin. Namun, saya ingat, saat itu saya memaki-maki Jan Di karena menurut saya dia tidak pantas memerankan si rumput liar di serial tersebut. Untuk saya, tampangnya terlalu tua sebagai anak SMA dan saya tidak menemukan sesuatu yang spesial mengenai dirinya sama sekali. Paling namanya terangkat karena ia berakting bersama empat orang cowok keren lainnya, begitu pikir saya.

Tidak heran kalau saya memandang remeh saat membaca kalimat, “Dalam seminggu, Tango telah terjual di atas 30.000 kopi.” What? Si Jan Di yang ternyata memiliki nama asli Goo Hye Sun (ya, saya baru tahu sekarang) ini disebut-sebut sebagai bintang multibakat yang bersinar? Bahkan, bukunya saja termasuk best seller? Apa selama ini saya salah menilainya?

Tango
Kategori: Novel
Penerbit: Ufuk Publishing House
Penulis: Goo Hye Sun
ISBN: 978-602-18349-8-5
Ukuran: 14 x 20.5 cm
Halaman: 312 halaman
Terbit: 2012
Harga: Rp. 54.900,-





Sinopsis di kover belakang:
Nama lelaki ituKang Jong Woon.
Selama dua tahun ini, artinya bagiku adalah pacar, teman, dan keluarga. Dia adalah lelaki muda dan tampan. Hari ini dia singgah di rumahku lagi. Jong Woon tiba-tiba bamu dua atau tiga langkah sambil berteriak, “Step!” Jong Woon terus berjalan berputar-putar tanpa henti seperti sedang menari, tingkahnya itu seakan mengisyaratkan bahwa ia sedang minta diperhatikan. Lalu, ia melompat ke tempatnya semula seperti seorang anak kecil. Akhirnya, aku bertanya kepadanya lebih dulu karena ia terus berputar.
“Sedang apa?”
“Aku sedang menarikan tarian  yang sangat romantis,” jawab Jong Woon.
“Tarian apa itu?”
“Tango ….”

“Hanya orang yang minum kopi yang tahu rasa pahit itu.”

Cerita dibuka dengan keluh kesah Yun, si pemeran utama wanita, mengenai kopi. Lucu juga membaca bagian ini karena dulu saya juga tidak menyukai kopi. Saya sedikit banyak dapat merasakan betapa Yun tidak menyukai kopi, namun terpaksa untuk menikmatinya hanya karena Jong Woon menyukainya.

“Aku dapat bersabar selama ini, jadi kali ini aku juga pasti bisa.”

Yun, sempat mengalami kebingungan dan kegelisahan saat dia akhirnya harus berpisah dengan Jong Woon. Dia tidak dapat menentukan apa itu kenyataan… Butuh waktu lama baginya untuk menyadari bahwa mengenakan sepatu berhak tinggi yang cantik itu ternyata sangat menyakitkan. Begitu juga saat dia akhirnya berhasil ‘melepaskan’ Jong Woon setelah bertemu dengan Park Si Hoo, seorang pria yang ‘bebas’ seperti awan.

Sejak halaman pertama novel Tango, saya langsung menyadari bahwa cara bertutur Yun sebagai ‘aku’ cukup berbeda dengan ‘aku’ yang biasa saya temui di novel sejenis. Goo Hye Sun memilih tidak menjabarkan atau mendeskripsikan hal-hal yang terlalu mendetail. Bahkan kata Korea dan Seoul hanya muncul masing-masing sekali saja.

Cara bertutur yang digunakan Goo Hye Sun indah. Berbeda dengan kalimat-kalimat sastra, tapi buat saya… indah. Walaupun ada beberapa bagian yang sulit saya tangkap maksudnya, tapi secara garis besar, Hye Sun mampu merangkai kata-kata menjadi suatu paragraf atau bab yang ringkas dan tak bertele-tele. Salut pada sang penerjemah, Dwita Rizki Nientyas, yang mampu membangun ulang apa yang ingin disampaikan Goo Hye Sun dalam bahasa Indonesia.

Saya cukup surprised membaca apa yang terjadi pada Si Hoo. Yun mendeskripsikannya dengan begitu singkat dan sederhana, sementara saya ingin bagian itu lebih dramatis lagi. Emosi yang dirasakan Yun begitu datar sepanjang buku, sehingga saya tidak merasakan adanya naik turun cerita yang seharusnya ada sepanjang alur.

Saya juga menyukai editing novel ini. Walaupun menemukan beberapa kesalahan ketik mulai setengah buku ke belakang, tapi itu jauh lebih baik daripada beberapa novel serupa yang saya baca. Hal ini menunjukkan bahwa Ufuk mampu menjaga kualitas sebuah novel sehingga menambah nilai pada karya ini.

Kover novel Tango untuk saya sangat mewah dengan efek glitter keemasan pada tulisan Tango, walau saya tidak mengerti apa fungsi memajang foto Go Hye Sun di sana. Saya juga merasa bahwa sinopsis di kover belakang sama sekali tidak mewakili keseluruhan cerita. Saya sama sekali tidak menangkap cerita mengenai apa yang akan saya temui saat akan membaca novel ini.

Hal pertama yang menarik perhatian saya saat lembaran Tango terbuka satu demi satu adalah tata letak novel ini. Wow, menarik sekali. Selain terlihat rapi, saya sangat menyukai adanya ornamen-ornamen tambahan di awal bab. Dan saat saya melakukan skimming awal, saya melihat ada ilustrasi pula yang menghiasi beberapa bagian dari buku ini. Jadi, pantaslah saya beri, wow!

Mungkin pujian yang menyatakan bahwa Goo Hye Sun adalah artis serba bisa tidak salah karena untuk saya, ilustrasi yang ada di dalam buku ini memang menakjubkan, memiliki ciri khas sendiri… Walaupun saya tidak mengerti mengapa ada ilustrasi-ilustrasi tersebut. Sebagian besar ilustrasi tidak mewakili cerita di bab bersangkutan dan beberapa kali mengganggu ‘alur’ saya membaca ceritanya.

“Aku akan memulai hidup baru. Aku akan membuka mataku lebar-lebar dan melihat dunia baru.”

Dengan membaca Tango, saya dibawa ke dunia yang belum pernah saya selami sebelumnya. 


Resensi ini diikutsertakan dalam 2012 End of Year Book Contest 

Minggu, 07 Oktober 2012

MANGA AUDITION


Majalah Manga “Comic Zenon” sedang mencari bakat baru!

Ajang audisi manga bisu (silent manga) pertama di Jepang. Sebuah kompetisi yang lebih menitikberatkan pada kelebihan senin tanpa adanya kendala bahasa.

Sebuah pertanyaan pada seluruh kreator di luar negeri dan mereka yang berkeinginan menggambar manga perdananya: Bagaimana kalau Anda menguji kemampuan Anda melalui manga lintas batas (bahasa)?

Manga ibarat storyboard untuk film bisau. Pemakaian kata dalam manga sangat sedikit dan biasanya terbatas pada percakapan sehari-hari. Kalau tergantung pada kata-kata daripada aspek visual dalam menyampaikan cerita, karya tersebut disebut ilustrasi, bukan manga.

Manga Audition bertujuan  menemukan dan memberi penghargaan pada manga yang mampu bertumbuh mencapai potensi tertingginya.

Sejatinya, manga harus bisa menyampaikan cerita tanpa dialog, layaknya storyboard. Inilah ‘kekuatan manga’. Kalau perlu dialog dalam bertutur, karya tersebut tak perlu dibuat dalam bentuk manga. Inti audisi ini adalah memanfaatkan hal terpenting bagi seorang mangaka, yaitu ‘penggambaran’.

Kalau Anda mencintai manga dan ingin menggambar manga, tapi urung karena kendala bahasa, ini kesempatan Anda berkarya di salah satu majalah manga Jepang!

Manga Audition untuk Peserta Internasional:

Tema: Manga Surat Cinta
Gagasan di balik teman ini entah ditujukan pada kekasih, pasangan, teman, atau orang lain. Surat cinta adalah hadiah yang menghangatkan hati dalam bentuk apa pun. Tak harus berwujud surat tertulis. Ekspresikan cinta Anda seperti saat mengirim atau menerima surat cinta secara visual melalui manga bisu.

Ketentuan Manga Audition:
“Tanpa kata-kata, tanpa cerita.”
Karya yang  masuk akan dinilai dari kemampuan seorang mangaka yang paling berharga, yaitu dalam hal ‘penggambaran’. Ekspresikan emosinya sesuai ciri khas Anda. Tak perlu cerita yang kompleks, yang penting temanya dimengerti pembaca. Tunjukkan secara visual emosi berbagai karakter Anda tanpa tergantung pada latar belakang cerita dan embel-embel.
Catatan: Tidak boleh ada dialog dalam manga. Anda ditantang hanya memanfaatkan kemampuan Anda menggambar secara visual.

Para Juri:
·         Tsukasa Hojo (City Hunter).
·         Tetsuo Hara (Tinju Bintang Utara).
·         Nobuhiko Horie.
·         Seluruh Tim Editorial Comic ZENON.

Hadiah
·         Pemenang Utama: 500,000 yen (Rp60juta).
·         Runner-Up: 300,000 yen (Rp36juta).
·         Pemenang Unggulan: 100,000 yen (Rp12juta).
·         Runner-Up Unggulan: 30,000 yen (Rp3,6juta).
·         Pemenang Kehormatan: 10,000 yen (Rp1,2juta).
Catatan: 1 yen = Rp120.

Tenggat Waktu: Akhir Maret 2013.

Hasil kontes ini akan diumumkan bulan Juli 2013 melalui situs NSP (North Star Pictures).

Hasil karya Pemenang Utama, Runner-Up, dan Pemenang Unggulan akan dimuat dalam majalah manga Jepang.

Pendaftaran:
Cantumkan nama, alamat, usia, pekerjaan, no telepon, biografi singkat, daftar hasil karya sebelumnya. Kalau ingin hasil karya Anda dikembalikan, lampirkan amplot dengan alamat lengkap beserta prangko secukupnya. Anda juga dapat memasukkan aplikasi dalam bentuk PDF melalui situs http://www.manga-audition.com/id

Kirimkan aplikasi Anda ke:
Redaksi Level Comics
PT. Elex Media Komputindo
Attn: COMIC ZENON Manga Audition
Gd. Kompas Gramedia Tower Lt. 2
Jl. Palmerah Barat 29-37
Jakarta Pusat 10270

Detil Pendaftaran:
1.       Hasil karya belum pernah diterbitkan (imitasi, tiruan, parodi, atau versi modifikasi manga karya orang lain tidak diizinkan).
2.       NSP dan pihak ketiga yang terkait dengan Manga Audition, yang kemudian disebut Komite Manga Audition), diperbolehkan menerjemahkan bila diperlukan dan menggunakan hasil karya yang masuk untuk hal di bawah ini di seluruh dunia:
·         Publikasi dalam majalah atau bentuk cetak lain.
·         Distribusi dalam bentuk e-book.
·         Materi promosi yang berkaitan dengan nomor 1 dan 2.
3.       Penggunaan dalam bentuk selain yang dicantumkan di atas akan didiskusikan antara NSP dan pengarang sebelum digunakan (termasuk situasi khusus di mana pengarang ingin menggunakan hasil karya untuk tujuan tertentu).
4.       Hasil karya yang masuk dianggap terbit di Jepang pertam kali, sehingga terikat undang-undang hak cipta Jepang.
5.       Hasil karya yang masuk akan didiskualifikasi jika memenuhi hal berikut:
·         Hasil karya sudah pernah diikutkan dalam kontes manga lain atau diumumkan/digunakan dalam majalah lain.
·         Hasil karya merupakan milik, dan/atau dalam bentuk apa pun, melanggar hak cipta/profit pihak ketiga.


Tambahan by me:
Dari persyaratan yang ada di buklet MANGA AUDITION tidak dicantumkan masalah jumlah halaman. Tapi dari contoh yang dimuat, panjang manga antara 5-15 halaman saja.


Kami menginginkan bakatmu!


Rabu, 03 Oktober 2012

October Special Giveaway



Oktober adalah bulan spesial. Ada tiga tanggal bersejarah pada bulan ini, jadi daku memutuskan ada tiga buku untuk dibagikan pada masing-masing pemenang ^__^

Buku 1: Te We by Gola Gong (bertanda tangan, lho!)
Buku 2: Super Junior in Comic by Merri An
Buku 3: Gaun-Gaun Kesunyian by Mayoko Aiko

Biar adil, ada buku fiksi, nonfiksi, dan komik ;)



Caranya gampang banget, kok!

  1. Follow twitter daku @esvandiarisant
  2. Jawaban boleh berkali-kali selama berbeda. Jangan lupa hastag dan kodenya.
  3. Ajak tiga orang temanmu untuk ikutan kuis ini. Sertakan juga link ke info GA ini ya.
  4. Kalian boleh jawab via Twitter atau blog, mana yang lebih gampang.
  5. Jangan lupa sertakan lokasi di setiap jawaban,
  6. Tiap buku pertanyaannya beda-beda, jd diperhatikan, yaaa ^_^
  7. Jawaban ditunggu paling lambat tanggal 14 Oktober 2012, jd waktu kamu masih panjang.
  8. Pengumuman pemenang minggu ketiga (tanggal blm pasti, tergantung koneksi internet).
  9. Hadiah dikirimkan plg lambat akhir Oktober kecuali ada satu dan lain hal.
  10. Satu orang bisa menjawab satu pertanyaan saja atau semuanya sekaligus.
  11. Satu orang bisa memenangkan satu atau lebih buku di atas, lho. Jd... jangan sia2kan kesempatan ini, okeyyyh...
  12. Ini dia pertanyaannya:
  • Buku nonfiksi spt apa yg ingin kamu baca? Kenapa? #OctSpeGA1
  • Cerita fiksi apa yg jd favoritmu? Kenapa? #OctSpeGA2
  • Komik spt apa yg jd kesukaanmu? Kenapa #OctSpeGA3

Good luck, yaaa ^__^ Selamat menjawab!