Selasa, 30 Juli 2013

Manisnya Macaroon Love yang Berjuta Rasa


Kover Macaroon Love,
si naskah unggulan yang
mestinya bisa jadi juara!
Jujur, sudah sebulan lebih saya malas membaca novel gara-gara novel yang memakai embel-embel Qanita Romance. Salah satunya benar-benar mengecewakan saya. Jadi, saat saya melihat ada logo yang sama di sudut kanan atas Macaroon Love, titik semangat saya untuk membaca turun sampai nyaris ke dasar. Itulah alasan kenapa saya baru menyelesaikan membacanya di detik-detik terakhir.

Anyway,  apa yang saya bayangkan tentang cerita buku ini ternyata sangat berbeda. Macaroon Love bercerita mengenai perjalanan hidup Magali yang membenci namanya sejak ia dilahirkan (bagaimana bayi bisa benci nama, ya?). Nama yang menurut Magali aneh itu membawanya ke sebuah pertemuan dengan Ammar, pemilik restoran Suguhan Magali. Dari sana, kehidupan Magali mulai bergulir ke arah yang berbeda dari jalur yang dilaluinya sekarang. Magali harus memutuskan, juga menerima apa yang dianggapnya aneh selama ini…

Amazingly¸(sori kalau berlebihan) saya berhasil menyelesaikan buku ini tanpa merasa terpaksa. Memang saya tidak melahapnya dalam sekali baca, tapi saya selalu ingat untuk menyelesaikan Macaroon Love sebelum tenggat berakhir. Winda Krisnadefa berhasil menjaga alur agar tetap mengalir lancar tanpa saya merasa bosan sekalipun. Ia juga berhasil menyuguhkan kejutan yang menjadi salah satu titik balik dalam kehidupan Magali tanpa saya—atau Magali—kira. Kejutan itu muncul begitu saja, pop!
Macaroon warna warni yang
sangat menggugah selera saya!
Sumber:  sharonlovesthis.blogspot.com

Nah, mungkin yang sedikit mengganggu saya adalah unsur kebetulan. Yah, seperti kebanyakan novel lainnya, unsur kebetulan ini juga ada di Macaroon Love, walaupun Winda berhasil membungkusnya dalam istilah ‘takdir’. Sementara, menurut saya, pertemuan Ammar dan Magali di McD itu bukanlah sesuatu yang bersifat wajib. Andaikan hal itu dihilangkan pun tidak akan merusak keseluruhan cerita. Bahkan (untuk saya) akan menambah besarnya maksud takdir membawa Magali ke depan Suguhan Magali.

Banyak yang ingin disampaikan Winda dalam buku ini, sehingga kisah cinta Magali dan Ammar hanya mendapat porsi yang sedikit. Karena itu, saya jadi bertanya-tanya apa sebetulnya inti cerita ini? Saya lebih menangkap pesan moral dari hubungan Magali dengan Jodhi atau Beau dibandingkan Ammar. Pria ini seakan dimunculkan sebagai juru penyelamat Magali saja, juga cowok yang bisa dipasangkan dengan tokoh utama kita. Keanehan yang dirasakan Magali saat ia jatuh cinta pun tidak sekental kekesalannya karena memiliki nama Magali. Sayang sekali.

Saya pun mempertanyakan kebencian Magali akan namanya. Oke, kalau dari nama Magali ia menjadi punya julukan aneh, saya dapat memakluminya karena saya mengalami hal yang sama. Namun, Jodhi telah daughter of the sea dalam arti yang lebih luas (maksudnya apa, yaaa?). Mungkin alasan Magali membenci namanya lebih karena ia mendapat julukan ‘si Tukang Gali’ daripada mempertanyakan namanya. Toh, terlihat sekali bahwa Jodhi juga memilih nama Magali tidak asal-asalan.
menjelaskan apa arti ‘magali’ dan tokoh utama kita ini tetap membencinya. Padahal, ‘magali’ memiliki arti yang cukup baik: permata, dan

Cupcake yang menghias setiap
awal bab Macaroon Love.
Tanya kenapa?
Oh ya, saya suka dengan tata letak buku ini walau lagi-lagi saya bingung kenapa malah cupcake yang muncul sebagai ornamen, bukannya macaroon. Selain itu, ukurannya yang agak ‘sempit’ membuat saya kurang nyaman memeganginya karena terkadang buku ‘melompat’ dari tangan. Satu lagi, kenapa kata frustrasi malah ditulis frustasi? Salut untuk tim redaksi Penerbit Mizan yang membuat saya lebih menyukai buku ini daripada buku Qanita Romance lainnya.